Lama sudah kenal, tapi baru mulai membuat karya bersama. Inilah satu kalimat yang menggambarkan Mario Kresnadi dan Wilfred Tambunan, anggota dari Folio Dua, tim pengarang lagu orsinil yang baru terbentuk pertengahan tahun 2019 lalu.

Mario adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan IT di Melbourne, sedangkan Wilfred bekerja di sebuah warehouse di Dandenong. Keduanya tidak bekerja full-time di bidang musik, namun memiliki ketertarikan yang sama untuk memproduksi lagu-lagu orsinil.

Folio Dua berawal dari sebuah hobi menulis yang ditekuni oleh Mario, pria yang sudah tinggal 15 tahun di Melbourne bersama istri dan kedua anaknya. Meski suka menulis lirik, ia membutuhkan bantuan dari seseorang dengan kemampuan memproduksi lagu.

“Latar belakang musik saya bisa dibilang sangat minim. Hanya pernah belajar gitar dan main drum, basically saya bukan pemusik, lebih ke arah menulis dan saya ada background pendidikan formal di Creative Writing,” papar pria yang mengidolakan band rock Genesis ini.

“Saya juga punya rekaman sendiri, sudah rekam suara dan tidak bagus sebelum bertemu Wilfred. Saya sudah tunjukkan ke saudara, mereka bilang bagus, tapi bakat saya bukan di menyanyi.”

Beda karakter namun bertemu di tengah

Wilfred (kiri) dan Mario kadang berbeda dalam menginterpretasikan lagu tapi selalu menemukan titik tengah.

Inilah sebab Mario menggandeng Wilfred, penyanyi dalam kelompok quartet gereja, tanpa mengetahui keahlian lebih Wilfred dalam memproduksi lagu.

“Jadi lucu, lirik lagu pertama saya berikan ke dia [untuk dibuatkan lagu], mungkin dia senang dengan liriknya dan jadi lupa dengan nada yang sudah saya berikan. Ia membuat sendiri, menyanyikan dan jadinya amazing! Kaget saya. Bagus sekali, tapi berbeda dengan apa yang saya pikirkan pertama,” kata Mario.

Di situ saya tahu kalau dia bisa compose lagu. Kreativitasnya bisa keluar. Mengikuti yang saya tahu bahwa Wilfred bisa menginterpretasikan lagu sendiri dengan ekspresi sendiri, di sanalah saya tahu dia bisa menjadi partner [untuk Folio Dua].”

Menyambut kiriman lirik yang ditulis Mario, Wilfred yang berpengalaman menangani sound system selama lima tahun berturut-turut di masa kuliah di Indonesia kemudian membuatkan komposisi musik yang sifatnya melankolis, sesuai interpretasinya terhadap lirik yang ada.

“Waktu beliau [Mario] kontak saya dan kirim liriknya, interpretasi saya lebih ke melankolis, karena cerita ini tentang Zakheus, sang pemungut pajak. Perspektif saya dia putus asa sehingga saya tidak melihat dari sisi bahagianya, walaupun ada harapan karena bertemu dengan Yesus,” ujar Wilfred yang adalah penggemar berat David Foster.

Sementara itu, Mario melihat kisah tersebut dari sudut pandang yang berbeda.

“Walaupun memang lagu yang dikembalikan Wilfred keren banget tapi beda banget [dengan apa yang saya pikirkan]. Kebetulan saya tidak mau lagu ini melankolis karena bercerita tentang Zakheus pemungut cukai yang bertemu dengan Yesus, dan [menurut saya] itu kan happy.”

Walau memiliki interpretasi berbeda, keduanya dapat menemukan titik tengah.

“Akhirnya yang kedua dilempar lagi ke saya, sudah jauh lebih bagus dan sesuai dengan awal meski ada bedanya. Tidak apa juga karena I appreciate hasilnya bagus,” kata Mario.

“Dan bagusnya saya dan beliau bisa puas sekali, karena kombinasi itu. Verse-nya melankolis tapi begitu masuk ke bridge dan chorus jadi happy, jadi sangat kontras, dinamis dan tidak monoton.”

Tiga minggu kemudian, lagu “World Like Paradise” pun diunggah ke Youtube.

Gandeng dua orang di lagu kedua

Selama tiga bulan, Folio Dua mengerjakan lagu kedua mereka yang berjudul “I Guess This Ain’t What You Want“. Lagu yang menceritakan tentang kisah Anak Yang Hilang di Alkitab ini membawa tantangan tersendiri bagi mereka terutama dalam hal produksi.

“Waktu saya baca ini termasuk berat kata-katanya, lalu ada tiga kata yang benar-benar saya tidak bisa buat jadi nada. Sampai terbawa mimpi ketika tidur,” ingat Wilfred sambil bercanda.

“Akhirnya entah bagaimana ada referensi dan hikmat, akhirnya dapat, dan jadilah lagu kedua.”

Keberhasilan memproduksi lagu pertama membuat Mario dan Wilfred tertantang untuk menambah variasi instrumen dalam lagu yang akhirnya diunggah ke platform musik seperti Spotify dan Apple Music tersebut.

“Kali ini kebetulan kami ingin cari penyanyi yang berbeda. Kami ingin setiap lagu dalam trilogi ini memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Pertama temanya upbeat dan vokalisnya laki-laki, yaitu Wilfred, yang kedua saya ingin mencoba memakai vokalis perempuan dengan low signature atau suara rendah.” kata Mario.

Di lagu kedua, Folio Dua mengajak Sasha Maria sebagai vokalis dan Antonius Tobing sebagai pemain bass.

Dalam produksi lagu, Folio Dua tidak pergi ke studio. Wilfred yang berhadapan langsung dengan proses produksi lagu mengatakan ia menggunakan VST atau Virtual Studio Technology yaitu software yang memberikan akses pembuatan lagu secara digital.

Menurutnya, pada zaman ini, teknologi sudah memberikan kemudahan bagi produser musik untuk bekerja dari rumah.

Setelah merilis dua dari tiga buah lagu dalam trilogi bernama “Paradise Folios“, kini Folio Dua sedang memproduksi lagu ketiganya yang berjudul “Paradise We Used to Know”.

Ke depannya, Folio Dua mengatakan terbuka untuk kolaborasi dengan penyanyi-penyanyi lainnya.

Pesan positif, bukan pesan agama

Lagu orsinil dari Folio Dua memang terinspirasi dari kisah dalam Alkitab, tapi bukan berarti pesannya hanya untuk sekelompok orang saja.

“[Pesan lagu ini] beyond borders. Tidak peduli dari background apa kita berasal, tapi kata-kata itu akan sampai ke orang. Ketika orang mendengar, mereka mungkin akan merasa ‘Kok cocok [dengan pengalaman saya]?’ Dan membuat si pendengar yang pernah melakukan kesalahan yang sama untuk kembali ke jalan yang benar,” kata Wilfred.

“Dan mungkin, mereka yang merasa lagu ini cocok dengan mereka, akan mereka dengar terus.”

Mario menekankan bahwa walaupun terinspirasi dari kisah Alkitab, lagu Folio Dua bukanlah tentang agama, melainkan suatu pesan positif.

“Walaupun lagu-lagu kita bible-based sebenarnya bukan worship song (lagu penyembahan agama), tidak ada kata-kata Yesus, lagu kami diumpamakan seperti lagu U2 yang sifatnya positif,” tambah Mario.

Sejauh ini, pendengar dari Folio Dua sudah mencakup dari negara lain.

“Kalau di Spotify sudah ada banyak negara yang dengar, beyond borders, that’s the real thing about technology.”

Beberapa teman sudah meminta dibuatkan lagu dengan menawarkan komisi, namun saat ini, Folio Dua masih fokus untuk berekspresi melalui karya seni.

“Saya pikir kalau sudah terjun di level permintaan seperti itu, akan banyak permintaan lagi dan kami belum siap, karena artinya saya harus bekerja full-time di bidang arranging dan composing,” kata Wilfred yang memiliki bakat alami ini.

“Saya belum ke sana berpikirnya, jadi saya bilang tolak dulu, tapi sebagai expressionist, kita tetap harus berkarya,” tutupnya.

Nasa