Dear BUSET – Horror edition

DEAR BUSET, Untung Ayahku Bisa Membantu

“Pada tahun 2017 lalu, aku tinggal berdekatan dengan seorang tetangga yang kita sebut saja sebagai Ibu Ketut. Ibu ‘Tut tinggal di dalam sebuah rumah kecil yang ia kontrak bersama suaminya. Ia hanya tinggal berdua di dalam rumah itu karena ia masih belum memiliki seorang anak pun. Tetapi setelah beberapa lama, mereka memutuskan untuk pindah ke rumah di seberang mereka yang ukurannya jauh lebih besar.

Agus Widhidarma – Mahasiswa The Hotel School University dan Academia21

Singkat cerita lewat beberapa waktu, suami Ibu ‘Tut mendapatkan pekerjaan sebagai seorang petugas keamanan di suatu tempat swalayan. Karena pekerjaannya itu, ia kerap akhirnya tiba di rumah larut malam pula. Suatu ketika kaki suami Ibu ‘Tut mulai kesakitan tanpa sebab dan tak kunjung sembuh bahkan setelah beberapa kali pengobatan. Dokter-dokter yang mendiagnosa kondisi suami Ibu ‘Tut sebagai gejala asam urat, tetapi semakin penyakitnya memburuk semakin gejala yang ditunjukkan tidak terlihat sebagai asam urat.

Aku bersama ayahku memutuskan untuk mengunjungi Ibu ‘Tut bersama suaminya sebagai tanda silahturami. Ayahku yang kebetulan juga pernah mempelajari ilmu kesehatan tradisional dharma usada aku bujuk untuk membantu. Awalnya ayahku segan untuk membantu tetapi setelah beberapa rayuan dariku, ia pun mau membantu. Ayahku tetap tidak lepas dari proses penyembuhan medis sebelum memeriksa kondisi suami Ibu ‘Tut dengan ilmu spiritualnya.

Tetapi setelah didiagnosa kembali oleh ayahku hanya dengan sebatang korek api dan tenaga dalamnya, ia menemukan bahwa suami Ibu ‘Tut seperti ini dikarenakan seseorang yang usil.

Aku bersama ayahku lalu mengunjungi rumah tempat tinggal mereka untuk melihat sumber penyebabnya. Ayahku lalu menemukan dan berkoneksi dengan arwah yang dulu menempati rumah tersebut. Arwah tersebut adalah seorang sosok ibu guru Bahasa Jepang yang berbicara dengan ayahku melalui media kucing! Lucu ya? Setelah lama berbicara dengan ibu guru tersebut, ayahku dijelaskan bahwa orang yang mengusili Ibu ‘Tut melemparkan tanah kuburan ke dalam area rumah tersebut.

Ibu ‘Tut memang sudah membersihkan rumah tersebut baik secara fisik maupun tradisi keagaman Hindu, tetapi beberapa saat sebelum Ibu ‘Tut menempati rumah itu seseorang telah melemparkan tanah kuburan yang dibungkus dengan kain putih juga berisi rajahan tulisan aksara suci. Itulah mengapa kaki suami Ibu ‘Tut mengidam penyakit yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit.

Arwah ibu guru tersebut juga menambahkan bahwa selama tinggal di dalam rumah itu, Ibu ‘Tut harus memberikan hormat terhadap penjaga rumah yang tinggal di pohon kecil di belakang rumah. Ia lalu menyarankan Ibu ‘Tut untuk menyiapkan haturan banten beserta segala snack dan kopi bagi penjaga tersebut. Kembalinya dari rumah itu, ayah langsung menyembuhkan suami Ibu ‘Tut secara tradisional dan menyampaikan semua penjelasan serta saran dari arwah ibu guru tadi. Ibu ‘Tut pun kembali tinggal di dalam rumah itu sebelum akhirnya pulang kampung karena suami dari ibu guru Bahasa Jepang yang telah meninggal kembali.”

Dear BUSET, Jangan Pernah Ikutan Arisan Ya?

“Cerita ini terjadi pada tahun 2007 lalu. Pada tahun ini, ada orang yang tidak menyukai keluargaku. Jadi, ibuku bersama ibu-ibu yang lain menyelenggarakan komunitas arisan. Sistem aktivitas arisan memang pada dasarnya adalah pinjam-meminjam uang di antara para anggota.

Pada suatu waktu ada sepasang ibu yang tidak bisa membayar kembali hutang yang mereka telah dapatkan dari pertemuan arisan. Karena ibuku adalah ketua arisan, ia pun tak hentinya menagih karena itu termasuk uang dari anggota-anggota arisan. Pada saat itu aku masih menduduki bangku kelas satu SMP dan sangatlah aktif dalam kegiatan-kegiatan sekolah termasuk ekstrakurikuler Peleton Inti (TONTI).

Tetapi anehnya, walaupun hanya baru beberapa kali aku mengikuti ekstrakurikuler ini aku mulai menjadi mudah untuk kecapekan dan kesakitan. Sakit yang aku alami tidak hanya sekedar demam tetapi diikuti dengan muntah-muntah dan gejala yang tidak mengenakkan lainnya. Anehnya, aku hanya jatuh sakit pada malam hari dan keesokan paginya pun menjadi sembuh kembali.

Karena penyakit ini berat badanku turun dengan begitu drastis hingga hanya berkisar 20 kilogram. Dokter-dokter pun pada saat itu tidak bisa membantu karena menurut diagnose mereka apa yang aku alami tidak masuk akal. Orang-orang pintar dari mana pun tidak ada yang mampu untuk membantu dan hanya menyakitkanku lebih dalam dengan ritual-ritual ruqiah yang mereka lakukan padaku.

Ayah pun meminta bantuan dari pamanku yang memiliki indra keenam sebagai solusi terakhir. Setelah memijakkan kaki di dalam rumah pamanku langsung merasakan aura yang aneh dariku dan bisa langsung menjelaskan bahwa aku pada saat itu tengah terkena santet. Paman pun menyelediki lebih dalam dan mengatakan bahwa santet ini mulanya ditujukkan kepada ibuku tetapi tidak menempel karena ibuku memiliki sosok yang menjaganya dengan ketat.

Tetapi karena tidak ada yang menjagaku secara spiritual, aku pun menjadi sasaran empuk. Ibu pun dianjurkan untuk melakukan ritual kejawen untuk menghilangkan santet yang menempel padaku. Tak lama setelah ritual itu aku pun sembuh! Ibu dan kakakku pun mengatakkan padaku bahwa selama masa santet ini mereka banyak diganggui oleh sosok-sosok makhluk halus seperti pocong atau suara-suara bising semacam tengah di pasar walau sudah jam dua subuh. Ngeriiiiii!”

Maya W., graduate Monash University

Dear BUSET, I Wish I had Amnesia

Aku ingin cerita mengenai pengalaman mistis yang pernah terjadi dan tidak pernah bisa aku lupakan. Kejadiannya terjadi ketika aku masih duduk di bangku kuliah Ilmu Komunikasi di salah satu universitas swasta di Jakarta sekitar tahun 2011. Saat itu, aku kuliah di semester 6 dan terlibat di salah satu organisasi program Ilmu Komunikasi dan mengadakan Malam Keakraban di Cibulan. Persiapan beberapa bulanpun dilaksanakan sesuai dengan rencana. Pada malam kejadian, kami mengadakan sebuah acara Treasure Hunter yang memang kami modifikasi untuk lebih mengakrabkan mahasiswa satu dengan yang lainnya. Kira-kira pkl 11.50, acara selesai dan kami meminta mahasiswa baru saat itu untuk ke tempat tidur.

Namun, panitia mengadakan rapat untuk menjalankan acara dadakan yang tidak ada di jadwal mereka. Selain itu, banyak sekali masalah kecil seperti merokok sembarangan, membuang pembalut tidak pada tempatnya dan masalah lainnya. Maka saat itulah kami memutuskan untuk segera membangunkan mereka kembali.

Mungkin sebagian besar dari panitia membangunkan mereka terlalu memaksa/dengan nada berteriak sehingga menga getkan seluruh mahasiswa tersebut dan menggiring mereka kembali ke lapangan untuk berkumpul. Tidak berapa lama, salah seorang mahasiswa (sebut mahasiswa A) yang berdiri di samping aku mukanya pucat pasi dan badannya gemetaran. Ketika ditanya mengapa, ia langsung berkeringat dan mulai menggerang. “Kesurupan!” kata salah satu senior aku.

Seketika itu juga aku tau, itu sudah bukan mahasiswa A lagi. Selang beberapa detik, tiba-tiba mahasiswa itu memarahi kami dengan Bahasa Sunda dan menunjuk semua teman-temannya. Mahasiswa kebanyakan takut dan berlari kesana kemari tidak karuan. Rupanya disaat mahasiswa A berlari tidak karuan, sosok tersebut pindah ke mahasiswa B. Aku sebagai panitia sempat tidak bisa bergerak dan bertanya-tanya, apa seperti ini orang kesurupan? Tapi beberapa mahasiswa tersebut berlari kearah aku dan bersembunyi di belakang aku.

Banyak dari panitia berusaha untuk menangkap mahasiswa A dan B sedangkan yang lain berlari mencari perlindungan ke tempat lain. Aku dan 5-7 orang lainnya, segera menuju ke Aula. Tapi salah seorang mahasiswa (sebut saja Mahasiswa C) yang bersama dengan aku juga tiba-tiba kesurupan. Dia kemudian menunjuk teman lainnya dan mengatakan “Baju merah” sehingga menimbulkan kepanikan karena pada saat itu, ada sekitar 4-6 orang yang menggunakan jaket berwarna merah. Jumlah orang yang ada pada saat kejadian itu kurang lebih ada 70 orang, Jadi bisa kita bayangkan betapa chaos nya saat itu.

Tidak hanya tiga mahasiswa tersebut, ada beberapa yang tidak sadarkan diri karena tidak percaya akan adanya hal tersebut. Mereka juga kami pisahkan dari yang lain karena kami nilai ‘riskan’ untuk kena tempel. Selang beberapa menit, pawang datang dan berhasil mengeluarkan sosok tersebut dari tiga mahasiswa tersebut. Akhirnya pada malam itu, tiga mahasiswa yang terkena ‘tempel’ sosok tersebut, dipisahkan dengan yang lain di sebuah kamar dan dijaga beberapa orang senior.

Amelinda Devina Kelly, kru BUSET Magazine

Aku dan panitia wanita lain, pergi menemani sebagian mahasiswa lain kembali ke kamar untuk bersistirahat. Tapi karena banyak yang menangis dan tidak bisa memejamkan mata, maka aku pun berjaga hingga matahari datang. Menemani beberapa dari mereka untuk kembali tidur. Aku juga mneyempatkan diri untuk berkeliling dan menengok panitia lain sekiranya membutuhkan kopi/hal lain saat berjaga.

Ketiga mahasiswa bersangkutan rupa-rupanya masih kesurupan di dalam kamar tersebut. Ada beberapa foto di dalam kamar itu yang dipercaya adalah penjaga vila tersebut masuk ke Mahasiswa A. Sudah lebih dari 5 sosok yang masuk ke dalam tubuh mahasiswa ini. Termasuk foto sang penari. Mahasiswa A sempat menari beberapa menit sebelum akhirnya kembali sadar dan bisa tertidur. Wajahnya sudah bukan seperti ia lagi.

Paras wajahnya sudah sangat berbeda dari yang aku ingat. Benar-benar bukan pengalaman yang tidak bisa aku lupakan. Kurang lebih jam 7 pagi, banyak dari mahasiswa dan panitia yang bangun kembali dan bersiap untuk sarapan. Aku sendiri merasa ngantuk dan pusing, mungkin karena sudah dua malam berturut-turut aku tetap terjaga untuk acara ini. Aku yang sedang terduduk di dalam vila panitia, tiba-tiba merasa berat dan dalam sekejap semua gelap.

Begitu bangun, di samping aku, sudah ada junior dan pawang wanita yang memaksa aku untuk meminum air putih. Setelah meminum air putih tersebut, percaya tidak percaya, aku kembali fresh dan bisa terbangun dan terduduk di kasur panitia tersebut. Rupanya, aku juga kena ‘tempel’ sosok seperti macan. Aku bangun dengan kepala sangat berat dan merasa masih ada beban di pundak aku. Jari dan tangan aku merasa sangat lelah. Itu adalah hari yang tidak pernah bisa aku lupakan. Aku merasa lemah bahkan sempat tidak ada yang mau dekat dengan aku karena takut kena ‘tempel’. Beberapa teman mengatakan bahwa badan aku yang lemah menjadi target paling empuk bagi sosok tersebut untuk menempel.

Rupanya ketika aku kena tempel, mahasiswa A juga kena tempel lagi. Dan berakhir setelah ia memuntahkan semua makanan yang ia makan pagi itu. Karena aku adalah the only panitia yang kena tempel, maka aku dan tiga mahasiswa-mahasiswi lain pulang ke Jakarta terlebih dahulu dengan mobil pribadi. Sedangkan yang lain tetap melanjutkan acara seperti biasa untuk mencairkan suasana.

Sesampainya di Jakarta dan pulang ke rumah, aku mendapat SMS dari teman aku yang kebetulan saat itu bukan panitia dan tidak ikut dalam acara tersebut. Aku pun terheran-heran ketika membaca pesan darinya. Ia meminta aku untuk tidak keluar rumah besok karena ada sosok yang mengikuti aku. Tapi ia tidak bisa masuk ke rumah aku karena menurutnya, rumah aku ‘tidak kelihatan’ oleh si sosok ini. Dan itu adalah kepercayaan aku.

Keesokan harinya, aku memutuskan untuk tidak mengikuti saran dari teman aku dan tetap pergi ke kampus seperti biasa. Walaupun dengan kepala yang masih berat dan pikiran masih terbayang-terbayang dengan situasi di vila tersebut. Aku sempat memejamkan mata di dalam mobil dan mendapatkan mimpi yang kurang menyenangkan (mungkin karena memikirkan mengenai ucapan teman aku) sehingga akhirnya aku terbangun dan berusaha menahan ngantuk. Sesampainya di kampus, ada beberapa mahasiswa yang menanyakan mengenai kondisi aku karena mereka tau, aku juga kena ‘tempel’. Tapi beberapa senior yang ikut serta dalam acara tersebut juga menenangkan aku dengan menceritakan bagaimana aku kena tempel dan sosok tersebut adalah penjaga vila tersebut yang tidak bermaksud membahayakan siapapun hanya untuk mengingatkan untuk tidak kembali lagi ke sana.

Beberapa sosok yang masuk ke mahasiswa A, B dan C mengatakan melalui mahasiswa-mahasiswi tersebut akan beberapa hal yang tidak masuk akal, seperti meminta kami mengembalikan barang yang bukan milik kami (sampai beberapa minggu setelah kejadian, tidak ada seorangpun yang mengakui mengambil barang dari vila). Kemudian ada sosok yang meminta kami untuk mengorbankan mahasiswa A untuk tinggal di vila tersebut dan masih banyak hal lainnya. Selama kurang lebih seminggu, topik tersebut menjadi topik panas di kampus. Ada juga beberapa dugaan muncul bahwa ada mahasiswa dan panitia yang membunuh ular atau makhluk lain ketika sedang jalan-jalan di vila tersebut. Semua orang melihat aku dengan tatapan berbeda, mungkin ingin mendengar langsung dari aku megenai kejadian tersebut bahkan ada beberapa oknum yang membully aku dengan auman macan ketika aku lewat. Tapi aku sudah lelah dan berusaha melupakan hal-hal tersebut. Karena hingga sekarang, aku tidak pernah percaya malam itu terjadi and im not proud of it. I just wish I had amnesia.

Dear BUSET, Ada Yang Cebok-in Donk!

“Jadi ini adalah cerita dari nenekku. Dahulu ketika rumah eyang-eyangku, atau orangtua dari kakek-nenekku masih begitu jadul kamar mandi mereka terpisah dari bangunan rumah utama. Jadi untuk menuju ke kamar mandi siapapun itu harus berjalan melewati taman atau teras rumah di belakang. Nah, pada zaman itu pula sudah menjadi sebuah tradisi budaya untuk banyak anggota dari suatu keluarga tinggal di satu tempat tinggal yang sama. Ditambah lagi pada waktu itu pula semua orang masih berpakaian dengan begitu tradisional, dengan kain-kain juga kebaya harian. Karena itu, memang membutuhkan upaya yang lebih untuk membuang air kecil atau besar.

Diandra Priambodo, mahasiswa University of Melbourne

Jadi pada suatu ketika nenekku sedang bertengger santai di dalam rumah utama. Di tengah-tengah itu bibinya pergi ke belakang untuk ke kamar mandi. Tak lama setelah itu, bibi dari nenekku lari terbirit-birit kembali ke dalam rumah dengan muka pucat dan ketakutan. Nenekku pun langsung panik dan menanyakkan bibikku apabila ada masalah. Lalu, bibi-nya dengan nada ketakutan, “Tadi ketika bibi ke toilet ada yang cebok-in dari belakang.” Rumah nenek memang sudah terkenal banyak penunggunya tapi mendengar hal itu aku langsung bergidik ngeri!”

bintanghttps://benedictabintangz.carrd.co/
A born and raised half Bataknese and Javenese who can never live her life without doing anything art related!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Sutanto Mendut: Lestarikan Kesenian Tradisional Jawa Melalui Metode Kotemporer

“Allahuakbar! Tak tak gendendang det gerrrrr! Kling klong kling kling kling klong ning ing nong nong ning ning gerrrrrr!” Demikianlah suara-suara yang berkumandang di dalam...

SPRINGNATION 2019

CP:+61405227258 (Chelsea)+61413064309 (Jocelyn) Instagram klik disini

Bagaimana Cara Mengembangkan Agensi Desain dengan 3 Langkah Mudah

Mengembangkan bisnis lebih sulit daripada memulainya. Dan rasa-rasanya para pemilik bisnis paham benar persoalan ini. Tentu akan sangat menyedihkan, di saat Anda seharusnya mendapat...

PEDULI PAPUA BERSAMA DUBES MICHAEL MANUFANDU

Kunjungan Dubes Michael Manufandu ke Melbourne sekaligus bertemu dengan warga dan media untuk membahas mengenai perkembangan Papua dan Papua Barat. Acara yang diinisiasi AIJA...

Alun Alun 2017 CIPTAKAN SUASANA KAMPUNG HALAMAN

  Dekorasi bendera segitiga warna-warni dan anyaman bundar bermotif batik bergelantungan di langit gedung KJRI Melbourne. Hiasan yang diharapkan dapat membangkitkan mood para pengunjung ini...