BATIK LAB GARAPAN SEORANG BULE

Ialah Michelle McDonell yang sempat mengambil program Dharmasiswa Scholarship untuk mengajar Bahasa Inggris sekaligus mendalami kesenian batik di Indonesia. Dirinya sempat belajar di Yogyakarta dan Bukittinggi, Sumatera Barat selama dua tahun. “Jadi saya bisa berbahasa Indonesia, tapi karena tidak dipakai setiap hari di [Australia] jadi sudah lupa banyak,” ujarnya ramah.

Alkisah Michelle mengambil program Bachelor of Arts jurusan Bahasa Indonesia dan Antropologi di Monash University yang dimulai pada tahun 2003. “When I did Bahasa Indonesia I thought I want to live in Indonesia so I went to Yogyakarta. There was a batik school there and I loved it. So I learned all I could about batik and when I came back to Australia, I thought I have all these equipment, so I started a batik school,” tuturnya menceritakan asal muasal perkenalannya terhadap batik.

Berlokasi di Brunswick, sekolah batik yang didirikan Michelle mengajarkan tahap-tahap membuat batik dari tingkat pemula hingga yang lebih kompleks menggunakan teknik canting. “We use traditional beeswax. We also use paraffin wax which give you that crackle effects, and we do deep dyeing,” paparnya. Michelle juga membagikan pengetahuannya dalam membuat karya topeng kayu tradisional dan anyaman daun pisang melalui sekolah yang ia namakan Batik Lab.

Meski sejauh ini belum ada peminat Batik Lab yang merupakan orang Indonesia namun menurut pemudi yang juga peraih gelar Sarjana Industrial and Product Design dari RMIT University (2012), hal tersebut tidak menjadi masalah. Dirinya terbuka bagi siapa saja yang tertarik terhadap kesenian unik yang mengandung sejarah Bangsa Indonesia.

Kecintaannya terhadap batik seakan sudah melekat dalam dirinya. Michelle pula aktif dalam mempromosikan batik kepada masyarakat lokal lewat pelatihan di berbagai kesempatan, termasuk Festival Indonesia yang diadakan hampir setiap tahun di Melbourne. “I tried really hard to promote batik through different organizations, to universities and also with the Consulate General of Indonesia down here.”

I really like the art because you always working backwards in traditional painting. So because you always coloring the color you want to keep and you have to dye in succession and you have to go from light to dark, it’s just the different techniques, I really like it. I find it relaxing,” ujar pemudi yang juga menggemari musik gamelan itu.

 

vr
foto: rr

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

Tips Bekerja Part-Time dan Casual

Tidak bisa dipungkiri lagi, biaya kehidupan sehari-hari di Melbourne tidaklah murah. Sebagai pelajar, kalian mungkin ingin membantu meringankan beban finansial orang tua atau sekadar...

Australia Indonesia Business Forum 2014

Australia Indonesia Business Forum proudly and jointly organised by PPIA Monash and Australia Indonesia CentreDon't miss this GOLDEN OPPORTUNITY to STEP FURTHER INTO A BRIGHTER...

RANGGA BAWA CINTA KE MELBOURNE ?

AADC 2 AUSTRALIAN TOURPada tahun 2002, Indonesia dibuat heboh dengan film romantis berjudul Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) yang hingga kini menjadi sebuah favorit...

Dancing All Night Long di Indonesian Kawanua Night 2021

Suasana ceria dan meriah memenuhi ballroom di hotel Sofitel, Jumat malam itu. Setelah sempat absen di tahun 2020, acara tahunan komunitas Menado, Indonesian Kawanua...

Naikkan Standar untuk Menggapai Hasil yang Diinginkan

“Pikirkan, dan kamu akan memiliki kekuatan itu.” ~ Ralph Waldo Emerson ~Menurut Tony Robbins, “ketika Anda memiliki ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri, itu adalah saat...