Ghost Marriage & Fertility Dance

Tanya:

Selamat mlm Bp. Suhana Lim

Ada satu hal yang ingin saya tanyakan. Sekiranya Bapak Suhana Lim bisa membantu menjawab. Ijinkan saya bercerita terlebih dulu ya. Ada seorang pemuda yang ibunya sudah meninggal jatuh cinta dengan seorang pemudi, namun tidak direstui ayah pemuda ini. Tiba-tiba ayah pemuda ini mendadak meninggal dunia karena serangan jantung. Tak disangka dan tak dinyana ibu pemudi (janda) ini ngotot meminta agar pemuda-pemudi ini melakukan kawin peti. Menikah secara simbolis di depan jenasah ayah pemuda ini sebelum tutup peti.

Yang ingin saya tanyakan:

Bagaimana dengan adat istiadat / kebiasaan orang Tionghoa jaman dulu? Apakah hal ini dibenarkan? Saya pernah mendengar kalau ada yang kawin peti, pasangan tersebut harus meninggalkan rumah dengan pakaian yang menempel dan sudah tidak dianggap anak atau saudara oleh keluarganya. Benarkah hal ini?

Harapan saya Bapak Suhana Lim mungkan bisa membantu saya menemukan jawaban apa yang dilakukan leluhur kita pada jaman dulu dalam hal ini dari pengalaman atau pengetahuan yang ada? Makasih banyak buat responnya.

Jawab:

Terimakasih sudah berbagi cerita dan atas pertanyaannya. Pertama-tama menyitir dari yang kamu sampaikan, yakni: “Bagaimana dengan adat istiadat / kebiasaan orang Tionghoa jaman dulu?” Nah yang perlu kita sama-sama pahami dulu ialah terminologi “jaman dulu” Seperti kita ketahui, budaya Tiongkok adalah sebuah uninterrupted (continous) living tradition yang sudah dilakukan dari ribuan tahun silam. Jadi “jaman dulu” nya bisa era abad ke-18, tahun 20 Masehi, atau juga tahun 210 Sebelum Masehi, atau bahkan 2500 Sebelum Masehi, dan sebagainya. Dan jangan lupa pula bahwa setiap jaman juga bisa bervariasi (tradisi) nya karena tergantung kepada Dinasti yang berkuasa pada waktu itu.

Dan juga fakta bahwa diaspora Tionghoa tersebar di banyak tempat di pelosok planet Bumi. Maka ada istilah bahwa “dimanapun di pelosok Bumi selama masih bisa melihat / ada matahari, maka akan ada orang Chinese!” Migrasi orang-orang asal Tiongkok (umumnya dari coastal regions) ke banyak wilayah telah terjadi sejak ribuan tahun. Umumnya yang dipakai (dalam catatan sejarah) dan banyak disebut-sebut ialah pada masa Dinasti 唐 (Táng) tahun 618 – 907 Masehi. Ini mengapa istilah “唐 人 (Táng rén)” merefer kepada sebutan bagi “orang Tionghoa,” dan sampai sekarang masih dipakai / dikenal. “唐 人” populer disebut dalam dialek sebagai: “Teng lang” atau “Tong nyin.”

Pada era dan dinasti yang beda-beda terjadi pula gelombang perpindahan orang-orang dari Tiongkok ke banyak lokasi di dunia. Beragam faktor pemicu nya; karena hidup yang lebih baik (secara ekonomi dan tujuan misalnya menjadi buruh / penambang di pertambangan-pertambangan di wilayah San Francisco, Bendigo, Bangka, Blitung, Kalimantan), sebab adanya social upheaval alias revolusi (misalnya 太平天国运动 / Tàipíng Heavenly Kingdom Movement pada December 1850 – August 1864 M), ekses dari aktivitas yang secara formal diadakan oleh pemerintah Tiongkok (misalnya 郑和下西洋 / Zhèng Hé’s Seven Voyages Around the World from 1405 – 1433 AD).

Perbedaan timing migrasi ini juga menjadi faktor penyebab berbeda-beda / bervariasinya tata cara serta adat istiadat yang dibawa (baca: diketahui dan dipraktekan) oleh para migran; yang pada tahun-tahun selanjutnya diturunkan ke keturunan (anak, cucu, cicit, dst nya) mereka.

Aspek lain yang juga ikut menambah bervariasinya the so called tata cara adat istiadat (terutama) di kalangan diaspora Tionghoa ialah local flavour (budaya asli / setempat) dimana mereka bermukim. Ini mengapa ada perbedaan kebiasaan antara Chinese yang lahir dan besar atau berdomisili di pulau A dengan pulau B dengan pulau C, dsb nya.

Last but not least, tentunya adalah asal usul suku si migran dan juga status sosial (pendidikan, ekonomi) mereka sebelum bermigrasi. Yang kemudian, dengan fenomena berpindahnya kepercayaan, ikut pula menyebabkan terjadi nya varian-varian dalam tata cara adat istiadat di antara diaspora di seluruh dunia.

Nah semua aspek di atas tentu tidak bisa kita abaikan dan atau anggap tidak ada. Semua aspek tadi lah yang menyebabkan mengapa bisa menjadi susah-susah gampang untuk membicarakan topik tradisi budaya Tionghoa. Dengan kita sudah jelas dulu background history (NOT my story) secara objektif (tidak subjektif) maka akan lebih mudah dicerna. Hal inilah yang selalu saya camkan ke diri dan juga saya bagikan ke semua orang manakala mau membicarakan topik tradisi / budaya Tionghoa.

Tanpa kita semua bisa objektif dan setuju mengacu kepada “at the same page” maka akan lebih sulit lah, maka kita hanya “komunikasi antara ayam dan bebek” saja; ujung-ujungnya cuma omongan pepesan kosong belaka, buntut-buntutnya cuma jadi friksi yang tidak perlu!

Sekarang kita beralih ke pernikahan yang diadakan di hadapan jenazah. Fenomena ini ada karena dilatar-belakangi kepercayaan bahwa jika ada kedukaan di keluarga, pernikahan baru bisa diadakan pada dalam kurun waktu sebelum 100 hari atau menunggu 1,000 hari (sekitar 3 tahun). Hal ini adalah sebagai tanda hormat. Alasan pragmatisnya ialah dalam suasana duka (白事), akan lebih sulit untuk bisa melakukan dan/atau mendapatkan manfaat dari suasana suka (红事). Ritual kematian butuh biaya, setelah dana dipakai maka logikanya / kemungkinannya ialah kurang atau tak cukup dana untuk menyelenggarakan pesta pernikahan.

Jadi berdasarkan alasan di atas, maka pernikahan di hadapan 棺材 (peti mati) adalah bisa saja. Faktor personal dan keluarga ikut menentukan pula apakah mau atau tidak mau melakukannya. Ada yang beranggapan terlalu ekstrim buat secara demonstratif menikah di hadapan jenasah (meskipun adalah jasad orang tua kita sendiri); ada yang memilih cukup setelah jenasah dimakamkan atau dikremasi saja, jadi nanti tetap bisa melakukannya di depan foto / altar si orang tua. Ada lagi yang melakukannya dalam kurun sebelum seratus hari setelah berpulangnya ayah atau ibu. Atau sekalian menunggu sampai lewat seribu hari.

Dalam hal “kalau ada yang kawin peti pasangan tersebut harus meninggalkan rumah dengan pakaian yang menempel dan sudah tidak dianggap anak atau saudara oleh keluarganya, benarkah hal ini?” Sepengetahuan saya (dari aneka literatur sejarah terkait budaya Tionghoa yang pernah saya cerna) dan dari pengalaman saya, adalah tidak tepat.

Sedikit singgung hal terkait dengan ritual campuran antara energi sadness (白事) dengan happiness (红事); dalam tradisi Tionghoa ada pula yang dikenal sebagai “冥婚 (‘spirit marriage’, or ‘afterlife marriage’ or ‘ghost marriages’).” Fenomena ini dilakukan untuk pria dan wanita yang semasa hidupnya masih lajang. Istilahnya: “bare branches” dan “left over female.” Tujuannya agar mereka tidak kesepian dan atau menderita di 下域 (netherworld). “Spirit marriage” ini bisa dilakukan antara yang masih hidup dengan yang sudah berpulang. Ini umumnya diantara keduanya sudah berpacaran, kemudian salah satunya meninggal (karena sakit, karena kecelakaan, dan sebagainya). Atau bisa pula diantara dua orang yang sudah berpulang. Bisa keluarganya sudah saling kenal, atau bisa sebelumnya tidak kenal.

Dengan berjalannya waktu, kadang kita mendapatkan video klip berisi scenes dimana diadakan tari-tarian erotis yang dilakukan oleh para wanita seksi atau berbusana seronok. Tariannya diselenggarakan di rumah duka, di depan kuburan. Fenomena ini adalah remnant dari the so called “生育仪式 (fertility ritual)” dari era ribuan tahun silam. Ritual yang diselenggarakan untuk keperluan memohon panen yang berlimpah, agar tidak kekurangan (sandang pangan) dalam hidup. Silahkan klik ke link berikut: https://videopress.com/v/QRtVvCvp; Scenes fertility ritual yang dipagelarkan di Fujian, China. Tahun pastinya tidak diketahui, hanya diperkirakan pertengahan abad ke-18th hingga awal abad ke-19.

Nah ritual kuno yang sudah jarang diselenggarakan tadi, di”resurrect” alias “dihidupkan / dibangunkan” kembali dalam bentuk tarian erotis oleh wanita seksi dan dipagelarkan dalam setting suasana duka!

Di China, fenomena itu umumnya dilakukan oleh masyarakat di pedesaan / kota kecil dan yang strata sosialnya kurang. Tujuannya ialah untuk agar lebih banyak yang datang melayat; guna menunjukkan kemampuan finansial mereka (anak cucu dari si almarhum/mah); dan juga keyakinan agar para keturunan yang meninggal akan mendapatkan “kesuburan” alias rejeki yang berlimpah!

Sikap dari pemerintah China terhadap modern style of “fertility ritual” ialah tidak menganjurkan bahkan melakukan pelarangan.

Terakhir, point to ponder dan/atau bahan buat kita merefleksikan terhadap diri sendiri. Terkadang hal-hal yang kita (yang masih hidup) lakukan ialah sebenarnya lebih untuk kepentingan diri kita sendiri ketimbang buat manfaat bagi yang sudah berpulang. Nah dalam menyelenggarakan ritual budaya pun tak beda. Terkadang sudah menjadi berlebihan dan mengada-ada, sehingga yang asalnya cuma sampai 10, tetau menjadi 100 atau bahkan 1000!

Suhana Lim

Certified Feng Shui Practitioner

www.suhanalimfengshui.com

0422 212 567 / suhanalim@gmail.com

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

Asean Brotherhood Cup (ABC) Golf Tournament 2021

Telah diselenggarakan tournament golf yaitu Asean Brotherhood Cup (ABC) Golf Tournament di Eagle Ridge Golf Club Boneo Victoria pada hari Minggu lalu, tanggal 5...

BUSET Vol. 17-202 APRIL 2022 EDITION

https://www.scribd.com/document/568320643/BUSET-Vol-17-202-APRIL-2022-EDITION

Takut Sampai Terkencing-kencing!

Huángdì Nèijīng alias the Inner Canon of the Yellow Emperor atau Esoteric Scripture of the Yellow Emperor merupakan "bible" bagi kita yang tertarik (secara...

BERNARD LARSO BERBAGI ILMU GITAR

(Hi teman-teman, kali ini kita akan bahas mengenai gitar elektrik. Kita akan ngobrol dengan Bernard Larso atau yang akrab dipanggil Beben. Mari langsung saja...

Nicholas Oliver | Presiden PPIA RMIT 2019-2020

"Membangun Sense of Belonging di PPIA RMIT."Meskipun secara usia masih terbilang sangat muda, semangat dan komitmennya untuk memajukan PPIA RMIT tidak meredup. Bagaimana perjalanannya menjadi ketua...