Siapa yang mengira bahwa Pandemi COVID-19 justru membawa dampak positif pada masyarakat Indonesia, salah satunya adalah industri kuliner Indonesia di Victoria, khususnya di Melbourne. Di tengah ramainya usaha kecil dan menengah yang terpaksa harus tutup dan meninggalkan karyawan-karyawan tanpa pekerjaan, kuliner Indonesia di Melbourne justru aktif melakukan aktivitas jual beli melalui media komunikasi Whatsapp dan grup Facebook. Selain membantu bisnis kuliner di Melbourne, masyarakat Indonesia secara tidak langsung juga mendukung gerakan pemerintah Australia untuk Stay at Home.

Sejak pertengahan Maret lalu, Pemerintah Australia sudah mengeluarkan peraturan bagi usaha restoran untuk hanya menerima takeaway atau drive-thru saja. Supermarket dan toko penjual bahan pokok terpaksa harus mengurangi jam operasional mereka dan mulai membatasi jumlah pelanggan yang ada di dalam supermarket guna untuk mengurangi penyebaran COVID-19 di masyarakat. Hal ini tentu membawa dampak pengurangan pendapatan yang signifikan. Namun, pengurangan tersebut ternyata dapat diminimalisasi oleh masyarakat Indonesia di Melbourne.

Peran Grup IndOZfood di Tengah Pandemi COVID-19

Salah satu fenomena yang terjadi adalah pembentukan grup komunikasi IndOZfood yang ternyata berawal dari hanya sekedar untuk tukar menukar infomasi mengenai makanan yang kemudian menjadi platform tempat bertemunya vendor makanan dengan pelanggannya.

Hingga sekarang sudah aktif 3 grup IndOZfood dengan masing-masing grup memiliki kapasitas hingga 257 orang, belum lagi ditambah dengan platform Facebook IndOZfood yang diharapkan dapat menjangkau lebih banyak Melbournian.

Tidak hanya itu, Hannysan juga membuat beberapa grup kecil sesuai dengan area tempat tinggal sehingga memudahkan masyarakat dalam proses pengambilan tanpa mengganggu masyarakat di area lain. Per 6 April, sudah ada 25+ vendor makanan dan lebih dari 650 member tergabung di beberapa suburbs. Hannysan, yang tidak lain adalah founder dari grup IndOZfood ini mengatakan pada member bahwa banyak pemilik bisnis mencoba untuk bertahan hidup dan begitu juga masyarakat Indonesia di sini. Jadi dengan membuat grup ini, diharapkan mampu mempertahankan kualitas hidup antara pemiliki bisnis dan pelanggan untuk bersama-sama mengurangi penyebaran COVID-19.

Beliau juga bertekad untuk menghindari kejadian yang terjadi di Queensland yang mana hanya tinggal dua restoran yang masih beroperasi.

ICAV dan Tantangan yang Dihadapi

Itikad baik Hannysan ini sangat didukung oleh President ICAV, Heri Febriyanto. ICAV merupakan kependekan dari Indonesian Culinary Association of Victoria yang diinisiasi oleh KJRI Melbourne bidang Ekonomi 17 Desember 2017. ICAV dan KJRI Melbourne juga ikut membantu pemilik bisnis bidang kuliner dengan mempromosikan daftar sejumlah restoran, bahan-bahan pokok dan juga wholesaler yang terdaftar di Melbourne kepada masyarakat dengan harapan dapat membantu baik pelanggan dan pemilik usaha untuk dapat bertahan di tengah pendemi COVID-19 ini. Menurut Heri, tantangan yang terjadi bukan hanya sekedar penurunan pendapatan tetapi juga peraturan sistem antar yang diberlakukan oleh pemerintah.

‘Para pemilik bisnis kuliner diharapkan juga untuk selalu mentaati regulasi yang berlaku untuk food safety Hygiene dan pemberlakuan social distancing bahwa hanya boleh max 2 orang yang bisa berkumpul jadi perlu diperhatikan pada waktu melakukan proses pengantaran, dihindari pengumpulan dan pengambilan lebih dari 1 orang untuk menghindari denda yang cukup besar oleh polisi.’

Tantangan lain adalah harga bahan baku dan biaya antar yang dikenakan oleh perusahaan naik secara signifikan (mencapai 35%). Maka dari itu pemilik usaha yang terdaftar mulai memberlakukan delivery secara gratis ke beberapa suburb atau dengan biaya antar yang terjangkau (tidak lebih dari $5) dengan minimum pembelian.

Pengurus Inti Periode 2020-2022

Ketua: Heri Febriyanto

Wakil Ketua: Santi Whiteside

Bendahara: Tito Hari

Sekretaris: Corina

Dan dibantu oleh beberapa advisor,diantaranya:

Abdul Razak, Dr Cely Gultom, Konfir Kabo, Iwan Wibisono

Peringatan untuk Pemilik Bisnis Ilegal

Di saat-saat seperti ini, dapat dipahami bahwa banyak pemilik usaha ilegal (yang belum memiliki ijin beroperasi secara legal) yang juga mau ikut serta mendapatkan pelanggan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun hal ini ditentang keras oleh baik Hannysan dan Heri selaku Presiden. Mengingat denda yang cukup besar bagi yang melakukan business ilegal tentu ICAV tak bisa berkompromi untuk hal ini. Semua yang melanggar dikeluarkan dari keanggotaan dan menanggung resiko yang akan dihadapi karena Department Health and Food Hygiene selalu memonitor dan mengawasi lewat media sosial. ICAV bersedia memberikan informasi, pengarahan dan bimbingan bagi warga Indonesia yang ingin membuka usaha dan membantu proses perizinan sesuai dengan regulasi dan hukum di Victoria.

Tahukah Kamu?

Berikut adalah program ICAV baik yang sudah berjalan maupun akan dijalankan:

  1. Memfasilitasi para Koki atau orang indonesia yang mempunyai hobi masak untuk mempunyai izin untuk trade foods.

2. Menyediakan fasilitas dapur umum di beberapa lokasi yang bisa digunakan oleh para Koki seperti yang disebutkan dalam poin 1.

3. Setiap 2-3 bulan diadakan ICAV Gathering Network Dinner di setiap restoran Indonesia secara bergiliran, program ini sudah berjalan tanggal 25 Maret kemarin di the Uleg yang dihadiri hampir 50 orang lebih dari berbagai lapisan masyarakat.

4. Bekerja sama dengan beberapa wholesaler/grocies untuk setiap member ICAV dan pelaku business kuliner mendapatkan discount sesuai dengan kesepakatan yg disetujui.

5. Menyelenggarakan Food Festival dan Budaya setiap 3-4 bulan sekali dibeberapa lokasi seperti Queen Victoria Market dan lain-lain. Harapannya, bisa melibatkan sponsor.

6. Membangkitkan semangat para pemilik food trailer dan food trucks untuk lebih sering dan banyak mengikuti events multinational di Victoria.

7. Mengajak para investor Indonesia untuk membuka Indonesian fine dining di Melbourne.

8. Memberikan workshop atau seminar tentang cita rasa Indonesia kepada masyarakat Indonesia atau Australia.

9. Memperkenalkan makanan Indonesia ke sekolah-sekolah di Victoria.

Devina