Selama 12 tahun YNJ Migration Consultants telah menyediakan layanan migrasi yang terbaik. Yapit Japoetra adalah tokoh dibalik kisah sukses tersebut. Pria kelahiran Medan ini merasa teramat senang bila dapat memberikan jasa bagi orang-orang yang ingin menetap di Australia.

The good thing about this job is kita bisa menolong orang untuk stay di sini.”

Keterampilan dalam bidang tersebut tergali ketika sejumlah mahasiswa mulai bertanya seputar imigrasi kepada Yapit yang pada waktu itu masih bekerja di bagian pemasaran sebuah perusahaan di Melbourne.

Karena harus memiliki izin sebelum dapat memberikan nasihat seputar topik tersebut, pria kelahiran tahun 1973 ini akhirnya mengambil course Immigration Law di dan Deakin University. Hingga kini Yapit dapat menjalani jasa pelayanan dalam bidang migrasi dengan bantuan empat karyawan part-time dan sang istri yang bekerja dari rumah.

“Sumber pengetahuan utama adalah pengalaman,” demikian bunyi kutipan dari Albert Einstein. Keterlibatan Yapit selama bertahun-tahun dalam bidang migrasi mendorongnya untuk memberikan pelayanan prima. Ia selalu berusaha untuk tidak memberikan ‘janji palsu’ kepada client.

We will make sure applications are always running smoothly,” ungkapnya.

“Kalau memang client yang bersangkutan bisa ambil aplikasi tersebut, kita akan bilang bisa. Tapi kalau tidak bisa ya kita akan bilang tidak bisa daripada nanti gagal.”

Pertemuan face-to-face dengan Yapit sendiri sebagai agen migrasi terdaftar saat konsultasi juga menjadi nilai jual dari YNJ Migration Consultants. “Kalau orang datang ke sini mereka langsung ketemu saya dan tidak ketemu staff,” paparnya.

Dunia imigrasi di Australia memang tidak dapat ditebak. Hal ini turut mempengaruhi waktu terbaik untuk berkonsultasi bagi para client. Namun, menurut Yapit, tidak ada salahnya untuk  berkonsultasi lebih awal.

Planning untuk migration itu susah-susah gampang. Misalnya, kapan mau minta advice itu tergantung dari course yang diambil. Tapi itu juga susah dibilang karena peraturan suka ganti,” kata pria yang tinggal di bilangan Point Cook ini.

“Sekarang orang mulai sekolah tahun pertama, tiga tahun selesai belum tentu peraturannya sama. Saya bilang ke client kalau mau datang tahun terakhir. Tapi kalau baru datang tanya-tanya boleh just to make sure apakah sekarang itu dari course yang kamu ambil bisa atau tidak dan apakah ada di daftar.”

Menurut Yapit yang sudah sejak 2002 menjadi agen migrasi, tahun 2019 merupakan masa tersulit bagi warga non-Australia untuk memperoleh izin tinggal karena situasi politik di Australia.

“Memang saat ini adalah masa yang paling susah dilihat dari perkembangannya selama 17 tahun. Saat ini adalah yang paling susah karena memang dari political environment-nya sedang populer bahwa pemerintah akan memotong jumlah visa Independent Skills dan mengalihkan ke visa baru dalam kategori regional visa.”

Pada November 2019, akan berlaku dua jenis skilled regional provisional visa bagi migran berketerampilan dan anggota keluarganya. Menurut Yapit, kedua jenis visa tersebut diberlakukan melihat infrastruktur dua kota besar pengunjung di Australia yang kurang memadai.

“Jadi kayaknya karena Melbourne dan Sydney terlalu penuh dan infrastrukturnya tidak terlalu mendukung, akhirnya mereka memutuskan untuk kurang lebih memaksa orang untuk pindah ke regional,” ungkap pria yang makanan kesukaannya adalah Soto Medan tersebut.

Regional visa itu akan memberi waktu lima tahun. Syaratnya adalah setelah dapat visa itu, orang harus tinggal di regional selama 3 tahun dan kerja tiga tahun. Setelah itu baru bisa apply Permanent Resident (PR) visa di daerah regional.”

Di antara beberapa poin yang menunjang keberhasilan pengaplikasian visa seperti umur, keahlian berbahasa Inggris, pengalaman bekerja, pendidikan, umur menjadi penyumbang poin terbanyak disusul pendidikan.

“Penyumbang poin terbesar adalah umur. Maksimum bisa dapat 30 poin kalau berumur antara 25-32. Setelah itu, ada pendidikan. Kalau PhD dapat 20 poin dan Bachelor dapat 15 poin.”

Tidak hanya itu. Saat ini, kemampuan berbahasa Inggris juga sudah menjadi salah satu syarat terpenting ketika mengirim aplikasi visa.

“Jurusan Accounting dulu kalau tutup mata pasti dapat PR. Tidak perlu tes Bahasa Inggris. Tapi banyak yang komplain, employer bilang kenapa orang-orang tidak bisa Bahasa Inggris? Akhirnya dikenakan jadi angka lima, enam, tujuh, hingga sekarang delapan pun belum cukup.”

Pria yang melihat ayahnya sebagai tokoh inspirasi ini membenarkan bahwa sekarang undangan visa yang diberikan pemerintah Australia hanyalah 100 buah. Ini tidak seperti di tahun-tahun sebelumnya dimana pemerintah memberikan 2000 hingga 3000 undangan.

Untuk berkonsultasi dengan Yapit Japoetra dari YNJ Migration Consultants, silakan menghubungi (03) 9650 0895 untuk membuat janji!

Nasa