Cepat Tanggap: Kisah Sukses Grand Laguna di Tengah Covid-19

0
310

Sejak akhir Maret lalu, pandemi Covid-19 telah membawa dampak buruk bagi perekonomian Australia. Alhasil, tak sedikit bisnis-bisnis yang mengalami kerugian bahkan kebangkrutan di masa yang sulit ini. Namun, Rony The, pemilik supermarket Indonesia, Grand Laguna, justru meraih peluang besar di tengah wabah Covid-19. Pengusaha muda ini menceritakan kisah suksesnya ke BUSET.

Sebagai seorang pebisnis, tentunya pandemi covid-19 ini merupakan challenge yang besar. Bagaimana cara Anda menghadapinya?

COVID-19 merupakan bencana bagi semua manusia di dunia ini. Saat COVID-19 di declare sebagai pandemi dan kota Melbourne mulai terjangkit infeksi hampir 3 digit, pemerintah pusat mulai mencanangkan lockdown untuk seluruh Australia. Setelah berita lockdown keluar, maka panic buying terasa dimana-mana. Pada awal-awal merasakan panic buying, aku langsung cekatan untuk berhubungan dengan supplier kami di Jakarta dan Australia untuk meminta reservation barang-barang essentials termasuk sanitizers dan face masks.

Menambah resources seperti dari 4 staff menjadi 8 staff setiap hari dalam waktu awal pandemi untuk antisipasi dan menghindari kekosongan barang di shelves, persiapan penerimaan barang yang overload dari supplier di saat pandemi. Pernah suatu hari kami menerima lebih dari 10 pallet penuh (biasanya hanya 2-4 pallet per hari) dari supplier yang berbeda dimana gudang belakang kami hanya mampu menampung maksimum 4 palet penuh. Dengan resources yang cukup, kami berhasil untuk menyetokkan semua barang-barang yang datang on to shelves.

Di saat panic buying, maintaining stock level itu sangatlah crucial. Kami tidak mau menyetok barang terlalu dikit dan juga terlalu banyak. Alhasil di dalam situasi awal pandemi, Grand Laguna adalah salah satu-satunya toko di Melbourne (mugkin juga di Australia) yang mempunyai 7 pallet hand sanitizer (sekitar 10,000+ botol) dan disinfectant for sale untuk publik dengan profit margin yang sangat rendah untuk membantu komunitas.

Kami pun surprised bahwa staff Chemist Warehouse di seberang pun membeli hand sanitizers dari kami karena mereka pun kehabisan barangnya sudah lama. Business-business dan sekolah-sekolah di Melbourne dan dari interstate (Sydney, Canberra dan Brisbane) juga meng-order hand sanitizer dan disinfectant dari Grand Laguna melalui sosial media kami dengan quantity yang cukup besar.

Rony The

Selain itu, kami juga menyetok cukup beras karung, telur dan Indomie untuk staff KJRI Indonesia, warga Indomelb dan customer Grand Laguna lainnya.

Jadi di masa pandemi ini, peluang itu ada dan tentunya dengan perhitungan yang baik dan benar bisa membuahkan hasil dan dalam waktu bersamaan kami juga senang bisa membantu komunitas dan customer kami yang sedang membutuhkan.

Bagaimana Anda mengantisipasi situasi new normal?

Dengan adanya social distancing rules dan untuk mencegah kerumunan banyak di customer di toko, Grand Laguna menyediakan fasilitas online shopping di grandlagunashop.com untuk memudahkan customer kami untuk membeli barang essential dari Grand Laguna dengan menggunakan mobile phone atau pc. Selain online shop, Facebook (lagunahawthorn) dan Instagram (grandlaguna) messenger kami juga selalu dipantau oleh dedicated online team kami.

Di saat lockdown ini, kami memberi keringanan untuk customer loyal Grand Laguna dengan memberikan Free Delivery untuk customer di Melbourne Metro atau $10.50 credit towards shipping untuk outside Melb Metro dengan menggunakan coupon LOCKDOWN saat checkout dengan order over $100. Selain menyediakan fasilitas online, di toko kami meminta semua anggota tim untuk memakai masker, hand sanitizer dan regularly mencuci tangan. Menyediakan hand sanitizer di depan pintu toko dan memberikan petunjuk social distancing di lantai di depan kasir.

Anda adalah salah satu pengusaha yang diundang oleh KBRI untuk diskusi virtual, apa saja hal yang dibahas dan hasil diskusinya?

Meeting yang diinvite KBRI bersama Wakil Menteri Luar Negeri, Pejabat Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri, KADIN, KBRI/KJRI/KRI di Australia dan pengusaha diaspora Indonesia di Australia membahas tentang peluang Indonesia dengan adanya perang dagang Australia-China dan juga peluang impor dengan adanya free trade agreement between Indonesia-Australia yang berlaku dari 5 Juli.

Dengan adanya fokus group awal pembahasan ini, semua pihak kompak untuk bekerja sama dari pihak KADIN, BPPK, KBRI, KJRI Australia dan pengusaha Diaspora Australia yang di backup oleh KEMENLU untuk meningkatkan angka impor barang Indonesia ke Indonesia either barang substitusi dari China dengan adanya trade war China-Aussie ataupun barang yang baru dikenakan FREE Tarif dari hasil free trade agreement antara Indonesia-Australia.

Nanti juga bakal diadakan diskusi-diskusi di level setiap sektor untuk meng-follow up lanjut hasil diskusi ini. Dengan ini kami Grand Laguna dan Grand Eastern Group (divisi Import/Wholesale kami) merasa terdukung oleh pemerintah pusat dan setempat untuk bekerja lebih keras untuk bisa membantu perekonomian Indonesia.

Sebagai pengusaha Indonesia di Australia, peluang apa sajakah yang Anda lihat dari IA-CEPA dan bagaimana Anda akan mengaplikasikannya?

Untuk sementara ini kami menunggu data lengkap dari KJRI untuk melihat sektor dan produk apa yang lebih diuntungkan dari IA-CEPA. Dan tentunya dengn mempelajari sektor-sektor dan produk-produkt tersebut dan dengan memperhitungkan resources yang ada.

Kami dari Grand Laguna dan Grand Eastern Group selalu ready untuk membantu dan mendukung semua inisiatif pemerintah pusat / setempat untuk meningkatkan angka ekspor komoditas Indonesia untuk masuk ke Australia dari skala kecil (UMK) sampai dengan setingkat corporation.

Apa sajakah tantangan yang Anda lihat dalam implementasi IA-CEPA?

Tantangan sebenarnya selalu ada. Kita juga under threat, ada kompetisi dengan India dan Thailand yang dimana resources mereka termasuk murah di Asia Pacific. Dari sana kita harus pelajari apa yang bagus atau spesial dari produksi negara mereka dan kita lihat apakah Indonesia dapat bersaing. Jika Indonesia dapat bersaing, tentunya kita dapat membawa barang yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh market Australia.

Untuk kesempatan ini juga, saya personally mau berterima kasih untuk segenap Team Grand Laguna dan Grand Eastern Group yang berani berdiri di posisi terdepan di masa pandemi sebagai essential workers. Untuk partner kami: Michael Pan, Lucas Wijaya, Leonard Adhitya. Team kami: Jessica, Asti, Vei, Wempy, Marcel, Patricia, Agy, Aris, Elvira, Yossy, Connie, Kae, Felix dan Dewi. Terima kasih.