Baru-baru ini Moreland Primary School (MPS) mengadakan bi-annual event, yaitu Fete atau karnaval kebudayaan pada pukul 10 pagi hingga 4 sore hari. Di tengah cuaca yang mendung dan terkadang disertai rintik hujan, festival untuk siswa dan wali murid ini berjalan lancar dan seru.

Berbagai stall makanan khas dari berbagai negara seperti India, Hungaria, Vietnam, Indonesia, Australia, Jerman, dan vegan foods berjajar dengan rapi dan mengundang para pengunjung untuk mencicipi. Selain itu aneka minuman seperti jus dan minuman hangat, gelato yang menjadi favorit, dan berbagai kudapan lain seperti biskuit dan cakes tersedia untuk memuaskan lidah para pengunjung.

Festival yang diadakan di halaman dan sebagian Gedung MPS di Moreland road, Coburg ini diadakan dan diorganise oleh para wali murid MPS. Sehingga mayoritas penjual, pembawa acara, dan staff lainnya adalah orang tua siswa MPS.

Animal farms untuk edukasi siswa

Walaupun diadakan dalam konteks sekolah, konsep acara ini sangatlah menarik. Selain berbagai makanan, acara kebudayaan dari berbagai negara juga dipersembahkan. Pengunjung juga bisa menemui animal farm bahkan camel rides yang disediakan bagi anak – anak yang ingin menunggangi onta. Para pedagang lainnya, seperti tanaman, sayur dan buah-buahan, aksesoris, handmade body care, aneka handcrafts menghiasi sudut halaman MPS. Berbagai permainan anak – anak seperti carnival rides dan entertainment lainnya membawa keceriaan anak – anak yang datang ke acara tersebut.

Memasuki gedung tersedia berbagai barang second hands, termasuk berbagai macam buku yang menarik serta kue – kue dan selai homemade. Menariknya, harga buku – buku dan barang second hand semakin menurun seiring waktu mendekati pukul 4 sore. Dengan harga 50 cents saja pengunjung bisa mendapatkan buku anak – anak.

Moreland Primary School adalah salah satu sekolah dimana didalamnya terdapat banyak murid Indonesia, seiring dengan banyaknya warga Indonesia yang tinggal di daerah Moreland, Brunswick dan sekitarnya. Dengan diadakannya FETE ini, tentu saja Indonesian community MPS turut mempersiapkan konsep yang menarik seperti sebelum – sebelumnya.

Dalam acara tahun ini, food stall dengan menu andalan bakso dibuat untuk para pengunjung. Menariknya, bakso yang dijual seharga 10 dollar per mangkok ini terlihat paling laris di antara makanan lainnya. Entah karena suasana sedang mendung atau bakso memang favorit para pengunjung, bakso tersebut sudah ludes sejak sekitar pukul 2 siang. Dijelaskan oleh Iin, salah satu pengurus, bakso dipilih karena lebih mudah membuatnya dan banyak disukai. “Kalau beberapa tahun lalu kita pernah bikin sate, tapi mungkin makannya kalau sate kesusahan, dan bakso lebih banyak disukai,” kata Iin.

Dalam acara ini, para siswa Indonesia menampilkan tari Yapong, berbeda dengan dua tahun sebelumnya di mana para siswa membawakan tari Kelinci dan tari Kipas. Iin pun menambahkan bahwasanya tari Yapong nampak pas dibawakan oleh anak seumuran para siswa tersebut. Para wali murid tersebut pun sudah memiliki kostum untuk tari Yapong. Untuk mempersiapkan tari Yapong ini, para murid harus berlatih 3 bulan sebelumnya di setiap minggu.

Yang paling menarik dari performa siswa Indonesia kali ini adalah permainan angklung. Para siswa memainkan angklung selama 20 menit sejak pukul 12.10 hingga 12.30. Seusai memainkan lagu kebangsaan Australia “Waltzing Matilda” dan lagu international yang menjadi theme song Aladdin “A Whole New World”, para pemain angklung mengajak para penonton untuk memainkan angklung bersama. Lagu Waltzing Matilda adalah lagu dengan makna sejarah dan kebangsaan di Australia, dan dianggap sebagai Australia “unofficial national anthem”. Dengan pemilihan lagu tersebut diharapkan para penonton yang memainkan angklung juga mengerti lagu tersebut dan sebagai wujud penghargaan terhadap Australia.

Permainan angklung oleh komunitas Indonesia (foto: Dany Ardianto Kurniawan)
Para pengunjung memainkan angklung bersama (foto: Dany Ardianto Kurniawan)

Congratulations para wali murid Moreland Primary School atas keberhasilan acara ini.


Apa Kata Mereka

Antung, orang tua siswa, Mahasiswi S3 RMIT University

Kalau menurut saya, acara ini bagus buat komunitas Indonesia buat mengenalkan budaya Indonesia ke orang – orang di sini. Nggak cuma budaya tapi juga makanan. Hari ini sepertinya yang laris ternyata bakso, mungkin lain dari pada yang lain. Anak saya sendiri selalu tampil dalam acara ini, mungkin kesan saya sebagai orang tua jadi senang karena anak bisa tampil dan belajar berani, nggak harus perfect tapi sama teman-temannya bisa belajar. Jadi sebagai orang tua ini jadi prestasi sendiri. Anak saya sendiri juga senang tampil dan menari, serta perform di depan orang banyak. Ini event yang dia selalu tunggu-tunggu. Tapi ini sepertinya yang terakhir buat dia, karena event ini setiap 2 tahun sekali, dan mungkin kami sudah tidak di Australia lagi. Jadi karena ini juga yang mungkin terakhir untuk kami, kami juga ingin terlibat membantu komunitas Indonesia.

Anggie, orang tua siswa

Kesan-kesannya seru, karena ini kan persiapannya juga dari dua bulanan yang lalu. Jadi kan kalau di Moreland ini ada beberapa komunitas, salah satunya komunitas Indonesia. Karena kita di sini kan multicultural ya. Jadi acara ini dua tahun sekali kita adakan. Kita dihubungi sama pihak sekolah, “mau ga isi stall?” dan akhirnya kita memutuskan untuk mengisi stall. Menunya yang paling umum dan semua orang suka, jadinya kita pilih bakso. Ini saya sudah mengikuti kedua kalinya. Antusiasnya sama dan karena banyak permainan, anak – anak terutama excited banget.

Yuniar