“Pengetahuan bahasa asing adalah salah satu cara orang bisa lebih mengenal diri sendiri selain daripada menyajikan kesempatan mengalami dunia yang kaya budaya,” kata Paul Thomas, warga negara Australia yang sekarang bekerja sebagai dosen Bahasa Indonesia di Deakin University, Melbourne, Australia tentang pentingnya belajar bahasa di luar bahasa ibu.

Pria yang lahir dan besar di Sydney tersebut berbicara dalam Bahasa Indonesia yang fasih ketika ditemui oleh BUSET Magazine beberapa saat lalu. Tidak heran, itu karena ketrampilan ini sudah ia asah sejak tahun 1983 ketika menjadi peserta Australian Indonesian Youth Exchange Program (AIYEP).

Thomas sebagai tamu di Pesantren Salafiyah, Pemalang

“Sesudah pulang dari program AIYEP, saya sadar hubungan Indonesia dan Australia cukup rumit baik dari segi politik maupun dari segi budaya,” kata penggemar gudeg ini. “Dan hal ini menggaet perhatian saya. Selain itu Indonesia cukup dekat sehingga ada kesempatan untuk sering mengunjungi negara tetangga itu.”

Menyusul ketertarikannya sejak mengikuti program pertukaran pelajar 36 tahun yang lalu adalah keterlibatan pria yang akrab disapa Thomas ini dalam dunia pengajaran Bahasa Indonesia sejak tahun 2004. Hingga pada tanggal 22 November 2019 kemarin, ia lantas meluncurkan buku berjudul “Talking North”.

Buku yang diperkenalkan di ajang Indonesian Council Open Conference (ICOC) dan Australian National University di Canberra tersebut menceritakan sejarah hubungan Australia dan Indonesia melalui pengalaman belajar bahasa selain daripada menjadi sebuah “kapsul waktu”.

“[Buku ini bisa] dianggap semacam kapsul waktu yang memuat pikiran para Indonesianis [atau orang-orang yang memiliki minat pada Indonesia] terhadap pentingnya bahasa sebagai alat paling dasar dalam usaha memahami kebudayaan Indonesia.”

BAHASA INDONESIA = BAHASA ASING PERTAMA DI AUSTRALIA

Tidak hanya itu, buku yang memuat tulisan dari 15 orang kontributor tersebut juga memuat sebuah fakta yang menurut Thomas sangatlah menarik.

“Barangkali ada yang belum tahu bahwa bahasa Melayu atau Indonesia serta bahasa dari Makassar adalah bahasa asing pertama di Australia,” kata dia dengan antusias.

“Memang bahasa-bahasa ini mendahului penggunaan Bahasa Inggris di Australia karena hubungan perdagangan antara suku Yolgnu di pantai utara Australia dan pemancing teripang dari kepulauan Indonesia timur sudah mulai pada tahun 1750-an.”

Fakta menarik yang juga ia tuturkan adalah bagaimana pengajaran Bahasa Indonesia juga mulai digunakan sebagai alat diplomasi budaya di awal 1950-an oleh pemerintah Australia dan Indonesia.

“Pengajaran Bahasa Indonesia di Australia juga mulai digunakan sebagai alat diplomasi budaya di awal tahun 1950-an oleh pemerintah Republik Indonesia baru, maupun pemerintah Australia yang mulai mengembangkan hubungannya dengan negara-negara Asia tenggara pasca Perang Dunia II.”

Buku tersebut sempat mengalami penundaan untuk terbit di tahun 2012 sejak proyeknya dimulai pada tahun 2007. Dalam mengumpulkan informasi, Thomas sangatlah berhati-hati dan lebih memilih untuk menggunakan sumber primer.

Bersama  Dr Dwi Noverini Djenar, salah satu penulis kontributor  Talking North di Indonesian Council Open Conference (ICOC), ANU Canberra

“Menurut saya sudah jelas ada cukup buku tetapi pasti membutuhkan banyak waktu untuk mengunjungi arsip di beberapa negara bagian Australia dan mencari cerita orang yang punya pengalaman intim dengan sejarahnya,” kata dia.

“Terus terang saya tidak mau mengandalkan terlalu banyak pada sumber sekunder.”

Tujuannya melibatkan para Indonesianis adalah agar buku tersebut menjadi sebuah kapsul waktu yang memuat pandangan orang Australia terhadap kedudukan Bahasa Indonesia di masa kini.

Ia mengatakan bahwa kontributor tersebut antara lain memiliki pengalaman lebih dari dua puluh tahun mengajar di sekolah dan perguruan tinggi serta cukup terkenal di bidang kajian Indonesia serta pada umumnya memiliki spesialisasi sendiri yang mencakup seni drama, sastra, ilmu pendidikan, ilmu bahasa dan lain-lain.

KENAL BUDAYA SENDIRI DARI BELAJAR BAHASA INDONESIA

“Bagaimana kita bisa menghayati kebudayaan sendiri kalau kadangkala kita tidak berani keluar dari kebudayaan ibu?,” kata Thomas kepada BUSET tentang pentingnya belajar bahasa asing. 

Menurutnya bahasa asing adalah salah satu dari banyak hal yang dapat membantu menggali kreativitas dan keingintahuan dalam jiwa seseorang.

Pengalamannya nikah pura-pura bersama peserta lain di program AIYEP di Jawa Tengah 1983

“Sebagai tetangga dengan kebudayaan kaya dan orang rama-tamah, Bahasa Indonesia adalah pilihan yang cocok untuk orang Australia. Kami tidak perlu jalan jauh-jauh dari negara sendiri untuk menemukan dunia baru.

Melihat kefasihannya berbahasa Indonesia saat ini, ia berterima kasih kepada warga Tanah Air yang sudah dengan sabar mengajarkannya bahasa tersebut.

“[…] Barangkali yang paling penting, orang Indonesia selalu ramah dan cukup sabar membantu saya dengan belajar bahasa.”


Nasa