Bagi yang gemar menyimak stand up comedy Indonesia baik live maupun dari layar lebar, pastinya tak asing dengan sosok Pandji Pragiwaksono, seorang komika yang berani membahas topik perbincangan yang bisa dianggap sensitif di Indonesia, dan mengemasnya dalam bentuk yang mengundang tawa dari para audiens.

Perjalanan karirnya di industri tersebut sudah berjalan lama, bahkan dari sejak masa kuliahnya. “Stand up itu dari jaman kuliah saya di Bandung, dari DVD bajakan juga seperti Robin Williams – Live on Broadway, tapi saya mau stand up terus terang gak berani ya karena gak ada yang ngelakuin,” kenang Pandji tentang awal pengalaman dengan dunia stand up.

Pandji pun tahu bahwa ia memiliki talenta berbicara, dan jago membuat pendengarnya tertawa. Namun bicara soal karir, awalnya sang alumni Universitas Teknologi Bandung tersebut berpikir untuk ikut di dunia persiaran karena tidak banyak yang ingin menjadi stand up comedian di Indonesia. Maka pada akhirnya ia mendaftar kerja sebagai seorang penyiar radio.

Sang komedian pun aktif sebagai penyiar radio sejak 2001. Beberapa stasiun yang pernah dilayaninya termasuk Hard Rock FM di Bandung dan Jakarta dimana ia bekerja selama 10 tahun dari 2003. Namun rasa untuk ikut di dunia stand up pun masih membara di dalamnya meski bekerja sebagai penyiar radio. Akhirnya pada 2010 dimana ia mengadakan konser mini rap bernama Twivate (Twitter Private) Concert pada 2010, kesempatan tersebut pun ia curi untuk memperlihatkan dirinya sebagai seorang stand up comedian.

“Awalnya lempar satu joke. Saya masih ingat jokenya tentang Susno Duadji, sudah itu kena. Bulan depannya saya bikin konser yang sama, karena itu konser bulanan, saya coba 15 menit. Terus kena. Bulan depannya 30 menit, dan seterusnya,” cerita pria alumni SMP 29 Negeri tersebut. Ia lalu mengunggah video stand upnya di Youtube, menarik perhatian Kompas TV yang sedang berencana memulai acara Stand Up. Spontan, Pandji diundang untuk menjadi pembawa acara, dan mulailah acara yang dikenal sebagai Stand Up Comedy Indonesia (SUCI).

Pandji mengakui bahwa peran sosial media amat membantu memviralkan stand up comedy di kalangan masyarakat Indonesia. Pandji mencontohkan sosok Iwel Sastra yang tampil di acara Bincang Bintang di stasiun televisi RCTI dari tahun 2005. “Perbedaan dari apa yang Iwel lakukan dengan kita ngelakuin di tahun 2011 adalah Ernest Prakasa punya ide untuk naruh di Youtube. Jadi yang bikin viral itu Youtubenya,” tutur pria kelahiran Singapura tersebut.

Doyan Humor Receh

Pastinya para pembaca sudah pernah mendengar sesama teman membuat humor yang bersifat “receh”. Humor yang banyak didengar di kalangan komunitas Indonesia tersebut bisa bersifat simpel nan garing namun tetap dapat membuat kita tertawa. Pandji mengumpamakannya seperti sebuah makanan yang memiliki kalori kecil.

Walaupun sifatnya terkesan sepele, ia mengakui bahwa dirinya juga suka dengan humor receh. Bahkan ia sering menganjurkan kepada teman-temannya untuk membuka sesi panjang seperti 30 menit atau bahkan sejam dengan humor receh. “Jangan ngebuka dengan joke yang susah diproses sama orang. Taruh itu di tengah aja. Your easiest joke taruh di depan,” tutur pria yang pernah mengenyam masa SMAnya di Kolese Gonzaga.

Bicara soal materi dalam sebuah sesi, pria bertubuh kekar ini lebih gemar memiliki berbagai macam variasi. Ada yang ngereceh, politik, dark dan juga story telling. “Sebagai gambaran, pernah lihat Coki Muslim manggung selama 2 jam gak? Karena gak bisa hanya dark selama 2 jam. Kalau punya show panjang, harus kayak tinju. You have to have jabs, uppercuts, dodging and body weights, harus punya banyak jurus,” katanya mantap.

Ketersinggungan Indonesia Harus Berubah

Pandji merasa bahwa kurang adil jika ia sendiri yang menghasilkan uang berdasarkan opininya dan tidak mengizinkan orang lain untuk beropini terhadapnya. Selain itu, ia juga tidak mengambil ucapan dari para haters ke dalam hati. “Capek juga untuk terlalu melibatkan emosi kita dengan opini orang. There is a huge amount of freedom in not taking things personally,” ujarnya.

Ia pun merasa bahwa menjadi jujur dengan dirinya adalah salah satu resep menghadapi opini yang berbeda. “Saya gak merasa diriku itu orang baik. Ketika orang bilang apaan sih, sombong banget, lu nya tersinggung karena lu merasa enggak kan. Saya merasa setiap kali ada yang beropini terhadap saya, besar kemungkinan itu benar,” ungkap pria yang mengaku salah satu hobinya adalah tidur selain binge watching netflix.

Sebaliknya, Pandji tidak setuju dengan tanggapan bahwa seseorang tidak boleh tersinggung.“Kalau dipikir-pikir, tersinggung adalah semacam refleks yang muncul dalam jiwanya sama ketawa. Ketawa itu refleks. Kalau kamu ketawa karena itu lucu, kalau ketawanya kayak pura-pura karena kamu tau itu punchline. Ketawa yang benar itu refleks. Kadang kamu ketawa dulu baru proses, kenapa gua ketawa, padahal parah jokes tadi,” paparnya jujur.

Maka cara menunjukkan ketersinggungan di Indonesia juga harus berubah. “Tersinggung itu seperti itu. Ia muncul dengan sendirinya. Kalau ia muncul dalam hati, kita tidak bisa tahan. Cuman, boleh dong kalau kamu tersinggung gak ngancam bunuh. Jadi yang diubah adalah cara menunjukkan ketersinggungannya, selesaikan saja dengan dialog,” ujarnya.

Pengalamannya ketika sedang stand up di luar negeri pula turut dibagikan kepada Buset. ”Di Jepang, ada yang tersinggung dengan jokes saya tentang regulasi prostitusi di Juru Bicara. Dari usahanya ,saya bisa menilai ini orang tidak berusaha untuk membenci walaupun saya bisa melihat dia tersinggung dengan materi saya. Saya meluangkan waktu untuk membalas itu,” ceritanya. Berdasarkan pengalaman world tour dan menerima protes, sang pendukung klub basket Detroit Pistons ini pun merasa bahwa tinggal di luar negeri bukan menjadi jaminan akan ada keterbukaan pikiran lebih besar terhadap materinya.  

Prediksi Industri Stand Up

Pandji merasa bahwa dirinya memiliki peran untuk membuka jalan bagi para pendatang baru di industri tersebut. Dengan predikat yang ia banggakan sebagai stand up comedian Indonesia pertama yang memiliki harga tiket yang bisa mencapai 1 juta, Pandji memandangnya sebagai sebuah hal yang penting.

“Itu penting menurut saya karena saya bisa buktiin sama orang stand up comedy sudah mencapai satu titik dimana, harganya tidak murah, tapi mereka bersedia,” ungkapnya. Dengan demikian, Pandji memandang bahwa pertukaran uang di industri tersebut semakin besar dan dampak positifnya dapat dirasakan sama yang lain.

“Chris Rock pernah bilang, industri Stand Up Comedy hanya akan sekuat pelakunya. Untuk membuat pelakunya kuat, saya berusaha untuk ngasih mereka cita-cita dan mimpi, kalau mereka lihat Pandji bisa stand up di JCC, ini gak  eksklusif hanya untuk 1 orang, kuncinya adalah kita harus mau disiplin. You gotta work on your craft, it takes hours of hard work, failure,” tuturnya sambil menuangkan saran bahwa kesuksesan mengharuskan usaha ekstra keras.

Ada keresahan bahwa Indonesia sedang menghadapi meningkatnya konservatisme, yang bisa berdampak terhadap kebebasan berpendapat, namun Pandji merasa tidak takut. Alasan baginya adalah karena ia juga berteman dengan orang dari berbagai kalangan. “Permasalahan dengan kebanyakan orang Indonesia adalah mereka tidak mau berteman dengan semua orang. Ia hanya ingin berteman dengan orang yang ia anggap baik,” ucap sang pendukung klub sepakbola Manchester United tersebut.

“Makanya, di Pragiwaksono World Tour di bagian akhir ngomongin soal ilusi orang baik orang jahat, menurutku sih harus dibuang. Orang Indonesia itu mikir antara Autobot atau Decepticon, gak ada yang abu-abu. Padahal hidup gak kayak gitu,” tambahnya.

Kurang Comedy Club

Berbeda dengan Indonesia, di luar negeri contohnya Amerika Serikat ada tempat yang disebut sebagai Comedy Club, sebuah venue dimana orang bisa menikmati pertunjukan komedi, sambil memperjualkan makanan dan minuman. Mimpi untuk memiliki comedy club milik sendiri menjadi sebuah motivasi yang sedang berjalan bagi pria yang mengakui dalam 10 tahun tidak bisa jauh dari dunia stand up comedy tersebut.

Motivasi inilah yang menjadi alasan ia mendirikan Comika Monday Markette, sebuah acara stand up comedy mingguan setiap hari Senin berkolaborasi bersama Ismaya di Public Markette, Jakarta. “Saya lihat biasa orang punya habit mencari hiburan mingguan. Antara dugem, minum, atau band. Jadi saya pikir untuk switch habit mereka ke komedi,” tutur pria yang menyukai tempat komedi club bernama The Comedy Cellar. Melalui Comika Monday Markette serta rencananya berkolaborasi dengan Kilo Lounge, Pandji bertujuan untuk meningkatkan wawasan audiens Indonesia dari berbagai segmen terhadap dunia stand up dengan kesempatan menyimak berbagai stand up comedian beraksi.

Sebelum ia merealisasikan mimpi tersebut, ada sosok komedian bernama Mo Sidik yang terlebih dahulu membuka comedy club miliknya. Namun Pandji tidak melihatnya sebagai seorang kompetitor. “Yang Mo Sidik sudah bikin, akan membuat orang terbiasa dengan menonton comedy club. Saya pernah ngomong sama dia, diskusi bareng. Dia bilang yang penting saya bikin dulu, saya bilang saya mau bikin marketnya dulu. Nanti akan ketemu juga. Ketika marketnya jadi, keisi juga comedy clubnya,” pungkas pria yang juga mengagumi sosok komika Dave Chappelle.

Bagi para pemuda yang ingin memulai karya seni, Pandji mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar adalah untuk memulai dulu saja. “Nanti sudah jadi barang, biasanya kamu sebal melihatnya, dan pingin buru-buru bikin lagi. Karena satu-satunya yang bisa bikin kamu gak sebal sama hal yang pertama adalah bikin lagi yang lebih bagus, dan itu berlaku buat saya,” papar bijak seorang pria yang gemar menonton film dan memahami bahwa lebih baik merealisasikan mimpi dibanding membiarkannya.

Denis