KANGEN INDONESIA

Tanahku yang kucintai… Engkau kuhargai…”

Kata-kata penutup dari alunan lagu ‘Tanah Airku’ itu masih membekas pada benak penonton setelah menyaksikan konser tarian tradisional Kangen Indonesia Concert garapan komunitas Lenggok Geni. Seturut lagu tersebut, konser ini merupakan tanda cinta dari komunitas Indonesia di Australia kepada keindahan budaya Tanah Air. Dengan menggandeng 4 komunitas tari lainnya, konser yang digelar akhir Mei itu berhasil memperlihatkan beragam tari tradisional dari seluruh penjuru Nusantara yang dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia maupun lokal Australia.

Novi Rahayu Restuningrum, Ketua Lenggok Geni, mengaku bahwa acara ini pada awalnya terbentuk secara tidak sengaja. Sebagai sebuah komunitas tari, Lenggok Geni melihat adanya peluang untuk memperkenalkan budaya tari Nusantara lebih jauh di Melbourne. “Kami melihat bahwa di Melbourne sendiri belum pernah ada acara khusus tarian. Kami pun berpikir untuk membentuk suatu parade tarian yang bukan hanya berisi tarian Aceh, tetapi dari seluruh Indonesia,” jelas Novi.

Tak selayaknya parade tari biasa, Kangen Indonesia Concert dirangkai dengan mengikuti cerita perjalanan seorang pemuda yang merindukan Tanah Airnya, Indonesia. Seluruh acara tersambung apik melalui untaian video serta narasi yang menceritakan berbagai keunikan setiap tari. Hal ini tentunya telah dipikirkan secara matang oleh pihak panitia. “Kalau parade tarian saja kan bosan. Jadi kita tambahkan video pengantar dan narasi agar lebih menarik,” jelas Novi.

Acara pun dibuka dengan corak penuh warna serta gerakan gemulai dari organisasi masyarakat Padang, Minang Sayo, yang menampilkan Tari Pasambahan asal Sumatera. Tari Pasambahan, yang memang ditujukan sebagai tari seremonial selamat datang, menjadi pembuka acara yang sempurna. Selanjutnya, penonton pun diajak untuk melihat keindahan Pulau Jawa melalui tarian Lenggang Jakarta serta Kembang Tanjung dari Sunda. Beberapa tarian, seperti Pendet dari Bali serta tari Soyong, dibawakan dengan anggun serta interaktif oleh dua orang penari tunggal pada hari itu – Reza dan Maria Leeds.

Tak lupa, Lenggok Geni pun turut menampilkan keindahan tari wilayah Timur Indonesia melalui Tari Kipas Pakarena dari Makassar. Berbalut baju bodo berwarna merah terang, tari asal Sulawesi tersebut menonjolkan dinamisme kehidupan wanita Makassar melalui gerakan-gerakannya yang gemulai.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan Tari Lengger Lenggasor yang penuh semangat dari komunitas Widya Luvtari. Dengan aksen kacamata hitam bersamaan dengan baju adat Jawa, Widya Luvtari berhasil memberikan nuansa modern dan canda bagi tari tradisional yang sering dianggap kuno dan membosankan. Acara siang itu ditutup apik oleh penampilan Tari Likok Pulo dari Aceh. Ritme lincah dan sinkronisasi sempurna dari penampilan Lenggok Geni tersebut menjadi penutup manis bagi acara siang hari itu.

Kangen Indonesia Concert adalah buah kerjasama Lenggok Geni dengan empat komunitas tari tradisional lainnya. Novi sendiri berkeras hal ini menjadi penting karena kerjasama antar komunitas dapat membangun jaringan serta menambah variasi dalam penampilan. Salah satu komunitas tersebut adalah Widya Luvtari. Komunitas asal Geelong yang dipelopori oleh Rini Meerbeek ini berkomitmen untuk memperkenalkan keindahan Indonesia dengan menampilkan serta mengajarkan tari-tari tradisional. Walaupun Widya Luvtari biasa menampilkan berbagai jenis tarian Nusantara, pada kesempatan kali ini mereka memilih untuk menampilkan tari Jaipong serta Lengger Lenggasor. Seraya ditanyakan, Rini sendiri mengaku bahwa Widya Luvtari tidak akan menolak untuk menari dalam berbagai kesempatan – termasuk Kangen Indonesia Concert kali ini. “Kita tentunya selalu ingin promosi Indonesia. Kebetulan acara di sini memang perlu penari, jadi mengapa tidak?” Ujar Rini.

Untuk ke depannya, Novi sendiri berharap pagelaran sejenis menjadi lebih dari sekadar wadah pengenalan budaya Indonesia. “Kita ingin adanya cross-cultural understanding. Diharapkan dengan adanya pengenalan, komunitas non-Indoneisa akan lebih tertarik untuk mendalami dan memahami budaya Indonesia lebih lanjut,” ujar Novi, “Sehingga hal ini diharapkan dapat mendorong understanding antara kedua kebudayaan di berbagai aspek.”

Cultural understanding tentunya harus dimulai dengan memupuk kecintaan pada Tanah Air sendiri walaupun sedang berada di tanah asing. Pesan ini ditekankan melalui nyanyian Tanah Airku di akhir acara – saat seluruh penari keluar, bergandeng tangan dan bernyanyi:

“Tanah airku tidak kulupakan…
Kan terkenang selama hidupku”

 







 

flase

 

 

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

HUT Dharma Wanita Persatuan KJRI Melbourne ke-18

Saat seseorang menginjak usia 18 tahun, biasanya di fase ini dianggap telah dewasa, sudah cukup matang mengambil keputusan, dan mandiri. Hal ini pula yang...

Noke Kiroyan MENCAPAI SUKSES DENGAN JERIH PAYAH DAN PIKIRAN TERBUKA

Titel bergengsi Top 10 Indonesian CEOs versi SWA Business Magazine 2002 dan 25 Outstanding Indonesian CEOs versi Warta Ekonomi Business Magazine 2000 pernah diraihnya....

Segudang PR Kuliner Indonesia di Victoria | Peresmian ICAV

Peresmian Indonesian Culinary Association in Victoria (ICAV) Sulit membantah kekayaan kuliner nusantara yang begitu lezat, menggugah selera, kaya bumbu dan teknik, dan selalu bikin rindu...

PERTOLONGAN DARI BENUA KANGGURU BAGI SAUDARA DI MALUKU

Tinggal di luar negeri bukan berarti lupa dan memalingkan wajah dari Indonesia. Pernyataan ini dibuktikan benar oleh Maluku Basudara Melbourne, komunitas masyarakat Ambon di Melbourne, Australia melalui...

Antara Seni dan Politik, Seniman Asia Tenggara Bersatu

 Festival Asia-Pacific Triennial of Performing Arts (Asia TOPA) saat ini tengah berlangsung di kota Melbourne. Festival yang baru pertama kali diadakan ini menawarkan beragam...