Sebagai bagian dari Indonesia – Australia PPIA RMIT Melbourne, InDonation setiap tahunnya mengadakan penggalangan dana fund rising untuk masyarakat Indonesia. Pada tahun 2019 InDonation bekerja sama dengan Rumah Faye, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Indonesia yang bekerja untuk membantu para korban perdagangan anak khususnya yang bertujuan untuk prostitusi.

Sebagai bagian dari aktifitas dengan Rumah Faye, InDonation mengadakan Spring Concert pada tanggal beberapa waktu silam di RMIT Storey Hall yang mana keuntungan penjualan tiketnya akan digunakan untuk pembangunan Rumah Faye di Batam. Pada tanggal 14 Oktober 2019, film “Inside Child Sex Trade” juga akan diputar di RMIT Alumni Courtyard untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan permasalahan perdagangan anak.

Berbicara mengenai Rumah Faye, pendiri organisasi non-profit ini adalah seorang remaja berusia 17 tahun. Lantas bagaimanakah Faye Simanjuntak, sang founder Rumah Faye tergerak dan bekerja untuk anak – anak korban perdagangan orang? Ditemui di kantornya di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, BUSET berkesempatan untuk berbincang – berbincang dengan Faye mengenai harapannya untuk membantu korban perdagangan anak di Indonesia

Tergerak Membantu Anak – Anak yang Diperdagangkan Sejak Usia 9 Tahun

Rumah Faye didirikan tanggal 16 Oktober tahun 2013 sewaktu Faye berumur 12 tahun. Rumah Faye sendiri didirikan untuk membantu anak – anak yang diperdagangkan. Secara spesifik korban perdagangan untuk prostitusi. Maraknya kasus perdagangan anak pada waktu itu menyentuh hati Faye kecil. “Sejak kecil aku sudah diajari orang tua untuk melayani orang lain,” ungkapnya.

Awalnya Faye sadar akan privilege-nya sebagai anak yang bisa bersekolah dan memiliki kehidupan yang baik. Sehingga timbulah kesadaran bahwa dia bisa melayani orang lain, yang disupport dengan ajaran dari iman kepercayaannya maupun sekolah. Tetapi ketika Faye belajar tentang perdagangan manusia di sekolah, di situlah dia baru tersadar. Sebelumnya Faye tidak memahami bahwa ada anak – anak yang masih diperjual-belikan. “Aku kira traffic itu awalnya tentang macet gitu, tapi lama – kelamaan baru tahu kalau itu tentang orang yang diperjual belikan.”

Korban perdagangan manusia pun diketahuinya kebanyakan adalah perempuan dan anak (di bawah 18 tahun). Dari situ Faye merasa bahwa dia memiliki tanggungjawab untuk melakukan sesuatu. “Ada perbedaan antara simpati dan empati. Simpati itu seperti kasian, kasih donasi uang, selesai. Tapi dengan empati harus ada investasi dari kita sendiri. Empati harus ada prakteknya, bukan hanya merasa kasihan. Itu yang diajarkan orang tua ke aku,” kata Faye.

Keinginan untuk membantu korban perdagangan orang pun disampaikan oleh Faye kepada Ibunya. Dia sempat meminta Ibunya untuk berdonasi untuk para anak korban perdagangan orang tersebut. Namun sang bunda malah menyarankan Faye untuk berusaha sendiri bukan dengan bantuan orang tua. Akhirnya Faye harus memutar otak. “Aku pikir ini gila dong, aku masih 9 tahun waktu itu, mau ngapain. Lalu aku diajarin mama untuk bikin surat  sebanyak 50 atau 100 ke yayasan, pemerintah, lalu ke aktor dan aktris pokoknya banyak deh. Mungkin dari 100 hanya 10 yang jawab,” kisahnya. Tapi diakuinya, mereka yang memberikan jawaban senang dengan apa yang Faye lakukan, sehingga mereka mengijinkan Faye untuk mengunjungi Rumah Aman (tempat perlindungan korban), melakukan wawancara, serta melihat program mereka. Dari situ Faye bisa mengetahui keperluan di Indonesia khususnya di Jakarta dengan apa yang dia pelajari melalui kegiatan tersebut. Faye pun melihat dampak kegiatan mereka sehingga menggerakan hatinya untuk membuat hal yang sama di komunitasnya sendiri di Jakarta.

Faye Bersama Dewi Astuti, Program Manager yang membantunya menjalankan aktifitas

Setelah satu setengah hingga dua tahun melakukan penelitian, Faye mencari rekan yang sudah pernah bekerja di bidang anti – perdagangan orang untuk membantu mendirikan lembaga tersebut. Sehingga pada tahun 2013 Faye dan ibunya mendirikan Rumah Faye yang pada awalnya berfokus pada kegiatan pencegahan melalui pemberian pendidikan tentang perdagangan anak. Keunikan Rumah Faye sendiri diakuinya adalah keterlibatan anak – anak muda dalam diskusi seperti kalangan pre-teen sehingga membuat mereka bisa bertanya dan melakukan diskusi bahwa ini bukan hal yang tabu. Hal tersebut diharapkan bisa kemudian mereka bagikan ke teman – teman mereka untuk mencegah perdagangan anak.

Rumah Faye kemudian juga mulai memberikan beasiswa, kelas – kelas masak, dan kelas kreatif untuk anak – anak tersebut.

Rumah Aman di Kepulauan Riau

Pada tahun 2017 Rumah Faye mendirikan Rumah Aman di Kepulauan Riau di Batam. Di Batam, dia melihat kondisi anak – anak di sana. Faye mengungkapkan bahwa kasus di sana bukan hanya prostitusi namun juga eksploitasi oleh orang tua mereka dan orang terdekat mereka. Isu – isu kekerasan juga banyak terjadi, sehingga Rumah Faye fokus ke perdagangan, kekerasan, dan eksploitasi. “Biasanya sexual exploitation tapi di beberapa kesempatan juga termasuk child labour,” ungkap Faye.

Rumah Faye memiliki program, yaitu kampanye, advokasi, jaringan, pembebasan serta pemulihan. Kampanye dan advokasi banyak dilakukan di daerah – daerah dimana anak – anak rentan diperdagangkan. Disitulah mereka memberi beasiswa, pendidikan dan diskusi yang ditujukan ke anak – anak yang rentan diperdagangkan atau memperjual belikan diri sendiri. Di situ mereka juga terlibat dengan polisi atau local enforcement untuk membantu anak – anak yang diperdagangkan sebagai program pembebasan.

Aktifitas bersama anak jalanan

Selanjutnya, yang merupakan jantung Rumah Faye adalah pemulihan. Dengan Rumah Aman di Batam mereka memiliki kapasitas 20 perempuan atau 20 anak, tetapi hanya dibatasi 7 hingga 10 karena terkendala manpower. Jadi ada 2 house mom yang tinggal di sana dan konsultan yang bisa menyediakan counselling dan datang setiap waktu. Beberapa aktivitas seperti hydroponic, kelas menjahit, kelas pottery yang diadakan sekaligus untuk berbicara dengan korban, kelas merajut, outing sekali atau dua kali seminggu dan kelas kewirausahaan diberikan kepada korban perdagangan anak tersebut. Rumah aman di Batam tersebut mengajarkan practical skills melalui terapi. “Apa yang dilakukan di Rumah Aman ada tujuannya, bukan hanya sekedar memenuhi waktu,” jelas Faye.

Kerjasama Dengan Keluarga

Dalam membantu korban, Rumah Faye juga bekerja dengan keluarga para korban. Dikarenakan banyak isu yang tabu dalam masyarakat mengenai kekerasan terutama kekerasan seksual, mereka melibatkan orang tua korban dalam diskusi untuk bisa mengerti dengan apa yang terjadi dengan anak mereka dan untuk meng-acknowledge situasi yang dihadapi anak mereka. Kerjasama dengan orang tua untuk reintegrasi yang sehat sering kali dilakukan namun case by case, karena ada situasi dimana orang tua menjadi pelaku.

Lebih dari Sekedar Donasi

Tahun 2018 Rumah Faye bekerja dengan PPIA Sydney. Setelah itu mereka juga bekerja sama dengan event besar Soundquriang. Untuk tahun 2019 kembali bekerja sama dengan Soundquriang dan RMIT. Rumah Faye sangat positif menyanggupi tawaran RMIT karena melibatkan anak – anak yang bersekolah dan berpendidikan agar mereka bisa melayani masyarakat. “Ini Indonesia mereka juga, ini tanggung jawab mereka sebagai anak milenial untuk bisa membuat sesuatu penting untuk masyarakat kita. Kita senang kalau ada mahasiswa yang inisiatif mau membantu kita, kontak kita.” Faye mengakui bahwa pada awal dibangun Rumah Faye sekitar tahun 2013 masih sedikit yang berinisiatif untuk membantu karena dia dipandang masih kecil. Berbeda dengan tahun ini, dimana ada kumpulan mahasiswa negara lain yang mau membantu membuat sesuatu.

Dewi selaku Program Manager menambahkan, “income yang didapat dengan kegiatan tersebut sebenarnya tidak banyak, namun sisi positifnya orang kayak Faye mungkin one of a kind. Bagaimana dia menginspirasi orang lain itu yang penting. Yang ke dua, menangani trafficking nggak mungkin kerja sendiri karena musuhnya culture, mafia, jadi butuh banyak orang. Sebenarnya yang didapat bukan hanya uang tetapi bagaimana menginspirasi orang lain sehingga kemudian mereka bergerak bersama,” kata Dewi.

Ditambahkan Faye, Rumah Faye adalah tentang anak muda melakukan sesuatu, yayasan anak muda yang ingin memperjuangkan hak anak.

Penyuluhan lewat pendidikan

Pesan Untuk Mahasiswa

Faye mengharapkan semoga banyak mahasiswa Indonesia kembali ke Indonesia untuk melakukan sesuatu yang penting untuk masyarakat.

“Jangan lupa Indonesia. Seringkali kita lupa seberapa besarnya Indonesia. Indonesia itu besar banget, masa pergi ke luar negeri tapi belum pernah melihat tempat – tempat di Indonesia tapi sudah sok – sok ga suka. Boleh capek peduli sama negeri, tapi capek nggak artinya boleh berhenti. Jangan pernah berhenti cinta Indonesia,” tegas Faye.

Yuniar