“DEAR BUSET”

0
1072

Halo kawan-kawan BUSET! Bertahun-tahun BUSET Magazine kian menyiarkan berita-berita paling hits untuk setiap dari pembaca kami. Tetapi, kami ingin menyebarkan lebih banyak dukungan bagi para pembaca dan memberikan forum untuk kalian agar bisa menceritakan kisah-kisah kehidupan kalian. Pada edisi bulan Juli ini, kami mengajak para pembaca untuk mengirimkan pengalaman tak terlupakan kalian bersama teman-teman kalian! Mari kita lihat kisah-kisah sahabat BUSET kali ini!

Dear BUSET, kami sekarang trauma dengan monyet

Suatu malam yang indah aku tengah menikmati makan malam di sebuh kedai sembari menikmati sejuknya udara Bandung. Tidak salah lagi aku makan tidak sendiri tetapi ditemani puluhan pasang mata yang terpikat pada parasku yang berseru ‘bule’. Hanya saja, aku tidak tahu malam itu aku akan mendapatkan teman baru. Sayang tak kuingat makanan apa yang mempertemukan kami malam itu tetapi aku tidak pernah lupa pertemuan kami. Olivia, itulah Namanya. Seorang gadis sebayaku asal negeri Menara Eiffel.

Oh, betapa bahagianya aku untuk berhasil menemukan orang ‘bule’ lain di kota kembang ini selain teman-temanku dari program pertukaran pelajar. Tanpa begitu banyak bicara aku mengajaknya untuk makan malam bersama-sama. Ikatan pertemanan mulai tertenun ketika mulut kami mulai bercakap. Waktu berjalan begitu cepat hingga tak terasa kala malam telah larut. Kami berdua sepakat untuk melanjutkan pertemuan pendek ini di Taman Goa Jepang – sebuah tempat wisata bersejarah yang dulu adalah barak militer dan tempat berlindung tantara Jepang.

Sesampai di sana aku menemui diri di tempat yang begitu hijau. Pohon-pohon menjulang mengisi permukaan angkasa seolah-olah melindungi kami dari sang surya. Angin sepoi-sepoi dengan halus menyelimuti raga dengan sejuk selama perjalanan kami menelusuri taman ini. Selama berpetualang, kami terus berbincang dan membuka topik-topik mengenai negara asal kami.

Semakin jauh kami berjalan semakin banyak monyet bertengger dan menikmati para turis yang berkeliaran di teritori mereka. Kagum akan makhluk-makhluk kecil penjaga taman itu, Olivia bertanya-tanya apabila kami bisa berfoto bersama para monyet. Aku pun dengan berani dan percaya diri berseru, “tentu boleh! Ayo kita ajak salah satu monyet untuk ber-selfie!” Tetapi aku salah. Setelah beranjak mendekati seekor monyet yang tidak melepaskan pandangannya dari kami dan mencoba untuk mengambil sebuah foto selfie dengannya kami pun diserbu dengan geraman yang mengerikan.

Kami begitu terkejut dan dengan cepat menjarakkan diri dengan monyet itu lalu melanjutkan petualangan kami. Kami berpergian ke taman itu dengan masing-masing membawa tas selempang kecil untuk menyimpan barang-barang penting kami. Tidak salah lagi kalau tas kami-lah yang membuat seekor monyet menyerbu kami ketika menuruni tangga yang cukup curam. Kami sadar bahwa setiap monyet yang nongkrong di samping tangga itu mulai mendekati sembari menggeram.

Kami dirasuki oleh ketakutan yang hebat dan lari terbirit-birit dari monyet yang kian mengejar tas kami. Aku tidak menyalahkan ibu pemilik warung setempat untuk tertawa karena momen itu pasti akan membuat siapa pun terbahak. Ia menjelaskan, “itu karena tas-tas kalian!”

Tas.. what?? Sedihnya pada saat itu aku masih belum bisa memahami Bahasa Indonesia dengan lancar. Tetapi pengalaman hari itu benar-benar tak terlupakan. Tak kusangka dalam hidupku aku akan bercengkraman dengan seorang gadis Perancis yang kutemui saat makan malam dan saling melindungi diri dari monyet yang mengerikan.

-Nad, Mahasiswa Swinburne University

Dear BUSET, teman sejati itu benar-benar ada

Sekali waktu ketika matahari yang bersinar hangat tak mampu menemani aku yang tengah menangisi kepedihan hatiku, semesta menunjukkanku arti pertemanan. Dingin, itulah yang kurasakan di dalam bilik kamar mandi sekolah siang itu.

Tembok-tembok tinggi menutupi pilu raungan isakku yang bergema dalam kedinginan ruang kecil itu. Teriakan demi teriakan diiringi rintik air mata yang mulai mengabuti pikiranku hingga ragaku berpasrah pada depresi yang telah lama kupelihara. Aku kian memukul dinding-dinding yang menjulang di sekitarku seolah-olah merekalah pemeran utama di balik depresiku. Aku merasa mulai menggila setelah beberapa lama yang terasa seperti berjam-jam mengunci diri pada saat itu. Saat itu terbesit dalam diriku rasa takut akan diriku sendiri – akan kemampuanku menyakiti dirku sendiri.

Tak membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkan kembali diriku yang terserak berantakan dan mendatangi kelas terdekat. Di dalam aku melihat teman-teman terdekatku tengah berkumpul bersama. Bertahun-tahun lamanya aku mengasah kemampuanku menutupi semua kegelapan batinku dari orang-orang di sekitarku. Namun, meski aku terus berusaha menutupi segala kejadian di kamar mandi dengan sebuah senyuman mereka berhasil mengetahui.

“Kamu kenapa?” yang dengan lembut teruntar dari temanku berhasil memecahkan segala upayaku. Aku tak kuasa menahan diri dan sembari menangis menunjukkan titik lemahku di depan teman-temanku. Segala rahasia gelapku akan persahabatanku dengan depresi terbuka.

Aku begitu takut menghadapi reaksi teman-temanku akan semua yang terluntar dari bibirku tak menyangka mendapati diriku disambut dengan dekapan tangan-tangan temanku. Hatiku luluh menatap mereka yang ikut meneteskan air mata akan duka yang telah lama melukaiku. Satu persatu dari mereka dengan tulus menunjukkan kekhawatiran mereka akan kesejahteraanku. Hari itu menyadarkan keberuntunganku untuk memiliki teman-teman yang mau berbagi tidak hanya suka tetapi duka denganku.

Aku kembali diingatkan bahwa aku tidak perlu menderita dalam kesedihan sendiri dan aku selalu memiliki teman-temanku yang siap membantuku kembali bangkit tiap kali aku jatuh.

-Eva van Dijck, Graduate

Dear BUSET, teman tapi mesra tapi gagal

Aku tentunya punya suatu cerita seru untuk dibagikan kepada kawan-kawan BUSET. Salah satu kenangan yang tak pernah bisa aku lupakan adalah dengan seorang teman perempuan saya di bangku SMA. Aku dulu sangat… SANGAT menyukai gadis terebut.

Tak kuasa menahan emosi diri aku pun akhirnya mengencaninya selama sekitar dua atau tiga bulan. Tetapi menerjang riuhnya tantangan dan permasalahan yang menghantam hubungan kami lama-lama terasa terlalu sulit untuk dilawan. Akhirnya, kami pun sepakat untuk berhenti dan tidak melanjutkan hubungan kami lagi.

Aku tidak tahu jelas alasanku tetapi hatiku masih tidak sanggup untuk melepaskannya begitu saja. Aku masih sangat menyayanginya dan aku sendiri yakin bahwa ia masih menyimpan rasa yang sama. Aku kian berpikir keras. Aku percaya dengan usaha yang besar aku bisa mengajaknya untuk kembali menjadi kekasihku. Aku pun mulai beraksi!

Berhari-hari merencanakan kejutan besar untuknya. Hal ini tidaklah asing lagi bagiku akan karakteristikku yang menjunjung tinggi romantisme dalam hubungan. Dalam bahasa asing aku bisa dibilang seorang hopeless romantic.

Pertama-tama, aku mengajaknya untuk nongkrong bersama-sama setelah sekian lamanya kami putus hubungan. Tanpa henti aku terus menemuinya hingga pada suatu waktu ketika kami sedang menonton film bersama ia mengatakan kepadaku, “coba kalau ada yang ngebuatin aku playlist lagu. Aku pasti senang banget.” Aku tidak tahu apabila itu semacam pertanda atau signal darinya untukku tetapi kata-katanya memberikan aku dorongan untuk mengabulkan keinginannya.

Pada akhirnya, saya menulis surat cinta, membuat playlist lagu asmara, dan membelikannya bunga mawar yang dikatakan ‘tidak akan pernah mati’ untuknya. Setelah semua pemberianku untuknya beres, aku pun meminta persetujuan ibunya karena hal ini akan aku laksanakan subuh. Kegelapan malam mulai berakir dan fajar akan segera muncul, yang berarti saat untuk mengejutkan cintaku telah datang. Aku bersama dengan seorang temanku mulai menyiapkan diri sejak jam tiga, tanpa henti. Dengan begitu hati-hati aku menaruh suratku bersama dengan bunga dan mixtape yang kubuat untuknya di atas wastafel kamar mandinya. Setelah semua tertata rapih sesuai rencana, aku menulis pesan cinta singkat pada cermin yang menempel pada dinding ruangan itu lalu pergi.

Ketika ia melihat kejutan pagi hari itu, ia lalu dengan panik memanggil teman yang membantuku membawa misi cinta sejatiku. Mengapa? kalian tanya. Karena pacarnya yang baru akan datang hari itu juga. Benar, ia sudah memiliki seseorang yang baru dalam masa-masa itu. Aku sendiri tidak tahu apakah pada akhirnya pacarnya tahu akan semua itu, tetapi yang aku tahu aku telah membuat harinya menjadi lebih menarik.

-Rizki Putra, Karyawan Retail UNIQLO

SELAMAT HARI PERTEMANAN SEDUNIA – 30 Juli 2020

Bintang