Gemar Mobil, Kini Menjadi Co-Founder Startup Otomotif Pertama di Indonesia

Berawal dari ketertarikannya pada dunia otomotif sejak SMA dan hobi memodifikasi mobil Honda Jazz miliknya, Martin Reyhan Suryohusodo dan bersama dengan 2 rekannya co-founders Joseph Alexander Ananto dan Benny Sutedjo, kini mengelola startup layanan otomotif pertama di Indonesia, Otoklix.

Menangkap Peluang Bisnis Online to Online

Setelah lulus dari Melbourne University dengan jurusan Finance and Accounting, pemuda asal Surabaya ini awalnya mengejar karir di bidang konsultan manajemen. Dari pekerjaan pertamanya di Catch.com.au, Martin belajar bagaimana memfasilitasi transformasi bisnis di pasar retail untuk pindah dari offline ke online. Meski untuk beberapa waktu dirinya menekuni bidang konsultan manajemen, Martin yang lahir di keluarga pebisnis itu selalu ingin memiliki bisnis sendiri.

Menggabungkan passionnya di bidang otomatif, di tahun 2019, Martin lantas menghubungi temannya, Joseph Ananto yang saat itu masih bekerja sebagai aerospace engineer di Amerika Serikat. Tertarik dengan ide Martin untuk membawa layanan otomotif ke pasar online, Joseph kemudian mengajak kerabatnya, Benny Sutedjo yang sudah berkecimpung di bisnis otomotif khususnya sparepart mobil selama 20 tahun. Akhirnya, di bulan Agustus 2019, Otoklix resmi diluncurkan sebagai aplikasi layanan otomotif pertama di Indonesia.

Co-founders Otoklix



Memanfaatkan pasar kendaraan yang terus berkembang di Indonesia, aplikasi Otoklix bertujuan untuk mempermudah proses perawatan kendaraan bagi pemilik kendaraan. Melalui Otoklix, pengguna dapat memesan layanan servis kendaraan di bengkel yang direkomendasikan di dekat mereka dan menerima harga dan tingkat layanan standar. Selain itu, dengan Otoklix pengguna dapat mengecek status kendaraan mereka secara real time saat menjalani servis. Pengguna juga dapat melacak riwayat perbaikan dan pemeliharaan mereka di dalam aplikasi Otoklix dan menerima garansi untuk servis dari bengkel-bengkel yang bekerjasama dengan Otoklix.

Pengguna Otoklix tak hanya terbatas ke pemilik kendaraan saja. Di sisi lain, Otoklix juga melayani para bengkel dengan memberikan solusi supply chain management untuk sparepart otomotif. Dengan layanan pengadaan ini, Otoklix membantu bengkel-bengkel serta para pelanggan bengkel untuk mendapatkan harga sparepart yang lebih terjangkau dan rate servis yang kompetitif.

Dari ‘Chief Everything Officer’ ke Forbes 30 Under 30

Pada awalnya, Otoklix hanya memiliki kurang dari 10 orang pegawai dan Martin yang secara formal menjabat sebagai Chief Executive Officer harus melakukan semuanya sendiri. Mulai dari hiring pegawai, mendatangi bengkel-bengkel untuk diajak kerjasama, mengirim barang, hingga kegiatan sales pun dilakukan sendiri oleh ketiga founder startup otomotif tersebut.

“Yang dimana posisi CEO it’s not Chief Executive Officer, instead it’s Chief Everything Officer,” candanya. “Diawal kita semua founders harus nyeles sendiri ke bengkel. Ada sempet sesekali itu, kita dianggep sebagai agen asuransi, karena I was working at a consultant dan pake baju rapih, so dikira bocah-bocah agen asuransi atau MLM siapa ini?” kenangnya lagi sambil terkekeh.

Namun, justru dari situlah mantan konsultan di Ernst and Young itu dapat memahami lebih dalam apa yang sebenarnya diinginkan oleh para pelanggan, yakni para pemilik kendaraan dan para bengkel. Dengan terjun langsung ke lapangan dan melihat sendiri apa yang terjadi disana, Martin dan timnya dapat terus menyesuaikan apa yang diperlukan oleh customer. “Our company value is to go and see,” katanya lagi.

Strategi tersebut membuahkan hasil yang memuaskan, dalam waktu yang relatif singkat Otoklix berkembang pesat dan berhasil menarik perhatian sejumlah investor. Di tahun 2020, Otoklix menjadi salah satu partisipan Sequoia India’s Accelerator Program Surge, dan berhasil mendapatkan pendanaan sebesar 2 juta dollar US dari berbagai investors seperti GK-Plug, Play Indonesia, Kopi Kenangan’s Kenangan Investment Fund 1, dan berbagai angel investors lainnya, termasuk Steve Chen, co-founder YouTube. Dan di tahun yang sama, Martin dan Joseph meraih penghargaan bergengsi “Forbes 30 Under 30″ dalam kategori entrepreneurship.

Logo Otoklix

Funding is not everything, delighting the consumers is

Sebagai young entrepreneur, Martin memiliki beberapa nasihat penting untuk para anak-anak muda yang bercita-cita menjadi pengusaha. Pertama, ia mematahkan persepsi umum mengenai urusan permodalan, yang menurutnya bukanlah segalanya. Meskipun ia tidak menyangkali pentingnya modal untuk pengembangan usaha, namun pemuda kelahiran tahun 97 itu berpendapat bahwa kepuasan pelanggan dalam usaha lebih penting ketimbang urusan modal.

Funding expedites the growth, it doesn’t correlates with the success of the business. The success of a business correlates with you building something that the customer needs, based on customer delights” ujarnya. Dirinya juga menambahkan bahwa dalam urusan mendapatkan suntikan modal dari investor, para perintis startup harus ingat bahwa kuncinya adalah meyakinkan investor bahwa mereka adalah orang yang tepat untuk menerima modal tersebut. Yaitu dengan menunjukkan bahwa bisnis mereka memiliki produk yang tepat dan model bisnis mereka dapat memberikan kepuasan pelanggan yang tinggi.

Aplikasi Otoklix (berbagai sumber)


Dirinya juga menyebutkan pentingnya mentors dan networking di kehidupan karirnya. Martin mengaku ia sering merecoki mentornya, co-founder startup logistik Waresix, dalam menghadapi permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh Otoklix. Selain mentor, alumni Melbourne University itu mendorong anak-anak muda untuk rajin-rajin magang di perusahaan orang lain untuk menambah pengalaman, membuka wawasan dan memperluas koneksi mereka.

Talk to people, network yourself and absorb what they’re doing” sarannya.

Akhir kata, peraih penghargaan Forbes 30 Under 30 (2021) itu mengingatkan agar jangan takut gagal dan belajar dari kegagalan adalah inti dari kesuksesan.

I know it’s cliche, but that’s true, it’s impossible for you to succeed without at least a thousand of failures,” pesannya.

Phoebe

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

IFF 2021: Perkenalkan Keragaman Budaya Indonesia Melalui Layar Kaca

Tahun ini Indonesian Film Festival kembali menghibur komunitas pecinta film Melbourne dengan film-film asal tanah air. Festival yang sudah dirayakan selama 15 tahun berturut-turut...

Mewarnai Royal Melbourne Show dengan Kecerlangan Batik

The Royal Melbourne Show adalah pesta perayaan tahunan terbesar yang dibawakan kepada orang-orang di Victoria oleh Royal Agricultural Society of Victoria. Ajang pameran ini mengemukakan banyak hasil...

Festifal Muslimah Menuai Hasil Positif

Dalam rangka memperingati kemampuan dan talenta para muslimah Indonesia yang tinggal di Melbourne, beberapa pusat pengajian IMCV (Indonesian Muslim Community in Victoria) bekerjasama mengadakan...

Darwin Wirawan MERANCANG DI NEGERI ORANG

Mengawali sebuah usaha di Australia memang tidaklah mudah, apalagi bagi para pendatang baru yang berasal dari luar Negeri Kangguru. Paling tidak dibutuhkan kerja keras,...

Pesan Natal dari Konsul Jenderal RI untuk Victoria dan Tasmania Dewi Savitri Wahab

Pembaca Majalah BUSET yang kami hormati,As-salamu alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuhu Salam sejahtera untuk kita semuaNatal tahun 2015 adalah musim Natal kedua dalam tugas saya...