Malaria dan DBD Masih Bersarang di Tubuh Indonesia


Tanggal 20 Agustus diperingati sebagai Hari Nyamuk Sedunia. Hal ini menandai peristiwa ketika Sir Ronald Rosspertama kali berhasil mengidentifikasi nyamuk Anopheles sebagai vektor pembawa malaria pada manusia.

Selain malaria, nyamuk juga membawa virus chikungunya, demam berdarah dengue, dan virus Zika. Karena itu kali ini BUSET mengajak pembaca untuk sejenak melupakan Covid-19 dan kembali menilik fakta bahwa Indonesia masih belum merdeka dari Malaria dan Demam Berdarah (DBD).

Data terbaru dari www.kemkes.go.id belum memaparkan jumlah sebaran kasus Malaria per tahun 2020 tetapi telah menyatakan bahwa ada sekitar 16ribu kasus DBD dalam periode awal hingga pertengahan tahun 2020.

Bahkan sama seperti tahun 2019, tahun ini (2020) wabah DBD di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB). Untuk informasi yang lebih jelas terkait KLB DBD di NTT, tim BUSET mewawancarai dr. Octavina Sri Indra Handayani yang merupakan dokter umum yang telah melayani di beberapa kabupaten dan desa-desa  di NTT serta bersentuhan langsung dengan penanganan DBD di wilayah-wilayah tersebut.

Persamaan dan Perbedaan Malaria dan DBD

Secara umum dokter cantik yang biasa disapa dr. Ani ini menjelaskan bahwa keduanya (Malaria dan DBD) adalah penyakit atau infeksi berbasis lingkungan dan keduanya pun di sebabkan oleh nyamuk. Berikut adalah perbedaan Malaria dan DBD secara detail:

Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang disebarkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina. Setelah gigitan nyamuk tersebut, parasit masuk ke dalam tubuh dan menempati organ hati, dimana parasit dapat tumbuh dan berkembang biak.

Saat parasit tersebut tumbuh dan menjadi dewasa, parasit pergi dari organ hati dan merusak sel darah merah. Kerusakan pada sel darah merah inilah yang menimbulkan gejala anemia pada penderita. Di samping melalui gigitan nyamuk, penyebaran parasit malaria juga dapat terjadi karena terpapar darah penderita malaria.

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan seseorang terpapar malaria adalah: Janin yang terinfeksi dari ibunya, menerima transfusi darah, berbagi pemakaian jarum suntik dan menerima donor organ.

Ada lima jenis Plasmodium Malaria yang menginfeksi manusia yaitu: Malaria falciparum, vivax, ovale, malariae dan knowlesi. Gejala malaria akan muncul 10-15 hari setelah gigitan nyamuk. Namun pada beberapa kasus, gejala baru timbul setelah beberapa bulan karena parasit penyebab malaria dapat bertahan dalam keadaan tidak aktif di dalam tubuh penderitanya.

Gejala lainnya: Demam, Menggigil, Sakit kepala, Berkeringat banyak, Lemas, Pegal linu, Gejala anemia atau kurang darah, Mual atau muntah, Nyeri perut, Diare dan BAB berdarah.

DBD/Demam Berdarah disebabkan oleh virus Dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Virus tersebut akan masuk ke aliran darah manusia melalui gigitan nyamuk. Biasanya, jenis nyamuk ini menggigit di pagi atau sore menjelang petang. Penularan terjadi saat nyamuk menggigit dan menghisap darah seseorang yang sudah terinfeksi virus dengue, ketika nyamuk tersebut mengigit orang lain, maka virus akan tersebar.

Hal tersebut terjadi karena nyamuk berperan sebagai medium pembawa (carrier) virus dengue tersebut.  

DBD dapat dipicu oleh faktor risiko tertentu seperti: Pernah mengalami infeksi virus dengue sebelumnya, tinggal atau bepergian ke daerah tropis, bayi/anak-anak/orang lanjut usia dan orang dengan kekebalan tubuh yang lemah sangat beresiko.  

Gejala umumnya timbul 4-7 hari sejak gigitan nyamuk, dan dapat berlangsung selama 10 hari. Beberapa gejala demam berdarah, yaitu: Demam tinggi mencapai 40 derajat Celsius, nyeri kepala berat, nyeri pada sendi, otot dan tulang, nyeri pada bagian belakang mata, nafsu makan menurun, mual dan muntah, ruam kemerahan sekitar 2-5 hari setelah demam, kerusakan pada pembuluh darah dan getah bening; dan perdarahan dari hidung, gusi, atau di bawah kulit.

Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah (KLB DBD) di NTT

Dokter berusia 28 tahun ini membenarkan bahwa dua tahun berturut-turut NTT mengalami KLB DBD yaitu pada 2019 di Kabupaten Sumba Timur dan tahun ini di Kabupaten Sikka.

Kemudian terjadilah kebingungan masyarakat ‘mengapa DBD cenderung lebih mengganas di daerah tropis/kering ketimbang daerah suptropis yang lebih basah?’. Dr Ani menerangkan bahwa secara original habitat asli nyamuk adalah hutan, semak belukar dan daerah berawa-rawa. Nyamuk mengkonsumsi darah hewan lainnya untuk bertahan hidup dan protein dari hewan/ternak besar untuk membantu fertilisasi telurnya.  

Tetapi populasi manusia meningkat dan habitat nyamuk-pun berubah menjadi permukiman. Dengan kata lain, kini permukiman penduduk juga merupakan habitat nyamuk. Segala yang dibutuhkan nyamuk untuk bertahan hidup ada dalam permukiman penduduk yaitu lingkungan yang lembab dan kotor, ternak dan bahkan juga manusia yang kemudian menjadi sasaran konsumsi nyamuk sebagai sumber darah segar dan protein.  

Jadi faktor utama yang mempertahankan malaria dan DBD di suatu region adalah Agen (manusia), Vektor (Nyamuk) dan Habitat (lingkungan). Jika lingkungannya lembab dan kotor maka populasi nyamuk meningkat dan manusia dengan daya tahan tubuh rendah akan terinfeksi.

Kenyataan saat ini bahwa wilayah tropis jarang permukiman lebih rentan ketimbang subtropis padat permukiman dikarenakan wilayah padat permukiman biasanya adalah perkotaan dan seringkali telah teredukasi, asupan nutrisi perseorangan lebih baik, akses sarana prasarana kesehatan juga lebih mudah sehingga pencegahan maupun penanganan kasus Malaria dan DBD menjadi lebih mudah terkontrol.

Sedangkan daerah tropis seperti Indonesia Timur kebanyakan wilayahnya terpencil dan pelosok sehingga minim sosialisasi, asupan nutrisi perseorangan juga jauh dari standar kesehatan, akses kepada layanan kesehatanpun terlampau sulit. Selain itu, wilayah tropis yang cendrung kesulitan air membuat masyarakatnya menampung air hujan dan enggan menguras penampungnya karena itu sama saja dengan menghambur-hamburkan air.

Hal lainnya adalah kebanyakan bentuk rumah tradisional masyarakat Indonesia Timur adalah rumah panggung; bagian bawah panggung adalah kandang ternak besar maupun kecil yang digemari oleh nyamuk dan bagian atasnya langsung ditinggali manusia sehingga nyamuk dengan lebih mudah mendapat akses untuk menyerang manusia.

Sementara itu masa hidup nyamuk betina bisa mencapai 1-3 bulan dan selama masa hidupnya dapat bertelur 5-6 kali dengan kuantitas ±600butir per sekali bertelur. Telur-telur nyamuk memiliki kemampuan hibernasi di musim panas sehingga pada musim hujan yang singkat di daerah tropis merupakan bahaya yang sesungguhnya sebab telur-telur nyamuk akan serentak menetas dan popuasi nyamuk menjadi meningkat 2-3 kali lipat dari daerah suptropis yang penetasan telurnya tidak serentak.

Demikian analisa dr.Ani terkait KLB DBD di NTT dan yang sebelum-sebelumnya juga terjadi di wilayah tropis lainnya di Indonesia.

Pencegahan dan Penanganan Mandiri Hingga Mencontoh Singapura

Dokter yang gemar mengadopsi anjing-anjing kampung ini mengatakan bahwa pencegahan hingga penanganan Malaria serta DBD dapat dilakukan bersama oleh masyarakat dan pemerintah.

Dokter Ani yang juga merupakan relawan di LSM Solidaritas Perempuan dan Anak (SOPAN) yang berpusat di Pulau Sumba tengah sibuk dengan proyek sosialisasi pencegahan DBD di desa-desa rentan di beberapa Kabupaten di Pulau Sumba. Menurutnya, pemerintah pusat harus ditolong oleh pemerintah daerah dan pemerintah daerah harus ditolong oleh tenaga medis lapangan yang pekerjaannya akan semakin maksimal bila digandeng atau menggandeng LSM setempat. Sebab tidak dapat disangkal bahwa LSM selalu lebih dekat dengan masyarakat sekaligus punya akses ke pemerintah setempat.

Berikut adalah hal-hal yang selalu disampaikan dr. Ani kepada desa-desa binaannya sebagai upaya pencegahan mandiri:

  • Menguras bak mandi seminggu sekali atau menaburkan bubuk abate (pembunuh jentik nyamuk)
  • Bersihkan juga wadah penampung air lainnya
  • Pasang kasa dan kelambu nyamuk pada ventilasi dan tempat tidur
  • Jangan menumpuk atau menggantung baju terlalu lama
  • Gunakan lotion atau krim anti nyamuk jika akan bekerja di ladang atau hutan
  • Gunakan pakaian tertutup saat malam hari di tempat terbuka, dapat juga memelihara ikan pemakan jentik (Cupang, ikan Kepala Timah, ikan Cere, ikan Mas, dan sebagainya)
  • Menanam bunga atau rempah pengusir nyamuk (sere biasa, sere wangi, bunga kenikir, mahoni, pepaya, lavender, resmery, jeruk purut, bunga pecah piring, dan sebagainya).

Sementara pemerintah terus menopang pencegahan mandiri dengan membagikan secara gratis bubuk abate, kelambu anti nyamuk Malaria dan DBD, peningkatan sarana kesehatan hingga ke desa-desa serta pembaharuan metode fogging sebab bahan yang digunakan untuk fogging telah resisten dengan antibody nyamuk itu sendiri sehingga nyamuk tidak lagi mati jika difogging kecuali dalam jumlah konsentrat yang sangat banyak dan dalam waktu berjam-jam. Namun penyemprotan fogging dalam jumlah banyak dan peningkatan konsentrat justru akan membahayakan manusia dan lingkungan (tidak ramah lingkungan dan tidak ramah pernapasan).

Menurut dr. Ani pemerintah juga tengah mencontoh upaya-upaya yang dilakukan oleh Singapura yang diketahui dari berbagai media telah berhasil meniadakan Malaria dan DBD di negara tersebut sejak tahun 2005. Indonesia mempelajari banyak hal dari Singapura mulai dari perbaikan metode dan formula fogging hingga rekayasa TSM/Teknik Serangga Mandul.

TSM dalam hal ini serangga yang diujicobakan adalah nyamuk jantan yang dimandulkan dengan paparan sinar gamma lalu dilepas kembali ke populasi. Hal ini akan mengerem perkembangbiakkan nyamuk sebab perkawinan nyamuk yang mengalami TSM dengan nyamuk betina akan menghasilkan telur-telur kosong.

Hal ini dapat dipastikan dengan memperhatikan perubahan bentuk telur yang akan menjadi kempes atau penyok karena tak berisi. Tim peneliti Indonesia sebenarnya telah melakukan penelitian ini sejak tahun 2012 dan beberapa tahun sesudahnya diujicobakan di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Metode ini cukup berhasil mengurangi populasi nyamuk di Kota Salatiga namun hingga saat ini belum dijadikan sebagai metode penanganan berskala nasional karena berbagai kendala seperti pendanaan laboratorium dan juga isu lingkungan terkait pertimbangan kemungkinan musnahnya nyamuk dan perubahan rantai makanan di ekosistem secara keseluruhan. Namun menurut dr. Ani penelitian ini pantas untuk dilanjutkan dan berlakukan secara bertahap terutama di daerah-daerah tropis dan pelosok Indonesia.

Masa pandemi tidak menjadi hambatan bagi dr. Ani untuk tetap mengedukasi masyarakat

Dokter yang hobinya gardening ini kemudian mengakhiri penjelasannya dengan mengajak seluruh pembaca BUSET untuk mawas diri terhadap Malaria dan DBD terutama jika memiliki anak-anak.

“Menurut saya, pencegahan paling maksimal adalah dari diri sendiri yaitu menjaga sistem imun tubuh terutama pemenuhan nutrisi bagi anak-anak kita. Berikutnya adalah masalah kebersihan rumah dan lingkungan yang tentu saja menjadi tanggung jawab kita sendiri sebab pemerintah tidak akan datang untuk menguras bak mandi kita. Jangan pernah mengabaikan Malaria dan DBD sebab kita atau orang di sekitar kita bisa saja terenggut nyawanya oleh kedua penyakit ini”.

Salam sehat!

Discover

Sponsor

Latest

MERAH PUTIH BERKIBAR, BINTANG KEJORA PUN TAK SEGAN BERKIBAR

  Pada perayaan hari kemerdekaan ke-71 Republik Indonesia di Federation Square Melbourne terlihat beberapa orang berdemonstrasi mengatasnamakan Free West Papua atau yang biasa dikenal di...

BERBUKA BERIBADAH BERSAMA | BUKBER KJRI MELBOURNE

Buka puasa bersama di Bulan Suci Ramadan memang tak asing lagi, apalagi di Indonesia. Tradisi kaum Muslim ini sudah dilakukan dari sejak dulu untuk...

LABOR CITIZENSHIP CLAIMS ARE WRONG

THE HON ALAN TUDGE MP MINISTER FOR CITIZENSHIP AND MULTICULTURAL AFFAIRS MEDIA RELEASE 9 March 2018 Claims by the Labor Party that the Federal Government would require ‘university’...

ASPIRASI SENI SOUNDSEKERTA 2015 “SOUND OF THE NATION”

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) Monash University mengadakan pentas seni setiap tahunnya bertajuk Soundekerta. Acara ini telah dimulai sejak 2007 dan memiliki tujuan...

Minum Secangkir Mabok Seempang!

  酒量 jiǔliàng selain berarti "kadar alkohol" juga bermakna "kemampuan minum alkohol." Bagi yang berkarir di pemerintahan dan juga kalangan pebisnis, 酒量 termasuk penting dan...