Kartini Berbunga di Melbourne

Memperingati Hari Kartini yang kunjung menyapa pada bulan April ini, BUSET Magazine mendapatkan kehormatan yang begitu besar untuk berbincang-bincang dengan Ibu Ade Soekotjo yang menghidupi cerita Ibu Kartini dalam kehidupannya.


Ibu Ade malangnya harus merelakan hatinya kepada kedua orang tuanya yang telah berpulang ke Nirwana sejak umurnya yang dini. Di bawah asuhan kerabatnya, ia tak lain harus mengikuti ke setiap tempat yang mereka jelajahi – New Delhi, Paris, Amerika, dan begitu banyak daerah-daerah lainnya di dunia. Cintanya akan petualangan membara mimpi untuk menjadi seorang, “stewardess” yang dalam setiap tugasnya membiarkannya menjelajahi dunia.


“Sayangnya, dikarenakan kebudayaan Indonesia tahun jebot impian saya lalu dipertanyakan. Alasan utama yang diberikan keluarga saya tentunya karena pada akhirnya masa depan saya hanyalah untuk memomong anak,” keluh wanita Sunda ini.
Tetapi hati dan batin Ibu Ade menolak untuk menukarkan kebebasannya untuk tradisi yang hanya akan mengekang dirinya. Masa mudanya yang banyak berlangsung di negara-negara Dunia Barat membuka pikirannya akan kebudayaan-kebudayaan Indonesia yang hanya memposisikan wanita sekedar sebagai seorang istri yang bertugas untuk membahagiakan suaminya.
Cerita Ibu Ade terdengar familiar bukan?


Ibu Ade adalah penggemar sejati Raden Ajeng Kartini. Ia tak habisnya terhisap ke dalam setiap rangkaian jiwa yang Ibu Kartini curahkan dalam bukunya yang dahulu menjadi obsesi kecilnya. Betapa banyak mata melihat ceritanya sebagai sesuatu yang jauh lebih rendah dari kata kepahlawanan dikarenakan status Kartini yang adalah berasal dari keluarga bangsawan.


Tak habis wanita terhormat berumur 82 tahun ini menentang kritik yang bertunas karena begitu banyaknya orang yang menutup sebelah mata akan derita yang sayangnya Kartini harus tanggung sejak lahir.


“Sebagai anak berumur 12 yang menenggelamkan diri ke dalam cerita Kartini, satu rasa yang terus terngiang hingga kini adalah kesedihan yang membara untuk selalu menuruti keinginan keluarganya. Sedih sekali bagi saya untuk membaca bagaimana masyarakat Indonesia terutama kaum hawa sangatlah terkungkung oleh adat kolot seperti pernikahan yang dijodohkan oleh para orang tua, tidak boleh melanjutkan pendidikan seusai Sekolah Dasar, status seorang adik tidak boleh melampaui sang kakak, dan banyak lagi. Kartini terkurung dalam ruang hidupnya, ketika ia beranjak remaja ia merasa telah masuk ke dalam penjara emas. Ia tidak diperbolehkan untuk bergaul secara bebas lagi. Hal itu membuatnya sangat sedih karena pada umurnya yang belia ia sudah memiliki pengertian bahwa tidak selayaknya seorang wanita diperlakukan sedemikian rupa.”

Ibu Ade bersama rekan-rekannya di DWP KJRI Melbourne


Ibu Kartini tidak merelakan dirinya untuk terikat oleh adat istiadat. Ia merasa cukup beruntung untuk dapat menguasai Bahasa Belanda melalui surat-menyurat yang ia lakukan bersama teman-teman penanya di Belanda, dengan begitu ia pun bersekolah di Sekolah Belanda. Lingkungannya yang berkisar pada orang-orang Belanda, dirinya terbuka dan terpengaruh oleh pemikiran orang-orang Barat. Dari situ, Kartini menyadari bahwa wanita yang hanya berkisar di ruang tidur saja mampu menduduki kedudukan yang dahulu merupakan wewenang pria. Setelah melihat kecerdasan dan kecekatan Wanita Indonesia, ia mendirikan sekolah-sekolah kepada mereka akan pendidikan putri seperti menjahit, memasak, atau hal-hal yang menyiapkan mereka menjadi istri yang baik. Tetapi di situ pula ia mengajarkan kepada mereka Bahasa Belanda, Bahasa Inggris maupun menyediakan mereka dengan berbagai buku.


“Ini merupakan sebuah langkah yang luar biasa terutama bagi seorang anak semuda itu untuk memiliki keinginan yang begitu kuat dalam membantu Bangsanya,” kagum Ibu Ade.


Salah satu hal yang Ibu Kartini lakukan yang tak dapat Ibu Ade lupakan adalah ketika Kartini mempertanyakan ayahnya, “Seandainya kita berpendidikan apakah Belanda akan menjajah kita selama ini?” Tidak hanya R. A. Kartini saja, tetapi Ibu Ade juga berpendapat bahwa hanya pendidikan-lah yang dapat membuka pemikiran kita akan hal-hal baru.

“Tanpa pendidikan kita tidak akan pernah bisa maju,” ujar alumni SMP Santa Ursula Jakarta ini.


Mengikuti jejak sejarah Raden Ajeng Kartini, Ibu Ade pun turut tumbuh besar menjadi seorang guru. Sejak hari-hari mudanya ia selalu bermimpi untuk suatu hari berkecimbung di dunia pendidikan. Bersama boneka-bonekanya ia berlatih dengan bermain seolah-olah ia tengah mengajar mereka di dalam ruang kelas.


Mimpi itu mulai terwujud ketika ia mengiyakan posisi di Kedutaan Besar Amerika di Indonesia untuk mengajar para pejabat yang yang akan dinas di negeri asal cheeseburger. Setelah ia bermigrasi ke Australia mengikuti sang suami, ia tak lain mencari alternatif baru dalam mengisi hari-harinya. Ada rasa rindu akan situasi belajar-mengajar yang mustahil ia hapuskan. Sebuah keberuntungan belaka bagi Ibu Ade menemui seorang teman yang mengajar Bahasa Indonesia. Sesekali temannya absen untuk mengajar, Ibu Ade dengan antusias menjadi penggantinya. Sejak itu, ia mendedikasikan diri untuk menuliskan sejarah hidupnya di Australia sebagai seorang guru.


Sekolah yang hingga akhir zaman akan merajai tempat yang spesial dalam hatinya adalah sekolah katolik untuk gadis nan eksklusif, Loreto Mandeville Hall. Melalui IKAWIRIA Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah mendasar yang menjadi prestasi yang begitu besar saat itu. Lantaran menyelesaikan skripsinya, Dr. Tuti Gunawan yang harusnya mengajar di Loreto Mandeville Hall kembali ke Indonesia dan digantikan oleh Ibu Ade.

Pada suatu instan dimana pertemuan guru dengan orang tua diadakan, Bahasa Indonesia dikenalkan sebagai jembatan untuk membuka persahabatan dan berbagi kebudayaan antara Indonesia dengan Australia. Akan keunikan metode pengajaran Ibu Ade di setiap kelasnya, kuota murid yang belajar Bahasa Indonesia bertambah setiap tahun ajaran – keterampilan Ibu Ade dalam membuat pembelajaran bahasa asing menjadi begitu mudah, proyek-proyek kesenian seperti tari-tari tradisional Indonesia, bahkan program kunjungan ke Indonesia. Bermulai dari tiga murid setiap minggunya berlipatganda menjadi ratusan siswi menantikan kehadirannya di kelas.


Anutan kepada agama Muslim yang dengan teguh Ibu Ade jiwai tidak pernah menghalangi keterbukaannya untuk membimbing muridnya lebih dari sekedar guru bahasa asing. Setiap malam Natal, bersama anggota keluarganya Ibu Ade menghadiri misa di gereja dan menjadi pembimbing bagi anak-anak selama ibadah. Keterbukaan Ibu Ade sudah ditanamkan oleh orang tuanya sejak dahulu kala. Orang tuanya percaya bahwa perbedaan agama, budaya, ataupun ras tidak membenarkan perlakuan untuk saling membedakan. Meskipun demikian, setiap dari kita tetaplah sama yakni seorang manusia.


Ibu Ade melihat bahwa banyak perempuan Indonesia pada zaman ini diberikan begitu banyak kesempatan untuk mengembangkan diri dan mengeksplorasi kemampuan dirinya. Ia berharap bahwa perempuan-perempuan Indonesi tidak tenggelam terlalu jauh dalam pergaulan bebas dan memilih untuk menganut Budaya Barat ketimbah kebudayaan negara sendiri.


“Kita harus menjiwai kebudayaan Indonesia yang begitu indah selayaknya identitas sebagai seorang warga Indonesia. Memang sebuah hal yang bagus bagi anak-anak zaman sekarang untuk dapat menjaga dirinya sendiri, tetapi hal ini akan melahirkan kebiasaan individualis. Orang tua pada zaman sekarang banyak yang memang mengajarkan kepada anak-anaknya di dalam situasi dimana mereka selalu dilayani. Tetapi mereka tidak boleh berhenti untuk mengingatkan mereka akan kebudayaan dan tata krama ketimuran. Apabila kami bersikap sopan, rendah hati, selalu berbuat baik, dan berpikiran baik kami akan menanamkan masa depan yang sukses,” adalah nasihat yang Ibu Ade ingin curahkan dalam ceritanya hari itu.

bintanghttps://benedictabintangz.carrd.co/
A born and raised half Bataknese and Javenese who can never live her life without doing anything art related!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

Penyiar, Pelawak, Pemain Film | Indrodjojo Kusumonegoro

Ialah Indrodjojo Kusumonegoro, atau yang lebih kenal dengan nama panggung Indro Warkop. Wajahnya sudah pasti tak asing lagi bagi kita yang suka menonton lawakan-lawakan...

PERTEMUAN PERDANA DWP KJRI MELBOURNE USUNG TEMA KARTINI

Dharma Wanita Persatuan (DWP) KJRI Melbourne menggelar pertemuan pertama mereka untuk tahun 2015 Mei kemarin sekaligus merayakan Hari Kartini serta memperkenalkan anggota baru. Acara...

Seknas Jokowi: Menuju Indonesia Baru

Selama sepuluh tahun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memimpin Indonesia. Setelah dua kali masa jabatannya, Juli ini Indonesia akan menjalani Pemilihan Umum Presiden (pilpres)...

BONA PASOGIT MENYAMBUT KEPENGURUSAN BARU

Baru-baru ini perkumpulan masyarakat Batak di Victoria dan Tasmania yang diberi nama Bona Pasogit (Kampung Halaman) mengadakan Pesta Bona Taon. Acara tersebut merupakan tradisi...

Anggota Baru The Expendables 3

Pada 2010 silam film The Expendables pertama kali rilis dan disambut dengan amat baik oleh masyarakat. Aktor Sylvester Stallone membintangi sekaligus menyutradarai film yang...