DWP KJRI Melbourne Batik Day 2020: Budaya dan Ekonomi Perempuan

Satu satu aku sayang Batik.. Dua dua kamu sayang Batik.. Tiga tiga kita sayang Batik.. Satu dua tiga Batik-lah tersayang! Selamat Hari Batik kepada seluruh warga Indonesia di seluruh pelosok dunia dari Dharma Wanita Persatuan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne.

Baru-baru ini DWP KJRI Melbourne bersama-sama dengan DWP Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan sebuah webinar yang diberi sebutan “Talkshow Batik, Budaya dan Ekonomi Perempuan”. Pada kesempatan ini kedua DWP mengundang beberapa sosok wanita baik di Melbourne dan Yogyakarta yang bekerja di dalam industri Batik untuk berbagi cerita mengenai perjalanan mereka selama ini.

Acara pada hari itu diawali dengan pidato yang dipersembahkan oleh Indah Perdanaputra yang adalah Ketua DWP KJRI Melbourne. Melalui pidatonya ia mengutarakan bahwa talkshow virtual ini menjadi alternatif selebrasi Hari Batik yang terpaksa harus diadakan secara daring. Beliau berharap bahwa kerjasama antar pemerintah daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan negara bagian Victoria dapat memberikan manfaat bagi para peserta yang hadir terutama para stakeholder Batik.

Selanjutnya Sri Endah Pujiati Kadarmanta Baskara Aji selaku Ketua DWP Daerah Istimewa Yogyakarta turut menyampaikan sepatah dua kata mengenai warisan kebudayan Indonesia yang juga merupakan kebanggaan Indonesia. Beliau berpendapat bahwa kalau bukan kita dan tidak sekarang siapa lalu kapan lagi kita akan melindungi Batik. Tema webminar kali ini sangatlah relevan dengan kondisi negara Indonesia pada saat ini dimana pengabadian batik sangatlah didukung oleh wanita-wanita lokal di Indonesia. Sri mengatakan bagai dua sisi uang koin, dimana ada kesejahteraan batik pasti di balik itu ada peran seorang wanita.

Hadir pada kesempatan tersebut, Konsul Jendral Republik Indonesia di Melbourne Spica Tutuhatunewa menyatakan dukungannya terhadap acara tersebut. “Terlebih lagi saya menghimbau semua masyarakat Indonesia untuk tidak hanya hari ini, tidak hanya melalui kata-kata atua sosial media tetapi dengan memakai busana-busana batik setiap harinya. Tidak perlu dengan gerak-gerik besar. Sebuah aksesoris tangan, ikat rambut atau bahkan hiasan-hiasan rumah seperti telapak meja juga merupakan upaya pelestarian batik,” ulas Spica.

Seusai pidato Konjen Spica, video batik dari Yogyakarta ditayangkan sebagai simbol resmi akan acara telah dimulai. Talk show pada hari itu dituntun dengan bimbingan moderator Nika Suwarsih yang ialah co-founder komunitas warga Yogyakarta di Melbourne Victoria.

Iin West

Narasumber pertama, Iin West yang berperan sebagai penemu Indonesian Batik Centre di Melbourne menceritakan pengalamannya bertahun-tahun mempromosikan dan mendistribusikan Batik di Melbourne. Ia yang pada awalnya berdagang Melbourne di Melbourne dengan membawa satu koper barang-barang jualan menjadi dua koper hingga akhirnya harus mendistribusikan kargo seberat 50 kilogram. Beliau juga bercerita akan perjuangannya bersama DWP Melbourne dalam mempromosikan batik melalui acara-acara fashion show yang pertama diadakan di Wisma Indonesia di Brighton.

Ada pula Ir. Mayasari Sekarlaranti atau yang lebih dikenal sebagai Nita Kenzo yang adalah penemu dan direktur PT. Batik Jawa Indigo. Beliau adalah pakar batik yang mendapatkan penghargaan atas kesuksesannya mendirikan sebuah galeri yang mampu menciptakan batik indigo secara alami yang mampu bertahan di segala musim terlabih lagi dicintai oleh masyarakat. Tidak hanya itu, tetapi batik indigo hasil karya galeri beliau telah memenangi Best Product Award di New York. Beliau menjelaskan sejarah Batik secara meluas hingga mengenai pendistribusian batik melalui jalur distribusi rempah dan budaya sejak zaman dahulu. Beliau menunjukkan cintanya yang begitu tulus dan kokoh akan batik terutama dari upayanya menghidupkan kembali kejayaan batik yang aslinya bermula dengan dibuat dalam warna biru indigo. Ia pun bekerja keras untuk memperkenalkan batik Indonesia ke dalam pasar global sebisa mungkin.

Nita Kenzo

Selanjutnya, Diana Lestari yang dalam lingkup komunitas DWP KJRI Melbourne dikenal sebagai Diana Wibisono adalah pendiri Galeri Lestadia yang telah memulai perjalanan berjualan dan berdagang batik Indonesia di pasar internasional Melbourne. Beliau bercerita akan kota Yogya yang menjadi tempat pertama ia benar-benar jatuh hati pada keindahan kain batik. Ketika ia menjalani KKN yang adalah tugas kuliahnya ia mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi karya seni batik yang diciptakan oleh ibu-ibu pengrajin batik lokal di daerah Gunung Kidul. Tidak lama itu ia memulai bisnis batik di Mojokerto, Jawa Timur tempat beliau berasal. Ia membangun rantai pemasarannya di Melbourne bersama dengan adiknya yang bertempat di Indonesia. Melalui bahan-bahan kerajinan tangan yang ia pilih untuk didistribusikan kepada pasar di Melbourne, model-model busana yang simpel dan cocok untuk dipakai sehari-hari. Alasan dari pemilihan itu adalah untuk menarik perhatian anak-anak muda di Melbourne akan keindahan Batik terutama karnea model-model seperti itulah yang digemari oleh mereka.

GKBRAA Paku Alam

Terakhir, Gusti Kanjeng Bandara Raden Ayu Adipati Paku Alam yang adalah Penghageng Pemrakarsa Batik Kadipaten Pakualaman sekaligus Penasihat DWP Daerah Istimewa Yogyakarta, menjelaskan posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah dipilih dan memenuhi seluruh kriteria yang ada sebagai daerah batik sedunia. Beliau lalu juga mengisahkan kisah kelahiran Batik Yogyakarta yang berasal dari Perjanjian Jatisari di antara Kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Beliau yang begitu cantiknya tampil dalam balutan kebaya dan kain Batik juga menceritakan bahwa batik telah menjadi sebuah seni yang menerapkan bentuk komunikasi yang menggunakan simbol-simbol.

Ia memberi contoh batik yang bermotif Sida Mukti yang bermaknakan kebahagiaan yang tidak akan pernah berkekurangan. Corak-corak batik ini sudah diukir sedimikian rupa untuk bisa mengilustrasikan emosi kebahagiaan abadi itu – menjadi alasan utama mengapa corak batik ini sangatlah cocok untuk para mempelai di hari pernikahan mereka. Dalam presentasinya semua yang hadir pada pagi hari itu menjadi semakin mengerti akan kepentingan dan keunikan Batik yang bukan hanya adalah prakarya masyarakat Indonesia melainkan sebuah tradisi serta adat istiadat rakyat lokal.

Dalam sesi tanya jawab, salah seorang anggota DWP KJRI Melbourne, Sony Simanjuntak mengutarakan, “saya sangat setuju dengan penjelasan Ibu Diana mengenai pemasaran barang-barang lokal Indonesia seperti Batik dengan memanfaatkan cerita di balik pembuatan setiap kreasi. Hal ini nantinya akanlah menjadi sebuah manfaat yang besar ketika memasarkan karya-karya batik kepada pasar luar negeri seperti Australia. Ini saya juga lihat ketika orang-orang Jepang mendistribusikan kerajinan tangan masyarakat lokal yang menggunakan serpihan benda-benda pasca pengeboman yang turut menjadi faktor penjual untuk karya tersebut.”

Beberapa peserta lain mengungkapkan kegelisahan mereka akan COVID-19 yang telah berbulan-bulan menghambat pelestarian Batik Indonesia. Kekhawatiran ini pada khusunya muncul dikarenakan proses transportasi dan logistik yang begitu tertunda dalam membawa produk-produk batik yang baru dari Indonesia ke Australia. Setiap dari narasumber lalu bercerita akan perlunya inovasi baru menggunakan teknologi online sebagai solusi. Walaupun merupakan hal yang baru dan sedikit menakutkan, tetapi perubahan ini harus dapat kita ambil secara positif.

bintanghttps://benedictabintangz.carrd.co/
A born and raised half Bataknese and Javenese who can never live her life without doing anything art related!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

AHLI GIZI IESJE BAKAR TOBING TERIMA PENGHARGAAN DIETITIANS ASSOCIATION OF AUSTRALIA

Pada tanggal 20 Mei silam, Dietitians Association of Australia (DAA) mengadakan konferensi nasionalnya yang ke-33 di Melbourne Convention and Exhibition Centre. DAA didirikan pada...

SAPE BERKEPALA BURUNG HANTU

Di suatu hari yang cerah diriku bertemu dengan Sam. Gw:          "Halo Sam apa kabar?" Sam:         "Baik-baik saja, Bang Enos." Gw:          "Gw mau tanya, itu apa yang lagi...

“SELAMANYA CINTA” CINDY CAROLINA

Penyanyi cantik kelahiran Jakarta, Cindy Carolina disibukkan dengan promo album sekuler pertamanya yang berjudul “Selamanya Cinta” di awal tahun ini. Ia membawakan 10 lagu...

Indonesian Islamic Convention, Muktamar 2016 – WADAH DISKUSI ISU TERKINI

  Akhir September lalu, komunitas Muslim Indonesia atau yang lebih dikenal dengan sebutan IMCV (Indonesian Muslim Community of Victoria) telah mengadakan sebuah forum diskusi yang...

ACARA KEMERDEKAAN INDONESIA DI BALLARAT

Suasana bahagia menyambut kemerdekaan tidak hanya dirasakan oleh warga Indonesia di Melbourne, namun juga yang bertempat tinggal di Ballarat dan Bendigo.