Islamic Museum of Australia: Connecting with the Community Through Sport

Menurut ‘Cambridge Dictionary’ sportsmanship memiliki arti ‘behaviour that is fair and showing respect to others’. Namun tentunya sikap ini goes beyond sport. Fairness dan mutual respect adalah landasan kelancaran interaksi manusia. Tanpa rasa saling menghargai, interaksi pun terasa sepihak dan hal seperti itu–dalam lingkup professional, pertemanan, maupun percintaan–tentunya tidak menyenangkan.

Oleh karena itu, di gala dinner tahunan Islamic Museum of Australia (IMA) kali ini, mereka membahas isu-isu sosial yang cukup krusial dalam komunitas Islam di Australia lewat sport dan sportsmanship. Selain itu, kemampuan sports dalam mempertemukan dan menyatukan manusia dari berbagai latar dalam tujuan yang sama–menuju kemenangan atau mendukung atlet serta tim kesayangan. Ini membuktikan bahwa sports and sportsmanship bisa membuat kita mengabaikan perbedaan serta saling menghargai dan menghormati.

Diselenggarakan di The Melbourne Room Melbourne Convention and Exhibition Centre pada tanggal 18 Februari, acara ini diawali dengan pembacaan Al-Qur’an oleh Bachar Houli–mantan pemain footy yang tiga kali bermain dengan AFL Premiership serta nominee AFL Rising Star 2008–pada pukul 18.30 serta dibuka oleh oleh MC, Dr. Susan Carland, dan chairperson IMA, Azmeena Hussain OAM.

Dr. Carland menyampaikan bahwa Islamophobia adalah satu dari banyak bentuk hate-crime yang masih terjadi di Australia. Promoting excellence–in sports and academic–are among ways to minimise Muslim being in such spot that might allows the action in the first place.

Oleh karena itu, acara malam ini mengundang tiga dari sekian pemenang IMA Patron’s Fund–bernilai $10,000 per tahun bagi tiap orang–untuk menceritakan asal dari semangat mereka. Sebagian dari dana ini diberikan pemerintah Australia, bagian dari strategi dan anggaran untuk melawan Islamophobia.

Masih hangatnya bencana gempa di Turki dan Syria, lewat acara ini IMA juga mengadakan lelang terbuka untuk barang-barang koleksi tertera yang mana hasilnya akan didonasikan untuk membantu para korban bencana–seperti yang dibawah ini.

Banyak program lain yang dilakukan oleh IMA untuk membantu komunitas Muslim di Australia dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap Islam sebagai sebuah agama dan komunitas yang dijelaskan oleh chairperson IMA dalam pidato pembukanya.

IMA adalah organisasi non-profit, showcasing the work of Muslim artist di berbagai media–arsitektur, kaligrafi, lukisan, kaca, keramik, dan tekstil–sembari menjadi ranah edukasi dan cross-cultural experiences sejarah serta makna seni-budaya Muslim di Australia dan ranah internasional.

Di tahun 2022 kemarin beberapa pencapain dicapai IMA termasuk Australian Muslim History Opening, bekerja sama dengan Arterial Design, improving pengalaman imersif para pengunjung dengan augmentasi digital; kembali menerima lebih dari seratus kunjungan sekolah dari dalam dan luar negara bagian; merilis platform edukasi daring berisi basis data edukasi multikultural untuk institusi edukasi Australia; dan lain sebagainya.

Acara ini ditutup dengan perbincangan Dr. Waleed Aly dan Sonny Bill Williams dimana Williams–a muslim revert, a heavyweight boxer, mantan pemain rugby professional, serta satu dari 21 orang yang memenangkan Rugby World Cup dua kali–berbagi kisah hidup, karir, serta awal tumbuhnya Islam di hatinya. Pemandu percakapan ini, Dr. Aly, adalah dosen ilmu politik di global Terrorism Research Centre Monash University. Beliau juga seorang jurnalis, akademisi, serta pengacara.

Nyaman. Rasa yang membuat kita ingin senantiasa dekat hingga mengasosiasikan diri dengan seorang maupun komunitas tertentu. Dengan Islam, Williams rasakan. Di jalan yang kerap ia lewati, terdapat suatu charity action yang menarik perhatiannya. Disitu, ia berkesempatan untuk berinteraksi dengan komunitas Muslim secara personal dan dari tiap kunjungan dan interaksi yang ia lakukan, rasa nyaman pun tumbuh.

Dari Islam beliau belajar untuk mencintai dirinya serta para saudara seimannya dengan penuh. Dan sebagai seorang atlet, dari Islam ia memahami konsep qada dan qadar atau ketetapan serta perwujudan dari takdir.

Life as an athlete is so fleeting–the wins are so fleeting–and materialistic. With Islam, I learn to give for something greater than myself, being in this world with a purpose–destiny–from Allah SWT and just give my best to do and achieve what I’ve been set to do.

I also taught my children that everlasting success is everything that a Muslim was taught–constant growth, being a good and kind person, respecting others and yourself and so forth. I also learn that only in giving you shall truly receive

Acara ditutup dengan kata terimakasih dari MC dan waktu menunjukkan kurang lebih pukul 23.00.

Event Snapshots

Tiga dari berbagai barang lelang yang menyambut para tamu ketika memasuki dan meninggalkan aula The Melbourne Room

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

Patrick Christian Bagi Tips Cari Kerja

Baru-baru ini sembilan mahasiswa dari beberapa universitas di Melbourne mendapatkan kesempatan istimewa mendengarkan tips dari Patrick Christian, seorang warga negara Indonesia yang sudah menetap di Australia sejak...

Mengenal Graphic dan Spatial Design bersama MATA Studio dan PPI Australia

Sebagai rangkaian acara untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke-76, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) mengundang Nasha Bahasoen S.ARS, M.FA dan Agra...

RANI PRAMESTI BICARA TEATER

BUSET ICCA Suatu saat saya berkesempatan berkunjung ke Footscray Community Arts Centre. FCAC terletak di lokasi yang menurut saya menarik, yaitu dekat dengan stasiun kereta...

CASEY NTOMA: “Ambil Ilmunya, Kembangkan di Indonesia”

Sosoknya yang tinggi besar sekilas tak terlihat ramah. Gerakan tubuhnya juga tampak cekatan, saat melangkah dan jabat tangan yang terasa sangat erat. Apalagi terdapat...

Tulus Buka Rahasia Menulis Lagu

Di penghujung tahun 2018, Tulus sukses menggelar konser tunggal ketujuh yang berjudul “Konser Monokrom Tulus” di Bandung, Indonesia. Beruntung meski jauh di Melbourne, para...