Dear BUSET, Jolly Holy Christmas

Desember, sayangnya bukanlah bulan favoritku

Bulan Desember sebenarnya termasuk bulan yang paling hectic untuk aku, terutama ketika sebelumnya aku adalah seorang mahasiswa yang turut bekerja paruh waktu dalam bidang hospitality. Jadi, di saat semua orang berlibur pada bulan itu aku sibuk bekerja. Sebenarnya, aku secara pribadi pun tidak merayakan Natal tetapi karena beberapa dari kenalan dekat orang tuaku di Melbourne merayakannya aku pun mau tidak mau nimbrung acara kebersamaan mereka.

Sukma Dewanti

Keluarga yang bertahun-tahun dekat dengan orang tuaku ini adalah orang-orang blasteran Syria dan Australia. Jadi, selama Natal aku pasti berusaha untuk mengambil libur dari pekerjaanku agar dapat menghadiri acara perayaan keluarga mereka – sembahyang di Gereja Coburg, berkunjung ria ke tempat saudara-saudari mereka, atau kadang pun kami berpiknik atau bbq bersama di Pantai Sandringham.

Rasanya menyenangkan untuk merayakan Natal, yang adalah hal yang baru bersama mereka. Dengan begitu aku bisa lebih merasakan kehidupan dan kebudayaan manca negara. Kalau dengan bahasa zaman sekarang – vibe-nya beda banget!

Selain itu, mereka di rumah terbiasa berbicara dengan Bahasa Arab dengan satu sama lain. Setiap kali aku menemui mereka di rumah atau pun dimana pun mereka berada, mereka selalu mengaluni kegiatan-kegiatan mereka dengan lagu-lagu kristiani dalam Bahasa Arab. Hari Natal juga selalu ditemani dengan fruit cake buatan mereka selain makanan-makanan tradisional dari Timur Tengah seperti Salad Taboulli, Zaatar, dan lain-lain. Tidak hanya itu, tetapi selama perayaan itu aku juga harus Skype-an dengan keluargaku di Bali sehingga mereka dapat ikut merayakan Natal dengan kami – bernyanyi-nyanyi bersama, mengobrolkan kabar-kabar selama Natal sebelumnya, saling mengucapkan ucapan Natal dan tahun baru.

Tradisi keluargaku pada musim Natal

Kami bersama-sama sebagai satu keluarga pada biasanya pergi ke gereja untuk merayakan malam Natal juga hari Natal itu sendiri. Memeriahkan kebahagiaan Hari Natal pula, kami pun memiliki tradisi kecil yang telah berlangsung sekitar empat tahun. Kami akan membeli dari tempat grosir di daerah Tangerang dan mempersiapkan beberapa sembako atau bahan-bahan makanan pokok sejak sebulan sebelum bulan Desember. Sembako tersebut kami kemas dengan sepenuh hati untuk nantinya kami bagikan kepada para pekerja kasar seperti tukang sapu, tukang sampah, dan buruh bangunan. Terkadang isi dari sembako tersebut terdiri dari susu, mie telur, gula, minyak goreng, terigu, kopi, juga hal-hal kecil seperti makanan-makan ringan atau bumbu-bumbu penyedap rasa.

Valencia Fandrika, alumnus Monash University

Aku bersama keluargaku pun secara pribadi membagi-bagikannya kepada mereka yang membutuhkan hingga semua habis. Tujuan kami melakukan semua ini dan menjadikan kegiatan ini sebagai tradisi keluarga kami setiap Natal agar menjadi tanda bagi kami untuk tetap bersyukur akan segala hal yang ada di dalam hidup kami. Terlebih lagi untuk mengenang anggota keluarga kami yang sudah mendahului kami.

Dengan sembako-sembako ini, aku dan keluargaku berharap untuk memenuhi nilai yang tak hentinya kami tanamkan di dalam jiwa keluarga kami yaitu saling membantu dan melengkapi mereka yang membutuhkan dengan segala kemampuan kami. Terkadang, tidak hanya pada perayaan Natal saja tetapi kami pun kerap membagikan sembako-sembako ini pada saat Idul Fitri bersama anggota-anggota keluarga besar dari sisi ibuku atau ketika salah satu dari anggota keluarga kami tengah merayakan hari ulang tahun mereka.

Aku mencoba untuk menyukai Desember kembali

Desember secara garis besar adalah waktu yang tidak pernah aku nikmati, bahkan hingga detik ini. Ketika aku masih kecil, aku selalu diseret keluargaku untuk berkunjung dari satu tempat ke tempat yang lain selama musim Natal. Sebagian besar, kami mengunjungi anggota-anggota keluarga dari pihak ayah tiriku yang jujurnya tidak pernah benar-benar dekat denganku. Karena hanya inilah tradisi yang berlangsung selama sebagian besar bulan Desemberku, aku pun mulai membenci bulan tersebut.

Dalam kata lain, musim Natal menjadi terasa seperti sebuah kewajiban. Karena pengalaman-pengalamanku akan musim Natal seperti itu, dalam hatiku tetap tertinggal kepahitan yang tidak enak setiap kali aku bernostalgia akan Bulan Desember. Namun, aku pun menyadari bahwa sejak dahulu satu-satunya hal yang konstan dalam setiap perayaan Natal ini adalah kehadiran keluargaku. Untuk itu, aku menanggap diriku sangatlah beruntung. ‘Terlebih lagi sekarang! Aku tidak akan dapat menjadi diriku yang hebat seperti hari ini tanpa ibu dan kakakku terutama. Saya pun menghargai setiap hari yang aku habiskan bersama keluargaku. Waktu apa yang lebih tepat untuk menunjukkan rasa syukurku akan keluargaku selain waktu Natal? Perlahan tapi pasti, aku belajar untuk selalu menantikan musim Natal. Lalu, seperti biasa aku memiliki keluargaku bersamaku!

Kyle Kelly

bintanghttps://benedictabintangz.carrd.co/
A born and raised half Bataknese and Javenese who can never live her life without doing anything art related!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

PAMER KECANTIKAN, INDONESIA DILIRIK WARGA LOKAL

Dicintai bukan hanya oleh warganegara yang mendiaminya, namun juga oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia. Betapa tidak? Kekayaan yang dimiliki oleh Tanah Air seakan...

LAPOR DIRI

Sebagaimana diatur dalam Pasal 18 (3) Undang-Undang (UU) No. 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, setiap Warga Negara Indonesia (WNI) yang tengah berada di...

Tompi Angkat Bicara Soal Skill Dan Dukungan Keluarga

“Semua orang itu butuh kesempatan. Tidak akan bermakna apapun yang namanya talenta kalau gak ada kesempatanan, karena gak sempat di-explore menjadi karya.”Buset Magazine mendapatkan kesempatan untuk...

Capital Gain

Capital gain atau capital loss, merupakan perbedaan atas jumlah biaya yang terjadi untuk  memperoleh, memelihara dan memperbaiki (merenovasi) properti sewaan, dengan jumlah yang Anda...

MERAWAT KERAGAMAN BERSAMA WIMAR WITOELAR

Wimar Witoelar, seorang pengamat politik yang juga ialah mantan juru bicara Presiden Abdul Rachman Wahid bertemu dengan warga Indonesia di Melbourne November silam. Kehadirannya...