IFF 2021: Perkenalkan Keragaman Budaya Indonesia Melalui Layar Kaca

Tahun ini Indonesian Film Festival kembali menghibur komunitas pecinta film Melbourne dengan film-film asal tanah air. Festival yang sudah dirayakan selama 15 tahun berturut-turut itu mengemban misi untuk memperkenalkan keragaman dan keunikan dunia perfilman Indonesia di Negeri Kanguru ini. Genre film yang ditampilkanpun beragam, mulai dari drama, horor, hingga film klasik hadir di line-up online screening Tahun ini. Film-film yang tayang diantaranya adalah Catatan Si Boy, Negeri Dongeng, Abracadabra, Rumah dan Musim Hujan (One Day When The Rain Falls), dan Generasi 90an: Melankolia.

Featured films IFF 2021

Keragaman budaya sebagai ‘karakter’ Bangsa Indonesia

Film selalu merefleksikan karakteristik suatu bangsa. Begitulah yang diyakini oleh sutradara film Ifa Isfansyah. Seperti film Amerika yang merefleksikan teknologi dan film Tiongkok yang merefleksikan sumber daya manusia atau people power, film Indonesia pun mencerminkan keunikan bangsa Indonesia, yakni keragaman budayanya.

“Indonesia memiliki ratusan suku dan ribuan bahasa, setiap daerah memiliki budaya mereka masing-masing. Cuma bangsa kita yang beragam seperti itu”, ujar sutradara film Rumah dan Musim Hujan. Sutradara film Sang Penari itu yakin bahwa budaya daerah memiliki peran penting dalam memperkaya kultur film di Indonesia. “Kamera sekarang sudah handy sekali, sehingga memungkinkan untuk masuk ke pelosok-pelosok daerah untuk membuat film di daerah tersebut”, tambah Ifa lagi.

Tak hanya Ifa, Anggi Fransisca sutradara film Negeri Dongeng juga menggemakan hal serupa, “yang membuat orang luar negeri tertarik terhadap Indonesia itu budayanya yang unik, beragam dan belum pernah ada di Negara lain. Ketika membicarakan bagaimana film-film Indonesia dapat bersaing dengan film-film luar negeri, kita harus tahu identitas (film) apa yang mau dikenalkan”, tuturnya.

Anggi berpendapat bahwa penting bagi para pembuat film tanah air untuk menonjolkan karakter unik Indonesia dari segi keragaman budaya, alih-alih berusaha untuk bersaing dari segi teknologi -yang untuk sementara masih jauh tertinggal dibanding film-film Hollywood-. Agar Dunia tak hanya dapat lebih menikmati film-film Indonesia, namun juga lebih mengenal Indonesia melalui budayanya yang beragam dari film-film tersebut.

Bangkitnya genre alternatif dan film-film indie

Walau sebagian besar film yang ditayangkan di bioskop Indonesia masih bergenre horor, masyarakat Indonesia dan pemain industri film kini mulai melirik genre alternatif lainnya. Putri Sarah Amelia contohnya, dirinya memutuskan untuk membuat film bisu yang terinspirasi oleh suatu kematian anggota kaum minoritas yang tak bisa dimakamkan di suatu kota yang dikuasai oleh kaum mayoritas. Sebagai pembuat film alternatif, Putri berpendapat bahwa narasi personal dan kedekatan pembuat film dengan isu-isu yang mengena di hati masyarakat akan menjadi kunci kesuksesan film Indonesia kedepannya. Terutama ketika berusaha untuk bersaing dengan film-film luar negeri.

“Seperti film Parasite oleh Bong Joon-ho misalnya yang merefleksikan isu sosial di Korea, film-film Indonesia juga harus bisa lebih personal dan dapat mempertahankan cerita original yang tetap Asia sekali”, ujar sutradara film Jemari Yang Menari di Atas Luka-Luka itu.

Hal yang sama dikemukakan oleh Ari Irham, pemeran Abby, tokoh utama di film Generasi 90an: Melankolia. Dirinya berharap kedepannya ia akan dapat lebih banyak lagi memerankan tokoh-tokoh dengan range emosi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tetap optimis dengan dunia perfilman tanah air

Memang saat ini film-film Indonesia masih tidak sepopuler film-film dari negeri lainnya, terutama film Hollywood, Korea, bahkan Tiongkok yang sudah lebih banyak mendominasi bioskop-bioskop secara global. Namun, bukan berarti Indonesia tidak mempunyai harapan untuk bersaing di kancah Internasional.

Lavesh Samtani, produser film Catatan Si Boy itu optimis bahwa dunia perfilman Indonesia akan jauh lebih berkembang lagi kedepannya.

“Saat ini dunia perfilman Indonesia itu hanya scratching the surface, masih banyak talenta-talenta yang belum terekspos. Namun, sudah mulai ada beberapa sutradara-sutradara yang di pick-up oleh Hollywood, kalau aktor kan sudah. Pasti nanti film-film juga akan ikut. Possibility and opportunity is huge,” katanya.

Phoebe

Discover

Sponsor

Latest

Bakudapa Maluku Basudara: Bersatu untuk Maluku yang Maju

Pada Sabtu, 28 Juli kemarin, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne menjadi tuan rumah untuk acara komunitas kedaerahan Maluku, “Maluku Basudara”. Acara ini menjadi istimewa karena...

PENCOCOKAN DATA

  Sistem perpajakan di Australia merupakan self-assessment system dimana para wajib pajak melakukan pelaporan pajak berdasarkan perhitungan sendiri. Namun demikian untuk menghindari adanya kecurangan pajak,...

Arnesia Ranggi: Menginspirasi Orang Lain Lewat Tarian

Arnesia Ranggi, atau yang lebih akrab disapa Essa, ialah seorang perempuan berdarah Indonesia yang tengah menuntut ilmu di tanah Kangguru ini. Essa dilahirkan pada...

10 Tahun Rayakan Idul Fitri di Melbourne

Sejak tahun 2005, saya sudah meninggalkan Tanah Air dan tinggal di Melbourne, Australia. Terhitung sudah hampir 10 tahun saya di sini. Selama itu juga...

Setujukah Anda dengan Hukuman Mati?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan tidak akan membatalkan eksekusi terhadap terpidana mati kasus "Bali Nine", Andrew Chan (31) dan Myuran Sukumaran (33) akibat kasus narkotika....