BUSET SPESIAL HARI IBU 

Sepintas gadis belia ini terlihat pendiam dan halus. Memang benar, pembawaannya yang kalem namun tegas ketika diajak bicara memberi kesan tersendiri. Ia adalah Marcia Julia, seorang mahasiswi The University of Melbourne jurusan Food Science yang juga menyandang titel sebagai Miss Indonesia Favourite 2015. Kombinasi kedua profesi ini spontan membuktikan kemampuan seorang Marcia dalam pengembangan diri secara akademis dan sosial.

Marcia merasa meski dirinya sedang menuntut ilmu di benua seberang, namun ia tetap bisa berkontribusi untuk Indonesia. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Marcia berniat mengikuti kontes kecantikan Miss Indonesia, selain juga mendapat dukungan penuh dari orang tua dan keluarganya. “Saya melihat ajang ini sebagai jembatan untuk berbakti kepada negara,” papar Julia. Miss Indonesia memang bukan melulu melihat kecantikan fisik, namun juga cantik yang dinilai secara menyeluruh, termasuk dari pembawaan diri, pengetahuan dan kegiatan sosial wanita Indonesia.

Belia kelahiran Jakarta, 25 Juli 1996 ini pun mengaku telah mendapat banyak pengalaman berharga selama mengikuti seleksi ketat Miss Indonesia dimana ia belajar tentang bagaimana menjadi seorang MISS yang direpresentasikan sebagai Manner, Impressive, Smart and Social. “Wanita itu adalah figur yang sangat penting yang menghasilkan generasi penerus bagi Indonesia. Jadi kita harus bisa mengetahui bagaimana menghasilkan karakter wanita yang dibutuhkan bangsa dan negara kita.”

“Lewat Miss Indonesia aku juga mendapatkan teman-teman baru. Banyak pengalaman lain yang berkesan, dari belajar public speaking sampai belajar pakai sepatu berhak. Dulu itu aku jarang sekali pakai heels,” tuturnya polos.

Menggapai seleksi hingga menjadi Miss Favourite bukan tanpa usaha. Selama mengikuti karantina dua minggu berturut-turut, Marcia harus mengalami kurang tidur karena banyaknya aktivitas dan tugas yang harus ia pelajari. “Setiap hari aku tidur jam 2, bangun jam 4. Capai sekali, tapi worth it,” kata alumni IPEKA Interntional Christian School itu.

Walau belum berhasil keluar sebagai juara Miss Indonesia, akan tetapi Marcia mengaku puas. Dara manis ini pun bertekad untuk tetap membawa misi ‘beauty with a purpose’ yang diusung Miss Indonesia.

Sementara itu, Marcia tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang mahasiswi. Dirinya tetap fokus menuntut ilmu di bidang Food Science dan berencana untuk menggunakan pengetahuannya nanti untuk kemajuan Indonesia. “Negeri kita memiliki jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, ini akan baik sekali jika semua bisa bersama-sama membantu memperjuangkan kemajuan bangsa, dan saya percaya makanan memiliki andil yang sangat penting. Kepintaran itu dari makanan, jadi jika kita mulai membiasakan masyarakat Indonesia dengan makan makanan yang bergizi, mereka dapat tumbuh menjadi lebih baik,” ujarnya dengan penuh ambisi.

Hal lain yang juga sangat ingin dipelajari Marcia adalah bidang sinematografi. “Aku suka video editing dan fotografi. Maka itu rencananya, setelah lulus food science, aku rencana ingin kerja di bidang ini, lalu sambil melanjutkan studi Master of Cinematography.”

Ibuku Pahlawanku

Pencapaian Marcia Julia hingga bisa menjadi seperti sekarang tentu banyak dipengaruhi oleh sang bunda yang selalu setia mendampinginya, Lisa Mariana Wardhana. “Saya sendiri sempat kasihan melihat Marcia sewaktu di karantina. Dia sempat nangis,” tutur Lisa. Kendati demikian, Lisa tetap sabar memberi dukungan dan berdoa agar putrinya itu dapat menyerap pembelajaran yang berguna sekaligus dapat membawa nama Indonesia di hadapan masyarakat asing, mengingat anak ke-duanya itu tengah menuntut ilmu di Melbourne.

Pasangan anak-ibu ini terlihat amat kompak dan akrab. Marcia melihat ibunya sebagai sosok yang penyayang dan penuh teladan. Bagaimana tidak, meski sibuk dengan jabatannya di dua perusahaan besar sebagai President & Creative Director PT. WOW Communication serta Executive Producer PT. Dimensi Monalisa Films, namun Lisa tetap bisa memprioritaskan urusan keluarganya dan mencoba mengerti persoalan dan tantangan yang dihadapi keempat anak-anaknya.

Selidik punya selidik, keterlibatan Marcia di ajang Miss Indonesia merupakan ide Lisa. Lisa lah yang mendaftarkan putri semata wayangnya itu agar Marcia dapat memupuk kepercayaan dirinya dan mengembangkan bakat-bakatnya sebagai modal di masa depan.

Bahkan Lisa yang juga mahir dalam bermain piano dan olah vokal, telah berencana menciptakan lagu untuk dinyanyikan Marcia. “Sekarang kan Marcia masih kuliah, nanti setelah dia ada waktu bisa sambil masuk ke dapur rekaman,” papar Lisa.

Nyatanya, di dunia modern seperti sekarang ini, memiliki kemampuan sosial tak kalah pentingnya dengan tingkat akademis seseorang. Lisa yang menyadari hal ini lalu bertekad untuk terus menggali bakat putra putrinya. Terlebih lagi, Marcia bertekad untuk menyampaikan pesan kesehatan melalui asupan makanan bernutrisi, dan ini tentunya dapat lebih mudah dicapai jika sosok Marcia sudah lebih dikenal dekat oleh masyarakat Indonesia.

Sang bunda sendiri awalnya bekerja sebagai jingle composer sebelum mendirikan perusahaan periklanan yang ia beri nama WOW (Way of Winning) pada 1996. Lisa mulai belajar musik, khususnya piano, sejak usia 5 tahun. Secara akademis, ia pun sukses memegang titel sarjana dari Universitas Indonesia di bidang notaris pada tahun 1993.

Profesinya sebagai jingle composer dimulai dari nol. Sedikit demi sedikit Lisa mulai terpacu untuk mempelajari dunia periklanan secara lebih mendalam. “Saya sempat mengambil kursus selama satu tahun di Singapura, dari sana saya langsung magang di perusahaan perfilman. Setelah itu saya belajar banyak untuk bisa menangani bidang strategic creative-nya,” cerita Lisa.

Saat ini WOW Communication dipercaya untuk menangani brand image dan public relation untuk beberapa perusahaan besar, sebut saja BCA, Citibank, Golkar dan Cosmos. Meski sangat sulit dan penuh tantangan, namun menurut Lisa, “kalau kita bekerja dengan hati, kita tidak ada beban”.

Begitu pula dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya; Marvin Julian (22), Marcia Julia (18), Royson Giordani (13) dan Osbert Jefferson (11). Lisa bersama suaminya yang berprofesi sebagai dokter kulit dengan spesialisasi anti-ageing selalu menanamkan prinsip-prinsip hidup yang mendasar. Padahal keduanya sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. “Setiap anggota keluarga harus tahu tanggungjawabnya dan harus bisa bekerjasama. Misalkan begini, anak-anak kami tahu orang tua mereka harus bekerja keras, maka itu mereka juga harus sekolah dan belajar keras. Kami selalu bilang, papa mama harus susah payah bekerja mencari nafkah untuk masa depan setiap anak, maka itu kalian harus pula bisa menggunakan kesempatan menuntut ilmu dan berkarya sebaik-baiknya.”

Lisa mengakui tidak mudah untuk membesarkan anak, namun sebagai orang tua tentu dirinya harus terus berusaha. Sebab tidak ada gunanya mengutamakan pekerjaan atau profesi jika anak-anak tumbuh menjadi anak yang tidak baik. “Saya selalu berpikir jika anak saya jadi anak yang nakal, tentunya saya juga tidak akan bisa konsentrasi bekerja,” ujarnya lagi.

“Dan yang paling utama adalah jangan lupa berdoa dan beriman kepada Tuhan. Karena semua hanya dapat dicapai dengan pertolongan Tuhan.”

 

foto: krusli