Solo exhibition telah dibuka sejak Jumat, 21 Februari 2020 dan akan berlangsung hingga 14 Maret 2020 di Alternating Current Space, Melbourne. Tema kali ini adalah 120598 oleh Elina Simbolon. Elina adalah seniman berdarah Tionghoa-Indonesia lulusan S2 Fine Arts dari RMIT University, ia mendapat kesempatan untuk memajang hasil karyanya di galeri ini berkat Award yang diperolehnya saat graduation show. Karya-karyanya ini bukan hanya pembuktian talentanya semata tetapi sekaligus merupakan media penyaluran kisah traumatisnya.

Kedua obyek 3D ini terbuat dari flex pipe sepanjang 10 meter kemudian dipotong-potong seragam 1 cm, dan disambungkan dengan pengikat kabel

Angka 120598 yang digagas sebagai tema merupakan tanggal kejadian peristiwa trauma yang dialaminya. Elina adalah salah seorang korban ‘kerusuhan 98’ yaitu suatu peristiwa pemberontakan dan perlawanan masyarakat Indonesia terhadap rezim Orde Baru.  Dalam upaya pembelaan diri, pemerintah menciptakan berbagai konspirasi dan salah satunya adalah pelimpahan kesalahan terhadap warga Indonesia etnis Tionghoa. Mereka dituduh sebagai dalang dari semua ketidakstabilan sosial-ekonomi, bahkan mereka juga dituduh sebagai para komunis yang hendak menguasai Indonesia.

Konspirasi pemerintah berhasil mempengaruhi masyarakat hingga memuncak pada Mei 1998 dimana banyak sekali kasus pengusiran, penyiksaan, penghinaan, pelecehan seksual, perkosaan bahkan pembunuhan terhadap etnis Tionghoa. Agar tetap diakui sebagai warga negara Indonesia, mereka dipaksa oleh pemerintah untuk berasimilasi demi menghilangkan identitas Tionghoanya. Semua kejadian itu hidup dalam memori Elina, menurutnya “manusia dilahirkan dalam keadaan hampa dan kosong kemudian terisi oleh memori-memori yang terbentuk oleh berbagai pengalaman dan peristiwa. Memori inilah yang  kemudian dapat diekspresikan dalam berbagai bentuk tindakan dan salah satunya adalah karya seni.”

Projek ini dikerjakan selama 2 tahun, menggunakan objek 3D, hasil fotografi, dan dokumentasi video. Setiap objek memiliki arti yang sangat dalam, “Objects of Trauma”, yang terlihat menggantung di tengah ruangan dan “the blemishes of Hope” menempel di dinding merepresentasikan duri dalam daging dan noda-noda yang tak pernah hilang dari ingatan Elina.

Alasan Elina memilih 3D karena menurutnya tidak ada jarak antara audience dan hasil karya berbentuk 3D. Sementara itu, karya fotografinya didasari oleh warna-warna sederhana dan gelap seperti hitam, abu-abu dan merah marun yang penuh dengan ornamen Indonesia misalnya penggunaan busana tradisional Indonesia, kelopak bunga mawar berwarna merah-putih yang selalu ditaburkan di atas kuburan sebagai tanda dukacita dan masih banyak pemaknaan lainnya. Sementara itu karena beberapa alasan, karya film dokumenternya hanya dapat ditayangkan saat graduation show.

Hasil potret tampak Elina mengenakan kebaya encim yang warna dasarnya merah dan putih, kebaya sederhana ini terbuat dari kelopak mawar yang dibungkus dengan cling wrap, pembungkus makanan agar tetap awet

Sore itu, pada pembukaan pameran terlihat tidak sedikit sahabat dan kenalan-kenalannya yang datang memberikan dukungan pada Elina. Baginya, projek ini merupakan trauma healing treatment. Melalui karya-karya tersebut, Elina merasa maksimal merepresentasikan keperihan, kemarahan, kecemasan, kehilangan dan ketakutan yang dirasakannya sebagai korban sosial politik Indonesia di era ’98 tersebut. 

Melalui proyek inipun, Elina mengungkapkan harapannya bagi para korban kerusuhan 98 lainnya agar menemukan caranya masing-masing dalam upaya menyembuhkan trauma mereka. Sebagaimana Elina dapat mengatasi traumanya dengan mengembangkan talenta di bidang art, mudah-mudahan para korban trauma lainya juga dapat mengatasi pengalaman traumatisnya melali potensi diri mereka sendiri.

Leny