Mengenal Lebih Baik Muhammadiyah Australia College, Sekolah Muhammadiyah Pertama di Luar Negeri

Dalam rangka mengenal diaspora Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan di Victoria, Konsul Jenderal RI di Melbourne, Kuncoro Waseso, beserta jajarannya mengunjungi Muhammadiyah Australia College (MAC) pada 6 Juni 2022. Berlokasi di 1-3 Killarney Drive, Melton, Victoria, MAC merupakan sekolah tingkat dasar yang juga mengajarkan nilai-nilai Islam kepada muridnya. Sejak akhir tahun 2021, MAC telah mencetak sejarah sebagai sekolah Muhammadiyah pertama di luar Indonesia.


Gedung Muhammadiyah Australia College
(Sumber: Facebook Muhammadiyah Australia College)

Pada hari senin yang cerah itu, pihak KJRI bertemu dengan Hamim Jufri selaku Board of Directors dan Muhammad Edwars selaku Principal sekolah MAC. “Ini betul-betul sekolah formal pertama yang dimiliki Muhammadiyah di luar Indonesia,” ujar Muhammad Edwars, school principal atau kepala sekolah MAC. Setelah acara sambutan dan perkenalan latar belakang MAC, agenda selanjutnya yang dilakukan adalah tur keliling sekolah.

Perjuangan meraih izin berdiri

Meskipun MAC baru berdiri secara resmi pada akhir tahun 2021, upaya dan perencanaan untuk mendirikan sekolah ini sudah dilakukan sejak tahun 2013. Edwars menceritakan perjuangan yang ditempuh oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dalam mendirikan sekolah ini.

“Sekolah ini didirikan secara formal pada tanggal 21 Desember 2021, ketika kita mendapatkan certificate of registration dari Department of Education Victoria. Tetapi, proses pendiriannya sudah berjalan jauh dari tahun 2013. Di sini (Australia), proses mendirikan sekolah tidak seperti di Indonesia, sangat sulit,” ujar Edwars.

Edwars menjelaskan bahwa sebelum memilih Melton, PCIM merencanakan pendirian lokasi MAC di Narre Warren, Victoria. Akan tetapi, upaya pendirian sekolah di daerah tersebut berujung buntu karena Pemerintah Victoria tidak memberikan izin membangun sekolah. Alhasil, ketika muncul kabar adanya bangunan sekolah yang sedang dijual di Melton, kesempatan tersebut tidak dilewatkan.

“Kebetulan, ada sekolah yang dijual di sini (Melton) yang sudah ada bangunannya. Alhamdulillah, ini keputusan terbaik. Kebetulan, Melton juga memiliki growing muslim community,” jelas Edwars.


Konjen Kuncoro bersama Hamim dan rombongan tur berkeliling MAC

Sekolah dengan lingkungan multikultur

Kini, sekolah MAC menjadi tempat menuntut ilmu bagi 53 murid pada jenjang sekolah dasar yang diajar oleh 7 orang guru. Meskipun MAC didirikan di bawah naungan Muhammadiyah sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang keagamaan dan edukasi di Indonesia, tidak semua murid atau guru di sekolah ini berasal dari Indonesia. Justru, masyarakat Indonesia hanya menjadi bagian kecil dari seluruh murid dan guru yang terdapat di dalam MAC.

“Cuma sekitar 20% murid yang dari Indonesia. Lainnya ada yang dari Pakistan, Bangladesh, India, Turki, Lebanon, Maroko, ada juga dari Australia yang sudah mualaf,” jelas Edwars mengenai komposisi latar belakang sivitas akademika MAC.

Saat sedang mengunjungi salah satu kelas, Konjen Kuncoro mengadakan sesi chit-chat dengan murid yang hadir. “Is there anybody here who speaks a language other than English?” tanya Konjen Kuncoro, yang kemudian dijawab oleh gadis cilik asal Bangladesh. Sebagai diplomat yang pernah ditempatkan di Bangladesh, Konjen Kuncoro pun bercakap menggunakan bahasa Bangla dengan gadis tersebut. Hal tersebut menunjukkan tingginya tingkat keberagaman budaya yang ada di lingkungan sekolah MAC.

Berdirinya MAC juga membawa dampak yang positif bagi warga sekitar. Edwars menjelaskan bahwa keberadaan MAC membawa dinamika baru di daerah tersebut, baik secara ekonomi maupun secara sosiokultural. “Kita mencoba melakukan hubungan yang baik dengan tetangga-tetangga kita di sini, kita tunjukkan bagaimana itu Islam sebenarnya kepada mereka. Alhamdulillah, mereka datang dan ada yang menyumbang buku-buku, ada yang ingin ber-volunteer juga, meskipun mereka bukan muslim,” tuturnya.

Salah satu guru yang mengajar di MAC, Umar Faruq, menceritakan bagaimana dirinya dapat terlibat sebagai tenaga pengajar di sekolah tersebut. Pria asal Bangladesh tersebut merupakan Imam setempat di daerah Melton. Kini, ia mengajar pelajaran Studi Islam di MAC.

“I’ve been living in Melton for last twelve years, and I’m a local Imam here. As soon as I heard MAC’s Islamic Studies Department need someone, and after discussing with the Principal, I found that it matches my view. I like the goal of MAC, it is something amazing. I applied the position here and alhamdulillah they accepted me in here. We are hoping there will be more students, and we will see more diversity as well. More ideas, more competition, and variety in the class. I’m looking forward for next year” tuturnya.

Foto bersama murid kelas Muhammadiyah Australia College dengan Konjen Kuncoro

Prospek ke depannya

Sebagai sekolah yang baru berdiri, MAC memiliki masa depan yang prospektif. Sejak pertama dibuka pada awal tahun pelajaran, hanya sebanyak 31 murid yang mendaftar, kemudian bertambah 22 orang pada termin selanjutnya. Hal tersebut menunjukkan pesatnya perkembangan MAC sebagai pelopor sekolah Islam Indonesia di Australia.

Meskipun ada kemungkinan perluasan bangunan dan penambahan jenjang pendidikan di MAC, Edwars menyatakan bahwa fokusnya kini adalah untuk membangun budaya dan eksistensi di sekolah tersebut terlebih dahulu.

“Kita mau establish culture dulu. Kita mau make sure apa yang kita lakukan di sini, we do it right. Untuk [melakukan] itu, tidak hanya hanya sebulan atau dua bulan, tetapi beberapa tahun. Bagi kita ini penting sekali, karena insyaallah akan menjadi percontohan. Mudah-mudahan ada lagi Muhammadiyah Australia College di Sydney, Perth, anywhere,” jelasnya.

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

Penggiat Kuliner Indonesia di Victoria Terima Pesan Persatuan Lewat Makan Malam Bersama

Restoran The Uleg di Brunswick terlihat padat dari luar. Ternyata, sedang ada perkumpulan yang diadakan oleh ICAV atau Indonesian Culinary Association of Victoria pada...

Mengenang Kembali Air Asia QZ8501

“Papa pulang, kakak masih butuh papa. Kembalikan papaku. Papa pulang pa. Papa harus ketemu, papa harus pulang….”Harapan dan curahan hati itu diunggah dalam status...

Dubes RI Kristiarto Menyapa Tasmania

Dubes RI untuk Australia merangkap Vanuatu, Y. Kristiarto S. Legowo, pada pertengahan bulan Juli lalu melakukan Kunjungan Resmi ke Tasmania dalam rangka perkenalan resmi...

CASEY NTOMA: “Ambil Ilmunya, Kembangkan di Indonesia”

Sosoknya yang tinggi besar sekilas tak terlihat ramah. Gerakan tubuhnya juga tampak cekatan, saat melangkah dan jabat tangan yang terasa sangat erat. Apalagi terdapat...

IKKORYU FUKUOKA, BUKAN RAMEN BIASA

“Irasshaimase!”Terdengar suara-suara ramah yang menyambut Anda ketika memasuki Ikkoryu Fukuoka Ramen - restoran Jepang baru di Melbourne yang paling mantap dalam hal ramen. Nama...