Ballet Jawa: Sejarah Kesenian Indonesia yang Baru

Bumi, ardi, menyimpan beribu rupa seni kebudayan dari setiap lapisan daerahnya. Seni tari adalah salah satu harta karun manusia yang begitu bernilai hingga harga tak dapat dicantumkan di atasnya. Satu dari beribu-juta kebanggaan kepulauan Indonesia adalah Tari Jawa – dengan setiap lekuk ukel tangan, setiap tanjak kaki, hingga setiap seblak-an selendang. Sedangkan di belahan dunia bagian barat, aristokrat kelahiran Italia Catherine de Médicis bersama Henry ke-II tidak hanya telah menghasilkan pernikahan tetapi Ballet yang kini menghiasi seluruh lantai panggung dengan semua variasi gerakan mereka seperti Grand Jeté, Glissade, dan Pas de Bourrée.

Swargaloka bersama Ballet Indonesia Foundation (Ballet.ID) dan Western Australia Ballet mengadakan sebuah multi-kultural kolaborasi yang didukung oleh Kedutaan Besar Australia di Indonesia, Gary Quinlan, Indonesia Dance Company (IDC), juga Australia-Indonesia Institute dalam melakukan eksperimen menyatukan Tari Jawa dan Tari Ballet. Secara teori, hal ini sangatlah mustahil untuk dilakukan dikarenakan filosofi di balik setiap teknik gerak tubuh di antara keduanya – Setiap gerakan Tari Ballet diibentuk sedemikian rupa agar dapat menonjolkan ekspresi anti-gravitasi dan dibandingkan Tari Jawa yang mengungkapkan garisan tubuh yang membumi.

Kolaborasi yang bersifat begitu langit-dan-bumi ini mengingatkan Gary Quinlan akan Negara Indonesia juga Negara Australia yang adalah bukti hidup dimana perbedaan-perbedaan kultural dapat tinggal bersama secara harmonis. Tidak hanya itu Gary juga mengangkat poin mengenai kesenian yang pada era yang baru ini menjadi sangatlah penting. Seni adalah sebuah bentuk ekspresi dalam berbicara dengan satu sama lain akan siapa kita. Terutama selama masa pandemi yang membatasi kita untuk bercakap-cakap secara langsung. Maka dari itu, program inter-kultural ini dipersembahkan secara daring melalui zoom dan diikuti oleh begitu banyak wajah-wajah penting hingga berbagai anggota veteran ballet di Indonesia.

Empat penari Tari Ballet bersama empat penari Tari Jawa Surakarta dimasukkan ke dalam lingkungan lintas teknik yang sama selama satu bulan setengah untuk saling memperkaya dan mempelajari gaya tarian masing-masing selama satu setengah bulan. Delapan penari ini, Mariska febriani, Michael Halim, Kevin Julianto, Siti Soraya Thajeb, Bathara Saverigadi Dewandoro, Bathari Putri Suryadewi, Chikal Mutiara Diar, dan Denta Sepdwiansyah Pinandito di bawah mentoran Melanie Lane, koreografer ballet Australia selama sekitar empat jam setiap harinya bekerja keras untuk melebur kedua gaya tari dalam menciptakan bentuk tarian khas Indonesia yang baru.

Sebelum program ini dieksekusi, delapan penari ini diberikan kesempatan untuk menciptakan sebuah koregrafi sebagai bentuk pra-eksplorasi. Koreografi yang dinamakan Friction ini ditayangkan dalam acara HOPE yang diselenggarakan oleh organisasi Ballet ID. Melalui proses pra-eksplorasi tersebut para penari mulai merangkul gaya tari masing-masing walau masih secara sangat cetek. Setelah satu bulan penuh bersama satu sama lain, mereka telah berhasil menginovasi benih-benih gaya tubuh yang baru yang tentunya bukan hasil akhir dari upaya peleburan ini tetapi sebuah awal dari perjalanan yang begitu panjang penuh dengan penemuan-penemuan baru.

Pohon beringin pada upaya eksplorasi ini menjadi inspirasi utama yang juga simbol dari sila ke-3 Pancasila yakni ‘persatuan Indonesia’. Dengan filosofi di balik Pohon Beringin ini, diharapkan bahwa apa pun hasil dari eksplorasi ini dapat menjadi rupa komunikasi baru akan menceritakan siapa itu Orang Indonesia. Seperti pohon, koreografi yang dihasilkan dari program ini menceritakan tiga fase evolusi – tumbuh, berkembang, dan berkembang. Masing-masing dari fase tentunya mencakup cakupan ilmu yang berbeda-beda. Tumbuh lahir dari pembelajaran pembelajaran kosa kata gerak gerik setiap gaya tari dan seperti kecambah para penari menerobos pengetahuan dasar juga zona nyaman mereka akan tari. Berkembang dan bertahan mendorong para penari untuk menyelami setiap gaya tari dengan lebih mendalam terutama dengan hal perkostuman. Para delapan penari dibalut dengan Kain Samparan pada fase bertahan dan dalam fase berkembang menarikan koreografi Pas des Deux atau tarian diantara dua orang seperti secara realita negosiasi, pertukaran ide atau pikiran terjadi ketika berbincang dengan satu sama lain.

“Ballet membangunkan kembali tubuh kami akan logika menggunakan otot kami ketika menari atau bergerak. Nah, itulah yang mendorong kami dengan rintang yang harus kita lalu selama proses eksplorasi ini. Tapi semoga kami mendapatkan kesempatan yang jauh lebih banyak lagi kami ingin mengeksplorasi teknik-teknik ini dan memadukan semua secara lebih mendalam untuk menghasilkan pengertian mengenai ruang, penggunaan tubuh dalam tarian duet, hingga setiap individual penari terhubung Kembali pada fokusnya dalam menari” ujar Bathara.

Apa Kata Mereka?

Julianti Parani, penari ballet veteran di Indonesia

“Pertama-tama saya ingin mengatakan terima kasih karena program ini sungguh mengharukan bagi saya. Saya belum pernah menyaksikan ada program tari seperti ini. Saya juga ingin kasih jempol besar kepada penari untuk berusaha selama satu bulan setengah. Memang sudah dirasakan bahwa hal ini akan menjadi upaya yang on going. Sejujurnya, apa yang dilakukan dalam program ini banyak juga dilakukan oleh begitu banyak sekolah tari di berbagai daerah. Tetapi memang jiwa dari seni tari adalah tidak hanya memahami gerak-gerik teknikalnya tetapi juga lingkungan kebudayaan dari seni tari tersebut. Maka dari itu, akan membutuhkan upaya yang memakan waktu yang lama untuk menjadikan fusi ini sebagai gaya tubuh yang baru.”

Rianto, guru tari jawa di Jepang

“Selamat kepada setiap penari akan progresnya. Saya senang sekali dapat melihat kemajuan dari teman-teman Indonesia Dance company dan Swargaloka. Banyak sekali yang dapat saya pelajari dari eksplorasi gerak dan konsep yang ingin ditampilkan ini. Saya lihat memang bahwa banyak gerak-gerik yang dikolaborasikan mebutuhkan penataan kembali yang bukanlah sebuah kejutan karena semua ini masih work in progress. Tapi saya berharap dengan begitu besar bahwa peleburan ini dapat menciptakan sejarah baru bagi tubuh Indonesia.”

bintanghttps://benedictabintangz.carrd.co/
A born and raised half Bataknese and Javenese who can never live her life without doing anything art related!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Uis Nipes, Film Pendek Karina Soerbakti untuk Tanah Karo

Uis Nipes Film Pendek Karina Soerbakti untuk Tanah Karo Kekayaan Indonesia tak habis-habisnya menjadi ladang inspirasi. Tak hanya kekayaan alam dan pesonanya, perbedaan-perbedaan budaya yang ada...

PERPISAHAN JOIN KULLIT: BERBAGI KEBAIKAN KE PERTH

Berbagi kebaikan memanglah sebuah aksi yang sangat mulia, sudah seharusnya kita sebagai makhluk sosial terus berjuang untuk berbagi kemuliaan dengan orang lain sebanyak-banyaknya dimanapun...

KOPI JAWA BARAT GO GLOBAL, GUBERNUR RIDWAN KAMIL DAN MAYOR KOTA MELBOURNE, THE HON. LORD MAYOR SALLY CAPP RESMIKAN PEMBUKAAN CAFÉ JABARANO

Kopi Jawa Barat kini hadir di kota Melbourne, sebuah kota yang memiliki sebutan the Capital of Coffee Culture Down Under. Peresmian pembukaan Café Jabarano...

Perjanjian IA-CEPA dari Kacamata Pengusaha

Perjanjian perdagangan bebas antara Australia dan Indonesia (IA-CEPA) resmi berlaku tanggal 5 Juli lalu. Akankah perjanjian ini membawa peluang baru bagi...

MENGEJAR DOLAR DI BENUA KANGGURU

Berkerja di Negeri Kangguru masih merupakan impian yang menjanjikan bagi masyarakat internasional, tidak terkecuali Indonesia. Hingga saat ini Australia masih memiliki daya tarik tersendiri khususnya...