Covid Diary 2021 – Abdul Qowi Bastian

Bagian 1

This blurry photo was probably the last picture taken of me and my daughter before we were separated.

Sebelum saya dirawat di RS, Hubabah sudah ikut Mamanya menginap di rumah tantenya, karena Mamanya sempat demam terlebih dahulu. Saya sempat merawat Hubabah di rumah sendiri selama satu hari. Namun ternyata ia juga terkena demam esok harinya sehingga Puput kembali ke rumah agar kami berdua bisa memantau kesehatannya.

Panasnya sempat mencapai 39 derajat, kami membawanya ke dokter malam itu. Puput, yang masih kurang sehat, merasa dia kurang sanggup jika dalam keadaan sakit dan masih merawat Hubabah. Saya tau betapa beratnya mengurus anak, apalagi kondisi sendiri saja masih tidak fit 100%. Puput kemudian memutuskan untuk menginap di rumah kakaknya. “Hubabah ikut sama aku,” katanya. “Nanti banyak yang jagain dia. Abang istirahat aja, kemaren kan udah jagain Hubabah.”

Keputusan berat, tapi saya setuju di sana insya Allah saya merasa mereka lebih aman karena banyak anggota keluarga yg akan merawat Puput dan membantunya mengurus Hubabah.

Malam itu saya tidur sendiri. Pertama kali tanpa anak dan istri di rumah.

Bagian 2

Pagi hari pertama tanpa Hubabah dan Puput. Saya masih sempat berjemur di teras atas dan menyelesaikan beberapa pekerjaan WFH. Namun malam harinya, saya mulai merasa ada yang gak beres. Badan terasa demam, saya ukur ternyata 38.8 derajat. Saya langsung minum Sanmol, madu, Redoxon, dan vitamin-vitamin lain.

Demam berlanjut keesokan harinya hingga beberapa hari ke depan (total saya demam di rumah hampir 10 hari sebelum ke rumah). Ini bukan demam biasa atau cuma masuk angin aja, yang biasanya dipijit atau dikerok sembuh. Gak enak rasanya, sakit demam tinggi sendirian, anak-istri hanya bisa video call. Adek-adek juga gak saya izinkan mendekat, takutnya menular. Pada saat itu saya belum tes covid, tapi saya sudah berasumsi bahwa ini positif, jadi sudah melakukan protokol isoman di rumah.

Lama kelamaan saya merasa tidak kuat kalau harus melawan penyakit ini sendiri. Saya butuh setidaknya satu orang untuk membantu saya ambil makanan lah atau apa lah. Puput dan Hubabah yang alhamdulillah sudah mulai membaik kondisinya, akhirnya kembali ke rumah, tapi kami tidur terpisah dan meminimalisir interaksi. Saya gak mau mereka yang sudah membaik, jadi sakit karena saya. Saya di kamar, mereka tidur di ruang kerja saya.

Setidaknya meski terpisah, kami masih berada dalam satu atap yang sama.

Bagian 3

Merasa demam sudah lebih 7 hari gak sembuh, akhirnya saya memutuskan untuk tes PCR di rumah. Pagi tes, hasil keluar sore, as expected, positif. Saya sempat memanggil suster dari Rumah Sakit Yarsi untuk diinfus dan diberi obat seperti pasien covid yang biasa dia tangani di rumah. Tapi 2 hari kemudian, rasanya masih gak ada perubahan.

Awalnya masih ragu-ragu apakah harus dirawat di rumah sakit atau tidak. Saya mikir, orang lain banyak kok yang isoman di rumah aja, terus sembuh tanpa gejala berat yang berkepanjangan. Tapi badan rasanya makin hari makin sakit, dan sendirian di kamar wasn’t helping at all. Kalau gak diambil tindakan, ini gak bakal sembuh dengan sendirinya, pikir saya waktu itu.

Tapi kalau saya dirawat di RS, berarti saya harus diisolasi sendiri, gak boleh ada keluarga yang nemenin. Takutnya kalau terjadi apa-apa, sulit karena gak ada keluarga di sana. Selain itu, saya memikirkan yang semakin lama gak akan berinteraksi sama Hubabah. Salah satu hal paling berat dari covid ini adalah kita gak bisa dekat dengan orang-orang yang kita cintai, terlebih anak yang masih bayi.

Temen-temen saya juga merekomendasikan saya segera dibawa ke RS, supaya bisa dapat pertolongan dan ditangani dokter. Saya khawatir, apalagi sejak PPKM, banyak orang yang masuk rumah sakit, kemudian kondisinya memburuk, dan naudzubillah min dzalik, meninggal di sana.

Saya sempat bilang ke teman, “Kalau gue meninggal di rumah sakit, gimana?” Dia jawab, “Lo mau meninggal di rumah?” Benar juga sih, di mana pun kita berada, jika memang sudah ajalnya, kita bisa meninggal di mana saja. Tapi setidaknya, kalau di rumah, masih bisa lebih dekat anak, istri, dan keluarga.

Anyway, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke IGD RS Mitra Keluarga Kemayoran. Di sana cerita berikutnya dimulai.

Bagian 4

Suhu tubuh semakin panas, malam itu saya minta diantarkan oleh adik ipar ke IGD. Puput dan Hubabah hanya melambai dari teras, saya membuka kaca jendela mobil, dadah dadah sambil tersenyum pahit.

Di IGD, saya langsung minta ditangani. Seorang suster pria mengukur saturasi, 78%. Dia bertatapan dengan dokter jaga yang memberi isyarat dengan dagunya untuk memasukkan saya ke ruang isolasi. Serangkaian tes dilakukan. Dokter jaga kemudian masuk, menjelaskan prosedurnya. “Bapak kan saturasinya rendah, kami kasih oksigen dulu ya. Jika pada suatu waktu kehilangan kesadaran, saya perlu beritahu bapak bisa diintubasi atau dimasukkan selang,” katanya.

Otak saya sudah berhenti berpikir ketika dokter bilang “selang” dan “intubasi.” This doesn’t sound good. At all.

“Selangnya perlu bolongin leher, Dok?” Tanya saya.

“Gak perlu, Pak. Tapi bapak dibuat tidak sadar ya.” Pikiran saya semakin kalut.

“Nanti untuk membangunkan bapak kita pakai RJP atau alat bantu jantung. Dan kita akan mencoba selama 15 menit, kalau tidak bangun…” (Di bagian ini saya sudah gak tau dokter ngomong apa lagi. My brain has shut off completely thinking of the worst possible thing).

Saya pikir, keluhan saya hanya demam tinggi, apakah efeknya bisa sampai separah yang dokter sebutkan itu. Sepengalaman saya, ketika ada pasien covid yang sudah dipasang selang, the end result won’t be any good. Kemudian suster lain datang, membawa sebuah kertas, menjelaskan kembali apa yang dokter tadi utarakan. Ia meminta tanda tangan saya untuk dilakukan tindakan yang diperlukan jika terjadi sesuatu. Saya gak mau tandatangan.

Kebetulan di luar IGD ada adik ipar dan kakak sepupu saya yang datang. Saya hubungi mereka via WhatsApp. Saya bilang ke mereka saya mau pulang saja, lebih baik diobati di rumah daripada menjadi lebih menderita di rumah sakit . Entah apakah akhirnya kertas tadi ditandatangani atau nggak, saya tidak bertanya. Mereka mencoba menenangkan. Saya menarik napas dalam-dalam trying to make sense of all of this. Pada saat itu saya hanya bisa bertawakal kepada Allah SWT, menyerahkan segala upaya dan daya kepada Sang Pemilik.

Bagian 5

Malam pertama di rumah sakit, saya baru dipindahkan dari IGD ke kamar sekitar pukul 01:00.

Lorong lantai 5 rumah sakit itu di masa pandemi terlihat berbeda dari 3 tahun lalu ketika saya mendampingi almarhumah Mama dirawat di sini. Kini, lorong itu ditutupi pintu, menandakan ruang isolasi bagi pasien covid. Pengantar hanya boleh hingga depan lift saja.

Tiga tahun lalu Mama bolak-balik menginap di rumah sakit untuk pengobatan kanker payudaranya. Kamar “favoritnya” nomor 550, karena ada lorong singkat di dalam kamar sebelum tempat tidur pasien, jadi siapa pun yang masuk, tidak bisa langsung melihat pasien, ia harus berjalan beberapa langkah. Ya, tau sendiri kan kadang orang ketika menjenguk pasien di rumah sakit, pengunjung suka hanya sekali mengetuk pintu lalu masuk, sedangkan si pasien dalam posisi yang kurang elok.

Anyway, malam pertama saya di RS begitu senyap. Siapa sangka, 3 tahun lalu saya tidur di sofa di kamar yg sama, eh tahun ini saya di tempat tidur pasien. Saya sudah terlalu mengantuk, tapi tidak bisa tertidur pulas, saya takut jika tertidur, lalu kehilangan kesadaran dan harus dilakukan tindakan seperti kata dokter jaga IGD tadi.

Tidur miring kanan, gelisah. Tidur miring kiri, tangan saya terganjal selang infus. Pokoknya gak ada yang enak deh posisi tidurnya. Tekanan oksigen masih dibuat full agar saturasi tetap tinggi, tidak boleh lepas. Saya meminta suster untuk mematikan lampu. Saya gak bisa tidur dengan cahaya terlalu terang. Di kamar yang gelap itu, cahaya hanya datang dari lampu jalan, lampu Wisma Atlet yang posisinya berseberangan dengan rumah sakit, dan lampu apartemen di seberang jalan. Dalam kegelapan itu, saya teringat Mama.

Mama yang berjuang melawan kanker payudara selama 13 tahun. Betapa kuatnya beliau menghadapi penyakit seorang diri. Aku merasa berdosa sebagai seorang anak yang masih sering mengeluh ketika merawat beliau, yang masih belum bisa membanggakan beliau, yang seringkali egois ingin memenangkan egoku. Aku yang belum menyadari betapa berat perjuangan ibu seorang diri melawan penyakit mematikan, at the same time menjadi kepala keluarga untuk memberikan kehidupan yang sangat layak untuk anak-anaknya.

Mama, aku kangen. 

Bagian 6

Sekitar 3-4 hari pertama di rumah sakit rasanya berat banget. Saya cuma bisa rebahan, karena untuk duduk butuh effort yang lumayan besar, dan setiap gerakan pasti disertai batuk. Tapi alhamdulillah demam sudah tidak ada.

Para saudara, om, tante, uwa, teman-teman gak berhenti absen menanyakan kabar. “Alhamdulillah membaik”, jawab saya. Namun masih ada sesak. Saturasi sudah hampir normal dengan bantuan oksigen.

Total selama 8-9 hari saya tidak pernah turun dari tempat tidur. Badan rasanya pegal karena cuma bisa miring kanan-kiri, dan sesekali duduk untuk makan. Sholat pun saya masih harus berbaring.

Saya sudah kepengen pulang, ingin dirawat di rumah saja, apalagi gejala sudah berkurang. Tapi masih belum diizinkan pulang. Saya pikir, kalau kelamaan di sini, adanya muncul penyakit baru, stress dan depresi, karena tidak ada interaksi dengan dunia luar kecuali lewat layar smartphone.

Kerjaan saya di sana hanya menonton Netflix, YouTube, dan mengaji. Semuanya dilakukan pakai smartphone. Saya merasa mata saya bertambah minusnya karena hampir 24 jam selalu menatap layar HP.

Saya sempat menonton beberapa series dan film seperti Friends (ini hiburan banget, bisa bikin saya ketawa meski udah nonton puluhan kali), The Pursuit of Happyness (bikin deg-degan nungguin kapan happiness itu datang), The Intern (lumayan menghibur, jadi pengen segera balik kerja lagi), Midnight in Paris (kangen nulis dan baca novel), A Star is Born (awalnya mikir overrated tapi ternyata bagus juga), The Shawshank Redemption (saya merasa relate banget dengan situasi saat ini), dan matchweek 1 English Premier League (setelah bertahun-tahun gak ngikutin bola, out of boredom akhirnya subscribe Mola TV).

Setelah nonton Shawshank, saya mikir apakah saya siap untuk kembali ke rumah setelah diisolasi selama 11 hari? Meski gak nyaman di rumah sakit, setidaknya saya merasa aman karena ada tim suster yang memantau. Ketika sudah diizinkan pulang, perubahan apa yang menanti?

Bagian 7

Sehari-hari hanya pemandangan gedung-gedung tinggi apartemen dan Wisma Atlet yang berlokasi di seberang rumah sakit yang bisa saya lihat dari jendela kamar. Kadang sore hari terdengar para pasien OTG covid bermain sepak bola dari Wisma Atlet.

Akhirnya sekitar hari ke-7 atau 8 saya dibolehkan turun dari tempat tidur untuk dilap badannya atau ke toilet. Lega rasanya bisa bergerak lagi dan tidak perlu buang air di atas kasur. Tapi karena tidak pernah digerakkan selama seminggu lebih, pertama kali kaki saya menapak di lantai, hampir saja oleng dan terjatuh jika tidak berpegangan sisi tempat tidur.

Alhamdulillah demam sudah hilang (please, jangan balik lagi), tapi jantung saya masih berdebar kencang dan napas masih sesak setiap kali melakukan pergerakan, dan disertai batuk. Tapi tak apa, perlahan kita menuju kondisi yang lebih baik, biidznillah.

Dokter bagian paru yang merawat saya bilang, “Wah sudah bagus nih. Coba tarik napas yang dalam (saya masih belum bisa menarik napas dalam tanpa terbatuk), buang. Iya gak apa-apa, pelan-pelan aja. Kamu suka olahraga ya? Bagus ini.” Ya, meskipun saya sudah lebih dari setahun gak olahraga rutin, tapi alhamdulillah masih ada efeknya ke tubuh. Saya berjanji pada diri sendiri, jika sudah sembuh total, mau mulai rajin olahraga lagi. Untuk sementara, latihan pernapasan aja dulu.

Melihat kondisi saya yang membaik (oksigen sudah dikurangi, saturasi stabil di angka 97-98%, dan selangnya juga sudah diganti), dokter mengizinkan saya pulang pada hari ke-11, meski hasil PCR masih positif. Dibolehkan lanjut isoman di rumah. Alhamdulillah.

Sebelum diizinkan pulang saya berdoa, “Jika memang pulang ke rumah itu baik untuk hamba dan keluarga, maka dekatkanlah, Ya Allah. Namun jika itu buruk bagi hamba dan keluarga, maka jauhkanlah kami daripadanya. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu.”

Senangnya bisa kembali ke rumah dan dekat dengan Puput, Hubabah, dan adik-adik walau di dalam kamar saja.

Bagian 8

Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah mengizinkan saya pulang ke rumah.

Saya dijemput adik dan kakak ipar di rumah sakit. Itu pertama kali saya melakukan “perjalanan jauh” dari kamar isolasi di lantai 5 ke lobi parkiran. Selama perjalanan itu saya lepas oksigen, napas saya udah gak karuan kayak gimana. Alhamdulillah di mobil ada tabung oksigen jadi saya bisa mengatur napas lebih baik dalam perjalanan menuju rumah yang hanya sekitar 10 menit dari RS.

Begitu sampai rumah, saya terduduk di ruang tamu dulu, mengatur napas dan minum teh manis. Puput dan Hubabah masih tidak boleh mendekat, mereka hanya melambai dari tangga, kami saling lempar senyum. Saya masih belum bisa berbicara banyak, karena pasti nanti akan batuk. Hubabah memanggil “Papah” dan ingin menuju ke saya, tapi ditahan oleh Puput. Adik-adik saya (yang belakangan saya baru tau kalau mereka juga positif covid tapi alhamdulillah-nya gejala ringan, tetap berisolasi di dalam kamar masing-masing).

Jadi selama saya berada di RS, keluarga saya menahan beberapa informasi yang mereka pikir dapat menurunkan imun saya dengan terlalu banyak pikiran. Selain itu, saya juga menyerahkan seluruh pekerjaan ke kakak ipar dan karyawan untuk dia urus selama saya dirawat. “Tolong ambil keputusan yang terbaik,” pesan saya. Saat itu saya hanya ingin fokus untuk penyembuhan.

Kembali ke rumah, begitu memasuki kamar, perasaan tenang dan adem hadir seketika. Puput dan adik-kakak ipar saya sudah menyiapkan kamar serapi mungkin—sprei baru, AC sudah nyala, gorden Sudah dicuci, ada 2 tabung oksigen penuh, ada dispenser air minum kecil yg baru dibeli, kamar mandi sudah dibersihkan, dan ada diffuser yang membuat kamar tercium wangi. Sementara Puput dan Hubabah masih tidur di ruang kerja saya.

Malam pertama kembali ke rumah, saya merasa nyaman sekaligus was-was. Saya mengatakan pada diri sendiri, “Insya Allah saya bisa menjaga kondisi tubuh yang sudah membaik ini menjadi lebih baik”.

Home sweet home, indeed.

~~~

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

RENCANAKAN HIBURAN SERAM-MU

Akhir Oktober terkenal dengan perayaan All Hallow’s Eve, atau yang biasa disingkat menjadi Halloween. Menurut kepercayaan, hari itu adalah hari dimana para hantu atau...

Rekapitulasi Penghitungan Suara Pemilu Legislatif Melbourne

Perhitungan hasil pemilihan suara dilakukan dua kali, yaitu pada tanggal 9 dan 15 April bertempat yang sama. Suasana perhitungan suara berlangsung cukup ramai dan...

Wonderful Indonesia dalam Resepsi Diplomatik di KJRI Perth

Dalam rangkaian peringatan HUT RI ke-73, KJRI Perth menyelenggarakan kegiatan Resepsi Diplomatik. Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Perth Town Hall di pusat kota Perth...

Keluarga yang membawa Yogyakarta hingga ke Bendigo

https://youtu.be/QJfL3BIagQc Cinta tentunya datang dan pergi dalam berbagi bentuk juga rupa. Cinta tidak harus kepada hanya pada satu hal atau seseorang saja juga! Cinta dapat...

Seknas Jokowi: Menuju Indonesia Baru

Selama sepuluh tahun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memimpin Indonesia. Setelah dua kali masa jabatannya, Juli ini Indonesia akan menjalani Pemilihan Umum Presiden (pilpres)...