Potensi Indonesia Dalam Diplomasi Budaya

Apa yang terlintas di benak pikiran apabila kita mendengar kata ‘diplomasi’? Mungkin muncul gambar diplomat berjas, ajang makan malam formal yang mewah, atau negosiasi antara pemimpin negara. Meskipun memang tidak ada salahnya untuk mengasosiasikan gambaran tersebut dengan diplomasi, kegiatan berdiplomasi sebenarnya sangat luas. Salah satu bentuk diplomasi adalah diplomasi budaya, istilah yang mungkin tidak lagi asing bagi kita. Sebagai negara kebhinekaan, Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam diplomasi budaya.

Diplomasi dan Budaya

Suatu negara harus memiliki relasi yang baik dengan negara lainnya apabila ingin memiliki hubungan internasional yang sukses, dan diplomasi merupakan salah satu cara untuk meraihnya. Joseph Nye, seorang ilmuwan politik Amerika Serikat, mengatakan bahwa terdapat tiga cara dalam berdiplomasi, yaitu coercion, payment, dan attraction. Diplomasi Budaya termasuk ke dalam cara attraction, yaitu menimbulkan ketertarikan dari entitas lain tanpa adanya unsur paksaan.

Diplomasi budaya pada intinya merupakan penggunaan unsur kebudayaan yang dimiliki oleh suatu negara sebagai suatu instrumen untuk mendukung upaya diplomasinya di luar negeri. Dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat asing terhadap negara kita melalui budaya, kita dapat memperoleh banyak keuntungan, mulai dari segi ekonomi, sosial, hingga politik. Contohnya adalah branding ‘Wonderful Indonesia’ yang dapat menarik wisatawan mancanegara dengan mempromosikan keindahan budaya dan alam Indonesia. Kedatangan tamu asing di Indonesia menyediakan pendapatan devisa yang jelas menguntungkan bagi perekonomian Indonesia serta meningkatkan national brand yang dimiliki Indonesia di panggung internasional. Lantas, apa saja potensi yang dimiliki Indonesia dalam mempraktikan diplomasi budaya?

Seni

Bentuk kesenian yang dimiliki oleh suatu negara dapat menjadi alat untuk memikat hati masyarakat asing. Baik tarian, musik, pakaian, ataupun perfilman, bentuk seni tersebut dapat memicu ketertarikan orang asing terhadap budaya Nusantara. Hal ini pernah dilakukan oleh Korea Selatan beberapa waktu lalu, dimana boyband BTS menampilkan K-pop di panggung Dewan Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memikat hati generasi muda di seluruh dunia. Indonesia sendiri telah melakukan diplomasi seni dengan berbagai cara, salah satunya melalui Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia yang dicanangkan oleh Kementerian Luar Negeri untuk memperkenalkan warisan budaya Indonesia kepada mahasiswa baik dari dalam maupun luar negeri. Dalam lingkup yang lebih luas, diaspora Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam memperkenalkan kesenian nasional dengan menampilkan kesenian Indonesia kepada publik. Hal tersebut sangat terlihat di negara di mana komunitas masyarakat Indonesia sangat aktif, seperti Australia.

Bahasa

Salah satu aspek terpenting dalam diplomasi adalah komunikasi. Di Indonesia (dan hampir setiap negara di dunia), bahasa Inggris diajarkan dalam kurikulum sekolah karena kedudukannya sebagai bahasa ‘global.’ Namun, tahukah Anda bahwa bahasa Indonesia juga diajarkan di dalam kurikulum sekolah Australia? Sejak tahun 1990-an, pemerintah Australia meluncurkan strategi National Asian Languages and Studies in Australian Schools (NALSAS) yang menawarkan kelas bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Sebagai negara tetangga yang memiliki hubungan bilateral kuat dengan Indonesia, hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan relasi ekonomi antara kedua negara Asia Pasifik ini. Sayangnya, jumlah murid yang mempelajari bahasa Indonesia di sekolah telah menurun dalam beberapa tahun ke belakang akibat sedikitnya minat dan tenaga pengajar yang ada.

Makanan

Gastrodiplomasi (berasal dari kata gastronomi dan diplomasi) adalah praktik diplomasi melalui makanan. Pepatah yang dijadikan motto gastrodiplomasi adalah “the quickest way to win hearts and minds is through the stomach.” Makanan memiliki potensi yang besar dalam diplomasi, karena dapat memperkenalkan nilai hidup dan kreativitas suatu budaya kepada penikmatnya. Seringkali, makanan menjadi interaksi pertama yang dialami seseorang dengan suatu budaya asing. Negara tetangga kita, Thailand, mengalami sukses besar dalam upaya gastrodiplomasinya dengan program pemerintahnya bernama ‘Global Thai.’ Data menunjukkan adanya korelasi peningkatan jumlah wisatawan yang mengunjungi Thailand dengan peningkatan jumlah restoran Thailand di dunia.

Dengan sumber daya alam yang melimpah di Nusantara, kita mempunyai banyak makanan khas yang dianggap eksotis. Contohnya rendang, yang merupakan salah satu hidangan Indonesia yang paling mendunia, bahkan telah dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia oleh beberapa media. Di luar negeri, keberadaan restoran yang menyajikan masakan tradisional Nusantara menjadi duta Indonesia dalam gastrodiplomasi. Pengusaha-pengusaha kuliner ini secara tidak langsung memiliki peran besar dalam memperkenalkan budaya Indonesia kepada penduduk asing.

Sayangnya, keberagaman yang dimiliki Indonesia bak belati bermata dua yang menimbulkan tantangan tersendiri. Apakah seluruh kebudayaan Indonesia dapat diwakili oleh hanya beberapa kebudayaan khas daerah yang paling terkenal, seperti rendang khas Padang atau tari Pendet khas Bali? Bagaimana kita dapat mempromosikan keseluruhan Indonesia dari Sumatera hingga Papua tanpa meninggalkan beberapa kebudayaan daerah di dalamnya? Hal tersebut sangat sulit untuk dilakukan dalam jangka waktu yang pendek. Perlu proses bertahun-tahun, bahkan berdekade, agar dapat mengangkat budaya Indonesia secara keseluruhan.

Menanggapi dilema di atas, bagi saya tidak ada salahnya dalam mencanangkan kebudayaan daerah sendiri asalkan masih tergabung di bawah label ‘Indonesia.’ Langkah-langkah inisiatif ini harus diambil oleh setiap perwakilan daerah untuk merepresentasikan masing-masing budaya daerahnya di panggung dunia, hingga akhirnya akan muncul national branding Indonesia yang menyeluruh. Tidak hanya diplomat yang memegang peran penting, tetapi diaspora juga merupakan duta bagi Indonesia di luar negeri. Dari mahasiswa hingga TKI, siapapun dapat berkontribusi dalam mempromosikan budaya Indonesia. Hal kecil seperti memakai pakaian batik dengan bangga atau memperkenalkan masakan khas daerahnya kepada orang asing dapat memberikan mereka impresi yang bagus terhadap Indonesia.

Fareez Eldacca

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

KETUA PPIA RMIT 2015/16 Safira Ramadita Nugroho 

 Tempat, tanggal lahir Jakarta, 31 Januari 1997Kuliah Bachelor of Information Technology, Year 1 Semester 2Umur 18 tahunHobi Kenalan sama orang baruGenre musik favorit Untuk sekarang sih cenderung ke pop-jazz,...

Delapan Siswa Geelong Mengikuti Upacara Bendera di Canberra

Selalu ada pemandangan menarik saat berlangsungnya perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di Kedutaan besar RI di Canberra. Salah satunya adalah kedatangan delapan siswa dari Saint...

870 | Temporary Sponsored Parent (TSPV) Visa

Fitur-fitur Visa Sponsor Sementara untuk Orang TuaTerbatas hingga 15.000 visa per tahunMasa tinggal kumulatif maksimum 10 tahun diizinkanOrang tua tidak diharuskan untuk pergi selama...

Feng Shui : Love – Affair – Hate

Seperti yang pernah saya bagikan di beberapa kesempatan, salah satu kasus yang lebih pelik buat diurai ialah manakala terkait dengan urusan perasaan. Perasaan dimaksud...