Perjuangan Generasi Muda Indonesia – Nasionalisme, Pancasila dan Jati Diri Bangsa

“Kita sukses itu bukan dilihat kalau dari kita punya rumah besar, mobil mewah, atau lampu kristal di rumah dan karpet yang luar biasa bagus, bukan itu. Tapi jika kita bisa membantu minimal 200 meter, 100 meter dari rumah kita. Itu baru kita bisa dikatakan sukses. Jika 100, 200 meter dari rumah kita tidak ada lagi orang susah, itu kita baru bisa dikatakan orang sukses.” – Joyo Tjokrosantoso, Pasukan Berani Mati Barisan Pelopor.

Perjuangan Bangsa Indonesia kini memang tak lagi menggunakan bambu runcing dalam melawan penjajah. Di era modern ini, Bangsa Indonesia, termasuk generasi muda, berperang dengan pena mereka demi membangun negeri dan memajukan bangsa. Namun, mimpi Indonesia Emas 2045, dimana generasi muda saat ini akan menjadi pemimpin-pemimpin negeri yang diharapkan mampu membawa Indonesia ke era yang lebih baik, terancam oleh menurunnya rasa nasionalisme dan krisis identitas bangsa. Tak rela melihat mimpi Indonesia Emas 2045 pupus, RME Tjokrosantoso, seorang millennial, dan anak dari pejuang kemerdekaan Joyo Tjokrosantoso, mengangkat penanya dan memperjuangkan pendidikan ideologi Pancasila dan nasionalisme di generasi muda Indonesia.

Lahirnya GARUDA

“Generasi muda itu sebenarnya adalah korban dari generasi sebelumnya,” tutur RME Tjokrosantoso atau yang akrab disapa Bung Tjokro itu. Membalas sentimen umum dari generasi-generasi sebelumnya yang kerap menyalahkan dan mengolok generasi muda karena keapatisan mereka terhadap kondisi bangsa dan kurangnya rasa nasionalisme, Bung Tjokro menunjuk Era Reformasi sebagai awal dari krisis identitas bangsa Indonesia.

Dirinya mengamati bahwa sejak Era Reformasi, pendidikan ideologi Pancasila dan sejarah mengenai perjuangan bapak-bapak bangsa dalam meraih kemerdekaan dan membangun Indonesia telah berkurang drastis atau bahkan dihapuskan sama sekali. Inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa Indonesia, terutama generasi muda, mengalami krisis sejarah bangsa dan akhirnya kehilangan rasa nasionalisme itu sendiri.

“Dengan tidak adanya pembelajaran tentang sejarah atau pembelajaran sejarah tanpa menjelaskan perspektif mengapa diadakan Boedi Oetomo, mengapa diadakan Sumpah Pemuda, dan lain sebagainya, meaning dari kepahlawanan itu minim sekali. Itulah yang membuat generasi muda, khususnya di generasi millennials, semakin terkikis rasa nasionalisme itu,” ujar pria kelahiran 1984 itu.

Rasa prihatinnya terhadap generasi muda Indonesia yang kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia dan kerinduannya untuk turut membangun negeri lantas mendorong Bung Tjokro untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pimpinan perusahaan asing dan memulai Gerakan Revolusi Pemuda (GARUDA). Berawal dari sebuah studi klub beranggotakan 10 orang di 2017, GARUDA kini telah memiliki 279 anggota pemuda pemudi.

Melalui GARUDA, putra dari Jojo Tjokrosantoso, pejuang nasional di era kemerdekaan dan anggota Barisan Pelopor ini mengedukasi anak-anak muda tentang ideologi Pancasila dan nasionalisme. Berbekalkan materi dan kurikulum ajaran bapak bangsa, Bung Tjokro membina pemuda pemudi di Pendopo Dr. Moewardi setiap seminggu sekali.

Menjangkau Generasi Muda Yang Kritis

Menyikapi sifat kritis generasi muda, GARUDA mengajak anggotanya untuk menyimak kebijakan dan undang-undang pemerintah saat ini dan menilai apakah mereka sudah sesuai dengan Pancasila dan ideologi bapak bangsa.

Untuk itu, GARUDA mengajarkan Pancasila dan ideologi bapak bangsa langsung melalui tulisan-tulisan dan buku-buku asli para tokoh pejuang kemerdekaan yang tidak tersedia bagi kalangan umum. Salah satunya seperti pidato Bung Karno di 1 Juni 1945 silam yang mengupas secara detil apa itu sebenarnya Pancasila atau buku karya Bung Hatta tentang ekonomi kerakyatan dan koperasi.

“Sebenarnya kita ada acara setahun sekali, kita melakukan seperti tur. Tahun lalu kita ke Jogjakarta dan mengunjungi rumahnya Jenderal Soedirman, rumahnya Ki Hajar Dewantara, Museum Dirgantara, dan lain-lain. Jadi banyak yang kita lakukan yang berhubungan dengan nasionalisme,” jelasnya.

“Penting juga bagi kita membuat podcast, dimana kita dapat menerima informasi langsung dari narasumber yang kompeten. Misalnya kita berbincang langsung dengan cucunya Jenderal Soedirman, nah dengan itu kita bisa mendengar langsung seperti apa dulu Pak Soedirman itu, bukan dari buku-buku atau berita-berita di YouTube, tapi langsung dari keturunan biologisnya beliau,” tambah Bung Tjokro yang juga merupakan Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Barisan Pelopor dan kenal baik dengan sebagian besar keturunan pahlawan nasional.


Sebagai Ketua Bidang Ideologi Pancasila, Nasionalisme dan Kebangsaan Rumah Millennials, dirinya berharap kegiatan-kegiatan GARUDA tak hanya dapat mengajarkan generasi muda tentang Pancasila dan ideologi bapak bangsa. Namun, juga membuat mereka mengenal tokoh-tokoh pahlawan nasional dengan lebih baik dan memahami arti perjuangan dan harapan mereka dalam membangun negeri Indonesia.

Himbau Kalangan Diaspora Muda Untuk Pertahankan Nasionalisme

Namun, semakin menguatnya arus globalisasi dan maraknya imigrasi membuat banyak negara berkembang mengalami fenomena ‘brain drain‘. Yakni, berpindahnya sumber daya manusia yang kompeten dari negara berkembang ke negara sudah berkembang.

Fenomena ini sudah tak asing lagi bagi Indonesia dimana banyak dari kaum intelektual mereka kerap hijrah dan menetap di luar negeri sebagai diaspora. Kaum intelektual muda ini juga jauh lebih rentan untuk kehilangan rasa nasionalisme dari saudara-saudari mereka yang menetap di Indonesia.

“Tidak banyak yang tahu bahwa 6 dari 9 anggota Panitia 9 adalah diaspora,” beber Ketua Umum Institute Kepentingan Nasional Republik Indonesia itu. Dirinya mengingatkan diaspora kala itu turut berperan besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, merumuskan Pancasila dan meletakkan Undang-Undang Dasar 1945.

“Ini kan salah satu hal yang luar biasa bagi kita untuk intropeksi diri kita. Karena sometimes kita di luar negeri, malah sudah tidak peduli sama Indonesia. Padalah dulu yang mendirikan Indonesia, mostly lulusan-lulusan dari luar loh,” kritiknya.

Dewan Pembina GARUDA itu berpendapat bahwa kaum intelektual memegang peran penting dalam membangun Indonesia. Maka, sangat disayangkan jika generasi muda diaspora tidak mengetahui atau peduli terhadap Pancasila dan sejarah Indonesia.

Walau demikian, Bung Tjokro tidak mengharuskan para diaspora untuk serta merta kembali ke tanah air. Menurutnya, perjuangan membangun Indonesia juga dapat dilakukan dari luar negeri.

“Jika kita flashback, memang tidak semua tokoh-tokoh itu berbondong-bondong pulang ke Indonesia. Banyak dari mereka bilang ke Bung Hatta, ke Ahmad Soebardjo atau A.A Maramis kalau mereka tidak bisa pulang. Tapi mereka bersedia membantu Indonesia, seperti dari sisi diplomasi. Karena, untuk negara dapat merdeka butuh pengakuan dari negara lain, jadi itu dibantu juga dari orang-orang Indonesia di Mesir. Mesir juga negara pertama yang mengakui kemerdekaan dan yang mempunyai koneksi di Mesir itu kan kaum-kaum intelektual,” ujarnya.

Bung Tjokro juga mengingatkan kembali bahwa perjuangan bangsa itu tidak hanya dengan senjata, tetapi juga dengan pena yang dalam konteks saat ini mencakup bidang diplomasi dan intelektual.

Maka dari itu, Bung Tjokro terus menghimbau agar kaum-kaum intelektual diaspora muda untuk tetap ingat akan Indonesia. Ia juga berharap para generasi muda diaspora bersedia menggunakan talenta dan potensi mereka untuk bersinergi dengan pemuda pemudi di tanah air dalam membangun Indonesia.

“Lakukan sesuatu bagi Indonesia, itu penting. Apapun keahlian kalian,” pesannya.






LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Mempererat Bilateral Indonesia dan Northern Territory

Indonesia Diaspora Network (IDN) Australia kembali menyelenggarakan rangkaian webinar mereka. Kali ini, diskusi panel dilaksanakan oleh IDN Northern Teritorry (NT) dengan judul Building...

Kepemimpinan Baru DWP Membawa Harapan Baru

Pada penghujung bulan Juli kemarin, anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) KJRI Victoria dan Tasmania kembali berkumpul untuk menyampaikan salam perpisahan kepada periode kepemimpinan Yohana...

Wanita Saling Menguatkan Melalui WOMEN IMPACT NATIONS

Organisasi yang memberi perhatian lebih kepada para wanita sebagai pribadi yang memiliki kekuatan dan anugerah tersendiri dari Tuhan yang Maha Esa, Women Impact Nations...

Pendapatan Investasi

Kita baru saja melewati akhir tahun keuangan yang jatuh pada tanggal 30 Juni 2015, dimana kini saatnya untuk melakukan rutinitas tahunan yaitu melaporan pajak...

ACICIS BUKA PELUANG MEMPELAJARI INDONESIA

Tentu kita banyak mendengar tentang berbagai lembaga pendidikan yang membantu masyarakat Indonesia menempuh pendidikan di Australia. Namun, tahukah Anda tentang lembaga pendidikan yang turut...