Peraturan yang ketat dan larangan berkumpul merupakan tantangan terbesar bagi sebagian besar pasangan yang akan menikah di tahun 2020. Sejak pertengahan bulan Maret, Pemerintah Australia sudah mulai memberlakukan larangan berkumpul dalam sebuah acara yang besar seperti acara olahraga dan festival karena meroketnya angka korban dan penyebaran Covid-19 yang meningkat cukup drastis (sumber:https://www.covid19data.com.au/). Begitu pula dengan acara resepsi pernikahan.

Pengalaman Menikah di saat Pendemi Covid-19

Pernikahan merupakan satu kejadian penting bagi calon pasangan suami istri karena hanya terjadi sekali seumur hidup. Kehadiran keluarga dan teman-teman terdekat sungguh sangat penting bagi mereka. Tidak sedikit pasangan yang akhirnya mau tidak mau harus menunda upacara dan resepsi pernikahan mereka. Namun, tidak bagi saya dan suami saya, Chris. Kami meneruskan pernikahan kami karena kami sudah lama mempersiapkan pernikahan ini. Kami bekerja dan menabung untuk keperluan pernikahan. Bukan hanya itu, banyak hal yang sudah direncanakan kedepan dan banyak target yang harus dicapai setahun setelah menikah sehingga membuat kami harus meneruskan pernikahan walaupun hanya dengan lima orang di dalam Gereja.

Bukan merupakan hal mudah dan yang diinginkan calon pengantin untuk menikah dengan suasana yang kurang mendukung seperti ini. Sejak pertengahan Maret, banyak Vendor yang sudah menelpon dan memastikan apakah kami tetap mau menjalankan resepsi pernikahan (karena pada saat itu pemerintah hanya membatasi tidak boleh lebih dari 100 orang). Maka sayapun menjawab, Ya kami masih tetap melanjutkan acara pernikahan kami. Selang beberapa hari kemudian, pemerintah Australia merevisi kembali peraturan tersebut dan hanya memperbolehkan kami menikah dengan lima orang termasuk selebran/Pastor di Gereja. Untungnya hingga tanggal pernikahan kami, Pemerintah tidak mengubah lagi aturan tersebut.

Keputusan untuk tetap melanjutkan pernikahan tentu bukan tanpa konsekuensi. Selain tanpa keluarga dapat hadir, beberapa budaya dalam upacara juga harus disesuaikan. Salah satunya adalah posesi berjalan menuju Altar Gereja. Biasanya, pengantin wanita diantar oleh Sang Ayah ke Altar, namun karena situasi yang tidak memungkinkan, akhirnya saya harus berjalan bersama pengantin Pria. Saksi pernikahan kami juga harus melakukan tugas lain di dalam upacara kami.

Terima kasih, Teknologi!

Di saat seperti ini, Teknologi adalah jalan keluar yang dilakukan. Dengan bermodalkan Tripod dan Smartphone, Liam – bestman suami saya, mengabadikan momen kami melalui Facebook Live dengan mengundang keluarga dan rekan-rekan kami berdua. Secara mengejutkan, banyak juga orang-orang yang tidak kami kenal turut menonton dan mendoakan pernikahan kami. Tidak hanya itu, kami juga bisa mendownload video tersebut dan didistribusikan kepada temna-teman yang belum sempat menonton secara langsung. Kami merasa teknologi di situasi karantina ini benar-benar mendekatkan kami dengan keluarga besar dimanapun mereka berada.

Buset Crew Devina memasuki bahtera pernikahan dengan Chris saat pemerintah membatasi acara pernikahan hanya boleh maksimum lima orang (dalam foto: bersama kedua saksi)

Selain pernikahan, perayaan lain yang biasa dilakukan melalui media sosial dan teknologi adalah perayaan ulang tahun. Masa isolasi bisa membuat suasana gembira dan kebahagiaan menurun karena kebosanan terutama bagi anak-anak. Tidak sedikit keluarga yang bingung cara membuat acara ulangtahun yang tetap menyenangkan. Ludmila dan keluarga merayakan ulang tahun salah satu putrinya dengan mengumpulkan ucapan teman-teman sekelas putri tercinta dan mengkompilasikannya menjadi satu video yang tak terlupakan bagi sang putri. Terima kasih kepada teknologi yang mampu mendekatkan yang jauh.

Devina