Berkompetisi dan Berekspresi Tidaklah Sama: Musik untuk Aren Budiprabawa

Bagi seorang Aren Budiprabawa, kompetisi musik bukanlah arenanya. Namun dari situ juga ia menyadari bahwa musik mempunyai arti yang lebih dalam di hidupnya.

Mulai ikut kompetisi dari umur enam tahun sampai akhirnya mempertanyakan diri sendiri, gue ini apa dong?

Dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang penyanyi membuat Aren tumbuh berdampingan dengan musik. Ia mulai bernyanyi sejak umur tiga tahun dan tampil di broadway merupakan debut pertamanya di umur enam tahun. Semenjak itu, satu demi satu kompetisi dilewati sampai akhirnya bernyanyi mewakili Jawa Timur di Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) merupakan kompetisi akhir dari rangkaian kompetisi yang ia lalui.

“Waktu gua memutuskan untuk berhenti lomba, ada saat dimana gua mempertanyakan diri gua.” Ternyata keberhentiannya dari kompetisi musik bukannya datang tanpa alasan.

Gadis yang menyelesaikan sarjananya di University of Melbourne ini sempat meragukan dirinya dan kemampuan bernanyinya karena semasa berkompetisi, kerap kali suaranya dikritisi kurang berkarakter dan jarang sekali ia membawa pulang piala juara di tangannya.

Gua tuh udah jalan sejauh ini, kenapa gua nggak menjadi sesuatu? Kenapa gua nggak pernah menang? Gua ini nggak mau jadi artis loh, gua pengen menang aja, kenapa gabisa? Apa gua kurang latihan?” sebut anak sulung dari dua bersaudara ini saat mengingat kembali pikiran-pikirannya di saat itu.

Namun dari pengalamannya mengikuti kompetisi juga yang membuat Aren sadar bahwa musik tetap merupakan hal yang dicintainya, hanya saja arena kompetisi bukanlah untuknya.

Gua tuh suka banget sama musik. Tapi the competition took it out of me,” ucap Aren. Dari kompetisi, ia justru merasa tertekan dan tidak memiliki kebebasan untuk mengekspresikan musik yang ia sukai.

So, it’s not about regaining everything. It’s more bout shifting. That chapter (the competition) is done, now I can do whatever I want.” Setelah mengambil jeda dari musik untuk beberapa waktu, gadis yang gemar menulis banyak lagu di waktu luangnya ini akhirnya kembali kembali ke arena musik yang memang benar-benar disukainya.

Musik sebagai medium untuk mengekspresikan diri

I can be honest with my music. There are certain things that I couldn’t tell certain people. How I feel, what I meant, what I did,” cerita Aren saat ditanya apa alasannya terus bermusik sampai sekarang.

Dengan bermusik, ia merasa bahwa orang-orang diluar sana lebih menaruh fokus pada musik yang diciptakannya, tidak seperti saat seseorang mengunggah konten lain di sosial media, dimana banyak orang lebih fokus kepada siapa yang membuat konten itu daripada esensi yang terdapat didalamnya.

“Jadi ketika musik itu sampe untuk mereka, gua berharapnya mereka ngerti kalau ada pesan yang mau gue sampein. Tapi walaupun itu nggak terjadi, at least musik gua sampai ke dia,” ujar koordinator sosial media di salah satu agensi digital marketing di Melbourne ini.

Melalui The One I Don’t Belong, Aren mengajak kita semua untuk melalui dan menikmati proses duka dari patah hati

Di single terbarunya bersama Michael Aldi, Aren mengajak kita semua untuk menyusuri proses suka duka dari patah hati dan menyadarkan kita akan satu hal yang seringkali kita lupakan saat berada di fase sulit itu.

“Banyak banget orang yang terjebak di ‘oh gua tuh gabisa kalau nggak ada dia’, tapi lo gasadar kalau orang itu udah berubah. Yang sering banget kita lupa tuh, by the time kita putus sama dia, dia tuh udah merupakan orang yang berbeda. We only relate to the memory, and you don’t even know that person anymore.

I would knock on the door

Thinking that I was home

To find you ain’t there no more
I lost the home

 I belong

I’d stop knocking the door

Realized I’m never home

Cause you aren’t there no more

I lost the one I belong

Melalui penulisan lirik yang indah, Aren memperlihatkan proses melepaskan yang sesungguhnya, bahwa melepaskan seorang yang pernah mengisi hari-hari dalam hidup kita tidaklah mudah, dan keinginan untuk kembali dan memutar waktu pasti muncul. Namun pada akhirnya, selalu ada kata usai dan cukup sampai disini. Di bagian akhir lagu ini, Aren ingin menunjukkan satu titik penerimaan, dimana ia berhenti melihat ke masa lalu, bukan menyerah bahwa seseorang itu tidak kunjung kembali.

Tidak hanya itu, atmosfir lagu di malam hari memang disengajakan karena menurut Aren, kita bisa merasakan diri kita sendiri di malam hari, ketika semuanya sunyi.

“Malam itu selalu menampar,” tekannya.

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

ULANG TAHUN SANG RATU

Senin, 8 Juni 2015 Setiap tahunnya hari lahir ratu yang mengepalai monarki Inggris dirayakan di beberapa negara yang merupakan bagian dari Commonwealth of Nations, atau...

IFF AKAN BAWA KISAH PERJALANAN SINEMA INDONESIA KE AUSTRALIA

Tahun ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) Melbourne University, Victoria, kembali mengadakan pagelaran Indonesian Film Festival (IFF). Acara ini merupakan perayaan sinema Indonesia...

Bali United: Kalah di Tanah Melbourne, Hidup di Hati Pendukung

Stadium AAMI Park diwarnai warna merah, putih dan biru seragam dan bendera para pendukung Bali United F.C. dan Melbourne Victory pada hari Selasa, 21...

MELBOURNE’S DOGMILK FILMS LAUNCH CROWDFUNDING CAMPAIGN FOR INDEPENDENT DOCUMENTARY, ALUK

Melbourne-based film collective Dogmilk Films have just launched a crowdfunding campaign in support of their debut feature documentary ALUK , set in Toraja, Indonesia.In Toraja,...

CHRISTMAS CAROLING IN THE PARK

CP:Kristin 0439 3900 69Ganda 0405 5770 69Joas 0412 4810 65