Home BUSET EKSKLUSIF Fitri Cyntia Asmara Niasih: Pemilik Resto Masakan Padang di Melbourne, Tambo Ciek

Fitri Cyntia Asmara Niasih: Pemilik Resto Masakan Padang di Melbourne, Tambo Ciek

0
Fitri Cyntia Asmara Niasih: Pemilik Resto Masakan Padang di Melbourne, Tambo Ciek

Fitri Cyntia Asmara Niasih, atau dikenal sebagai pemilik restoran masakan asli Padang, Tambo Ciek adalah seorang pakar sosial media. Pengetahuannya yang luas tentang perilaku konsumen dan marketing patut dipelajari bila ingin berhasil dalam mempromosikan bisnis. Konsistensi dan kreativitas untuk setiap konten yang Fitri posting telah memicu rasa penasaran dari para followers nya. 

Fitri Cyntia Asmara Niasih


Maupun di tengah krisis pandemi atau menghadapi resesi ekonomi, semua orang masih perlu makan. Itulah yang dipikirkan Fitri ketika memutuskan untuk melanjutkan bisnis restoran suaminya. Dalam wawancara bersama BUSET businesswoman dan icon Tambo Ciek ini menceritakan tentang kehidupan sebelum membangun Tambo Ciek, tips dan trik marketing strategi, dan pesan untuk pelajar Indonesia di Melbourne.

Kehidupan sebelum Tambo Ciek

Awal mulanya yang datang ke Melbourne hanya untuk liburan, melihat banyaknya peluang di negara kangguru Fitri berniat untuk sekolah dan berhasil mendapatkan diploma di Holmes Institute & William Angliss Institute Victoria pada tahun 2011. Jiwa bisnis Fitri pun melonjak melihat ketergantungan penduduk Melbourne terhadap kopi sama seperti orang Indonesia dengan nasi. Melbourne terkenal dengan kopinya dan dianggap yang terbaik di dunia, kafenya juga tak terpisahkan dari budaya orang Melbourne sehingga ada banyak kafe untuk dipilih di setiap sudut kota. Dari situ ia terinspirasi untuk membuka Melbourne Coffee Cafe di Seminyak, Bali, belum lagi sebagian besar dari wisatawan Bali datang dari Australia. 

Peluang Fitri untuk mimpinya yang ingin membangun bisnis tidak berhenti di Bali saja, kesempatan lain muncul dengan sendirinya saat Fitri menikah dan pindah ke Melbourne. Setelah ketemu suami yang jago masak, di tahun 2017 Fitri dan suami, Ezra Toddy memutuskan untuk membuka catering rumahan. Sebelum itu, pada tahun 2010 Ezra sudah pernah memiliki dua cabang restoran Padang, di Malvern dan Melbourne CBD yang bernama Salero Kito. Namun di tahun 2014, Ezra memutuskan untuk menjual restorannya karena keadaan yang tidak terduga. 

Berawal promosi dari mulut ke mulut, catering yang dijalankan suami istri ini mulai berkembang pesat. Fitri memberi nama bisnis kulinernya Tambo Ciek, diambil dari bahasa minang yang artinya ‘tambah satu lagi’. Rutinitas fitri setiap harinya termasuk menyiapkan pesanan dan mengantar orderan ke rumah pelanggannya, belum lagi ia juga harus menjaga anaknya yang saat itu masih balita. Saat itu Ezra juga bekerja menjadi chef, dan tugas Fitri adalah mengantar pesanan nasi kapau ke rumah pelanggannya, sejauh apapun jarak rumah mereka Fitri tetap gigih untuk jalani. Sistem delivery ini berjalan sampai pada saat Australia dilanda pandemi dan pemerintah Australia melarang untuk keluar rumah lebih dari 15 km. 

Namun pandemi ini justru mendorong kreativitas Fitri dalam mempromosikan cateringnya lewat media sosial, belum lagi cara pembungkusan makanannya yang berbeda dari restoran Indonesia lainnya di Melbourne, sempat viral. Kemasan nasi kapau di Tambo Ciek menggunakan kertas beralas daun pisang dan diikat dengan gelang karet, sama persis ketika kita beli nasi bungkus di pinggir jalan. Dari sana mulailah mendapat pengakuan (recognition) dari beberapa Asian grocery supermarket di Melbourne, mereka meminta untuk mendistribusikan nasi kapau dan produk best-seller Tambo ciek yaitu rendang dan sate padang. Semakin tingginya permintaan konsumen, Fitri kemudian harus mempekerjakan sebanyak 5 kurir yang standby untuk mengantar pesanan ke 100 lebih pelanggan dalam kota ataupun kirim keluar kota melalui post. 

Kini sudah 2 tahun semenjak Tambo Ciek membuka restoran pertamanya di Melbourne. Pada 11 Januari 2021, Tambo Ciek pertama kali buka di daerah Lygon, namun pindah di Caulfield dan akhirnya punya cabang di Coburg.

Breaking the glass ceiling

Sejak kelas 1 SMA Fitri sudah mulai terjun kedalam dunia entertainment bisnis, di umur 16 tahun sendiri ia telah menjadi pemenang cover girl majalah Anita tahun ‘99. Hingga akhirnya karirnya naik daun, Fitri ditawarkan berbagai peran di sinetron dan juga pernah mengeluarkan album. Artis papan atas seperti Luna Maya pernah tampil menjadi model di video klip lagu rilisannya yang berjudul ‘Senyum Manismu’. 

Menu masakan padang di Tambo Ciek

Dibalik prestasi prestasi besar ini, tentunya ada struggle yang harus ditempuh oleh Fitri. Tetapi perjuangan ini dijadikan pelajaran bagi Fitri karena saat tidak terpilih untuk menjadi model di suatu iklan, ia tetap bersikap profesional dan berpikir secara realistis bahwasannya dirinya tidak termasuk kriteria yang dicari oleh sutradara. Dalam dunia marketing, ketika ingin mempromosikan suatu produk mereka pastinya punya kriteria list yang mereka cari untuk produk itu. 

Mindset ini pun dibawa olehnya sampai Fitri pindah ke bisnis kulinernya saat ini. Seiring berkembangnya teknologi dan semua orang mengakses internet secara otomatis menjadikan mereka target berbagai macam iklan. Disinilah ilmu-ilmu marketingnya bersinar, Fitri bercerita, masalah persoalan produk semuanya harus rebranding. Tujuannya adalah agar penyampaian konten yang di unggah selaras dengan tujuan dan target audience nya. 

“Kalau diperhatikan, Tambo ciek itu posting bisa 10-12 kali sehari dan itu bisa posting tentang makanannya seperti rendang, atau posting tentang menu special di hari itu. Karena kenapa, kalau kita jualan tapi pelanggannya gatau mau makan apa mereka juga bingung.” jelas Fitri. 

Fitri juga mencoba untuk mengunggah konten yang berbeda-beda dari hari sebelumnya, menu yang di jual Tambo Ciek (selain menu nasi kapau) juga bervariasi tiap harinya agar para pelanggan semakin tertarik dan tidak bosan. Banyak dari pengguna media sosial yang termakan oleh iklan produk yang berujung mengecewakan, untuk mencegah ini Fitri meyakinkannya dengan rasa pedas dan asin sebagaimana rasanya makanan Padang yang seharusnya.

“Di Tambo Ciek, kami juga fokus pada pelayanan pelanggan yang berkualitas. Kami selalu berusaha untuk memperhatikan kebutuhan pelanggan dan memberikan pengalaman makan yang menyenangkan. Selain itu, kami juga senang berbagi tentang menu-menu spesial kami dan kita selalu berusaha untuk memperbarui menu kami agar tetap menarik perhatian pelanggan” 

Fitri Cyntia Asmara Niasih

Makanan Vietnam, Thailand dan India sudah biasa dan gampang di cari, masakan Malaysia yang hampir sama dengan Indonesia juga ada bedanya, Indonesia lebih dominan pedas daripada manis. Dengan dua rasa yang khas ini, Fitri berharap makanan Indonesia itu dikenal dari rasa pedas dan asin yang biasanya ada di masakan Padang. Selain ingin melengkapi rasa homesick anak Indonesia di Melbourne, hidup di negara multikultural kita juga harus kontribusi dengan mengenalkan berbagai makanan dari berbagai provinsi dan tidak hanya Bali saja. 

Kerja untuk mendapatkan respect

“Zaman sekarang resesi jadi harus punya cash flow” sebut Fitri, 3 tahun belakang tidaklah mudah bagi perantau Indonesia. Banyak bisnis yang bangkrut dan banyak juga orang yang kehilangan pekerjaan. Tetapi Fitri kagum terhadap kerja keras para students di Melbourne. Selain mendapatkan uang, skill yang diperoleh dari pengalaman bekerja pasti berguna untuk kedepannya. Mau mengejar Permanent residence ataupun balik ke Indonesia keterampilan itu pasti melekat pada orangnya. “Kerja apapun disini masih di respect, mau kamu jadi cleaner, dishwasher, kitchen hand atau kerja di toilet mereka sama disini. Makan pun di restoran yang sama. Semua disini rata” Jelas Fitri. Tidak ada kenikmatan selain nikmat menggunakan uang sendiri walaupun beli sesuatu, kita punya kebanggaan sendiri.

Kebanyakan perantau Indonesia pasti ingin kesempatan dan hidup yang lebih baik. Perjalanan menuju PR juga tidak mudah dan butuh pengorbanan, itulah yang dirasakan Fitri dulu. Tetapi jika ada sebuah kesempatan muncul di depan kamu, kamu harus ambil. Mengembangkan skill di satu bidang juga penting; mau itu IT, aged care, child care, nurse atau chef skill-skill inilah yang sedang dibutuhkan di Australia. Dan bersiaplah untuk dipindahkan ke regional. “Mencari PR disini itu seperti mengejar berlian. Harus mau berkorban dulu, kita harus ngesot dulu. Kalau emang fokusnya disitu insyaallah dapet. Asal mau kerja aja” saran Fitri.