Dear Buset, Kenangan Perjalanan yang Tak’kan Kemana

PERJALANAN TAK BERENCANA KE ULURU

Rifki yang terlihat begitu gembira setelah 18 jam road trip

Cerita ini berawal dari saya yang baru menyadari bahwa 4 bulan lagi saya akan meninggalkan Australia dan saya belum pernah melihat salah satu tempat sakral dan salah satu ikon destinasi wisata Australia. September lalu, tepat 4 bulan sebulan sebelum saya pulang ke Indonesia, ide untuk melakukan road trip dari Adelaide ke Uluru muncul. Hal ini terdengar gila, karena perjalanan ini menempuh waktu kurang lebih 18 jam perjalanan darat dan itu berarti saya perlu berpikir dimana saya harus bermalam karena perjalanan ini tidak bisa dilakukan sekaligus. Jadi semua itu tidak direncanakan secara matang, hanya karena berpikir bahwa tidak mau kehilangan momen maka dari itu nekat untuk beli tiket ke Adelaide 2 hari sebelum keberangkatan.

Hari itu tiba, ini berarti ‘the journey begins’. Saya pria 27 tahun yang dikenal sebagai sosok yang random di saat berlibur karena ide liburan bisa datang tiba-tiba dan berlibur tanpa perencanaan yang matang. Termasuk keinginan untuk road trip ini, saya sadar betul bahwa road trip itu butuh kendaraan tapi saya belum booking kendaraan sama sekali.

Maka dari itu saya cari mobil tepat di hari dimana saya memutuskan untuk berangkat ke Uluru. Mengingat saya butuh tempat menginap di tengah perjalanan, saya booking akomodasi di jalan menuju ke uluru. Lalu di Ulurunya? Saya berpikir ‘itu sih belakangan’.

Kerandoman ini terkadang menjadi sesuatu yang berkesan saat memutuskan untuk jalan-jalan, namun saya juga tahu bahwa ini bisa jadi boomerang. Voila! Sebelum jalan saya sudah kena batunya duluan, jadi mobil yang saya booking itu tidak bisa digunakan untuk road trip berbeda ‘state’ alhasil harus mencari kembali perusahaan yang bisa sewa untuk traveling berbeda state dan selang satu jam saya sudah dapat mobil untuk jalan di hari tersebut.

Perjalanan pun dimulai, selama menunggu mobil dipersiapkan oleh perusahaan sewa mobil aku menemukan lokasi bernama Coober Pedy. Coober Pedy berada kurang lebih di tengah-tengah perjalanan dan kebetulan juga di sana ada penginapan maka dari itu saya memutuskan untuk menginap. Perjalanan ke Coober Pedy kurang lebih selama 8-10 jam.

Tempat ini dulunya dijadikan tempat penambangan Opal. Nah karena tempatnya yang super panas saat musim panas, jadi masyakaratnya membangun rumahnya di bawah tanah. Jadi tidak heran kalau saat berkunjung ke Coober Pedy, akan banyak gundulan seperti bukit yang didalamnya itu adalah rumah.

Sesampainya di sana jam 10 malam pertualangan belum berakhir, disana tidak ada signal, hanya satu provider telepon seluler yang berfungsi jadi kondisi ini membuat saya harus izin untuk meminjam telepon seorang bapak penjaga convenient store untuk menelpon sang pemilik akomodasi. Beruntung dipertemukan dengan bapak pemilik convenient store itu dan juga pemilik akomodasi yang baik, karena saya dijemput di lokasi saya berada agar tidak nyasar dan bisa istirahat.

Hari berikutnya, saya sudah siap pagi-pagi untuk bergegas ke melanjutkan 8 jam perjalanan menuju Uluru. Tempat ini merupakan sebuah tempat sakral bagi para suku aborigin.

Bagi saya, mengunjungi tempat ini akan menjadi momen yang berharga. Sesampainya di sana, saya terpesona dengan gagahnya uluru. Sayang saat saya datang kesana masih banyak turis yang mencoba menaiki Uluru. Uluru ini berada di sebuah kawasan taman nasional dimana tidak hanya aset sakral, didalamnya terdapat museum mengenai perjuangan suku aborigin dan workshop lukisan khas yang dilakukan langsung oleh suku asli aborigin.

Mengunjungi tempat ini membuka mata saya bahwa tidak melupakan suku asli dan memberikan mereka hak untuk berkarya sangatlah penting karena mereka lah yang memiliki tanah Australia. Hari menuju malam dan saya baru ingat bahwa saya belum memiliki tempat bermalam, saya mencoba mencari online dan menelpon beberapa akomodasi kelas backpacker namun sudah penuh. Sempat berpikir untuk pulang, tapi tidak mungkin karena sudah larut malam dan saya tidak sanggup lagi untuk berkendara 18 jam secara langsung.

Alhasil, saya memutuskan untuk tidur di mobil di sudut parkiran sebuah kompleks resor. Ada rasa takut kena denda atau yang lainnya tapi parkir tersebut gratis, jadi seharusnya aman-aman saja jadi tidur lah saya di mobil. Sebelum tidur saya menumpang mandi seadanya di toilet umum dan membeli makanan di convenient store yang ada.

Saya memutuskan untuk beristirahat sebelum berkendara pulang 18 jam ke Adelaide. Puas sekali rasanya mendapat kesempatan bisa “menghilang” dan menjadi spontanious dalam trip ini.

Dari mulai sewa mobil dadakan, baru sadar bahwa hanya ada 1 penyedia layanan seluler yang aktif, dan pengalaman tidur di mobil serta mandi di toilet umum. Trip ini tidak akan berkesan tanpa pengalaman ini. Kalian bisa cek video tripnya di Youtube saya : https://youtu.be/xP5urclNLRk !

-Rifki Bajry, Graduate Monash University dan Travel Blogger

DRAMA TAKSI DI KAZAKHSTAN

Dylan (kedua dari kiri) bersama teman-teman barunya

Almaty adalah sebuah kota yang terletak di daerah yang sangat strategis dengan begitu banyaknya trip perjalanan seharian penuh atau yang perlu menginap yang fantastis. Dalam petualangan itu kita diberikan kesempatan untuk menjelajahi keagungan alam negara Kazakhstan.

Sebagian besar negara yang menakjubkan ini terdiri dari stepa bergulir sehingga dijuluki ‘tanah stepa besar’.

Wilayah Almaty di bagian tenggara negara dihiasi dengan begitu banyak pegunungan dan taman nasional. Daerah tersebut dikenali oleh orang-orang lokal sebagai ‘Zhetisu’ yang berarti ‘tanah 7 sungai’.

Perjalanan paling umum yang dapat Anda lakukan adalah ke Shymbulak atau danau yang terletak dekat bernama Danau Big Almaty yang adalah destinasi dari petualanganku.

Setelah sarapan pagi yang memuaskan di hotel saya, Hotel Uyut, saya menggunakan aplikasi ‘Yandex Taxi’ untuk memesan tumpangan ke Taman Presiden yang cukup jauh letaknya. Taksi Yandex pada dasarnya serupa dengan tumpangan Uber atau Grab tetapi versi Rusia. Jujur saja, menumpangi taksi di Kazakhstan kerap menyebalkan. Di negara lain, aku percaya bahwa aku mampu berkeliling dengan menumpang kendaraan-kendaraan orang lokal yang dikenal dengan hitchhiking. Sayangnya, orang-orang di Almaty kerap memperlakukan orang sebagai target rampok maka dari itu saya tidak memiliki pilihan lain selain memesan taksi.

Perjalanan saya kali itu berharga 970 Tenge atau 3,50 dolar Australia. Saya cukup puas dengan perjalanan saya untuk berani merekomendasikan Taksi Yandex kepada siapa pun yang ingin berpergian di negara ini termasuk Rusia. Salah satu kesenangan tersendiri yang saya alami di Almaty adalah untuk mendapatkan kesempatan yang istimewa untuk menggunakan sistem bus kota mereka yang begitu hebat dan membawa diri saya ke pegunungan.

Hari sebelumnya, saya menunggangi bus nomor 12 menuju Medeu dan Shymbulak untuk melihat-lihat industri ski Kazakhstan yang sedang berkembang. Dari sini saya mengambil bus dengan rute 28 yang membawa saya sampai ke sebuah desa di pegunungan yang disebut Kokshoky. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar setengah jam dengan beberapa pemberhentian sepanjang jalan.

Sepanjang perjalanan saya dapat melihat pemandangan pegunungan Tian Shan yang menjulang dengan agung. Seperti semua bus di kota, tarif untuk setiap perjalanan adalah sekitar 150 tenge. Jadi, secara keseluruhan saya telah menghabiskan 4.15 dolar Australia. Lumayan kan?!

Danau Big Almaty berjarak sekitar 18 kilometer dan selama berbulan-bulan musim panas terdapat begitu banyak Marshrutka dan taksi yang menawarkan untuk membawa Anda sampai ke danau. Namun karena begitu, pada hari kerja di bulan April tidak ada banyak pilihan transportasi. Saya pernah membaca sesuatu entah dimana yang mengatakan bahwa harga terbaik untuk berpergian ke danau ini berkisar 100 hingga 2000 tenge sekali jalan. Jadi saya mencoba dengan segala kemampuanku pada hari itu untuk hitch hiking. Setelah beberapa kilometer berjalan kaki di pinggir jalanan dan hanya mendapati banyak sekali tolakan, ada yang mau menjemput saya. Hore! Itu adalah mobil dari empat orang Kazakh dari Ust-Kamenogorsk di bagian timur negara itu dan mereka berbicara Bahasa Inggris dengan cukup baik.

Empat pemuda yang mengendari mobil itu semua sebaya dengan saya dan adalah sepasang kakak beradik, sepupu mereka, juga teman terdekat mereka. Saya menawarkan diri untuk membayar mereka dengan uang seharga 2000 tenge atas kebaikkan mereka. Sesampainya di danau saya benar-benar merasa bahwa segala usaha yang saya curahkan untuk sampai pada titik itu terbayar sepenuhnya. Saya mengunjungi lokasi danau ketika permukaan air benar-benar beku meskipun suhu di Almaty lebih hangat. Keempat teman-teman baru saya juga dengan saya sendiri mengambil beberapa foto juga berjalan-jalan di atas danau!

Saya banyak membaca cerita mengenai perlunya paspor Anda di daerah ini dikarenakan lokasinya yang begitu dekat dengan Kirgistan. Sehingga siapa pun yang berpergian ke danau itu harus berhati-hati untuk dengan tidak sengaja melwati batas dan memasuki area Kirgistan.

Terlebih lagi aku banyak mendengar anggota-anggota militer di daerah tersebut yang kerap mengintimidasi orang asing untuk membayar mereka. Untungnya cerita itu hanyalah mitos belaka. Selama aku berjalan-jalan di sekitar danau, aku menemui sekelompok turis dari India dan saya akhirnya mengobrol ria dengan grup itu mengenai India, Australia, dan Kazakhstan.

Waktu terbaik untuk mendatangi danau ini adalah memang setelah musim panas ketika danau berwarna biru muda hampir biru kehijauan. Maka dari itu, saya berencana untuk kembali lagi ke Danau Big Almaty lain waktu di masa depan.

-Dylan Vienet, Mahasiswa RMIT University dan Travel Blogger

SEJUK DI SALATIGA

Emily (tengah, meminum segelas jus) menikmati makan siang bersama teman-temannya di Salatiga

Setiap kali seseorang meminta saya, “Emily, pengalaman perjalanan apa kesayanagn kamu”? Saya akan berjawab, “perjalanan saya ke Salatiga!” Seringkali, respon mereka adalah “Mengapa? Kota Salatiga sangat kecil!” atau bahkan “Dimana Salatiga?”

Salatiga memang kecil, tetapi kenangan saya di sana tidak bisa terlupakan. Salatiga adalah kota kecil yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun 2018, saya berkesempatan pergi ke Salatiga untuk mengambil kursus Bahasa Indonesia selama enam minggu lewat ACICIS, sebuah organisasi yang didirikan di Australia untuk mengirimkan siswa pada pertukaran ke Indonesia.

Hal pertama yang saya perhatikan di Salatiga adalah cuaca yang sejuk dan udara yang segar. Kalau Anda sudah pernah pergi ke Salatiga, Anda akan tahu perasaan itu. Kota Salatiga dikelilingi pengungunan, jadi cuaca selalu sejuk. Saya sangat beruntung tinggal dengan homestay saya, Ibu Lucy.

Kami tinggal di depan sawah, dan setiap pagi hari saya bisa menikmati cerahnya mentari pagi yang menambah pesona indahnya kota Salatiga. Sebagai seseorang yang selalu tinggal di kota ramai, perjalanan ini mengingat saya fokus pada alam.

Pengalaman yang paling berkesan adalah saat pertama kali berenang di air terjun. Pada akhir minggu, teman-teman dan saya tidak ada kelas, jadi kami pergi ke air terjun Kalipancur. Air terjun ini letaknya sedikit tersembunyi sehingga sulit dijangkau. Kami perlu berjalan melewati 800 anak tangga– sangat melelahkan, tapi pemandangan di sana luar biasa! Tidak ada orang yang lain di sana, jadi kami berenang di air yang dingin sekali, mendengar suara-suara air mengalir dan burung berkicau. Rasanya seperti kami memiliki pegunungan untuk diri kita sendiri.

Perjalanan saya ke kota Salatiga juga ada tantangan dan pengalaman belajar. Suatu hal yang membuat saya culture shock adalah budaya pendidikan di sana. Contohnya, kalau di Indonesia, mahasiswa harus berpakaian rapi, seperti baju berkerah, sepatu, dan celana panjang. Sedangkan di Australia, saya selalu berpakai kaos dan sandal. Saya masih ingat dua hari sesudah berkuliah di Salatiga, saya kehabisan pakaian yang cocok untuk kampus. Jadi saya harus pergi “emergency shopping” – saya pergi ke toko Batik untuk membeli beberapa baju batik  – saya suka menamakan baju itu “investment pieces”!

Ada banyak aspek positif dari perjalanan saya ke kota Salatiga. Misalnya, saya belajar hidup mandiri dan bertemu banyak teman-teman. Kota Salatiga juga mengajari saya menghargai alam dan mengalami budaya pendidikan yang berbeda. Tidak heran perjalanan saya ke Salatiga memiliki tempat istimewa di hati saya!

-Emily Heng, Graduate Monash University dan Koordinator AIYA

bintanghttps://benedictabintangz.carrd.co/
A born and raised half Bataknese and Javenese who can never live her life without doing anything art related!

Discover

Sponsor

Latest

Waspada Coronavirus!

Wabah coronavirus yang berasal dari Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok ini, telah menyebar keluar hingga ke Amerika Serikat. Baca artikel berikut untuk...

ModCon (Modern Conference) Digital Arts Competition 2017

Salam Hangat dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta! Kedutaan Besar Australia dan Pop Con Asia mempersembahkan: "ModCon (Modern Conference) Digital Arts Competition 2017" dengan mengangkat tema “#AussieBanget”. Kompetisi ini terbuka secara...

Asah Kemampuan Berbahasa Indonesia Lewat Pidato

Untuk keempat kalinya, NAILA (National Australia Indonesia Language Awards) kembali hadir mengajak para warganegara Australia dan pemegang status penduduk tetap Australia yang belajar Bahasa...

Kompetisi Film Pendek dan Festival ReelOzInd

Australia Indonesia Centre sangat bersemangat untuk meluncurkan ReelOzInd! Kompetisi Film Pendek dan Festival. Submissions are now open! Closing on 18 July 2016. Festival ini unik. Tidak...

HARMONY DAY EVENT REGISTRATIONS NOW OPEN!

THE HON ALAN TUDGE MP MINISTER FOR CITIZENSHIP AND MULTICULTURAL AFFAIRS  MEDIA RELEASE   6 February 2018   Community groups are being encouraged to support a Harmony Day event, as...