Chelsea Islan: Selalu Menantang Diri

Chelsea Islan dapat dianggap sebagai salah seorang rising star di dunia hiburan Indonesia. Di usianya yang masih 19 tahun, paras cantik Chelsea sudah dikenal luas lewat aktingnya di serial televisi Tetangga Masa Gitu? dan beberapa film favorit, layaknya Street Society dan Dibalik 98. Chelsea bahkan mampu bermain bersama nama-nama papan atas seperti Christine Hakim dan Lukman Sardi.

Aktris yang turut membanggakan perfilman Indonesia dengan menjadi brand ambassador Indonesian Film Festival (IFF) 2015’ tersebut memiliki satu resep untuk mencapai kesuksesan: selalu menantang diri. “Aku tidak mungkin ada di sini kalau hanya melakukan hal-hal yang biasa saja,” ujar Chelsea dengan percaya diri.

Sifat Chelsea yang menyukai tantangan telah terlihat sejak awal karirnya di dunia akting. Bermula dengan mengikuti beberapa pertunjukkan teater dan drama musikal skala kecil, Chelsea mengembangkan kecintaannya pada dunia akting ke layar lebar – yang diakuinya jauh lebih menantang dibanding seni teater. “Di dunia teater, pemain diberikan waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkan penampilannya. Namun, kita tidak mendapat luxury seperti itu di perfilman Indonesia. Aktor diharapkan mampu mendalami karakter dalam beberapa minggu untuk berbagai peran yang berbeda,” tutur Chelsea.

Di tengah karirnya yang melesat cepat, Chelsea mengaku tetap selektif dan mengutamakan kualitas dibanding kuantitas. Walaupun mendapatkan banyak tawaran, Chelsea cermat memilih script yang selalu ia dasarkan pada 3 hal: alur cerita, moral yang ditawarkan dan seberapa menantangnya peran tersebut untuk dimainkan. “Aku selalu memilih peran yang sangat not me. Kalau kita hanya memainkan peran-peran yang mirip dengan diri kita yang asli, it is not acting at all,” tukas Chelsea. Semangat inilah yang juga mendorong Chelsea untuk berani beralih dari peran di film drama romantis Refrain ke peran-peran yang jauh lebih menegangkan dan menantang seperti Dibalik 98 dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto.

Tentunya semangat Chelsea untuk mencoba hal baru sungguh tergambar dalam salah satu film terbarunya, Dibalik 98. Film yang juga diikutsertakan dalam ‘Indonesian Film Festival 2015’ ini merupakan karya berlatarbelakang kerusuhan Mei 1998 yang memilih untuk berfokus pada sisi kemanusiaan dari insiden tersebut. Saat ditanya pengalamannya berperan dalam topik yang sedemikian sensitif, Chelsea mengaku dirinya tak pernah takut untuk mengambil kesempatan tersebut. “Sejak awal aku fight untuk mendapat peran di film ini. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali,” ujarnya.

Chelsea sendiri tidak main-main dalam menyiapkan perannya sebagai Diana, seorang mahasiswi rebel yang aktif menyuarakan reformasi. Sifat Diana yang bertolakbelakang dari dirinya yang asli justru mendorong Chelsea melakukan research lebih jauh. Tidak hanya melalui teks, Chelsea bahkan berkonsultasi dengan beberapa eks-demonstran agar mampu mendalami pengalaman para demonstran dan aktivis secara personal.

Chelsea percaya bahwa Dibalik 98 dapat berdampak besar bagi generasi muda Indonesia. Menurutnya, berbeda dengan anak muda sekarang, Diana merupakan representasi dari tingginya semangat juang dan nasionalisme pemuda-pemuda jaman dahulu. Chelsea berharap perannya dapat menginspirasi pemuda Indonesia untuk tidak hanya mempelajari sejarah, namun juga untuk lebih mencintai Indonesia. “Dalam hal ini, ada sedikit dari Diana yang mirip denganku: kita sama-sama ingin memajukan Indonesia,” ujar Chelsea mantab.

Chelsea semakin menunjukkan rasa cintanya pada Indonesia saat ia memilih untuk mewakili perfilman Indonesia di kancah internasional dengan menjadi brand ambassador ‘IFF 2015’. Chelsea menilai kehadiran pertamanya sebagai brand ambassador di luar negeri merupakan bentuk kontribusi nyata terhadap perfilman Indonesia. Dirinya menyayangkan, banyak dari anak muda Indonesia yang belum menghargai hasil karya bangsa sendiri dan lebih memilih menonton film-film Hollywood. “Sebagai bangsa Indonesia, kita harus turut menghargai dan mendukung film-film lokal agar nantinya industri ini dapat terus berkembang dan bersaing di kancah internasional,” ujar Chelsea sembari menutup pembicaraan.

 

flase
foto: krusli

Discover

Sponsor

Latest

Visa Temporary Graduate (Subclass 485)

Visa Temporary Graduate (Subclass 485) memperbolehkan Anda untuk tinggal dan kerja sementara di Australia setelah selesai kuliah. Visa ini terbagi menjadi dua kategori: Graduate Work Stream...

BINTANG SOUNDSEKERTA 2015

Sejak 2007, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) Monash University setiap tahunnya mengadakan pentas seni bertajuk Soundsekerta. Melalui acara ini, PPIA Monash bertujuan untuk...

Kenaikan Biaya Pemilikan Properti di Victoria serta Pembatasan Pinjaman Hipotek Terhadap Pembeli Asing

  Real estate di Victoria akan segera menjadi opsi yang lebih mahal bagi investor asing dikarenakan oleh kebijakan Victoria State Government yang telah mengumumkan bahwa...

Upayakan Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi Covid-19

Dengan bertambahnya kekhawatiran akan kesediaan pangan dalam pandemi covid-19, para pakar pertanian dan pengusaha hadir untuk memberi solusi ketahanan pangan di...

ARSKAL SALIM MENJAWAB: ISLAM POLITIK DAN DEMOKRASI, APAKAH BISA BERSATU?

Acara diskusi yang diadakan oleh Monash Herb Feith Centre dari Monash University memunculkan pertanyaan di benak pendengar tentang jenis demokrasi apa yang cocok dengan Islam...