Rasanya baru kemarin ia menimba ilmu di Australia. Namun sekarang nama Wika Saputra mulai dikenal sebagai panutan pengusaha muda Tanah Air. Bagaimana tidak, alumni Deakin University ini sekarang memiliki lebih dari 200 gerai ayam goreng tepung yang ia beri nama Let’s Go Chicken.

Selulusnya dari SMA Muhammadiyah 3 Jakarta, pria yang bernama lengkap Ary Saputra Satwika ituterbang ke Adelaide tahun 2004 untuk melanjutkan studi di Eynesbury College, sebelum akhirnya mendalami jurusan Akuntansi di Deakin University, Melbourne. Seperti layaknya kehidupan mahasiswa, Wika pun sangat menikmati masa-masa kuliah, dan mulai merencanakan jenjang karier yang akan ditempuhnya. Ia bahkan sudah mulai bekerja di Kabo Lawyers dan mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan anak perusahaan yang baru mau diluncurkan saat itu.

Namun nasib berkata lain, pemuda yang terkenal ramah dan mudah bergaul tersebut harus berhadapan dengan realita baru ketika ibunya meninggal dunia di tahun 2010. Wika lantas memutuskan kembali ke Tanah Air dan membantu membesarkan sang adik yang usianya terpaut jauh.

Tanpa berpikir panjang, Wika langsung merencanakan dirinya untuk menjalankan suatu usaha sebagai sumber penghasilan. Padahal ia datang dari keluarga yang belum pernah terekspos oleh dunia pengusaha. Almarhumah ibu berkarier sebagai pegawai negeri, dan ayahnya pegawai swasta. Bahkan keluarga dekat dan kakak kandungnya sendiri tidak mendukung saat Wika mengeluarkan ide untuk berbisnis sendiri.

Proses visualisasi Lamborghini: “Saya punya target, sekarang saya beli mainanannya dulu.”

Lain halnya dengan Wika, ia selalu berpikir bahwa dirinya harus menjadi pengusaha. Pemikiran ini sudah tertanam sejak sebelum lulus bangku SMA. “Waktu itu saya baca bukunya Robert Kiyosaki, jangan seumur hidup jadi orang yang gajian. Ini yang saya pikirkan, suatu hari saya harus punya karya. Saya harus menciptakan sesuatu yang kalau saya sudah tidak ada pun karya ini masih bisa dikenang bahwa ini karyanya saya. Ini cita-cita saya,” paparnya.

Salah satu kehebatan seorang Wika adalah menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan melihat segala sesuatu dari sisi positif. Ini tercermin saat ia melihat kepulangannya ke Tanah Air sebagai jalan yang ditunjukkan Tuhan agar ia bisa menggapai cita-citanya untuk berbisnis. Tak pernah sekalipun ia menyayangkan perjalanan kariernya di Melbourne yang bisa dibilang sedang menanjak.

Bisnis yang Selalu Jatuh

Pilihan pertama Wika jatuh pada berjualan sendal. Ia mengunjungi pabrik sendal di Cikupa, Tangerang dan mulai merancang pembuatan sendal untuk kemudian dijual. Tak bertahan lama, perhatiannya beralih ke bawang merah. “Saya memotong jalur distribusi. Saya jual langsung ke customer, nyetir sendiri ke Brebes untuk beli bawang langsung dari petani, seminggu bisa dua kali,” kenangnya.

Wika berjualan bawang merah di garasi rumahnya sendiri. Ia menggunakan spanduk bekas yang dibalik dan ditulis “jual bawang merah Brebes”. Usaha membuahkan hasil. Namun keuntungan ini hanya berlangsung sekitar tiga bulan karena adanya bawang Filipina yang lebih bagus dan murah.

Tidak larut dalam kekecewaan yang berkepanjangan, Wika mencari kesempatan lain. Ia melihat banyak pedagang makanan yang meramaikan lokasi dekat rumahnya, tapi belum ada yang berdagang sate. Jadilah Wika berjualan sate ayam di awal tahun 2012. Tanpa punya pengalaman di bidang kulinari, Wika menjalankan semua proses itu sendiri, dari membeli daging, membumbui, menusuk sate, hingga penjualannya. Karena belum juga menghasilkan profit yang sesuai, dari sini Wika merasa dirinya harus banyak belajar soal bisnis makanan. Ia memutuskan untuk mulai menimba ilmu dengan membeli usaha waralaba yang menjual menu ayam di penghujung tahun 2012. Di sini pun ayah dari Naila Lituhayu (5 tahun) ini masih dirundung masalah. Cabang yang ia pegang tidak mendapatkan pendapatan yang cukup. “Menurut saya, lokasinya kurang mendukung. Tapi mungkin di situ hikmatnya Tuhan kasih saya kegagalan lagi,” kenangnya positif.

Sukses Bermimpi

Jika dilihat dari kacamata orang awam, kehidupan terasa begitu keji. Setelah kepergian sang bunda tahun 2010, Wika yang merupakan satu-satunya anak lelaki dari tiga bersaudara merasa memiliki tanggungjawab yang sangat besar. Ia memilih untuk menjadi pengusaha sebagai mata pencaharian, namun dari semua usaha yang digarap, belum ada satu pun yang berhasil. Padahal, semua usaha tersebut membutuhkan modal yang harus ia keluarkan dari hasil penjualan rumah serta tabungannya ketika bekerja di Melbourne.

Pembukaan outlet perdana di Cileduk

Di antara semua peristiwa, Wika masih bisa tersenyum dan berpikir jernih. Selidik punya selidik, ternyata suami dari Dinasti Karisma ini selalu melihat kegagalan sebagai pembelajaran yang berharga. Bila orang lain memilih untuk sedih dan kecewa, Wika justru merasa terpacu untuk menjadi lebih baik. Dan dengan dukungan doa sang istri, Wika selalu percaya dirinya bisa mencapai target yang sudah ia tentukan.

Setelah hampir dua setengah tahun belajar mengelola cabang franchise yang dibelinya, Wika akhirnya memantapkan rencana untuk mendirikan konsep bisnis makanan ayam goreng tepung. Ia mengajak seorang kawannya, Mayanto Subagyo yang ialah seorang lulusan Tourism Management dari William Angliss Institute, Melbourne dan sama-sama anggota YIMSA (Young Indonesian Muslim Students’ Association).

Tersebar di sekitar 200 titik, Let’s Go Chicken selalu ramai digandrungi pelanggan

Jadilah gerai perdana yang mereka beri nama Let’s Go Chicken berdiri di Cileduk – Tangerang, persis di belakang kediaman Wika. Ketika ditanya asal usul nama, sambil tersenyum lebar, Wika mengatakan, “sebenarnya itu adalah refleksi dari keraguan kita. Kita sempat ragu ‘ini bakal jalan ga nih?’ ‘Ah udah lah, let’s go aja’.”

Wika terus mengelola dan mengembangkan resep Let’s Go Chicken sampai akhirnya penjualan bisa maksimal. Hal ini penting untuk dilakukan sesuai dengan prinsipnya, “ketika di satu tempat itu laku, bisa diterima masyarakat, di tempat lain tidak ada alasan untuk gagal.”

Penghargaan atas kesuksesan membangun brand baru

Dalam waktu setengah tahun tersebut, Let’s Go Chicken sudah tersedia di tiga lokasi. Di tahun 2016, mereka berhasil mendirikan 15 gerai lagi. Pada saat itu, jiwa bisnis Wika pun menjadi lebih dewasa dan matang. Mereka lalu menelurkan konsep penjualan makanan di kontainer demi memudahkan para pembeli yang mengendarai motor tanpa harus turun dari kendaraan mereka. Kontainer Let’s Go Chicken pertama kali beroperasi di depan toko swalayan Alfamidi cabang Cipadu.

Let’s Go Chicken yang sekarang bernaung di bawah PT IKI (Inspirasi Kuliner Indonesia) terus berkembang hingga sukses menelurkan lebih dari 80 gerai pada tahun 2017. Dan dengan menggandeng toko swalayan Alfamidi, di tahun 2018 sudah ada lebih dari 200 gerai Let’s Go Chicken dan 1,700 karyawan.

Tak disangka-sangka, ternyata pengalaman Wika ketika bekerja di McDonnald’s saat tinggal di Adelaide memberikan ilmu-ilmu dasar yang sangat berguna di bisnisnya sekarang. Ia belajar bagaimana proses potongan daging ayam mentah bisa sampai di ratusan lokasi berbeda dengan rasa yang sama dan kualitas yang terjaga.

Memperbesar Koridor

Kepuasan bisa berpotensi menjadi suatu euforia yang bisa menjebak. Di bawah kepemimpinan Wika, 200 cabang tidak berarti perjuangan sudah selesai. Ketika ia sudah mencapai target, Wika bersyukur akan berkat sekaligus tanggungjawab yang telah dipercayakan untuknya. Baginya, dengan adanya pencapaian tersebut berarti ia harus menentukan target yang lebih tinggi lagi. Inilah yang disebut dengan memperbesar koridor.

Outing untuk 1700 karyawan secara bergilir

Seiring berjalannya waktu dan jaringan usaha yang semakin membesar, kesempatan berbisnis juga semakin terbuka lebar. Kini Wika bersama rekan usahanya mulai mengelola peternakan ayam untuk mensuplai bahan dasar Let’s Go Chicken. Tak hanya itu, mereka juga sedang merencanakan untuk membuat tempat pemotongan sendiri. Dan entah masih berapa banyak lagi lini usaha yang dapat dikembangkan.

Kisah sukses seorang Wika Saputra ini menjadi pembuktian bahwa semua generasi muda memiliki kesempatan yang sama untuk menggali potensi dan berkarya. Menurut Wika, kita tidak perlu membuang waktu dan energi untuk cemas. “Belum melakukan apa-apa tapi semua sudah terbuang untuk worry,” katanya.

Dan “ketika orang bilang ‘saya ingin keluar dari comfort zone’, menurut saya ini statement yang agak bodoh. Sebab ini adalah comfort zone saya, kenapa saya harus keluar? Hanya saja bedanya saya tinggikan goal setting saya.” Sebagai contoh visualisasi, Wika menunjuk sebuah miniatur mobil Lamborghini merah yang terpampang di atas meja kerjanya. “Kenapa saya pajang seperti ini? Karena saya punya target, sekarang saya beli mainanannya dulu,” paparnya.

Koleksi figurin Naruto merupakan ekspresi dari yang sebelumnya hanya berupa angan-angan

Wika pun tidak pernah ragu untuk menghargai jerih payahnya sendiri, karena semua kerja keras harus bisa membuahkan hasil yang dapat dinikmati. Jadi jangan heran jika singgah ke kantor direksi, mata kita akan dijamu dengan figurin Naruto dari ukuran kecil hingga besar, lengkap dengan sertifikat otentisitasnya. “Ini ekspresi sesuatu yang saya tidak bisa beli sebelumnya,” jujurnya. Rupanya sang direktur sangat menyukai serial Naruto selain kerap mengisi waktu luangnya dengan bermain musik.

Semoga sosok Wika Saputra dapat menginspirasi kita semua untuk bisa merubah cara pandang menjadi lebih positif, mampu mencapai target, memperbesar koridor dan selalu bersyukur.

vr