Saat kembang api tampak di langit tahun baru, di saat yang sama, lautan api juga menyelimuti berbagai daerah di Australia. Kebakaran hutan yang dimulai dari November 2019 dapat disebut sebagai salah satu yang terparah di sejarah Australia. Setiap menit kejadian ini telah diliput di media sosial, berita, serta menjadi topik pembicaraan di seluruh dunia. Menurut CNN, lebih dari 3,000 rumah telah ditelan api dan pemadam kebakaran dari Amerika pun datang membantu akibat tingkat kesulitan menampung kebakaran ini. CNN juga melaporakan bahwa kabut yang menyelimuti berbagai daerah terutama di New South Wales tercatat sebagai 11 kali lipat lebih hazardous dari tingkat standar.

Dengan kejadian seperti ini, apa yang akan berubah di industri properti Australia?

Pada tanggal 4 Februari, pihak dewan Reserve Bank of Australia mengadakan rapat pertama di tahun 2020 untuk membahas peraturan keuangan Australia. Sophie Foster dari realestate.com.au memperkirakan bahwa topik utama rapat tersebut adalah penurunan cash rate (suku bunga) menjadi 0.5 persen sebagai aksi untuk melawan dampak dari kebakaran ini. Jika ini terjadi, proses peminjaman dana di Australia akan lebih ringan, tetapi harga properti terutama di daerah yang tidak rawan bencana dapat meningkat secara kebersamaan.

Akibat banyaknya properti yang perlu dibangun kembali, infrastruktur akan semakin aktif. Dengan pembangunan rumah yang baru, kualitas rumah akan meningkat yang juga dapat kontribusi kepada peningkatan harga.

Penggunaan bahan-bahan pembangunan yang tidak mudah terbakar juga akan lebih diutamakan. Menurut Suburbanite, penggunaan materi yang tidak mudah terbakar dapat menambah harga pembangunan sebanyak 25%.

Dalam waktu dekat ini, kita juga dapat memprediksikan lebih banyak properti yang dijual di pasar properti, terutama di lokasi yang terletak di dekat tempat bencana karena pemilik-pemilik properti tersebut ingin meninggalkan daerah tersebut secepat mungkin. Meskipun yang dijual adalah perumahan baru, karena tempatnya berpotensi tidak aman dalam jangka panjang, Domain memperkirakan peningkatan harga properti akan melambat secara keseluruhan terutama di daerah yang berbahaya.

Dalam situasi seperti ini, peserta di pasar properti akan terbagi menjadi dua pihak. Pihak pertama akan menjauh dari daerah rawan bencana, sedangkan pihak kedua akan melihat daerah tersebut sebagai kesempatan emas untuk membeli. John Hilton dari yourinvestmentpropertymag.com.au berkata bahwa beberapa orang berpikir bahwa jika sudah terjadi kebakaran, maka kemungkinan kebakaran kembali akan lebih kecil.

Menurut Australian Financial Review, akibat ekonomi yang lebih kuat serta perkembangan populasi yang konsisten, peningkatan harga properti di Melbourne akan melebihi Sydney di 2020. Bencana ini juga menekankan fakta tersebut karena Sydney akan butuh waktu untuk penyesuaian sebagai kota yang paling terlibat di seluruh kejadian ini.

Alhasil, harga properti ada potensi untuk makin tidak terjangkau terutama bagi pembeli rumah pertama. Shane Oliver dari AMP Capitalpun berkata bahwa jika harga properti di Melbourne dan Sydney mencapai rekor tertinggi di 2020, Australian Prudential Regulation Authority (APRA) dapat memperketat peraturan peminjaman kembali.

Dalam waktu dekat ini, kemungkinan besar banyak berita baru yang penting untuk Anda ketahui jika Anda berkecimpung di pasar properti, apalagi setelah rapat RBA. Xynergy Realty selalu mengikuti berita terbaru di pasar properti, terutama di Melbourne.

Jika Anda memiliki pertanyaan mengenai penjualan, pembelian serta property management, silahkan kontak konsultan properti kami yang selalu siap membantu Anda.

Alain Warisadi,
CEA (REIV), CA (MFAA), TAA, CIT (M), CPS (RE), Dipl FMBM, B.Ec (Fin), FIML
Property Writer/ Property Consultant
Finance Consultant (Mortgage Broker)
Licensed Estate Agent
Harvard University Scholar
LinkedIn: http://www.linkedin.com/in/awarisadi/

Jeffrey Koby, B.BUS (MKT), M.MKT, CAR
Co-property Writer
Marketing Communications Manager
(e.) jeffrey.koby@xynergy.com.au