David Bachsinar: Silat Lebih dari Sekadar Ilmu Bela Diri

0
643

Sungguh menarikmelihatbagaimana sebuah ilmu bela diri tradisional dari Kepulauan Melayu yang terkenal di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura dapat mengubah hidup seseorang yang lahir dan besar di benua berbeda.

David Bachsinar berupaya terus memperkenalkan seni bela diri silat kepada warga Australia

Itulah yang terjadi pada David Bachsinar, seorang pengusaha sukses dan sosok di balik Bach Commercial, sebuah perusahaan yang memproduksi peralatan sekolah dan perkantoransejak tahun 2005.Pria kelahiran Melbourne 37 tahun yang lalu ini mulai aktif berlatih silat sejak usia 16 tahun. Meski begitu di masa kecilnya, saat dirinya berusia 6 tahun, David sempat berlatih sebentar selama satu tahun.

Ia mengaku menyesal tidak meneruskan belajar silat sejak masih kecil. Meski menurut David dirinya terlambat aktif di dunia silat tapi toh ketekunannya selama lebih dari 20 tahun berlatih tetap memberikan dampak positif pada hidupnya. Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?

Gym pribadi tempat David berlatih silat yang baru jadi dan akan diberi nama Zero Point

“Walau begitu saya masih menikmati silat karena seni bela diri ini sungguh menantang. Darisilat, saya tahu bagaimana cara melindungi diri, menjaga kebugaran tubuh, dan menikmati berlatih sendiri,”ujarnya. “Silat sungguh mengubah hidup saya. Dari belajar silat, saya belajar juga tentang kehidupan–bagaimana cara menjalankannya beserta filosofi-filosofi yang terkandung di dalamnya,”tambah David.

Berkat Silat Bertemu Mentor Hidup

Kini David telah menjadi instruktur silat profesional dan akan segera membuka tempat berlatih silat yang ia namakan Zero Point. Berkaca dari pengalamannya, ia menyadari bahwa faktor guru menjadi begitu krusial. David merasa bersyukur karena bertemu dengan seorang pengajar silat sekaligus ketua dari Australian Pencak Silat Federation (APSF), Les Tayu Irawan, yang hingga detik ini masih merupakan salah satu teman terbaiknya. Pria berdarah Indonesia dan Inggris ini mengatakan pertemuannya dengan guru yang tepat adalah kunci ketertarikannya pada seni bela diri tersebut.“Andai saja bukan beliau yang dulu mengajar saya, ada kemungkinan saya tidak akan menyukai silat.”

Dua puluh tahun sejak pertemuan mereka, ayah dari seorang anak perempuan ini mengatakan masih rutin bertemu dengan Les setiap pagi untuk berlatih bersama. David berharap keuletan ini dapat membuahkan hasil ketikaia bertanding di APSF Australian Pencak Silat Championships 2018 pada 29 September mendatang dalam kategori Tanding (pertandingan antar dua orang menggunakan teknik silat) dan Tunggal (peragaan kemahiran silat secara solo).Mentor David lainnya di dunia silat salah satunya adalah Doug Hooi, pemilik Semeru Martial Arts School di Burwood dan merupakan kepala pelatih untuk APSFAustralian Pencak Silat Championshipsdi tahun 2016.

Bicara pencapaian, prestasi yang membanggakan dan penuh kesan bagi David adalah ketika memenangkan medali perunggu dalam kategori Tanding di Jakarta delapan tahun silam. Kala itu, di usianya yang menginjak30 tahun, ia dituntut untuk mengalahkan pesertayang berumur 23-25 tahun- lebih muda dan ditopang stamina.

Sang guru punmerasa bangga karena memiliki murid setekun David.“Dia sangat ulet dalam usaha bisnisnya dan menurut saya ini semua berkatketerlibatannya dan latihan-latihan yang ia dapatkan dari dunia bela diri. Saya sangat bangga melihat daya juangnya dalam hidup,”puji Les tentang anak didiknya. Ia pun menambahkan meski David telah memiliki banyak pencapaian membanggakan dalam dunia bela diri, namun ia tak berhenti memperdalam pengetahuannya di bidang tersebut.

Antara Silat dan Muay Thai

Tak hanya aktif di dunia bela diri silat, rupanya David juga serius mendalami muay thai. Bahkan ia sempat meraih peringkat pertama dalam turnamenWBC Victorian Title dan WBC East Coast Title.Lagi-lagi peran penting mentor tidak ia lupakan. Di dunia muay thai, David berguru pada Mark “Hammer” Castagnini, seorang mantan juara nasional Australia dan merupakan pendiri Hammer’s Gym di Blackburn.

Puluhan tahun terlibat di dalam kedua cabang olahraga tersebut, David dapat mendeskripsikan perbedaan dari muay thai dan silat. Menurutnya, silat merupakan seni bela diri yang lebih terbuka untuk masyarakat karena kemudahannya.

“Menurut saya, intinya, kedua olahraga ini melakukan hal yang sama. Yang berbeda hanyalah cara atau pendekatannya. Muay thai memiliki cara sangat spesifik dengan pedoman dan karakteristik tersendiri, sedangkan silat bersifat lebih artistik, sedikit lebih tidak agresif, dan lebih praktis digunakan,” ujar pria yang mendalami silat Domas dari Jawa Barat ini.

“Silat itu untuk siapa saja dan bukan hanya untuk atlet-atlet yang 100% berfisik kuat dan berbadan bugar seperti di muay thai. Untuk belajar silat, istilahnya Anda dapat mengunjungi pedesaan di Jawa Barat dan belajar dari orang-orang yang berumur 70 tahunan ke atas.”

Butuh Regenerasi

Sayangnya, perkembangan silat di Australia tidak sepesat yang terjadi di negara-negara Asia. Kesulitan pendanaan yang berdampak pada kurangnyakegiatan promosi,menurutnya menjadi salah satu akardari masalah tersebut.

“Saat ini, organisasi silat di Melbourne tidak memiliki banyaksponsor. Hampir setiap saat kami mengandalkan keuangan masing-masing. Sedangkan di saat yang sama kompetitor silat dari negara lain mendapatkan funding dari pemerintah mereka untuk berlatih dan bertanding.”

Melihat kesulitan yang ada, David berharap agar pengenalan seni bela diri silat di Victoria semakin berkembang dari waktu ke waktu hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu cabang seni bela diri di Australia.

“Kami dengan aktif selalu mempromosikan silat dengan meramaikan dan tampil di acara-acara komunitas Indonesia yang setiap tahun diadakan sepertiSatay Festival. Selain itu, kami juga akan menghadiri banyak kompetisi terkait silat seperti salah satunya Arnold Sports Festival tahun depan, yang akan dihadiri oleh ratusan ribu pengunjung,”beber David. “Di ajang tersebut, kami berencana untukmengundang pesilat dari Indonesia untuk mempertontonkan gerakan silat profesional kepada para ribuan orang yang hadir sebagai bentuk usaha publisitas.”

Ia pun berharap agarolahragapencak silat dapat terdaftar sebagai salah satu cabang olahraga di ajang bergengsi internasional yaituOlimpiade, sehingga dapat memperoleh perhatian khusus dari pemerintah Australia.Sebagai catatan, di ajang Asian Games 2018yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang Agustus ini, pencak silat baru akan dipertandingkan untuk pertama kalinya. Tentu ini juga menjadi kabar menggembirakan dan angin segar bagi para atlet pencak silat se-Asia – yang semoga juga disusul oleh Australia dan dunia.

Usahanya mempelajari silat dan kegigihannya memperjuangkan ilmu bela diri yang konon sudah ada sejak abad ke-4 ini agar semakin dikenal masyarakat Australia memang pantang padam. Karena baginya silat tak cukup dilihat hanya satu sisi saja, silat rupanya memiliki banyak lapisan yang menarik untuk dipelajari. “Dari silat, tidak hanya saya belajar tentang cara atau teknik membela diri, tapi juga tentang kebudayaan, lagu, penampilan, dan alat musik gendang. Saya bahkan dapat mempelajari kultur Ayah saya yang orang Indonesia darisilat,” tuturDavid.

 

 

 

 

Nasa