Kegigihan Nani Menekuni Bahasa & Budaya Indonesia

Sejarah Hari Guru Indonesia

Setiap tanggal 25 November, seluruh masyarakat Indonesia memperingati Hari Guru Nasional sebagai bentuk penghargaan kita kepada Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Tanggal ini dipilih sebagai perayaan Hari Guru berdasarkan Keputusan Presiden nomor 78 tahun 1994 yang juga bertepatan dengan perayaan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).

Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945 inilah yang mendasari semangat penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. Di dalam kongres ini, segala kelompok guru berdasarkan tamatan, lingkungan kerja, politik, agama, dan suku sepakat untuk dihapuskan. Di dalam kongres ini jugalah, Persatuan Guru Republik Indonesia ditetapkan. Pada prakteknya, Hari Guru tidak dijadikan sebagai hari libur, namun biasanya diperingati dengan upacara di sekolah, bahkan pemberian gelar-gelar kepada para guru juga dilakukan.

Inspirasi anak-anak muda Indonesia

Sebagai anak muda yang lahir dan besar di Indonesia, saya terkadang merasa malu dengan nilai Bahasa Indonesia saya yang pas-pasan. Bagaimana tidak? Kali ini, saya mendapatkan kesempatan untuk bisa mengobrol santai dengan Ibu Nani Osman-Thomas yang berasal dari Singapura dan sudah lebih dari 30 tahun mengajar Bahasa Indonesia. Bukan hanya itu saja, meskipun beliau adalah keturunan Malay-India, ketertarikan Ibu Nani terhadap Bahasa dan Budaya Indonesia patut diacungi jempol.

Sejak kecil, bukan saja tertarik namun juga berjuang untuk mencari cara agar dapat menempuh pendidikan di Bahasa, terutama Bahasa Indonesia. Pada saat itu, tentu belum banyak yang menawarkan pengajaran Bahasa Indonesia di bangku kuliah. Bahkan menempuh pendidikan di Indonesia bukan merupakan hal yang mudah pada masa itu. Namun karena kegigihannya, wanita kelahiran Singapura itu akhirnya menemukan negara tujuan yang tepat, yaitu Australia yang pada masa itu justru menawarkan program Bahasa yang diinginkan oleh beliau. Walaupun dirinya belum pernah belajar di Indonesia, namun guru lulusan Monash University itu sudah beberapa kali diminta untuk memberikan lokakarya atau penataran guru-guru Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di Yogjakarta. Ibu Nani juga tentu pernah mengalami sendiri sistem belajar di Indonesia melalui program pertukaran pelajar. Tak hanya itu saja, sebagai entrepreneur, Ibu Nani juga sering memberikan seminar kepada teman-teman pengusaha di Indonesia.

Tantangan belajar dan mengajar Bahasa Indonesia

Bukan rahasia lagi jika mengajar Bahasa Indonesia sebagai additional language memiliki tantangannya tersendiri. Salah satunya adalah sumber daya manusia untuk mengajar Bahasa Indonesia untuk SMP dan SMA yang terampil. Belum lagi bahan materi mengajar yang masih terbatas hingga menjadi seorang guru pada waktu itu merupakan pekerjaan yang ekstra melelahkan dan hanya sekedar bisa berbahasa Indonesia tidaklah cukup.

Walaupun demikian, beliau tetap menikmati proses tersebut hingga kini. Ibu Nani juga sempat menjadi dosen, namun karena kewajiban sebagai seorang istri dan ibu, beliau memutuskan untuk berhenti menjadi akademis dan melanjutkan mengajar di sekolah saja hingga kini. Setelah 30 tahun, perubahan di industri pendidikan membuatnya tetap positif bahwa generasi muda akan lebih terampil lagi dalam mengajar dan menghasilkan kualitas murid yang sangat baik karena materi yang mudah diakses dan framework dari Departemen Pendidikan yang sudah tersusun lebih rapi.

Kepada kalian calon guru masa depan…

Bagi teman-teman yang ingin belajar dan berkeinginan untuk menjadi guru, tentunya memerlukan nasihat dan saran dari Ibu Nani yang sudah berpengalaman lebih dari 30 tahun. Pertama, sering-seringlah membaca literatur sesuai dengan minat kalian. Membaca membawa kita ke tempat yang tidak pernah bisa kita kunjungi dengan pesawat.

Kedua, buat kamu yang belum mengetahui minat mengajarmu dimana, maka rajin-rajinlah melakukan research tentang lapangan pekerjaan yang dibutuhkan sekarang ini di sekolah-sekolah. Sebagai guru tentu kita harus memiliki methodology dan pedagogy yang sesuai dengan minat kita. Jika kita harus memilih dua mungkin kita bisa memilih Bahasa Indonesia dengan sains atau humanities yang sesuai dengan demand yang ada di lowongan pekerjaan di saat kamu mau memilih pedagogy.

Ketiga, tentu tetap semangat dan pantang menyerah untuk terus memperbaiki kualitas mengajar kita. Karena dengan kualitas guru yang tinggi akan menghasilkan kualitas murid yang tinggi pula.

PROFIL SINGKAT

Nama: Nani Osman-Thomas, disapa Ibu Nani, lahir di Singapura tgl 20 Juni

Pendidikan terakhir:
S2 (Master of Arts, Asian Studies, Universitas Monash, 2000)

Profesi:
Guru /Dosen Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris & Seni Teater, pernah memiliki usaha retail / café khas produk-produk minyak zaitun

Hobi:
Membaca, menonton film berkualitas Bahasa Inggris & Bahasa Asing apa saja, merajut, menonton seni teater, menjelajah dunia, memasak & berjalan kaki di taman / cagar alam.

Pengalaman di Melbourne:
Universitas Monash (5 tahun), Camberwell Grammar School (7 tahun), Sebagai Dosen tamu kursus penataran guru-guru di RMIT, Universitas Deakin, Universitas Melbourne, sejumlah SMA swasta maupun negeri di Melbourne dan masih banyak lagi