Lomba 17-An KBRI dan KJRI Secara Virtual

Lomba 17 Agustusan yang biasa identik dengan berbagai lomba olahraga tahun ini harus beradaptasi dengan kondisi pandemi Covid-19. Oleh karena itu wakil pemerintah Indonesia di Australia melakukan berbagai upaya kreatif dalam merayakan HUT RI yang ke-75 dengan mengajak warga Indonesia untuk berpartisipasi dalam lomba-lomba virtual.

Khusus untuk tahun ini, KJRI Melbourne mengadakan 4 perlombaan virtual bagi para warga Indonesia untuk kategori anak-anak hingga dewasa. Diantaranya adalah perlombaan mewarnai, lomba video, lomba busana daerah pria dan wanita, dan lomba pembacaan puisi. Berikut adalah para pemenenang lomba sesuai kategori mereka.

Lomba Mewarnai Anak (Usia 5-7 tahun)

Juara 1 – Kiara Barus (7 tahun)

Juara 2 – Ishbel AK Kesumajuda (6 tahun)

Juara 3 – Milos Perdanaputra (7 tahun)

Lomba Mewarnai Anak (Usia 8-11 tahun)

Juara 1 – Mufidah Ikhlas (11 tahun)

Juara 2 – Jesslyn Sumantri (11 tahun)

Juara 3 – Nathan Barus ( 11 tahun)


Lomba Foto Busana Daerah (Anak)

Juara 1 – Kaiesha Jacobs (12 tahun) Kalimantan Timur

Juara 2 – Annabelle Sophie Gay (3 th) Sumatera Selatan (Palembang)

Juara 3 – Akhtar Perdanaputra (7 tahun) Papua

Juara Harapan Harapan 1 – Rauffal Nabhan Wahyu (6 tahun) Jawa Barat

Juara Harapan Harapan 2 – Kiara Barus (7 tahun) Sumatera Utara (Karo)

Juara Harapan Harapan 3 – Ishbel AK Kesumajuda (6 tahun) Bali

Lomba Foto Busana Daerah (Pria)

Juara 1 – Krisdinata, Baju Adat Madya Bali dan Tolak angin dan Minyak Caplang

Juara 2 – Irvan N. Taofik, Surjan Lurik Jawa Tengah, Minyak Kayu Putih Caplang

Juara 3 – Alex Hutabarat, Ulos – Batak Toba, Minyak Tawon

Lomba Foto Busana Daerah (Wanita)

Juara 1 – Maria Parker, Kalimantan & Garuda Indonesia Jember Jawa Timur dan Tolak Angin Sido Muncul & Pasta Gigi Pepsodent

Juara 2 – Putri Nurul A’la, Aceh Betawi dan Nasional Tolak Angin Sido Muncul

Juara 3 – Sony Simanjuntak , Batak, Sumatera Utara dan Minyak telon Konicare

Lomba Baca Puisi

Juara 1 – Penyair Perjuangan Anny Enggreani

Juara 2 – Penyair Ekspresif Muhamad Abduh

Juara 3 – Penyair Melankolik – Nika Suwarsih

Lomba Video (Umum)

Lomba video kali ini bertemakan “Bagaimana Kamu Mengisi Kemerdekaan”. Tentunya peserta yang paling kreatif yang memenangkan kateogori ini.

Juara 1 – Mugni 

Juara 2 – Grandis Putri

Juara 3 – Ricky Novianto

Sedangkan di Canberra dan ACT, KBRI mengadakan 3 macam perlombaan. Lomba yang pertama merupakan lomba membuat video kreatif yang bertemakan “Kontribusi Generasi Muda dalam 75 Tahun Indonesia Merdeka”. Lomba ini terbuka bagi para WNI yang saat ini berada di Australia.

Bukan hanya warga Indonesia saja, warga Australia juga diajak untuk meramaikan perayaan HUT RI tahun ini dengan mengikuti lomba pidato dan lomba menyanyi dalam Bahasa Indonesia. Kedua lomba ini khusus bagi para warga Australia yang kini sedang belajar Bahasa Indonesia. Berikut beberapa karya para peserta.

Lomba Video Kreatif

Juara 1 – Teddy Cahyadi

Juara 2 – Alwi A Yassa

View this post on Instagram

Karya Alwi A Yassa

A post shared by Indonesian Embassy in Canberra (@kbricanberra) on

Juara 3 – Nicha Annisa Cahyanigsih


Lomba Menyanyi Dalam Bahasa Indonesia

Juara 1 – Scotts Head Public School

Lomba Pidato Bahasa Indonesia Umum

Juara 2 – Minh Bui

Apa Kata Mereka

Beginilah kesan-kesan para staff bagian Penerangan dan Sosial Budaya di KBRI dan KJRI selaku penanggung jawab lomba HUT RI tahun ini yang serba tidak biasa.

Alfons Sroyer (Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya, KJRI)

Sebagai yang pertama (perlombaan virtual) tentu tidak ada pengalamannya, karena semua serba baru. Kalau ada pengalamannya kan bisa merujuk ke situ. Tapi saya tidak terasa berat karena ada kerjasama dengan tim di KJRI dan masyarakat yang ikut memberi dukungan semangat.

Kesulitan yang dihadapi kali ini dalam perayaan HUT RI yaitu saya harus menghubungi masyrakat satu-satu untuk mendorong mereka agar mau berpartisipasi di lomba-lomba ini. Kalau ga masyrakat ga akan tahu tentang lomba-lomba ini, tahunya lomba butuh kumpul-kumpul. Jadi semenjak kita umumkan di media sosial, saya juga menghubungi ketua organisasi satu per satu untuk diteruskan ke anggotanya masing-masing. Saya beruntung karena sejak saya di Melbourne, saya sudah diundang untuk bergabung di group chat berbagai komunitas.

Harapan kita adalah bagaimana kita bisa mengajak masyarakat untuk semakin kreatif di tengah pandemi dan tetap memiliki semangat kemerdekaan untuk merayakan HUT RI .

Nah, untuk semangatnya ini kita dapat. Apalagi di lomba busana yang bekerja sama dengan DWP dan pasukan paskibra. Hal lain yang menjadi tantangan itu karena di bidang penerangan dan sosial budaya saat ini hanya tinggal saya sendiri sejak Pak Albert dan Pak Prima kembali ke Indonesia, dan sampai saat ini belum datang penggantinya. Jadi saya sendiri harus memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan di tengah pandemi ini untuk merayakan hari kemerdekaan.

Kalau lomba-lomba yang menggunakan kreatifitas ini kan untuk anak-anak muda. Tapi untuk orang tuanya bagaimana? Akhirnya kita memutuskan untuk mengadakan lomba pembacaan puisi ini. Lalu idenya dirembuk dengan staff-staff yang lain dan Bu Konjen juga agar semua masyarakat bisa berpartisipasi di perayaan HUT RI.

Ghofar Ismail (Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya, KBRI)

Perayaan HUT RI 2020 ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya pada masa normal. Memang, pada hari normal diselenggarakan lomba olahraga seperti bola, voli, ping-pong, yang orang-orang datang langsung.

Tahun ini kita melakukan lomba-lomba virtual, ada video kreatif yang ditujukan kepada para pemuda-pemudi Indonesia di Australia. Dan ada lomba pidato Bahasa Indonesia dan lomba menyanyi dalam Bahasa Indonesia yang khusus bagi pelajar Australia yang belajar Bahasa Indonesia. Metode lomba-lomba ini mengharuskan peserta untuk merekam dan mengirim video ke panitia. Ternyata efektif, banyak peserta yang tertarik untuk berpartisipasi. Syukurlah, kita banyak menerima tanggapan positif.

So far so good, tidak ada challenge yang sampai menghalangi (penyelenggaran lomba). Challengenya justru di hal lain seperti penyelenggaraan upacara yang sifatnya terbatas. Kita harus membatasi peserta dan menyesuaikan aturan setempat yang berlaku di ACT.

Kita juga harus mengantisipasi kondisi di hari upacara dan harus selalu alert. Di ACT sendiri untuk perkumpulan di luar gedung boleh sampai 100 orang, tapi tidak boleh melebihi. Ada penerapan protokol kesehatan juga untuk peserta upacara, seperti kita memberi peringatan pada mereka kalau sakit atau tidak fit, sebaiknya tidak ikut upacara.


Discover

Sponsor

Latest

IBC TERUS KOBARKAN SEMANGAT JALINAN BISNIS DUA NEGARA

Mengawali masuknya Agustus, Indonesia Business Center (IBC) yang baru saja mengangkat kepengurusan barunya turut berpartisipasi dalam rangakaian Small Business Festival Victoria dengan mengadakan forum...

Marcella Purnama: Berbagi Kisah Hidup Lewat Tulisan

Awal mula kunjungan Marcella ke kota Melbourne adalah untuk mengemban studi dalam bidang Komunikasi. Setelah lulus sarjana, ia terbang ke Jakarta dan menerbitkan buku pertamanya...

Membumikan Film Indonesia untuk Melbourne | Under the Stars

Sebelum masuk ke Immigration Museum pada sore itu, para tamu disambut dengan para panitia yang membawa balon warna kuning, dimana mereka akan memandu pengunjung...

Merangkul Perbedaan Lewat Momen Natal

Panitia Bersama (Panbers) di Western Australia mengadakan acara perayaan Natal di Kennedy Baptist College Hall, 10 November 2018. Dengan didukung KJRI di Perth, sekitar...

PAMERAN SENI ‘ART ACROSS WATER’ MENUAI DECAK KAGUM

Museum of Indonesian Arts (MIA) kembali menggelar sebuah pameran bertema unik di bulan Agustus lalu. Berjudul 'Art Across Water', pameran tersebut dibuka secara resmi...