Di Sabtu sore yang cerah suatu hari di Bulan Desember, komunitas Batak di Victoria dan Tasmania, Bonapasogit, mengadakan acara Christmas Carolling. Acara Natal bersama telah diadakan komunitas ini selama 4 tahun tahun belakangan ini nampak berbeda dari kegiatan Natal sebelumnya, dengan diadakannya di sebuah taman. 

Foto bersama seluruh tamu Christmas Bonapasogit 2019

Bertempat di Ruffey Lake Park, Doncaster East, acara carolling yang bertema kerukunan bersama ini berlangsung santai dan seru. Sekitar 50 tamu memenuhi salah satu sudut Ruffley Lake Park. Acara dimulai pada pukul sekitar 4.40 sore hari dengan pembukaan lagu “Hai Mari Berhimpun”.

Para tamu bergembira dan ikut bernyanyi melantunkan banyak lagu pujian, termasuk beberapa “lagu wajib” Natal seperti Gita Sorga Bergema, The First Noel, Angels We Have Heard on High, dan Feliz navidad. Yang teristimewa adalah lagu “Malam Kudus” dinyanyikan dalam Bahasa Indonesia, Toba, Karo dan Inggris. Di sisi lain, beberapa kaum pria sibuk mempersiapkan barbeque di samping tempat acara.

Makan bersama yang telah dibawa masing – masing tamu

Menjelang sore, kisah Natal dipersembahkan oleh hamba Tuhan, Nelson Sembiring. Dengan mengambil tema “Toleransi dan Saling Memaafkan”, komunitas Batak dihimbau untuk tetap membangun kerukunan dengan berbagai organisasi lainnya. Tema ini berlandaskan pada ayat Alkitab Mazmur 133: 1 – 3.

Dalam wawancara terpisah, Nelson mengungkapkan kekhawatirannya terhadap perpecahan sesama masyarakat Batak karena masing – masing memiliki pemikiran dan cara kehidupan yang berbeda. Nelson mengingatkan bahwa persatuan dan kesatuan harus benar – benar diwujudkan di negara ini, terlebih lagi mengingat warga Indonesia adalah migran di Tanah Kangguru ini.

Kamu ibu dan anak-anak menyanyi bersama

Natal Bonapasogit Victoria dan Tasmania 2019 dirasa sangat berbeda karena adanya Christmas Carolling yang sifatnya lebih casual dan intim. Pada tahun – tahun sebelumnya, komunitas Batak mengadakan ibadah Natal yang lebih formal. Dalam persiapannya, Kristin selaku Panitia Natal mengaku ada beberapa resiko yang diambil ketika memilih taman sebagai lokasi acara, diantaranya cuaca yang tidak menentu serta adanya respon beberapa orang yang kurang menyukai aktivitas taman.

Serius mendengarkan Firman Tuhan

Kendati demikian, keseluruhan perayaan Natal berlangsung meriah dan hangat. “Karena di Australia ada tradisi Carolling, jadi kita tiru dan banyak juga yang antusias,” ungkap Kristin. Bahkan, dari semua yang datang, 35 orang membawa makanan untuk berbagi, termasuk hidangan khas Sumatra Utara yang sulit dicari di restoran Indonesia pada umumnya.

Nelson Sembiring menjelaskan pentingnya menjaga toleransi dan kerukunan
Kristin, Panitia Natal Bonapasogit Victoria & Tasmania 2019

Apa Kata Mereka

Nita, Web Developer

Ini Bonapasogit aku yang ketiga. Perbedaannya kali ini dilakukan di taman, sehingga lebih leluasa buat anak – anak dan lebih banyak yang datang, serta lebih kekeluargaan karena di open area.

Nikki, Car Rental Staff

Lebih bagus dari tahun – tahun yang kemaren karena semuanya provide makanan bawa masing – masing jadi kita sharing. Kalau sebelumnya kan kita pesan dari restoran, kalau yang ini benar – benar bawa dari rumah masing – masing dan sharing bersama – sama.

Riduan, Project Engineer

Ini Natal ketiga untuk Bonapasogit yang saya datangi. Kesannya tahun ini agak berbeda, karena biasanya kita di kantor Konjen. Kali ini kita informal karena di taman jadi lebih happy dan banyak acara bebasnya. Sesuai dengan topik saja, menjaga kebersamaan.

Yuniar