Kunjungan Uskup Agung Philip Freier di Indonesia

0
391

Ditemui di gedung Persatuan Gereja Indonesia (PGI) di daerah Jakarta Pusat, Uskup Agung Gereja Anglikan Australia, Philip Freier tersenyum lebar sambil menyapa Buset setelah mengadakan perbincangan dengan PGI, Sabtu (19/8).

Pertama kali mengunjungi Indonesia, Uskup Agung Philip Freier sebelumnya berkunjung ke Bali yang setiap tahun menerima banyak turis yang berasal dari Australia. Kunjungan Uskup Agung Philip Freier ke Bali dilakukan untuk bertemu dengan pemimpin-pemimpin dari berbagai gereja, termasuk PGI di Bali.

Setelah Bali, Uskup Agung Philip Freier pun berkunjung ke Jakarta untuk kembali berjumpa dengan pemimpin-pemimpin PGI, seperti Pdt. Dr. Henrietter T. Hutabarat Lebang (Ketua Umum), dan Pdt. Gomar Gultom (Sekretaris Umum). “Pertemuan ini adalah kunjungan pertama Archbishop (Uskup Agung) Melbourne ke Indonesia, dan ini boleh dikatakan perkenalan untuk saling mengenal bagaimana pelayanannya, Anglican Church Australia dan PGI. Jadi kami berbagi mengenai bagaimana kehidupan gereja di Indonesia, tentang apa yang dihadapi, dan bagaimana berpartisipasi dengan masyarakat Indonesia yang majemuk,” jelas Pdt. Henrietter. Pada kunjungan tersebut, Uskup Agung Philip Freier ditemani oleh Pastur Anglikan pertama di Australia yang berasal dari Indonesia, Kuncoro Rusman.

Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henrietter T. Hutabarat Lebang

Diskusi seputar pelayanan masing-masing gereja di Indonesia dan Australia menjadi topik pembicaraan antara Uskup Agung Philip Freier dan pemimpin-pemimpin PGI, seperti pergumulan yang dihadapi masing-masing gereja, dan bagaimana menghadapi pergumulan tersebut. “Kami berbagi pengalaman, kita mendengar pengalaman gereja-gereja di Australia dengan pelayanan mereka. Banyaknya refugees dari berbagai negara, juga agama lain yang makin banyak masuk di Australia. Kita hanya berbagi pengalaman dan informasi,” jelas Pdt. Gomar Gultom.

Uskup Agung Philip Freier berpendapat bahwa persahabatan antar negara sangat diperlukan dan harus berjalan dengan baik, bukan hanya hubungan antar pemerintahan, namun juga contohnya hubungan antar gereja yang memiliki isu yang kebanyakan sama, walaupun terkadang dalam konteks yang berbeda.

I thought about this observation I made, it’s that even though there are many more Christians in Indonesia than there are in Australia, there are 25 million Christians in Indonesia, even more than the whole population of Australia,- Saya melakukan observasi kecil, walaupun ada lebih banyak masyarakat penganut agama Kristen di Indonesia dibandingkan di Australia – ada 25 juta penganut agama Kristen di Indonesia, lebih banyak dari pada populasi manusia di Australia,” cerita Uskup Agung Philip Freier sambil tertawa,

Australian Christians approach life with the kind of majority culture attitude, where as Christians in Indonesia as now a part of Asia, they approach life with the feeling of being a minority, and needing to work around, you know sometimes, majority opinions, and other ways, and needing to negotiate that space which is not the familiar position for Australian Christians but it may become more in the future, so we need to have learnings from the situations,- Penganut agama Kristen di Australia hidup sebagai kaum mayoritas, sebaliknya di Indonesia yang adalah bagian dari Asia, penganut agama Kristen hidup sebagai kaum minoritas, dan terkadang harus menghadapi opini mayoritas. Hal ini tentunya tidak begitu sering dirasakan oleh masyarakat penganut agama Kristen di Australia, namun mungkin akan terjadi kedepannya, jadi kita harus belajar dari situasi yang terjadi ini,” jelas Uskup Agung Philip Freier.

 

Menyikapi Masalah Dunia

Banyaknya isu terorisme, radikalisme, dan isu SARA menjadi topik yang tentunya juga dibicarakan oleh Uskup Agung Philip Freier, begitu juga dengan kasus mantan Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang tentunya disesalkan terjadi bagi beberapa masyarakat di Indonesia maupun warga Negara Indonesia yang berada di Australia.

Pertemuan PGI di Jakarta

Untuk menyikapi masalah seperti terorisme, radikalisme, dan isu SARA yang sering terjadi sekarang, salah satu masukan dari Uskup Agung Philip Freier adalah kita harus menjadi masyarakat yang bersahabat satu sama lain.

Hatred and violence are never the solution to the world’s problems, and we need more people contact and understanding, we need to be better neighbors, and Christian teaching teaches us to be good neighbors. So, even though it’s hard sometimes, we need to increase our understanding of our neighbors and show generous neighborliness to the people around us,- Kebencian dan kekerasan bukanlah solusi dari seluruh masalah di dunia, kita butuh pengertian yang lebih kuat, menjadi warga negara yang lebih baik, dan Kristen mengajarkan kita untuk menjadi warga Negara yang baik. Jadi, walaupun terkadang sulit, kita harus meningkatkan pengertian kita terhadap sesama dan berlaku baik kepada sesama di sekitar kita,” jelas Uskup Agung Philip Freier.

Selain itu, isu LGBTQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, queer) juga menjadi salah satu isu yang sering disorot oleh media di seluruh dunia, dan di beberapa Negara isu ini menjadi sebuah permasalahan yang diperbincangkan di masyarakat, seperti di Indonesia dan juga di Australia. Dalam sebuah artikel di surat kabar Herald Sun, Uskup Agung Philip Freier pun memberikan pendapatnya terhadap isu pernikahan sesama jenis yang tidak begitu banyak dibicarakan, bahkan dapat dibilang dibiarkan dan tidak pernah dibicarakan. Menurut Uskup Agung Philip Freier, hal ini tentu harus dibicarakan dengan saling menghargai satu sama lain.

We are mature enough to have senseful discussion which can be respectful and we need to respect each side. There are sincerely whole point of view that it’s there to express, but we can do that with respect and kindness even if our views are different,- Kita sudah siap untuk berdiskusi tentang hal tersebut, tentunya dengan menghargai kedua pihak, karena pasti ada banyak pandangan yang dapat disampaikan, tapi kita bisa melakukan itu dengan saling menghargai dan dengan kebaikan, walaupun pandangan atau pendapat kita berbeda,” papar bijak Uskup Agung Philip Freier.

We need to respect the decision of the society, and learn to live with that difference, so I think this is a new challenges for Christians, because, you know, many ways you are used to what Christians held to be the case being supported by the government, and the government that holding it, for as now the government start wanting to change many aspects of what Christians have previously held to be normal sociable conduct,- Kita harus menghormati pilihan lingkungan kita, dan belajar untuk hidup dengan perbedaan itu, jadi menurut saya ini adalah tantangan baru bagi umat Kristiani, karena apa yang dipercayai umat Kristen biasanya didukung oleh pemerintah, namun sekarang pemerintah mulai ingin mengubah sesuatu itu dengan kemauan masyarakat,” tambah Uskup Agung Philip Freier.

Pertemuan PGI di Jakarta

Kunjungan Uskup Agung Gereja Anglikan Australia ini merupakan suatu bukti jalinan hubungan erat kedua negara dalam bidang keagamaan. Dan ini diharapkan dapat terus terjalin dan dipupuk secara rutin untuk lebih saling mendukung serta menunjang kehidupan umat manusia ke arah yang lebih baik.

 

 

Adbm