DeTalks 2021: Cinta Laura bahas cita-citanya untuk Indonesia

Acara talkshow persembahan PPIA RMIT, DeTalks kembali hadir tahun ini dengan tema Step Up: Where Your Step Starts. Berlangsung dua hari melalui Zoom, DeTalks 2021 bertujuan untuk menfasilitasi generasi muda dalam mengembangkan passion dan mempersiapkan diri untuk masa depan.

Hari pertama DeTalks membahas tema ‘Finding your passion’, dengan narasumber Clara Tan, Ge Pamungkas dan Titan Tyra. Sedangkan hari kedua membahas tema ‘professional development’ dengan narasumber Cinta Laura, Alamanda Shantika, dan Chandra Liow.

Dalam sesi pertama Professional Development, Cinta Laura berbagi cerita tentang kehidupannya di US, pelajaran yang ia dapatkan, dan cita-citanya untuk masa depan Indonesia.

Cinta Laura Kiehl berbagi pengalaman ketika berkuliah di US dalam sesi Professional Development. Foto di-screenshot via Zoom.

Cinta Laura: Membantu mereka yang tidak bisa membantu dirinya sendiri

“Waktu selesai kuliah, aku memutuskan untuk pindah ke Los Angeles untuk kerja,” kata Cinta yang adalah lulusan dari University of Columbia dengan gelar ganda Sarjana Psikologi dan Sastra Jerman.

Di usianya yang ke-20 saat itu, Cinta berhasil pindah dari New York, tempatnya berkuliah, ke Los Angeles, sendirian. Dipaksa untuk hidup mandiri oleh ayahnya, ketika pertama tiba di LA, Cinta menginap di rumah temannya selama seminggu sebelum akhirnya settle.

“Aku masih ingat saat itu membawa dua koper besar sendirian di Bandara, lalu menginap di rumah teman selama seminggu, sambil mencari tempat tinggal, membeli mobil, dan mengurus tagihan-tagihan sendiri,” cerita Cinta. “Semuanya adalah perjuangan dan pengalaman berharga.”

Ketika tinggal di US itulah, Cinta belajar untuk menerima diri sendiri, mengatasi permasalahan hidup dengan dewasa, menyatakan pendapat, dan menemukan jalan hidup.

“Perspektif aku terus berkembang. Kalau ditanya pertanyaan yang sama beberapa tahun lalu, dan bahkan beberapa tahun mendatang, jawabanku pasti berubah, tapi saat ini aku bilang sama diri sendiri, bahwa apapun yang aku kerjakan dalam hidup, harus bermanfaat untuk banyak orang, terutama masyarakat Indonesia.”

Berbekal ilmu di bidang psikologi dan pengalamannya bekerja sebagai Teaching Assistant (TA) untuk Profesor Psikologi dan Psikiatri ternama Herbert S. Terrace, Cinta pun membuat podcast PUELLA ID di YouTube, dengan tujuan untuk mengedukasi anak-anak dan remaja Indonesia tentang isu sosial, seperti quarter life crisis, bullying, eating disorder, dan kesehatan mental. Puella sendiri dalam Bahasa Latin berarti ‘perempuan yang percaya diri dan pintar’. 

“Banyak orang yang tidak tahu kalau hal seperti ini ada. Kita harus ingat kalau faktanya adalah kita ini minoritas, dalam arti kebanyakan orang Indonesia tidak punya akses terhadap pendidikan dan pengalaman yang kita miliki,” ujar Cinta.

“Kita gak bisa cuma pikirin diri sendiri. Masih banyak desa-desa terpencil di Indonesia yang bahkan tidak punya sinyal. Mereka saat ini tidak bisa sekolah karena tidak punya sinyal 3G, apalagi internet.”

Menurut Cinta, perkembangan Indonesia yang terlihat dari luar hanyalah milik Jakarta dan Pulau Jawa. Ia pun memberi contoh bahwa Pulau Sumba, dimana mayoritas rumahnya tidak punya air bersih dan listrik.

“Apa yang sedang aku lakukan saat ini adalah untuk membawa negara kita lebih maju lagi. Banyak aktivis Indonesia yang sudah melakukan jauh lebih banyak daripada aku, tapi aku tetap join, karena mudah-mudahan dengan bantuan aku, dengan platform yang aku punya, kita bisa mengubah hidup lebih banyak orang lagi.”

Dalam sesinya di DeTalks, Cinta juga mengajak para peserta untuk lebih berani menyatakan pendapat. Duta Anti-Kekerasan Perempuan dan Anak ini percaya bahwa pasti akan ada orang di luar sana yang sependapat, dan bahwa perubahan-perubahan kecil akan membentuk ripple effect (efek berkesinambungan) yang nantinya berdampak besar.

At the end of the day, life is about choices,” kata Cinta. “Kita bisa hidup yang gampang-gampang, simple, tapi tidak ada maknanya, atau kita bisa memberanikan diri, berbesar hati untuk membantu orang-orang yang tidak bisa membantu dirinya sendiri.”

Panitia DeTalks 2021. Foto dari Gabriella Nelson.

DeTalks sukses bangkitkan semangat peserta

Mengobrol dengan BUSET setelah acara, Project Manager Gabriella Nelson menyampaikan rasa bahagianya atas kesuksesan DeTalks 2021. Dengan total peserta yang mencapai 120 orang, misi untuk mengedukasi dibidang passion, wellbeing dan professional development tahun ini semuanya tercapai.

“Pastinya senang banget ya, terutama karena peserta semuanya happy. MC-nya bagus banget dan para guest speaker juga masing-masing punya materi dan ciri khas yang berbeda, sehingga peserta belajar banyak,” kata Gabriella.

Bercerita tentang persiapan acara, Gabriella bersyukur bisa kerja bersama komite yang saling mendukung dan penuh semangat selama tujuh bulan terakhir ini. Walaupun terkendala jarak karena sebagian besar anggota berada di Jakarta, masing-masing sungguh berbesar hati, sehingga semua masalah internal dan eksternal dapat teratasi dengan mudah.

Rangkaian acara DeTalks sendiri sebetulnya sudah berjalan semenjak tanggal 28 Maret. Dimulai dengan pre-event yang diisi oleh acara live IG, workshop dan diskusi panel dengan berbagai influencer dan praktisi tanah air, ke-37 anggota komite detil dalam mengkurasi acara supaya dapat menginspirasi para peserta. Beberapa tema yang diangkat selama pre-event adalah ‘Branding and Marketing in the age of Social Media’ bersama Emily Kwik, ‘Elevate your look’ bersama Sanly Liuu, dan ‘Exploring Mental Health’ bersama Indigo Keyla.

“Review dari peserta, banyak yang merasa senang dan terinspirasi dengan pembicaranya. Pertanyaan yang sudah kita rencanakan dan keterbukaan para pembicara membuat peserta merasa relate dan dekat dengan mereka,” kata Gaby.

Apa Kata Mereka

Taufan Hadi Wibawa, Peserta

Detalks mengundang narasumber-narasumber yang bagus dan sudah berpengalaman di bidang nya masing-masing, jadi menambah wawasan partisipan dengan keahlian mereka. Acara Detalksjuga  menambah relasi antar partisipan dari berbagai wilayah. Semoga kegiatan DeTalks terus diselengarakan dan menampilkan narasumber-narasumber yg bagus dan berkualitas. Salam sehat dan sukses untuk semua Panitia Detalks 2021!

Jessica Elizabeth, Peserta

Menurut aku acara DeTalks ini bukan cuma acara yang seru-seruan aja. Selain seru ternyata insightful banget! Ada beberapa guest speaker yang aku belum tau sama sekali dan ada juga yang aku cukup familiar karena sering ikutin mereka di media sosial. Tapi baru di DeTalks ini aku lebih ngerti soal perjuangan mereka, kesulitan apa aja yang mereka hadapi, bagaimana pandangan mereka dan cara mereka menghadapi itu. Aku suka banget di sesinya Cinta Laura dan Chandra Liow karena menurut aku mereka inspiring banget. Perjuangan mereka ga gampang, namun mereka tetap humble dan mau berfokus untuk menyebarkan nilai positif serta memajukan edukasi di Indonesia. Menurut aku panitia DeTalks juga sudah profesional dan acara berjalan dengan baik. Gak nyesel sama sekali ikut DeTalks!

Velahttp://www.buset-online.com
A writer, a media and communication student, a passionate food-taster and a culture-admirer.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

I SAID NEON Hands-on Gamelan Workshops

MAPPING MELBOURNE FESTIVAL and Gamelan DanAnda presents: KECAK WORKSHOP 3-3.45PM Hands-on vocal percussion 'monkey' chant workshop led by GDA & Pande Mardiana BALINESE GAMELAN 4-4.45PM Hands-on Balinese gamelan...

Pekerjaan Harus Sesuai Passion? INI MITOS!

Pada edisi kali ini, BUSET melakukan wawancara dengan Arnold Priadi Bolang, CPC, CEC  yang merupakan seorang Facilitator, Trainer, Professional & Executive Coach (Approved by ICF/ International...

Menghindari Pinjaman Bisnis

https://www.youtube.com/watch?v=D9ScuyEtyY8Pada artikel kali ini kita akan membahas beberapa cara yang dapat dilakukan oleh pemilik usaha kecil agar dapat terhindar dari pinjaman bisnis yang...

DWP KJRI MELBOURNE SAMBUT PENGURUS BARU

Pertengahan Oktober silam, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne mengadakan pertemuan anggota yang ke-2 di tahun 2015. Acara tersebut sekaligus...

Angkat tema gender dan seksualitas di Indonesia – koleksi seni kontemporer ‘#Perempuan 2021’ hadir di museum Australia

Seni kerap menjadi jembatan yang menghubungkan budaya antar negara. Tak hanya itu saja, seni, khususnya seni kontemporer, bahkan mampu menjalin dialog dan komunikasi lintas...