IDN Yakin Pasti Ada Solusi Setelah Covid-19

0
121

Sebagai warga Indonesia yang tinggal di luar negeri, Covid-19 telah membawa berbagai macam tantangan dan ketidakpastian untuk masa depan kita. Seperti yang disampaikan melalui seminar Membangun Optimisme Ditengah Wabah Covid-19, para politikus dan pengamat politik Indonesia justru merasa optimis dengan keadaan saat ini. Beginilah beberapa alasan untuk tetap berpikir positif tentang prospek kehidupan sebagai diaspora di Australia maupun masa depan di Indonesia.

Australia-Indonesia Memiliki Hubungan Bilateral Yang Solid

Seminar yang diselenggarakan oleh Indonesian Diaspora Network (IDN) Australia ini, Drs. Yohanes Kristiarto Soeryo Legowo, Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu meyakinkan para diaspora Indonesia bahwa dengan eratnya hubungan antar negara Indonesia-Australia saat ini, kesejahteraan warga Indonesia di Australia akan terjamin.

Dengan meningkatnya status hubungan Indonesia-Australia dari strategic partnership menjadi comprehensive strategic partnership, sangat penting bagi pemerintah kedua negara untuk memahami dan mengikuti kebijakan satu sama lain.

Beliau mengaku bahwa pemerintah Australia memang menghimbau seluruh warga negara asing (WNA), termasuk warga negara Indonesia (WNI) yang tengah berada di Australia dengan temporary visa (visa sementara) dan tidak dapat membiayai diri sendiri agar pulang ke negara masing-masing. Hal ini dikarenakan pemerintah Australia saat ini hanya mampu menyediakan dukungan finansial untuk warga negara Australia dan permanent resident saja.

“Indonesia dan Australia harus menjadi mitra sejati, kawan sejati dalam menghadapi ini,” ujar Kristiarto yang akrab disebut Pak Kris. Beliau berharap warga Indonesia yang berada di Australia maupun yang berencana untuk bepergian ke Australia untuk senantiasa mengikuti himbauan travel ban atau larangan untuk tidak melakukan perjalanan internasional keluar maupun masuk ke Australia.

Meski demikian, perwakilan Republik Indonesia (RI) di Australia terus memantau kondisi WNI yang ada di wilayah perwakilan RI, memberikan arahan, bimbingan, serta dukungan di tengah wabah Covid-19. Khususnya untuk para pelajar dan mahasiswa Indonesia.

“Dubes Indonesia di Australia sudah mengirim banyak surat kepada pemerintah Australia dan rektor-rektor berbagai universitas di Australia untuk membantu mahasiswa-mahasiswa Indonesia,” ujarnya.

Kinerja pemerintah Indonesia di Australia juga terlihat jelas dalam pengananan mereka akan kasus 6 anak buah kapal (ABK) dari Indonesia yang berlabuh di Australia dan positif corona. Pihak Dubes dan KJRI sudah berkoordinasi dengan perusahaan asing yang mempekerjakan para ABK untuk menyelesaikan kebijakan terkait penanganan virus Corona di awak kapal.

Perwakilan RI akan mendukung inisiatif mandiri seperti berbagi makanan dan sembako dengan mahasiswa Indonesia dan kegiatan reaching out kepada berbagai komunitas Indonesia lainnya. Saat ini baik Dubes maupun KJRI di Canberra, Sydney, Melbourne, Perth maupun Darwin telah disiagakan untuk merespon dengan segera segala pertanyaan maupun permohonan informasi dari WNI melalui hotline, email maupun media sosial KBRI/KJRI/KRI.

Tak lupa, Pak Kris juga mengingatkan kita semua untuk bersyukur senantiasa dalam keadaan. “Kata kunci saat ini adalah ‘bersyukur’,” katanya.

“Bersyukur karena berkat rahmad Allah SWT, kita masih dikaruniai kesehatan. Kita harus bersyukur untuk rumah tempat tinggal kita. Bersyukur untuk keluarga dan kesempatan untuk berkomunikasi dengan lebih meaningful dengan mereka. Semua ini adalah hal-hal yang biasanya kita take it for granted. Kita harus bersyukur dengan pemerintah yang stable dan sangat caring dengan warga.”

Pemerintah yang Responsive di Luar dan di Dalam Negeri

Tak hanya pemerintah Indonesia di Australia, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah di Indonesia juga merespon dengan cepat dan efektif. Contohnya adalah Walikota Bogor, Bima Arya. Walikota yang dikenal sebagai Kang Bima itu bergerak cepat sekembalinya dari tugas negara di Turki dengan menghubungi beberapa dokter dan ahli medis. Ia menanggapi dengan serius peringatan para dokter untuk tidak lalai dan mengikuti jejak Italia yang menjadi salah satu kasus terburuk pandemi Covid-19.

Kang Bima yakin bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan kepemimpinan yang efektif itu bersifat kolaboratif.

“Pemerintah harus bisa melibatkan scientist, psychologist, psychiater. Ini adalah kesempatan bagi diaspora untuk kedepannya karena pemerintah akan terbuka dan lebih kolaboratif dan melibatkan berbagai macam perspektif,” katanya. Kang Bima dan timnya kini berupaya untuk membuat kebijakan yang dapat membuat masyarakat kota Bogor untuk terbib melakukan social distancing.

Tak hanya karena posisinya sebagai walikota, dedikasi Kang Bima dalam memerangi Corona juga dikarenakan dirinya tahu benar betapa seriusnya penyakit Covid-19 itu. Pasalnya, Kang Bima sendiri sempat terjangkit virus Corona dan harus menjalani perawatan di rumah sakit selama 22 hari.

“22 hari saya di rumah sakit itu bukanlah hal yang mudah, penuh dengan cobaan dan ujian,” aku Kang Bima. Dirinya juga mengatakan bahwa virus Corona menyadarkannya akan perubahan yang terjadi terhadap relasi manusia secara vertikal dan sosial, pola ibadah dan bekerja, serta prioritas kita terutama kesehatan.

“Kita harus bisa menangkap pesan dari cobaan ini, yaitu kita harus melakukan rekonstruksi ulang terhadap semua yang kita lakukan. Hidup sehat itu tidak instant. Semua bisa terkena, pemain bola tersohor, aktor Hollywood. Kebugaran kita tidak akan membentengi kita dari virus corona. Imunitas tinggi akan menentukan apakah kita bisa bertahan menghadapi virus corona,” pesannya. Ia juga menambahkan agar tidak membebani mental kita dengan pemikiran negatif yang dapat berdampak buruk bagi imunitas tubuh.

“Kalau kita kepo, pesimis, dan parno akan mempengaruhi psikosomatis, dan menurunkan imunitas. Sosial media menggempur kita dengan berita negatif. Tapi semua itu tanpa kepastian dan tidak menjawab apa-apa,” ujarnya.

Solidaritas Tinggi Masyarakat

Sentimen positif juga dapat dilihat di Jawa Timur baik dari segi pemerintah maupun sosial. Menurut pengamatan Professor Mas’ud Said dari Universitas Islam Malang, budaya gotong royong rakyat Indonesia justru semakin menguat disaat bencana melanda.

“Di Jawa Timur, social cohesion justru meningkat. Muncul solidarity, persaudaraan,” katanya. Masyarakat merespon dengan membantu mereka yang paling rentan dan terdampak oleh virus corona melalui pembagian sumbangan berupa makanan dan sembako dan inisiatif cash for work yang memberikan 75 ribu rupiah per hari untuk orang-orang yang kehilangan pekerjaan.

Tak hanya pekerja, masyrakat juga membantu tim medis dan dokter-dokter dengan membuat alat perlindungan diri (APD) mandiri seperti pengganti hand sanitizer dan masker kain.

“Susunan sosial di Indonesia memiliki social cohesion yang kuat meski negara Indonesia adalah negara birokrasi,” komentar Prof. Mas’ud.

Di level pemerintah, berbagai bentuk government intervention (intervensi pemerintah) sudah dilakukan. Diantaranya seperti stimulus fiskal, efisiensi anggaran drastis, dan stimulus ekonomi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Selain itu, 3.5 jt pegawai negeri dan TNI/Polri telah digerakkan dan berbagai satgas sudah dibentuk untuk melaksanakan tugas mereka ditengah social distancing.

“Bagi diaspora, tidak perlu takut kembali ke Indonesia pada saat Covid-19 ini, situasi terbuka dan siap,” papar Prof. Mas’ud.

Krisis Akan Melahirkan Kesempatan

“Setiap krisis selalu ada ujungnya. Dan setiap kali terjadi krisis akan tercipta solusi,” tutur Yunarto Wijaya atau lebih sering dikenal sebagai Mas Toto.

Sebagai pengamat politik, dirinya membandingkan krisis yang disebabkan oleh wabah Corona ini dengan krisis-krisis lain dalam sejarah seperti the Great Depression (Depresi Besar) di Amerika dan kekalahan perang dunia yang dialami oleh Jepang dan Jerman. Krisis-krisis tersebut membuat Amerika, Jepang dan Jerman mengalami krisis ekonomi yang luar biasa besar namun justru krisis itulah yang memicu perubahan ke arah yang lebih baik. Amerika memilih jalur “Reinventing Ourselves of USA” dan Jepang dan Jerman berubah menjadi negara industrial terkemuka.

Mas Toto juga mengingatkan bahwa saat ini kita hidup di era modern dimana sains dan teknologi sudah maju. Sehingga solusi medis dan non-medis akan terus bermunculan untuk mengatasi masalah yang terjadi karena dampak Covid-19.

Direktur Charta Politika itu mengajak orang-orang untuk menerima konsep ‘dekonstruksi’ sistim yang lama dan menerima perubahan-perubahan yang sedang terjadi sebagi norma yang baru. Diantaranya termasuk kegiatan sehari-hari yang sudah berpindah ke ranah virtual seperti bekerja, berbelanja, belajar dan berpolitik. Meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan akan menjadikan pola hidup bersih dan sehat sebagai norma dan bukan sebatas jargon.

“Selama ini, ini adalah hal-hal yang dilakukan anak muda atau millennial, tapi Covid-19 membuat semua orang melakukan hal-hal secara virtual,” ujarnya.

Dalam segi pemerintahan, Mas Toto berharap Covid-19 akan mentrasformasi pemerintah untuk menjadi lebih kompeten, transparan dan bergantung pada sains dan fakta.

Khusus untuk para diaspora, Mas Toto berpesan agar kita senantiasa menjadi jembatan penghubung diantara luar negeri dan Tanah Air. Kita harus bisa berbagi informasi, ilmu, kreatifitas, solusi, dan inovasi agar dapat membantu mengatasi wabah Covid-19 beserta masalah-masalah lain yang timbul karena wabah ini seperti masalah ekonomi dan sosial.

Pesan dariIndonesian Diaspora Network

Sulistyawan Wibisono, President Indonesian Diaspora Network

Kita dari tim IDN memang berusaha untuk memberikan seminar yang berbeda. Karena sudah banyak seminar teknis tentang kesehatan. Jadi dari tim kita ada usulan untuk memberi seminar yang positif, seperti peluang di tengah Covid-19.

Harapan dari seminar ini adalah kita dapat menelaah perubahan-perubahan yang sedang terjadi dan akan terjadi setelah wabah. Dari situ kita mencermati peluang-peluang yang harus kita siapkan kedepannya.

Para narasumber yang kita kumpulkan juga kebetulan kebanyakan alumni Australia semua. Pak Kris contohnya itu dulu sempat bekerja di Canberra. Dan setiap narasumber punya angle masing-masing. Pak Dubes pasti memberi semangat dan memberi rasa nyaman warga negara. Pak Bima Arya dari pemerintah. Dan lebih menarik lagi dia sendiri juga korban. Dari awal dia memang tidak mau membahas apa itu Covid-19, dia tertarik untuk jadi narasumber karena ada pembahasan tentang optimisme. Beliau berbicara soal rekonstruksi sosial, tidak membubarkan apa yang sudah ada tapi lebih seperti renovasi.

Kalau Mas Toto malah bicara tentang dekonstruksi, ini lebih radikal. Sebetulnya Mas Toto itu murid Pak Bima dulunya. Dia bahas bagaimana pemerintah bisa berubah. Sekarang dengan adanya wabah ini kan masyrakat bisa melihat kalau pemerintah mau ga mau harus kerja.

Masyarakat dulu terjebak dengan gimmick, masih populis, lebih memilih siapa yang pandai mengambil hati masyarakat tapi di belakang mungkin kerjanya nol. Kedepannya mau ga mau harus lihat prestasi kerja. Pak Mas’ud meyakinkan reaksi masyrakat Indonesia, sosial cohesionnya kuat, yang dulu cuek sekarang lebih gotong royong.

Phoebe