Aceh: Beyond The Tsunami

Aceh merupakan salah satu kebanggaan dan kemuliaan Indonesia yang duduk di ujung utara pulau Sumatera. Serambi Mekkah nan megah ini sungguh kaya akan keindahan alam dan budaya. Betapa menyedihkannya bagi Indonesia untuk menanggung berita bahwa pada tahun 2004 Aceh tersapu habis oleh gelombang tsunami lautan India. Bertahun-tahun lamanya Indonesia bersungkawa atas 170,000 warga Aceh yang menjadi korban. Kesedihan yang begitu hebatnya ini menyebar luas ke seluruh penjuru dunia. Mereka pun turut berduka atas apa yang telah direbut oleh sang tsunami dari Indonesia. Tak terkecuali Ben Mortley, Melanie Filler dan kawan-kawannya yang pada tahun 2017 telah memproduksi sebuah film dokumentasi mengenai bencana alam yang melanda Aceh ini. Pada satu kesempatan kru Buset mendapat kehormatan untuk menyaksikan film tersebut dalam acara yang diselenggarkan oleh Australia-Indonesia Youth Association (AIYA) Victoria.

Aceh Beyond The Tsunami adalah sebuah film dokumentasi berdurasi sekitar 70 menit yang menceritakan Aceh 10 tahun setelah dilanda musibah tsunami. Film ini memberikan sorotan kepada para warga Aceh yang selamat dari tsunami untuk menyuarakan kisah mereka. Kesedihan tampak mewarnai cerita pada layar ketika para penyintas dengan perlahan mengingat kembali peristiwa kehidupan mereka yang paling tragis. Tidak tahu-menahu dimana gerangan adik, kakak, bahkan anak-anak mereka yang hilang direbut dengan paksa oleh sang ombak besar. Kian bertanya-tanya apabila mereka ada di antara ribuan tumpukan mayat yang terbaring tak bernyawa terkubur di salah satu makam massal sekitar Aceh.

Kejadian tersebut mengubah banyak orang di Aceh dan seperti yang diklaim oleh mereka, memberikan Aceh kesempatan untuk bertobat dari dosa-dosa yang telah mereka lakukan dan kembali pada jalan yang benar. Bencana ini juga telah berhasil mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Tetapi segala sesuatu dan semua orang di Aceh mulai sembuh dari luka. Keberadaan Syariah Islam mulai berkembang dan diabdikan oleh banyak orang di seluruh Aceh. Film ini juga menyoroti keterbukaan rakyat Aceh dalam menerima bantuan dari banyak komunitas-komunitas internasional dengan harapan membantu mengembalikan Aceh yang seperti apa yang pernah mereka kenal sebelumnya.

Ben Mortley, produser Aceh: Beyond The Tsunami

Setiap kisah yang diceritakan diambil dari sudut pandang yang sama sekali baru. Setiap cerita dan setiap gambar yang hidup diarahkan secara alami membuat film ini untuk dapat medekati para penonton dengan lebih intim daripada bagaimana film-film dokumentasi lain dibuat. Pada sesi pertanyaan Ben Mortley selaku produser yang hadir pada acara itu bercerita akan ketertarikannya pada kebudayaan di Aceh.

“Keberadaan budaya itu sendiri saja sudah sangat menarik. Saya melihat budaya sebagai sebuah ukuran rasio akan keyakinan setiap orang. Saya mengambil salah seorang lelaki dari film ini sbagai contoh. Ia mengatakan kepercayaannya bahwa tsunami ini terjadi sebagai sebuah peringatan untuk bertobat akan dosa-dosa mereka. Setelah itu ia juga mengatakan kepercayaannya akan alasan geografis yang mengakibatkan peristiwa ini. Dari narasi tersebut Anda dapat melihat keberadaan kepercayaan religius dan geografis lelaki itu dalam ukuran yang berbeda. Rasio itulah yang pada akhirnya membentuk kebudayaan,” ujarnya.

Acara movie screening ini direncanakan oleh Rebekah Smith, Sociocultural Officer AIYA Victoria yang pada awalnya tidak mengekspektasikan acara pada malam itu untuk memberikan pengaruh yang begitu besar pada para penonton. Ia sendiri pun terkajub akan kehadiran Ben Mortley pada malam itu.

Rebekah Smith, Sociocultural Officer AIYA Victoria

“Setelah menonton trailer-nya, saya pikir betapa menyenangkannya apabila saya bisa menonton film ini bersama banyak orang. Perlahan demi perlahan rencana nonton bersama ini menjadi semakin besar sampai kami mendapatkan kesempatan untuk memutarnya di KJRI dengan sang produser ikut serta hadir jauh-jauh dari Perth. Selain itu, saya juga secara pribadi terlibat dalam film ini karena apa yang film tersebut soroti akan menjadi area pekerjaan yang saya minati sehingga menyaksikan film ini betul-betul merupakan pengalaman yang berarti buat saya. Saya turut berharap bahwa acara ini menjadi langkah dalam membuka pikiran dan pengetahuan banyak orang akan Indonesia dan menyadarkan mereka akan musibah tsunami yang melanda Aceh tersebut,” ujar Rebekah.


Apa Kata Mereka

Devi Shanty, Ibu Rumah Tangga

Film ini membawa kembali kesedihan saya akan keluarga saya yang ikut hanyut di Aceh pada waktu itu. Saya juga ikut bersuka akan perkembangan dan perubahan yang sedang berlangsung di Aceh.

Film dokumentasi ini dibuat pada tahun 2014 dan perbedaan antara waktu pembuatan film dan waktu terjadinya bencana tsunami ini menurut saya sudah terlalu besar. Terlalu besar dalam arti bahwa film ini menyoroti Aceh yang sudah mulai berubah, sekarang saja pasti sudah berbeda lagi kondisinya di sana. Alangkah lebih baiknya apabila mereka membuat film tersebut tidak terlalu lama setelah bencana tsunami ini melanda Aceh sehingga dampak dari tsunami itu masih besar dan baru.

Michael Keating dari Defence Force School of Language

Saya menemukan di laman Facebook AIYA mengenai acara ini dan saya juga tertarik untuk ikut serta menonton film dokumentasi yang akan ditayangkan. Saya sangat menyukai filmnya dan saya pikir film tersebut mewakiliki aspek yang berbeda dari pemulihan Aceh. Film ini sangatlah mendalam karena mereka benar-benar menggali perspektif dan pengalaman orang-orang lokal Aceh untuk dapat menampilkannya sebagai sebuah cerita. Saya merasa beruntung dapat melihat film ini dan saya berharap acara-acara seperti ini akan diiklankan lebih luas sehingga komuniats Australia lainnya juga dapat ikut serta menikmatinya.

Bintang