Indomelb yang sudah berdiri sejak 2006 sebagai wadah pertukaran informasi bagi warga Indonesia di Melbourne, mengadakan acara welcoming party di Warr Park, Brunswick pada penghujung Juli kemarin. Komunitas tersebut bertumbuh besar sepanjang waktu hingga melingkupi beberapa lapisan masyarakat Indonesia, dengan platform Facebook sebagai wadah pertukaran informasi.

Konsul Jendral Spica A. Tutuhatunewa dan Lurah baru Indomelb, Muchlis Setioadji

Menyambut datangnya semester baru, Indomelb melihat sebagai kesempatan dimana mahasiswa Indonesia dapat berkenalan dengan sesama. Tak hanya itu, para peserta juga dapat berkenalan dengan Muchlis Setioaji yang baru terpilih sebagai Lurah Indomelb sebulan sebelumnya.

Sebagai Lurah, Muchlis memiliki visi agar Indomelb menjadi komunitas warga Indonesia paling besar dan dapat merangkul seluruh warga tanpa membedakan siapapun, serta mengedepankan partisipasi aktif warganya.

Salah satu langkah pertama yang ia jalankan sebagai lurah baru adalah rebranding Indomelb dengan membuat merchandise untuk menggalang dana. “Agar kita lebih tertata, kedepannya kita ingin mengadakan acara diskusi yang lebih menarik,” harap Muchlis. Selain itu, pihaknya hendak segera meluncurkan program Indomelb of the Year, dimana warga Indonesia yang paling aktif berkontribusi, paling banyak memberikan rekomendasi, postingan positif, akan dibuatkan profil dan diberikan piala/plakat.

Indomelb menyewa Brunswick Neighbourhood House di Warr Park

Iklan di Facebook Indomelb Diperketat

Tak hanya itu, peraturan untuk periklanan di Facebook group juga diperketat. Beberapa kategori yang akan diprioritaskan adalah “pertama, info akomodasi, karena itu krusial untuk adaptasi anak-anak baru. Kedua, pertanyaan tentang rekomendasi, biasa orang tanya bagaimana perpanjang visa, gimana cari ini/itu kita akan beri ruang lebih. Ketiga, diskusi, kita fasilitasi orang yang ingin berdiskusi ada berita apa disharing, tapi dengan narasi. Keempat, jasa titip, karena paket dari sini cukup mahal,” tuturnya.

Perihal pengetatan peraturan periklanan makanan, Muchlis turut mengungkapkan beberapa alasan. “Pertama kita tidak tahu dia punya license atau gak. Kedua, kita khawatir kalau terjadi kecemburuan sosial, nanti takutnya yang punya license akan melaporkan yang tidak punya license, takutnya kita ikut terbawa. Karena untuk makanan cukup rumit peraturannya di sini. Bukannya kita gak support mereka, tapi demi menjauhkan dari hal yang tidak diinginkan, seperti saling mengadu,” ungkap Muchlis. “Kalau kita tidak batasi, iklannya banyak banget, sementara yang penting sekali kayak info akomodasi akan ketutup,” tambahnya. Dalam waktu dekat Muchlis mengatakan akan ada kebijakan baru terhadap periklanan makanan.

Bazaar dan Playground

Pada acara Welcoming Party tersebut, Indomelb menyewa gedung Brunswick Neighbourhood House yang terletak di Warr Park. Panitia sekaligus mengadakan mini bazar dimana pengunjung dapat menikmati jajanan Indonesia seperti bakso kuah, cilok, seblak, batagor, pempek dan lain sebagainya. Merchandise Indomelb berupa tas juga dijual di bazaar tersebut. Ada pula booth KJRI bagi yang ingin melaporkan diri. Anak-anak pun terlihat senang setelah diberikan mainan busa tiup, aneka buah, serta bisa bermain di playground yang tersedia di Warr Park.

Kepada para hadirin Konsul Jendral Spica A. Tutuhatunewa menyuarakan ucapan terima kasih atas undangan kerjasama Welcoming Party dan berharap hubungan antara KJRI dan Indomelb dapat berlanjut lebih erat lagi. Beliau tak lupa mengajak seluruh warga untuk merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus mendatang di Federation Square.

Setelah masa waktu sewa di gedung Brunswick Neighbourhood House selesai, relawan Indomelb termasuk para tamu saling bantu membereskan barang dan pindah ke tengah taman, dimana bazaar serta bincang bersama terus berlanjut. 

Booth KJRI bagi yang ingin melapor diri

Bagi yang ingin ikut bergabung dengan Indomelb dan mendapatkan informasi di kalangan komunitas Indonesia, bisa bergabung dengan Facebook group Indomelb.



Apa Kata Mereka

Tedjo, member Indomelb sejak 2015

Saya sudah ikutan Indomelb sejak 2015, istri saya menempuh pendidikan tahun 2015, begitu kita datang, teman yang lebih dulu di sini bilang kumpul-kumpul lah, baru kita join. Yang disukai dari Indomelb, suka duka hidup di rantau. Di tahun 2016 istri saya ikut kepengurusan divisi sosial. Kebetulan nangani beberapa kasus, misal ada student yang meninggal, siapa lagi selain kita yang ngurus ke konjen, kerjasama dengan konjen, ke rumah sakit, ke polisi, ke warganya, apa lagi kita belum pernah di situasi seperti itu. Begitulah manfaatnya, berdasarkan merah putih jadi saudara di negeri orang. Semoga bertahan karena ini bagus, Indomelb ini salah satu yang menurut saya cukup majemuk, kedepannya semoga programnya makin beragam.

Henri, mahasiswa PhD Mechanical Engineering di The University of Melbourne

Sudah tahu Indomelb sebelum datang ke sini, sudah cari tahu. Yang saya suka, buat rileks, bisa ngomong sama orang Indonesia. Kebetulan saya ketua badminton Indomelb, kita ngadain latihan tiap minggu. Jadi habis pusing kuliah bisa main badminton. Semoga acara seperti ini lebih sering, jadi bisa ngobrol sama orang yang gak cuma komunitas kita, jadi seluruh orang Indonesia. 

Kemal, mahasiswa Master Computer Science di The University of Melbourne

Yang disukai makanan ya, selain kenalan sama orang orang. Harapan, mungkin sosialisasinya ya. Soalnya kalau gak dikasih tahu teman yang sudah di sini, gak bakal tahu tentang komunitas Indomelb.

Fajar, mahasiswa Master Geospatial Science di RMIT

Fajar (Kanan)

Pertama kali ke-expose ke Indomelb itu Facebooknya, lalu masuk ke grup whatsappnya. Dari situ terasa open. Kalau mau tanya sesuatu, terasa gak akan dijudge. Kalau kita masuk grup yang jarang ngomong, terasa mau nanya sesuatu rasanya sungkan, kalau di sini ada yang nanya, dijawab. Jadi rileksnya itu saya suka. Nggak ngejudge kamu dari mana, kita saling membantu sesama orang Indonesia. Saran, terlepas dari yang mengadakan Indomelb atau bukan, ketika orang baru masuk, kita itu semacam dikasih guideline untuk Melbourne, tapi yang bikin Indomelb. Majoritas kita kan Muslim, untuk cari toko yang halal dimana. Semacam dibundle jadi satu, sebuah guide untuk para pendatang baru di Melbourne, kayak kalau kamu ke suburb ini bisa ketemu banyak orang Indo, You should join this and this, checklist pertama lapor diri, seterusnya. Selama ini dapat info dari sumber-sumber yang berbeda, harus riset.

Tuti, mahasiswi Master International Development di RMIT

Tuti (kiri)

Kesan pertama grupnya live banget. Mau cari informasi, terutama aku nih suka banget aktivitas bareng dan kemarin itu sempat nyari tempat-tempat meet up, kalau Indomelb di Facebook group ini kayak lumayan gitu. Beberapa aktifitas yang sudah kemarin aku ikuti kayak misalnya ada wall climbing atau Indo Ice adventure juga, surprise aja karena itu betul – betul yang free, dan sangat ramah, bahkan bisa ditanya “kamu tinggal dimana kita jemput.” Kadang kadang ikut komunitas baru kan sungkan. It’s very nice. Bantu banget buat cari housing sebelum datang, nyari beberapa barang, ama activity. Awalnya ada worry tentang pindah ke negara lain, transition-nya so far smooth jadinya.

Denis