Di Indonesia, pelayanan kesehatan jiwa bagi setiap orang dan jaminan hak orang dengan gangguan jiwa belum dapat dilaksanakan secara optimal. Dikutip dari Undang Undang Kesehatan Jiwa No. 18 tahun 2014, Orang Dengan Gangguan Jiwa atau disingkat ODGJ adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

Mediadisabilitas.org menyebutkan bahwa masalah gangguan kejiwaan dapat disebabkan oleh tiga faktor, diantaranya faktor biologis seperti penyakit fisik kronis dan penyakit fisik yang mempengaruhi otak; faktor psikologis seperti mekanisme pertahanan diri dan pola penyelesaian masalah; dan faktor sosial spiritual seperti situasi khusus/krisis, pola relasi, tantangan dan stressor atau pemicu.

Sayangnya, bukan hanya pelayanan bagi para penyandang disabilitas gangguan mental atau ODGJ saja yang kurang. Orang dengan gangguan jiwa masih seringkali mendapat stigma negatif dan perlakuan buruk dari masyarakat. Perlakuan diskriminatif terhadap penyandang disabiitas mental tersebut bukanlah hal yang baru, dan berseberangan dengan apa yang harus diberikan pada mereka untuk meraih kesembuhan seperti penerimaan, dan dukungan keluarga  serta masyarakat.

Empat Sekawan Pendiri TFP: Adel, Agnes, Miri, Wulan

Kepedulian terhadap pengidap gangguan kejiwaan ini, telah membawa empat sekawan, yaitu Miridhani Tamba, Adela Pranindiati, Agnes Pranindita dan Wulan Mantik untuk bersama – sama meningkatkan kesadaran terhadap para penyandang disabilitas mental melalui The Forgotten People Indonesia (TFP).

Pada hari Sabtu (14/8) kemarin, BUSET berkesempatan untuk meliput salah satu kegiatan mereka di Yayasan Jamrud Biru yaitu Panti Sosial Disabilitas Mental yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat. Dalam kesempatan tersebut TFP melakukan kegiatan dengan para ODGJ dengan kegiatan utamanya menggambar.

Ucapan turut berduka cita Presiden Habibie Indonesia

Setelah berbincang – bincang dengan Hartono, sang pemilik panti, kegiatan dengan para ODGJ tersebut dimulai dengan perkenalan The Forgotten People ID dan doa Bersama. Selanjutnya para pasien di Yayasan Jamrud Biru menyanyikan lagu kebangsaan Gugur Bunga untuk memperingati wafatnya Bapak B. J. Habibie yang telah wafat 3 hari sebelumnya. Menarik, bahwa banyak dari penyandang disabilitas mental tersebut yang masih ingat bahwa Bapak B. J. Habibie adalah Presiden Indonesia yang ke-3. Setelah menyanyi lagu Gugur Bunga, acara berbincang – bincang diwakili oleh Miri, salah satu founder TFP dan dilanjutkan dengan kegiatan utama, yaitu menggambar.

Kegiatan menggambar dianggap sebagai terapi seni dan dilakukan sebagai sarana untuk mengekspresikan perasaan atau emosi mereka. Bahkan diungkapkan oleh Hartono, dengan menggambar kondisi kejiwaan mereka pada saat itu juga bisa terlihat, apakah semakin membaik atau tidak.

Banyak hasil gambaran para pengidap disabilitas mental tersebut yang sangat menarik, dengan tema seperti gambar alam, transportasi dan nuansa kebangsaan. Bahkan salah satu dari mereka berusaha mengungkapkan duka cita atas meninggalnya B. J. Habibie melalui gambarannya.

Adel dan Miri, Co-Founder dan Alumni Australia yang Tergerak Dengan Kondisi Penyandang Disabilitas Mental

Kunjungan ke Yayasan Jamrud Biru kemarin diwakilkan oleh Adelia Pranindiati dan Miridhani Tamba, dua co-founder TFP. Diakui Miri dan Adel, personal experience dengan mental health issue dalam kehidupan telah menjadi faktor yang membuat mereka terinspirasi membentuk TFP. Dengan personal experience tersebut timbullah kesadaran bahwa penyakit kejiwaan bisa menyerang siapa saja.

Para Pasien di Yayasan Jamrud Biru menggambar sebagai bentuk ekspresi hati

Diungkapkan Adel, yang dulu pernah mengambil studi Master of Public Policy di Australia National University (ANU), “Sama kayak orang kan selalu menganggap penyakit fisik tuh big deal ya, padahal sebenarnya mental juga big deal. Tapi nggak keliatan, dan kita juga ingin mengangkat awareness itu.”

Awal pendirian The Forgotten People ini dimulai dengan pembuatan buku. Miri dan Wulan (co-founder lain) memutuskan untuk membuat buku yang berjudul “The Forgotten People” untuk meningkatkan awareness. Di dalam buku yang berisi cerita pendek tentang orang -orang dengan mental health issue, terdapat cerita yang berkaitan dengan kondisi mereka. “Kita ingin menyampaikan bahwa struggle kita sama dengan struggle mereka, cuma karena mungkin itu sedang memukul mereka di titik yang tepat jadi reaksinya berbeda sama kita,” papar Miri yang lulus dari Master of Creative Media di RMIT University tahun 2013.

Kemudian setelah pertemuan Wulan dan Miri dengan Adel dan Agnes, mereka menyamakan misi dan membentuk yayasan di tahun 2017.

Program yang diemban oleh TFP dari tahun 2017 hingga saat ini adalah kunjungan rutin ke yayasan – yayasan untuk sesi menggambar. “Sebulan sekali sesi menggambar dan makan bareng – bareng. Tapi harapan ke depannya gambar – gambar itu selalu kita scan dan untuk nantinya dibikin merchandise yang bisa dijual lagi dan balik profitnya untuk membantu mereka agar bisa menghidupi diri sendiri tanpa mengharap bantuan terlalu banyak dari orang lain,” kata Miri yang saat ini bekerja di perusahaan Fintech Singapura. 

Harapan Melalui Gambar

Kegiatan utama bersama ODGJ serta pembuatan buku “The Forgotten People” pada awalnya adalah karena kesukaan menggambar yang dilakukan oleh Miri. “Menggambar buat aku pribadi adalah cara mengekspresikan hal – hal yang nggak bisa aku ekspresikan dengan kata – kata. Kalau aku marah atau sedih aku ekspresikan dengan menggambar.”

Untuk itu menggambar telah dirasakan sebagai metode yang pas untuk memahami dan menyalurkan ekspresi para ODGJ. Miri mengungkapkan dengan menggambar bisa melihat apa yang ada dalam hati dan pikiran mereka. Beberapa gambaran akan terlihat masih kacau atau sudah teratur. Kedepannya gambar – gambar tersebut akan dijadikan merchandise yang bermakna dalam bentuk tote bag atau mug.

Hati yang bahagia adalah obat yang manjur

Harapan ke depan TFP bisa memperluas impact seperti berkunjung ke lebih banyak yayasan. Diakui mereka pada saat ini mereka masih self-funding dalam melakukan kunjungan – kunjungan tersebut dan menyediakan kebutuhan para pasien pada saat kunjungan. Untuk itu di masa depan, mereka akan mencoba crowdfunding.

Di sisi lain, kesibukan juga menjadi kendala dalam kegiatan TFP. Dua dari empat anggota TFP saat ini berlokasi di luar Indonesia sehingga kegiatan – kegiatan yang akan dilakukan harus dilakukan dengan perencanaan sebaik mungkin.

TFP juga welcome apabila ada yang ingin membantu memfasilitasi atau volunteer bahkan seperti merayakan ulang tahun Bersama ODGJ. “Jika ada yang mau membantu misal bisa photography dan mau bantu foto untuk Instagram kita, boleh aja. Simple volunteering buat kita berarti banget,” ujar Adel.

***

Yayasan Jamrud Biru

Didirikan pada tahun 2009, Hartono sang pemilik Panti Sosial Disabilitas Mental “Yayasan Jamrud Biru” mengungkapkan banyak pasien dengan gangguan jiwa yang telah ditangani, dirawat, dibina, dan diberikan kenyamanan. Bersyukur, banyak pasien gangguan jiwa yang telah sembuh dengan perhatian yang diberikan Hartono dan rekan – rekannya.

Setelah bekerja selama 23 tahun di yayasan serupa, Hartono kemudian mendirikan Yayasan Jamrud Biru dengan tujuan utama membantu program pemerintah untuk menangani ODGJ di kota Bekasi. “Misi saya mengangkat harkat dan martabat orang dengan gangguan jiwa agar tidak terbengkalai, dan tidak didiskriminasi dan terurus. Mereka juga manusia, kita juga harus memperhatikan. Kalau bukan kita siapa lagi,” ujarnya.

Namun niat tulus membantu pasien dengan gangguan jiwa yang saat ini berjumlah 138 pasien bukanlah tidak memiliki tantangan yang berat. Tempat yang saat ini digunakan untuk menampung dan merawat ODGJ dari berbagai latar belakang tersebut masih menyewa dengan biaya 50 juta per bulan.

Pemilik Yayasan Jamrud Biru, Hartono

Di sisi lain, tempat dengan lahan terbatas untuk pelayanan serta adaptasi agar mereka nyaman dan merasa seperti keluarga juga dinilai sebuah tantangan yang dihadapi saat ini. “Yang paling berat tidak punya tempat dan masih ngontrak. Kami hanya punya niat, modal kemauan tanpa didukung finansial. Mudah – mudahan ke depan ada dukungan secara moril dan materil untuk lebih menyejahterakan ODGJ karena mereka insan yang perlu kita bantu.”

Pada saat ini Yayasan Jamrud Biru menerima pasien dari seluruh Indonesia. Pasien berasal dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, bahkan pernah menerima pasien dari Ambon, Maluku. Hartono menginformasikan bahwa sejak tahun 2009, ada sekitar  60 – 70 pasien yang sembuh di tiap tahunnya. Kesembuhan tersebut berkat adanya pengobatan secara tradisional, pembinaan agama, pembinaan olah raga dan terapi yang membuat mereka kembali normal.

Niar