Home BUSET NGELIPUT Berbincang Bersama Mahfud MD | Dari Terorisme Hingga Papua

Berbincang Bersama Mahfud MD | Dari Terorisme Hingga Papua

0
Berbincang Bersama Mahfud MD | Dari Terorisme Hingga Papua

Pada minggu pertama November silam, Melbourne kedatangan tamu penting dari Indonesia. Dialah Bapak Mahfud MD, Menteri Koordinator Bidang Hukum, Politik dan Keamanan Indonesia yang baru dilantik Presiden Jokowi sebulan sebelumnya.

Kunjungan Mahfud kali ini adalah untuk menghadiri Ministerial Conference on Counter-Terrorism Financing pada tanggal 7 hingga 8 November 2019. Di sela – sela kesibukannya untuk menghadiri konferensi tersebut serta melakukan pertemuan dengan petinggi Australia, beliau berkesempatan mengadakan silaturahmi dengan warga Indonesia di Konsulat Jenderal RI Melbourne.

Acara silaturahmi yang diadakan pada pukul 6 sore tersebut didahului oleh press conference 30 menit sebelumnya. Dalam press conference yang dihadiri oleh berbagai perwakilan media massa tersebut, Mahfud menceritakan awal dari tujuannya untuk mengunjungi Kota Melbourne ini.

Jumpa pers yang berlangsung di salah satu ruang meeting KJRI tersebut berlangsung seru dengan adanya penjelasan menarik mengenai isu – isu politik dan keamanan bangsa masa kini.

Terorisme

Mahfud menjelaskan pertemuannya dengan Menteri Dalam Negeri Australia Peter Dutton membicarakan hal yang lebih dalam mengenai terrorisme dan segi – seginya. Dijelaskan Mahfud pada saat ini banyak perempuan yang tidak hanya menjadi fasilitator melainkan menjadi pelaku terorisme.

Ada tiga peristiwa besar terorisme yang melibatkan perempuan. Pertama, pada kasus Surabaya tahun lalu di bulan Mei yang dilakukan seorang perempuan dengan melibatkan anaknya. Begitu juga kasus di Sibolga dengan dugaan istri teroris yang meledakkan. Terakhir, peristiwa penusukan Wiranto, mantan Menkopolhukan yang juga dilakukan seorang perempuan. Sehingga, untuk ke depan program deradikalisasi menjadi hal yang utama.

Di kalangan oposisi, deradikalisasi dianggap sebuah tindakan sewenang – wenang. Padahal tidak ada kesewenang – wenangan dan tidak ada tindakan kekerasan yang dilakukan aparat. Kecuali terhadap orang – orang yang secara nyata mewujudkan radikalismenya itu dengan teror.

Mahfud pula menjelaskan, radikal dalam satu segi kalau kaitannya dengan terorisme itu negatif. Radikal dalam arti positif membahas dan menggali sesuatu sampai ke akar – akarnya dan substansinya. Perubahan besar dimulai dengan hal radikal dalam bentuk positif. Namun terdapat pengertian lain bahwa radikal itu suatu tindakan yang mempersoalkan dan melawan paham yang sudah disetujui bersama, dan langkah yang ditempuh adalah menggunakan kekerasan.

Kalau dalam radikalisme agama, terdapat tiga bentuk radikalisme. Yang pertama adalah tindakan yang menganggap orang kafir harus dimusuhi. Ke-dua, gerakan jihadist – yaitu mereka yang membunuh atau melakukan pengeboman. Yang ke-tiga, mereka yang selalu mengajak berdebat tentang khilafah.

Mahfud dan tim juga melewatkan 3 jam untuk berbicara khusus dengan Peter Dutton mengenai penegakkan hukum terorisme dan hal yang terkait dengan itu, seperti uang, human trafficking, dan keterlibatan anak-anak dalam tindakan kriminal.

Dalam sesi tanya jawab dengan wartawan, banyak pertanyaan yang ditujukan mengenai terorisme itu sendiri dimana Mahfud lantas menyatakan bahwa kuantitas peristiwa terror setahun ini telah berkurang tetapi secara kualitas berkembang karena keterlibatan perempuan dan anak-anak. Apalagi saat ini banyak penyusupan dan organisasi – organisasi, seperti pendirian lembaga pendidikan yang sangat eksklusif. Kesepakatan dengan Australia ditujukan untuk mengikatkan diri dalam gerakan bersama untuk melawan terorisme. Dari segi multilateral, kesepahaman tentang terorisme diangkat dalam KTT ASEAN dan ASEAN Summit.

Dia menjelaskan bahwa radikalisme bukan hanya milik ISIS. Di Indonesia sendiri memiliki berbagai macam bentuk. Oleh sebab itu Densus 88 diperlukan untuk memerangi radikalisme tersebut. Saat ini terdapat sekitar 47 orang di Syria yang ingin kembali ke Indonesia namun ditolak. Banyak warga Indonesia yang masuk ke Syria dengan prosedur yang tidak jelas.

Peserta dari berbagai kalangan mendengarkan kajian Mahfud MD

Beberapa upaya preventif dilakukan pemerintah untuk mencegah terorisme, seperti mengirim perwakilan Badan Nasional Pengembangan Terorisme (BNPT) ke kampus – kampus dan pesantren. Di sisi lain, kita mempunyai Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk menguatkan Pancasila agar radikalisme tidak berkembang. Untuk mencegah radikalisme melalui sosial media, UU ITE telah diterapkan.

HAM dan PAPUA

Selain itu, dalam pertemuan dengan Peter Dutton, Mahfud menegaskan dukungan Australia terhadap integrasi wilayah Indonesia termasuk sikap bahwa Papua adalah bagian yang sah dari Republik Indonesia yang tidak bisa diganggu gugat.

Banyak pertanyaan mengenai pelanggaran HAM di Indonesia. Menurut Mahfud, dalam konteks pelanggaran HAM negara menggunakan penegakan hukum. Orang yang ditangkap karena pelanggaran HAM harus didahului dengan bukti – bukti.

Untuk Papua, pendekatan yang telah dilakukan adalah pendekatan budaya. Pendekatan keamanan diambil oleh polisi. “Kalau orang memanah, menggergaji orang itu pelanggaran hukum, jadi ditindak,” tegas Mahfud. Gaung tentang pelanggaran HAM diakuinya banyak dilakukan oleh aktifis.

Saat ini anggaran untuk Papua adalah 15 kali lipat daripada pulau Jawa. Kalau orang Jawa atau luar Papua memiliki anggaran APBN hanya 1,2 jt per kepala, Papua 17.5 juta per kepala, pemerintah sudah memberi yang terbaik dimana total 99 triliun dana diberikan untuk Papua. Tetapi disinyalir saat ini pemerintah daerah sulit memanfaatkan dengan baik, sehingga rakyat tidak bisa mendapatkan semestinya.

“Problem kita seumpama uang dibagi ke rakyat tidak perlu pakai PEMDA Papua akan beres. Tapi aturan tidak bisa, kita tidak punya aturan di situ. Pemerintah daerah memiliki prosedur,” papar Mahfud.

Kebijakan untuk Papua lainnya adalah UU OTSUS Papua, dimana Papua diberi kekhususan dan perlakuan secara politik berdasarkan budaya. Misalnya untuk menjadi gubernur Papua harus penduduk asli Papua atau yang diakui adat Papua.

Selanjutnya, 25 persen anggota DPRD di Papua itu menjadi jatah mutlak. Sehingga apabila kurang 25% akan dibatalkan.

Pemerintah juga memiliki program saudara Papua, yang mana semua program Perguruan Tinggi Negeri harus menyediakan kursi untuk orang Papua, diberi beasiswa dan masuk tanpa tes. Sedangkan penduduk lainnya harus melewati tes dengan persaingan yang cukup ketat. “Orang masuk Fakultas Kedokteran kursinya sekian yang daftar puluhan ribu. Tapi orang Papua boleh masuk agar maju. Kita tidak main-main soal Papua,” tegas Mahfud.

Press Conference dengan Kemenko Polhukam

Saat ini Papua tidak masuk dalam komite 24 PBB, yaitu komite yang menentukan daerah-daerah punya hak untuk merdeka. Hal itu berbeda dengan Timor-Timur yang saat itu masuk. Saat ini Papua juga sudah selesai dengan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA), dan itu sekali selesai tidak bisa diulang lagi, sesuai dengan Keputusan PBB. Sehingga referendum tidak akan terjadi.

Diskusi Hangat di Malam yang Dingin

Kehadiran Mahfud benar – benar membawa keceriaan bagi warga Indonesia yang saat itu hadir di KJRI Melbourne. Diawali dengan makan malam bersama dengan menu sup daging, ayam goreng, tahu, tempe dan sayur suasana kebersamaan sangatlah terasa.

Banyak hal menarik mengenai nilai – nilai nasionalisme, sejarah dan toleransi yang disematkan beliau kepada warga Indonesia saat itu. Diskusi yang berlangsung hingga sekitar pukul 21:30 malam itu dihujani berbagai pertanyaan menarik dari para peserta, mulai dari pergantian Menteri, masalah Papua, radikalisme, dan lain sebagainya.


Apa Kata Mereka

Moh. Hafid, Mahasiswa Universitas Melbourne

Saya Ke sini tujuannya silaturahmi sekalian berjumpa teman – teman Indonesia yang hadir juga di acara ini, yang utama bertemu Pak Mahfud. Dengan jabatan dia yang baru, apalagi menduduki posisi yang strategis yang mana sebelumnya diduduki non-militer. Jadi unik juga karena karena basic dia bukan parpol tetapi negarawan. Boleh dibilang akademisi juga, jadi kita butuh insight dari dia. Dia banyak menekankan bahwa “kita ini berbeda lho” jadi bagaimana kita menyikapi perbedaan itu. Bahwa sebagai manusia ya kita pasti beda – beda.

Astuti, Mahasiswi Universitas RMIT

Pertama kali aku mendengar Pak Mahfud ngomong, menurutku bagus penyampaiannya. Jadi menurutku kita memang perlu diingatkan lagi sih tentang Indonesia itu gimana, kemudian untuk ditumbuhkan lagi rasa cintanya sama Indonesia, kenapa kemudian dulu negara Indonesia memilih Pancasila sebagai dasar negara. Aku excited banget untuk nunggu sesi selanjutnya karena pasti banyak pertanyaan menarik. Karena aku pribadi meskipun sering mengikuti berita Indonesia tapi kan lumayan banyak informasi yang berseliwiran gitu. Terus beliau mewakili pemerintah jadi kita pasti akan banyak pertanyaan.

Ennie Taylor, Pengusaha

Luar biasa ya ketemu Bapak. Bapaknya ini kalau bahasa Inggrisnya very down to earth, and everybody loves him. He looks like the best person for the position that he got. Orangnya baik, mudah-mudahan suatu hari bisa jadi presiden. Berkesan sekali saya mendengar pembicaraan beliau. Saya di sini sudah 44 tahun. Baru 3 tahun terakhir ini bertemu dengan orang Indonesia. Sekarang bertemu dengan bapak – bapak politik Indonesia. Gembira sekali, back to my own root. Mudah-mudahan Indonesia bisa terus maju dengan pemimpin – pemimpin yang bijaksana, yang baik, anti-korupsi semua. Mudah-mudahan Indonesia bisa maju 10 langkah lebih ke depan. Alhamdulilah deh, pemimpin yang baik – baik.

Niar