CHINESE WHISPERS ANGKAT KEMBALI PERISTIWA MEI 1998

0
932

Pertunjukan Chinese Whispers yang diadakan di Bluestone Church Art Space selama hampir seminggu di akhir September lalu oleh Rani Pramesti telah berhasil membuat masyarakat Melbourne merenungkan peristiwa kerusuhan Mei 1998 dan peristiwa serupa di negara mereka masing-masing. Menurut Rani, Chinese Whispers telah mencapai kesuksesan saat masyarakat dari segala latar belakang bangsa dan berbagai komunitas telah rela datang ikut serta memasuki pertunjukan seni berbentuk labirin ini dan berdiskusi secara terbuka mengenai isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Adat istiadat).

“Yang paling memberi saya kebahagiaan dan rasa puas adalah melihat bagaimana setiap pengunjung dengan seru membahas isu-isu mengenai ras, sejarah dan kekerasan, baik bersama sang aktor, Fanny Hanusin, maupun dengan saya pribadi di ruang tunggu. Menurut saya baik di Australia maupun di Indonesia dibutuhkan lebih banyak lagi kesempatan untuk mendalami tema-tema seperti ini.”

Instalasi Chinese Whispers memiliki 9 ruangan yang berbeda, termasuk satu ruangan tertutup dimana para pengunjung dapat beristirahat, menikmati makanan kecil dan berdiskusi berasama Fanny Hanusin yang berpakaian ala Tionghoa. Setiap ruangan memiliki instalasi dan dekorasi yang berbeda-beda yang berhubungan dengan cerita dan wawancara yang terus terdengar melalui earphone dan ipod yang telah disediakan sejak awal. Semua ruangan yang tertutupi kain putih ini memberikan efek isolasi yang membuat para pengunjung seolah berada di dunia lain, namun juga menegangkan dan tak terlupakan. Dekorasi dalam ruangan-ruangan tersebut dapat disentuh dan dibaca dengan hati-hati. Bel yang kadang berbunyi menjadi petunjuk bagi pendatang untuk berpindah dari satu ruangan ke ruangan berikutnya.

Percakapan yang terdengar dari rekaman pun beragam. Misalnya saja cerita dan tanggapan pribadi Rani Pramesti terhadap identitas dan peristiwa Mei 1998, cerita keji terhadap para korban yang disampaikan seorang wartawan Dewi Anggreani, sampai ungkapan rasa tak suka terhadap ras tertentu. Oleh karena itulah Chinese Whispers tidak hanya sekedar menceritakan sejarah, namun juga memberi beragam perspektif dan bahan renungan yang berhubungan dengan tema identitas dan kekerasan terhadap suatu ras.

Tidak berhenti sampai di sana, Rani Pramesti juga memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk menuliskan cerita pribadi mereka di depan sebuah altar yang diatasnya terdapat salib dan patung Buddha. Hal ini telah secara tidak langsung mendorong para pengunjung untuk mengingat masa lalu, merenungkannya dan kemudian berdoa dan berharap untuk masa depan yang lebih baik.

Untuk menciptakan suasana yang intim dan mediatif, para penonton hanya masuk secara berpasangan setiap 5 menit. Oleh karenanya jumlah masayarakat yang bisa menikmati pengalaman ini terbatas jumlahnya. Rani juga merasa bahwa masih banyak yang bisa ditingkatkan dari segi visual dan audio. “Tapi hal ini saya rahasiakan dulu yah… supaya kalau ada Chinese Whispers 2 masih jadi surprise yang istimewa,” tambah Rani. Tentunya kejutan baru yang disebut Rani akan terus ditunggu oleh masyarakat yang telah merasakan Chinese Whispers. Sedangkan bagi yang belum sempat mengalami pengalaman penuh renungan ini, versi lanjutan Chinese Whispers patut terus ditunggu!

Hasil karya Rani Pramesti yang dipamerkan dalam rangkaian Melbourne Fringe Festival tersebut mendapat dua penghargaan sekaligus; Best Live Art Award dan Innovation in Culturally Diverse Practice Award.

Chinese Whispers pada akhirnya memberikan efek yang berbeda pada tiap orang. Bagi mereka yang tahu betul mengenai peristiwa Mei 1998 dan tidak bisa mengidentifikasikan diri mereka tanpa menyebutkan peristiwa tersebut, hal ini menguak kembali ingatan dan perasaan mereka. Sedangkan bagi pengunjung yang hanya pernah mendengar dan tak pernah melihat peristiwa tersebut secara langsung, Chinese Whispers dapat menjadi pembuka mata dan hati. Apapun itu, pertunjukan seni ini telah berhasil memulai kembali percakapan mengenai salah satu peristiwa tergelap yang pernah terjadi di Indonesia. Semoga hal ini dapat membawa Indonesia menjadi negara yang lebih toleran dan damai.

 

* APA KATA MEREKA *

Konsep dari Chinese Whispers ini menurutku unik. Selain karena dia itu audio-based, Rani memilih tema ‘racism against Indonesian-Chinese’. Sesuatu yang orang-orang tau tapi enggak berani atau malu buat bahas. Sebagai orang Indonesia keturunan Tionghoa, aku tersentuh banget pas aku tau tentang topiknya. Kemudian pas aku di dalam mazenya, aku benar-benar bisa relate dengan ceritanya. Recordingnya dalam Bahasa Inggris, bagus buat non-Indonesians yang mau tau lebih banyak tentang kerusuhan Mei 98. Well done buat Rani deh!

 

Karya Rani Pramesti ini sangat well recommended untuk penggemar seni dan sejarah. Dipadu dengan ruangan dan desain yang sesuai, acara ini sangat mengingatkan kita tentang jati diri kita yang sesungguhnya. Suara yang kita dengarkan via ipod juga sangat sesuai dengan suasana-suasana yang berbeda di setiap ruangan. Nice concept and great show. Would love to know the follow up events, perhaps a documentary movie would be awesome. Keep it up!

 

Chinese Whisper merupakan sebuah karya dari Rani Pramesti yang sangat luar biasa. Ciamik! Konsep, ideologi dan media audio maupun visual yang digunakan diramu dengan begitu apik sehingga pesan yang ingin disampaikan oleh Rani sangat bisa saya rasakan. Ibaratnya “sampai merasuk ke dalam tulang”. Kita acap kali abai, menutup mata dan bahkan melupakan bahwa rasisme dan berbagai bentuk kekerasan secara kultural dan struktural terjadi baik dilakukan oleh sesama masyarakat maupun oleh rezim penguasa. Chinese Whisper mengajak kita semua untuk mengakui hal tersebut sekaligus merajut kembali relasi sosial antar etnis dan identitas yang berbeda di antara kita sebagai Bangsa Indonesia maupun sebagai umat manusia. Salah satu ungkapan paling berkesan bagi saya yang diangkat oleh Rani dalam Chinese Whisper yang menggambarkan caranya untuk menghadapi kasus diskriminasi dan kekerasan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia adalah “We can not heal what we can not face“. Kita harus berani! Berani mengakui bahwa kekerasan itu terjadi! Dan berani menuntut keadilan! Sukses dan terus berkarya ya Rani!

 

* GALERI FOTO *






gaby