Upaya Perlindungan, Hak dan Keselamatan Pekerja Migran dan Diaspora Indonesia

Baru-baru ini, Indonesian Diaspora Network Victoria menggelar webinar yang menghadirkan 5 (lima) pembicara terkait dengan Perlindungan, Hak dan Keselamatan Kerja untuk Pekerja Migran dan Diaspora Indonesia. Acara ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Buruh di Victoria.

Pekerja Migran memiliki peran yang cukup penting untuk kemajuan perekonomian Indonesia, dengan kemungkinan pendapatan yang lebih besar didapatkan dari luar negeri maka hal ini berpengaruh terhadap kesejahteraan ekonomi masyarakat Indonesia.

Setiap tahunnya, Pekerja Migran Indonesia (PMI) terus meningkat, dengan imingan gaji yang didapatkan cukup tinggi maka akan menjadi pewujud mimpi untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera.

Rizky Oktaviana menyampaikan materi dalam webinar mengenai Perlindungan, Hak dan Keselamatan Kerja untuk Pekerja Migran dan Diaspora Indonesia

Namun karena tidak berada di negara sendiri, banyak hal-hal merugikan yang bisa terjadi seperti praktik penipuan yang menyelimuti.

Menurut pembicara pertama yaitu Rizky Oktaviana (Ketua Departemen Kelautan, Serikat Buruh Migran Indonesia), yang memiliki pengalaman sebagai seorang korban perdagangan manusia saat menjadi PMI di Cape Town, beberapa hal menjadi penyebab utama permasalahan PMI adalah kurang meratanya informasi kepada pekerja migran sehingga mereka tidak tahu hak yang mereka miliki dan payung hukum yang belum jelas.

“Dibutuhkan arus yang lebih efisien, penjelasan syarat ketentuan dan hak mereka. Karena apa yang saya ketahui, selama ini tidak ada khususnya ABK (anak buah kapal) yang memegang dokumen mereka sendiri bahkan kontrak kerja,”

Rizky berharap, banyak warga Indonesia yang khususnya berada di luar negeri untuk menunjukkan kepeduliannya pada para buruh migran, peduli dengan nasib teman-teman buruh migran dimanapun berada.

Direktur Perlindungan dan Pemberdayaan Kawasan Amerika dan Pasifik, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Seriulina Tarigan, menyampaikan materi pada webinar

Pembicara kedua yaitu Direktur Perlindungan dan Pemberdayaan Kawasan Amerika dan Pasifik, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Seriulina Tarigan, mengatakan bahwa pada tahun 2020-2024 ini ialah memasuki Transformasi Era Baru yaitu dengan adanya Badan Penyiapan Talenta PMI Terampil Profesional dan pemberian perlindungan menyeluruh bagi PMI.

Berdasar pada UU No 18/2017 : Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, terdapat 3 (tiga) jaminan perlindungan untuk PMI yaitu jaminan perlindungan sosial (sebelum bekerja), jaminan perlindungan hukum (selama bekerja) dan jaminan perlindungan ekonomi (setelah bekerja).

Pembicara ketiga, yaitu Gabriel Dain seorang project organizer pada Migrant Workers Centre (54 Victoria St, Carlton). Ia menjelaskan apa saja hak yang dimiliki oleh seorang pekerja, khususnya di Australia.

Migrant Workers Centre ialah komunitas non-profit yang beranggotakan oleh para perkerja migran, komunitas ini dapat memberikan solusi apabila seorang pekerja migran memiliki masalah.

Gabriel Dain seorang project organizer pada Migrant Workers Centre saat menyampaikan materinya pada webinar

Gabriel menjelaskan bahwa upah minimum untuk pekerja permanen ialah $20.33 per jam dan $25.41 per jam untuk pekerja casual.

If you are paid less than you should, you have 6 years to make a claim,”

Beberapa ketentuan pembayaran upah yang dijelaskan oleh Gabriel yaitu:

  1. Jika kamu bekerja pada hari Sabtu atau Minggu atau pada hari libur umum, maka kamu harus dibayar lebih tinggi dan disebut dengan ‘penalty rate
  2. Jika kamu bekerja lebih pagi atau terlalu larut malam, maka kamu harus dibayar lebih tinggi dan disebut dengan ‘shift loading
  3. Jika kamu bekerja lebih dari 38 jam dalam satu minggu atau 12 jam dalam sehari, kamu harus dibayar lebih tinggi dan disebut dengan ‘overtime’

Dalam menerima gaji, harus dipastikan bahwa pekerja menerima slip gaji juga, ini berkaitan dengan apabila seorang pekerja merasa tidak sesuai dengan gajinya, maka slip gaji dapat digunakan untuk mengajukan keluhan.

Migrant Workers Centre memberikan bantuan apabila seorang pekerja mengalami permasalahan dengan pekerjaannya yaitu melalui website mereka (www.migrantworkers.org.au/get_help).

Nika Suwarsih seorang Multicultural Safety Ambassador dengan Migrant Workers Centre, menyampaikan materinya walaupun berhalangan menghidupkan kamera

Pembicara selanjutnya ialah Nika Suwarsih, seorang Multicultural Safety Ambassador dengan Migrant Workers Centre. Ia membicarakan mengenai hak-hak keselamatan kerja, karena semua pekerja memiliki hak atas lingkungan kerja yang aman.

“Jika anda mengalami cedera di tempat kerja, anda mungkin berhak untuk mendapatkan libur kerja dan kompensasi, ini juga berlaku apabila anda melakukan work from home,”

Nika menyarankan beberapa pertanyaan yang harus diajukan kepada pihak atasan/perusahaan seperti:

  1. Apakah ada wakil urusan kesehatan dan keselamatan?
  2. Pelatihan apa yang dibutuhkan sebelum saya mulai bekerja?
  3. Bagaimana proses untuk melaporkan insiden?

Pertanyan-pertanyaan tersebut sangat penting untuk diajukan, agar seorang pekerja merasa aman dengan pekerjaannya.

Florence Dato, seorang Multicultural Safety Ambassador dengan Migrant Workers Centre menyampaikan materi pada webinar

Selanjutnya adalah pembicara terakhir yaitu Florence Dato, seorang Multicultural Safety Ambassador dengan Migrant Workers Centre. Ia menjelaskan keselamatan kerja untuk pekerja pada masa Covid-19 yang saat ini masih ada.

Pihak perusahaan memiliki kewajiban untuk menjaga pekerjanya dari COVID-19 selama bekerja, seperti memastikan jarak terjaga (misalkan dari pelanggan atau pekerja lain), menyediakan fasilitas untuk mencuci tangan, memastikan tempat kerja bersih dan terus memantau kesehatan pekerjanya.

Jika terdapat masalah atau kendala pekerja terkait dengan COVID-19, maka pekerja dapat menghubungi Covid Safe Workplace di websitenya www.covidsafeworkplace.org/contact-us.

Selain dari kelima pembicara tersebut, acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari KJRI Melbourne yaitu Bapak Sugihartono.

Bapak Sugihartono sebagai perwakilan dari KJRI Melbourne

Untuk membantu upaya pemerintah memperkuat perlindungan pada PMI, warga Indonesia yang ingin menjadi PMI diharapkan taat pada prosedur dan mendaftarkan diri secara resmi agar perlindungan dapat dilaksanakan.

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

MEMBANGUN USAHA FOTOGRAFI DENGAN KETEKUNAN | Louis Amal & Michelle Tumewu

“Di saat kamu percaya diri kamu otomatis sudah meyakinkan klien kamu bahwa kamu tahu apa yang kamu lakukan”-Gabriella Michelle Tumewu-“Passion can make you happy,...

Apa?! Harga Rumah Meningkat $3,000 Tiap Minggu?!

Benar, Anda tidak salah membaca. Laporan terbaru dari Deloitte Access Economics menyatakan bahwa di bulan September, harga properti di Melbourne dan Sydney mengalami peningkatan yang signifikan dan...

Paul dan Florence | Berpasangan Selama 60 Tahun dan Tetap Setia

Ulang tahun pernikahan menjadi suatu kebanggaan yang luar biasa, apalagi jika sudah menginjak usia yang ke-60. Susah senang sudah dilewati pasangan Paul Tresno dan...

HUT KE-12 SAMAN MELBOURNE AKAN GELAR “ARTIUMNATION”

Melbourne tak henti-hentinya menjadi “showcase” kekayaan budaya Indonesia dan saksi atas kreatifitas dari berbagai komunitas. Tepat berulang tahun yang ke – 12 di tahun...

Dinamika Hubungan Australia-Indonesia di Era Kristiarto Legowo

Diratifikasikannya perjanjian dagang komprehensif Indonesia-Australia Comprehensive Strategic Partnership Agreement (IA-CEPA), kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo ke Canberra, dan diluncurkannya Blueprint for Trade and...