Anggota tim khusus Presiden Habibie untuk reformasi UUD Politik, kepala Unit Pemerintahan di United Nations Development Program, Ketua Tim Khusus pasca tsunami Aceh, dan kini direktur Australia Indonesia Centre. Sekilas dari perangainya yang santai dan ramah, sulit bagi orang untuk berpikir bahwa bule asal Australia ini telah terlibat dalam berbagai seluk-beluk politik Indonesia semenjak Orde Baru hingga masa pemerintahan Jokowi. Selama 35 tahun terakhir, Kevin Evans telah mengabdikan hidupnya untuk reformasi politik, reformasi konstitusi dan pemberantasan korupsi di Indonesia. 

Bermula dari keinginannya untuk tampil beda dari teman-teman sebayanya saat masih duduk di bangku SMP, pria asal Brisbane ini memilih untuk belajar Bahasa Indonesia alih-alih Jerman atau Perancis yang menurutnya tidak sekeren Bahasa Indonesia. Dirinya juga berpikir dengan dekatnya lokasi geografis Indonesia dan Australia, dia akan punya kesempatan lebih besar untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang Indonesia ketimbang orang Perancis maupun Jerman.

Kevin lantas menempuh pendidikan sarjana di Griffith University dalam bidang Modern Asian Studies dimana dia berkesempatan untuk mengembangkan minatnya terhadap Indonesia melalui program pertukaran pelajar di Ujung Pandang. Ketertarikan Kevin terhadap Indonesia berlanjut dan setahun kemudian ia mendaftar ke program Honors di bidang Indonesian Economy. Selepas universitas, Kevin mulai meniti karir di Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia hingga akhirnya ditempatkan di Jakarta di tahun 1991.

Krisis 1998 dan Awal Karir Politik

Jakarta adalah awal dari semuanya untuk Kevin. Setelah 5 tahun menjabat sebagai wakil konsul muda di kedutaan Australia, Kevin beralih ke dunia perbankan. Dengan terjadinya Krisis Finansial Asia yang mulai terasa sejak 1996 dan mencapai puncaknya pada tahun 1998, Kevin yang kala itu bekerja sebagai analis di Bank ANZ menempati posisi unik dimana ia sebagai orang asing terlibat langsung dengan salah satu krisis ekonomi dan politik terbesar di Indonesia.

“Seminggu setelah mata uang Thailand jatuh, saya langsung merasa dengan jelas bahwa dampak krisis ini akan sangat besar sekali terhadap Asia Tenggara,” tuturnya melalui phone interview dengan kru BUSET.” Kevin mengenang saat puncak krismon, banyak orang asing di Indonesia mengalami ketakutan terhadap apa yang akan terjadi jika pemerintahan Soeharto jatuh. Tak sedikit yang berspekulasi bahwa Indonesia akan mengalami Revolusi Islam atau keluar dari Ekonomi Global dan menjadi seperti Korea Utara. Namun sebaliknya, Kevin justru bersemangat.

“Waktu itu saya menyadari keterbatasan Orde Baru dalam mengatasi krismon. Benturan kepentingan antara pemimpin pemerintahan, kebijakan ekonomi yang kaku, dan sistim yang tidak memungkinkan pergantian presiden adalah faktor-faktor yang membatasi pemerintah saat itu. Dan perubahan dan pemulihan Indonesia tidak akan terjadi selama Soeharto masih menjadi presiden.”

Seperti yang Kevin pikirkan, Orde Baru jatuh, dan presiden dengan cepat digantikan oleh BJ Habibie. Kevin lantas mendaftarkan dirinya untuk menjadi relawan bagi tim khusus Presiden Habibie untuk melakukan reformasi pada Undang-Undang Dasar Politik. Dari situlah karirnya di politik dan pemerintahan Indonesia mulai melejit. Ia pun direkrut oleh PBB sebagai Kepala Unit Pemerintahan (Head of Governance Unit) untuk proyek Kemitraan Bagi Pembaruan Tata Pemerintah di Indonesia yang bertujuan membantu pemulihan pemerintahan Indonesia yang kacau pasca jatuhnya Soeharto. Tugas pertama Kevin saat itu adalah membantu Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam proses penyelenggaraan pemilu tahun 1999 dan terus berlanjut hingga pemilu 2004. Dalam tempo lima tahun, Kevin mengakui adanya perubahan signifikan terhadap proses kampanye dan pemilu.

“Dulu pada zaman Pak Harto, waktu kampanye kita lihat banyak orang di jalanan, tapi mereka tidak bebas. Semuanya diatur oleh pemerintah. Sekarang orang bebas kampanye,” kenangnya.

Melalui UNDP, Kevin terus berkarya di Indonesia dan terlibat dalam berbagai upaya pemerintah dalam memberantas korupsi. Salah satu hasil dari kerja kerasnya yang rakyat Indonesia nikmati saat ini adalah berdirinya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia juga aktif terlibat sebagai ketua tim khusus yang ditugaskan oleh Kementrian Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi untuk membangun Aceh pasca tsunami di tahun 2004 silam.

“Saya bangga karena kebijakan dan strategi yang saya susun untuk menjaga integritas program rekonstruksi Aceh waktu itu diadopsi oleh pemerintah, dan menjadi dasar untuk program anti korupsi sekarang.”

Tidak hanya di Indonesia, pria yang gemar naik ojek ini juga sempat ditugaskan di Turki, Mesir dan Afghanistan dimana ia membantu program pemulihan tata negara. Di Mesir pula ia mendapat kesempatan untuk kembali bekerjasama dengan Habibie untuk membantu Mesir dalam upaya reformasi pemerintahan pasca Arab Spring.

Kevin kembali ke ranah politik dan pemerintahan Jakarta pada tahun 2012 setelah 2 tahun di dunia akademis mengajar sebagai dosen ilmu politik di Central European University, Budapest. Setelah merampungkan program PBB, Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD Plus), kini Kevin menjabat sebagai direktur Indonesia untuk Australia-Indonesia Centre, sebuah lembaga riset yang didirikan kedua negara untuk mendukung kemajuan sains, teknologi, edukasi, dan inovasi.

Pelajari Sejarah Indonesia

Kevin tidak pernah berhenti bekerja untuk passion-nya di bidang perbaruan politik Indonesia. Baru saja ia menerbitkan makalah penelitian bertemakan reformasi konstitusi Indonesia yang berfokuskan pada sejarah politik Indonesia dan debat-debat inti tentang awal mula dasar dan bentuk pemerintahaan Indonesia post-kolonialisme. Dengan pengetahuan dan pengertiannya akan sejarah Indonesia, Kevin berharap ia dapat membantu Indonesia mencapai bentuk pemerintahan yang lebih baik dan efisien. 

Kevin punya satu pesan penting untuk orang Indonesia, terutama generasi muda: mengerti sejarah Indonesia. “Berhenti menganggap sejarah sebagai racun, pelajari sejarah, dan bukan tentang mitos-mitos seperti yang diajarkan sekarang.”

Saat ditanya kenapa begitu peduli terhadap Indonesia, Kevin memberikan jawaban sederhana. “Karena Indonesia cocok dengan saya, dan saya bisa menyumbangkan yang berguna.”

Phoebe