Cinta Makanan Sendiri adalah Kunci Sukses Dunia Kuliner Indonesia di Victoria, Siapa Yang Harus Mulai?

Pengurus ICAV yang baru berfoto dengan penggiat kuliner Indonesia di Victoria

“Siapa yang akan menyukai masakan Indonesia kalau bukan dari kita sendiri?” kata Heri Febriyanto, ketua baru Indonesian Culinary Association of Victoria yang terpilih di acara Annual General Meeting tanggal 2 Maret 2020.

“Jadi marilah kita coba bangun kebersamaan kita, sense of belonging, bagaimana kita punya rasa memiliki masakan Indonesia.”

Heri menyadari bahwa saat ini, makanan Indonesia belum bisa bersaing dengan makanan Thailand, Malaysia dan China yang merajalela pasar kuliner di Victoria, Australia. Namun, menurutnya, pengadaan festival selama tiga atau empat bulan sekali bisa saja menjadi cara memperkenalkan kuliner Indonesia.

“Tiap tiga atau empat bulan sekali kita bisa membuat semacam Indonesian Night Festival seperti Winter Night di Queen Victoria Market setiap hari Rabu. Kita khusus menjual makanan Indonesia dari Sabang sampai Merauke, karena yang saya lihat kebanyakan teman-teman Malaysia aktif di sana.”

Menurutnya, lebih baik mulai dengan sederhana daripada langsung besar-besaran.

“Kita coba dari kawan-kawan indonesia, minimal dari yang tujuh usaha kuliner saja sudah cukup modalnya, lets start small rather than big. Mari mulai dari yang simple-simple saja.

Harus mulai cinta makanan sendiri

Pengurus ICAV baru

Menurut data dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne, terdapat lebih dari 40 buah restoran Indonesia di Victoria.

Dalam rapat tersebut, terdapat enam partisipan yang menjalankan restoran, dua pemilik food trailer, dua orang koki, pencinta kuliner dan sejumlah pengusaha kuliner dari rumah. Heri mengajak mereka untuk bersama-sama membangun industri kuliner Indonesia di Victoria.

“Besar harapan saya kedepan, marilah kita bersama-sama membangun industri kuliner ke arah lebih baik, karena tanpa adanya dukungan dari bapak dan ibu-ibu semua kami para pengurus tidak akan ada artinya.”

Menurut sekretaris yang baru dilantik, Corrina yang juga adalah pemilik dari restoran Garam Merica, kemajuan kuliner Indonesia khususnya di Victoria dapat dimulai dari diri sendiri.

“Pak Heri bilang kita harus membangun sense of belonging untuk makanan Indonesia, jadi menurut saya pribadi kita harus mulai dari saling menghargai satu sama lain, dari sesama pemilik restoran, atau pencinta kuliner atau katering dari rumah,” kata dia.

“Kalau kita mencintai makanan kita sendiri, saling menghargai sesama pencita kuliner, kita pasti bisa menciptakan market untuk makanan Indonesia. Kita harus menciptakan kecintaan pada makanan yang kita sajikan, yang kita makan setiap hari, jadi orang yang lihat pun berpikir, ‘Wah, orang Indonesia bangga sama makanan mereka sendiri.”

Menurutnya hal tersebut adalah langkah awal untuk mengajak orang-orang non-Indonesia untuk mencintai makanan Indonesia.

Belum ada kejelasan dari Kemenpar

Konsul Spica Tutuhatunewa hadir dalam acara rapat tersebut untuk menyambut tamu yang hadir malam itu sekaligus menjelaskan tentang respon pemerintah Indonesia terhadap bantuan yang dapat diberikan kepada usaha kuliner Indonesia di Victoria dan Tasmania.

“Walaupun kami mendengar bahwa gastrodiplomacy atau culinary diplomacy itu tetap menjadi bagian penting, namun kami juga belum mendapatkan kejelasan contact point atau siapa orang yang bertanggungjawab merancang strategi gastrodiplomacy di Indonesia dan siapa yang bisa kami kontak untuk membantu dari network.”

Walau demikian ia mengatakan pihaknya telah menyampaikan kepada Kementerian Pariwisata tentang keberadaan restoran Indonesia di Victoria yang sudah mendukung pariwisata Indonesia dengan membantu mempromosikan program Wonderful Indonesia.

Konsul Spica selanjutnya akan bertanya kepada Kemenpar dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) mengenai keperluan kurasi menu makanan Indonesia.

“Kita perlu ada kurasi menu, menunya apa saja, kebanyakan atau tidak, atau terlalu sedikit dan tidak ada Indonesianya. Jadi kurasi itu perlu. Nah itu bisa kami tanyakan ke Kemenpar dan BEKRAF,” kata dia malam itu.

“Selain kurasi menu satu lagi adalah kurasi desain restonya karena itu akan sangat perlu, kalau restoran Thailand selalu ada foto rajanya, atau ada gajahnya, kita bisa pikirkan seperti apa dari Indonesia, mungkin itu bisa jadi masukan buat pemerintah Indonesia.” tutupnya.

Annual General Meeting ICAV tidak lengkap tanpa adanya makan malam. Di kesempatan itu, disajikan nasi tumpeng yang dinikmati para tamu sembari bercakap dengan tamu lainnya.

Pengurus ICAV yang terpilih antara lain Heri Febriyanto sebagai ketua, Shanti Whiteside sebagai wakil, Corrina sebagai sekretaris dan Tito Harris sebagai bendahara.

APA KATA MEREKA

J.S. RAHMAN, CEO Berdi Australia

Acara ini bagus, yang harus diingat tadi tentang memperkenalkan kuliner Indonesia sudah benar, hanya supaya pemilik restoran menghargai satu sama lain juga sudah benar.

Kualitas makanan, saya datang ke beberapa restoran di Melbourne, kalau bisa penyajiannya yang benar dan kemarin ada memang warung, tapi walaupun warung harusnya bersih, dan ada beberapa restoran juga yang saya tidak bisa sebutkan, tempatnya kotor padahal makanannya enak. Yang Bu Spica bilang meletakkan ciri khas Indonesia itu benar juga.

JOE BERRY, Pemilik Restoran di Melbourne

Membantu acara ini, banyak manfaatnya. Dan lagi kita akhirnya tahu teman-teman yang ada di lingkungan bisnis kuliner. Saya kenal pemilik Laguna, dan akhirnya tahu kalau dia bisa membantu supply barang tanpa harus menunggu orang datang.

Ke depannya ICAV pasti akan membantu kita untuk terkoneksi dengan bisnis kuliner, dan ke depannya semoga organisasi ini bisa lebih aktif sehingga kuliner Indonesia bisa aktif juga.

Nasa

Discover

Sponsor

Latest

GAIJIN JAPANESE FUSION: Selalu Menghadirkan Yang Terbaik

135 Commercial Road, South Yarra Buka setiap hari, pk. 18-22 Untuk reservasi silahkan telp: 03 9804 8873 / hp: 0417 042 755 Sushi, tempura atau...

Arie Untung dan Fenita bersama Dompet Dhuafa dan Cinta Quran Foundation Berkunjung ke Melbourne

Indonesian Muslim Community of Victoria (IMCV) bekerjasama dengan Cinta Quran Foundation dan Dompet Dhuafa, mengadakan acara talkshow bertemakan Safari Dakwah Cinta Quran, Sabtu (15/02),...

Memantik Dialog Lewat Film Pendek

Seorang pria berambut gondrong tampak berdiri di tengah studio mengenakan headset. Di depannya ada sebuah mikrofon tua. Ia lalu mulai membentak, berteriak, dan memaki....

Sihir Intan Paramaditha Lewat Apple and Knife

Bagi yang belum familiar dengan karya-karya Intan Paramaditha, kumpulan cerpennya (kumcer) yang berjudul Apple and Knife, yang diterjemahkan oleh Stephen J Epstein, baru saja...

BAHAN KIMIA KOSMETIK YANG PERLU DIHINDARI

Spring Makeup Musim semi biasanya ditandai dengan warna-warni dari bunga-bunga yang baru tumbuh. Tidak mau ketinggalan, para wanita pun biasanya juga menorehkan berbagai warna segar...