Maliq and D’essentials HADIR UNTUK MELBOURNE

Maliq & D’Essentials tak bisa dipungkiri merupakan band ternama di Indonesia. Aliran mereka yang berdasarkan Jazz dan Soul telah mendapatkan tempat sendiri di hati para penggemar musik Tanah Air. Pada Soundsekerta yang digelar oleh PPIA Monash tahun ini, Maliq and D’essentials akan tampil di Melbourne untuk menghibur para fans-nya. Tetapi sebelumnya, BUSET mendapat kesempatan untuk berbincang dengan mereka dan mencari tahu kegiatan mereka selama tahun 2014 ini so far.

Sejak kali terakhir kunjungan Maliq & D’Essentials ke Melbourne, mereka telah merilis album ke-6 yang diberi judul ‘Musik Pop’. Seperti yang diharapkan, album ini mendapat respon penjualan sesuai target meski para penggemar Maliq sempat dikagetkan dengan nuansa musik yang ‘baru’ dan berbeda dari musik Maliq & D’Essentials lainnya.

“Ini merupakan masterpiece kami dan mendapatkan respon yang sangat baik dan positif dari sesama musisi, fans dan media,” ujar salah satu lead vocalist Angga Puradiredja. Bukan cuma itu saja, album ‘Musik Pop’ ini pula sukses mendapatkan penghargaan dari AMI Awards 2014 sebagai Best Duo/Group Urban.

Akan tetapi, pada 2013 silam, lead vocalist lainnya, Indah Wisnuwardhana mengalami hal mengkhawatirkan, yakni asam lambung naik yang mengakibatkan tidak kondusifnya pita suara dan area sekitarnya. Indah yang berprofesi sebagai penyanyi, memakai pita suaranya secara berkelanjutan dengan kondisi tersebut. Hal itu lalu mengakibatkan varises pada pita suaranya. Karena kondisi itulah Indah diharuskan mengistirahatkan pita suaranya dan menjalani perawatan. Maliq & D’Essentials pun terpaksa berlanjut manggung tanpa Indah selama beberapa waktu. “Kualitas suara sudah jauh membaik karena ada vocal therapy dan vocal exercise tanpa harus dilakukan surgery, perubahan pola makan juga membantu terapi vokal ini,” jelas Angga tentang kondisi Indah sekarang.

Single pertama dari album ‘Musik Pop’ ini adalah Ananda yang dinyanyikan bersama musisi jazz kawakan, Indra Lesmana. “(Proses ini) seru dan membuat kita selalu membumi karena melihat bagaimana seorang musisi seperti Mas Indra Lesmana mampu dan dengan welcome beradaptasi terhadap konsep musik Maliq & D’Essentials yang berubah, tanpa harus keluar dari filosofi musik kita itu sendiri,” ketika ditanya bagaimana rasanya bisa berkolaborasi dengan Indra.

Untuk kedepannya, bila ada kesempatan Maliq & D’Essentials ingin bekerjasama dengan musisi-musisi dari berbeda genre. “Sehingga bisa lebih eksplorasi, berkembang proses kreatifnya, memberikan surprise dan hal baru lagi buat fans dan industri musik, serta menjadikan sebuah challenge dalam bermusik bagi kita.”

Menurut para personil Maliq & D’Essentials, hal kolaborasi tidak hanya terbatas pada penulisan lagu atau aransemen, tetapi juga ke proses teknis, seperti recording, proses keproduseran dan sebagainya. Sejalan dengan ini, Maliq & D’Essentials ingin terus berevolusi dalam bermusik baik di live performance, penulisan lagu, aransemen, teknis produksi musik, bisnis recording label, sampai pengembangan merchandise.

Sebelum ‘Musik Pop’ ada hal menarik yang terjadi ketika membuat album ‘Sriwedari’ yang rilis 2013, yakni proses mastering – proses finalisasi sebelum duplikasi dan setelah mixing – dilakukan di Abbey Road Studios, London, Inggris. Abbey Road terkenal karena band legendaris The Beatles juga melakukan beberapa proses mastering lagu mereka. “Itu dilakukan semua via online dengan pihak mereka. Dan kita bersyukur so far selalu puas dengan hasil mastering di Abbey Road. Mereka selalu welcome, service-nya begitu responsif dan selalu memberikan yang terbaik tanpa pandang kita ini band apa dan siapa, karena bisa dipastikan mereka tidak mengenal Maliq & D’Essentials yang berasal dari Indonesia,” tutur Angga.

Tapi Maliq & D’Essentials cukup terkesan dengan salah satu hasil obrolan kecil via telepon dengan Geoff Pesche (Engineer Mastering) yang mereka pilih dari Abbey Road Studios untuk mengerjakan mastering album mereka. Setelah mendengarkan materi yang dikirim, responnya adalah, “after hearing your songs, you’re right and you are home.” Angga menambahkan bahwa Geoff merasa bahwa Maliq memilih studio yang tepat untuk proses mastering karena sound yang Maliq buat cocok dengan konsep musik Abbey Road.

Untuk Soundsekerta 2014: Limitless Indonesia, Maliq & D’Essentials berencana membawakan sekitar sebelas lagu termasuk Setapak Sriwedari, Dunia Sekitar, Heaven, Coba Katakan, Untitled, Ananda, Himalaya, Dia, Terdiam, Drama romantika, Pilihanku dan Terlalu.

“Tapi kita suka spontan merubah dan menambah setlist,” ucap Angga sedikit bercanda seraya mengakhiri wawancara Maliq & D’Essentials dengan BUSET.

sasha

10572000_784984148211609_4077757819610583580_o

 

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

WEMINAC Fest 2021: Upgrade Your Skills and Knwoledge

Women and Men Indonesian Centre membuka tahun 2021 dengan WEMINAC Fest, festival webinar yang membahas topik seputar pemuda dan kesehatan reproduksi di Indonesia.  Acara yang...

Perjalanan Seorang Arsitek Dibalik Nama WiLLiV Architecture | Darwin Wirawan

Dibalik kesuksesan sebuah bisnis, pastinya ada perjalanan yang mengharuskan kerja keras, dedikasi serta pembagian waktu yang tepat demi membawa impian menjadi kenyataan. Hal yang sama harus dilalui oleh...

Berjuang dan Saling Memotivasi | Victoria Cup 2018

Di Bulan Juni ini mahasiswa akan dipertemukan kembali dengan hal yang akan selalu menegangkan setiap akhir semester. Apalagi kalau bukan ujian atau berbagai macam...

Ibnurrais Nisfusyah Yani Menjawab Keraguan | Presiden PPIA Monash 2018 – 2019

Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) Monash University 2018-2019 atau biasa juga disebut Ketua, sudah terpilih lewat pemilihan yang berlansung pertengahan Oktober lalu....

Mengupas Identitas Etnis Tionghoa

Monash Herb Feith Indonesian Management Centre, sebuah platform yang didirikqn dengan tujuan meningkatkan interaksi komunitas riset dengan Indonesia, kembali mengadakan konferensi  di Monash University yang berlangsung selama tiga...